Sebuah Harapan

1295 Words
A HOPE Dirga meletakkan barang-barang milik Aurora di kamarnya dengan hati-hati. Sehati-hati dia menjaga perempuan itu. "Mau aku bantu beresin sekalian, nggak?" Dirga bertanya dengan wajah memerah akibat menahan berat dari kardus besar yang diangkatnya sendiri. Edo sialan, umpatnya dalam hati ketika mengingat sahabatnya itu tengah asik kencan dengan Gina. "Mm.. kamu repot nggak?" tanya Aurora dengan sungkan. "Enggak lah. Repot apanya," ‘malah aku senang bisa berlama-lama di sini sama kamu’, tambahnya dalam hati. "Ng..., nggak usah deh Ga. Nanti aku beres-beres sama Gina aja. Kamu mau minum apa? Aku buatin dulu ya. Oh iya, kamu udah makan?" Dirga tersenyum mendengar kalimat panjang yang diucapkan Aurora barusan. Kecanggungan itu akhirnya perlahan-lahan memudar. Sepertinya mereka hanya perlu untuk kembali sering bertemu. "Kenapa malah senyum-senyum begitu?" kerutan samar di dahi Aurora muncul, bingung melihat Dirga yang senyum-senyum tidak jelas entah karena apa. Dirga menggelengkan kepalanya. "Aku sudah makan tadi. Kamu gimana? Sudah makan? Mau aku belikan sesuatu?" Kali ini, giliran Aurora yang tersenyum. "Sudah kok, tadi bareng Reyhan. Sekalian masakin dia buat makan malam. Aku buatkan teh mau nggak? Atau kopi?" "Oh ya sudah. Aku pikir belum," Dirga mengangguk paham, tapi hatinya sedikit mencelos ketika perempuan bermata bulat itu mengatakan bahwa dia memasakkan makanan untuk mantan suaminya. "Aku mau kopi deh. Tadi udah minum teh pas makan," katanya kemudian. Mereka berdua kemudian meninggalkan kamar Aurora menuju dapur yang sekaligus menyatu dengan ruang makan. "Kamu nggak mau buka cafe?" Dirga mengamati bagaimana Aurora menyeduh kopi untuknya. Dia selalu suka kopi ataupun teh yang dibuat Aurora. Menurutnya, rasanya tidak kalah dengan yang dibuat oleh barista-barista di beberapa cafe yang sering dikunjunginya. Dari pengamatannya pun, perempuan itu cukup mahir menggunakan berbagai jenis mesin pembuat kopi, mulai dari yang manual maupun yang otomatis. Dia juga paham tentang jenis-jenis kopi, mulai dari yang memiliki tingkat keasaman tinggi sampai yang rasanya benar-benar pahit. "Pernah kepikiran, sih. Kayaknya asik gitu buka cafe sambil ngurus anak," Aurora meletakkan dua gelas kopi—satu gelas single origin untuk Dirga dan segelas cappucino untuk dirinya—di atas meja makan lengkap dengan cookies coklat yang kemarin dia buat bersama Gina. "Aku dukung kalau kamu mau merealisasikannya," Dirga mulai menyeruput pelan kopinya dengan mata terpejam. Menikmati sensasi asam pahit dari kopi Gayo yang menjadi salah satu kopi favoritnya. Well, semua kopi buatan Aurora adalah kopi favoritnya, apapun jenisnya. "Dukung modal?" tanya Aurora sambil berseloroh. "Modal dan mental," balas Dirga serius. Mereka sama-sama tertawa pelan, kemudian menikmati minuman masing-masing. Untuk beberapa saat, keheningan kembali menyelimuti, hingga kemudian Dirga kembali membuka suara. "Kamu dan Reyhan benar-benar sudah selesai? Gina bilang, kalian nggak akan balikan lagi apapun alasannya." Aurora mengangguk, menyesap kopinya perlahan sebelum kemudian menjawab. "Iya. Aku nggak akan balikan lagi sama Reyhan, apapun alasannya. Aku nggak memberi kesempatan kedua untuk orang yang sudah berkhianat dan melanggar komitmen." Dirga mengamati wajah perempuan yang duduk di sebelahnya. Tidak ada keraguan sedikitpun darinya ketika mengucapkan kalimat tadi. "Gina sama Edo kencan ke mana?" Aurora mengalihkan pandangannya dari gelas dalam genggamannya ke wajah Dirga yang ternyata juga sedang menatapnya. "Nggak tahu. Tadi aku langsung pergi waktu Gina suruh aku jemput kamu. For your information, tadi aku lagi makan bareng mereka pas kamu telpon Gina," seringai kecil menghiasi wajah lelaki itu setelah mengakui kebohongan yang dilakukan oleh Gina. Aurora membulatkan mata mendengar penuturan Dirga barusan. "Dasar Gina," Aurora mendecakkan lidahnya kesal. "Maaf ya Ga, ngerepotin kamu jadinya," ujarnya menyesal. "Nggak repot kok. Aku merasa jadi orang asing kalau kamu ngomong begitu.” Tidak ada respon dari perempuan di sebelahnya. Sebab perempuan itu hanya menatap lekat lelaki yang hampir seumur hidupnya selalu ada di sisinya. "Aku tahu kalau aku ganteng. Mirip Lee Seung Gi, kan? Tapi nggak segitunya juga natapnya," senyum jahil tersungging di wajah tampan Dirga, diikuti tawa kecil setelahnya ketika melihat wajah kesal Aurora. Lalu yang Dirga dapatkan setelahnya adalah satu cubitan keras di lengannya, membuat lelaki itu meringis kesakitan. *** Hari sudah sempurna gelap ketika Gina mengabari Aurora bahwa dirinya akan pulang malam. Maksudnya, di atas jam sepuluh malam. "Kalian ke mana sih sebenarnya?" Aurora kesal dengan sahabat sekaligus teman satu rumahnya itu. ["Kencan dong. Kamu ditemenin Dirga dulu nggak papa ya. Dia nganggur kok, nggak usah ngerasa ngerepotin. Kalau perlu minta temenin dia cari makanan yang lagi pengen kamu makan. Oke? Bye!"] dengan tidak sopannya lagi-lagi Gina menutup panggilannya sepihak dan tanpa salam. Aurora hanya bisa menghembuskan napas kesal dengan kelakuan sahabatnya itu. Di ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang santai, dilihatnya Dirga sedang menikmati siaran pertandingan bola dengan tenang. "Ga, kamu kalau mau pulang sekarang nggak papa. Gina masih lama pulangnya kalau mesti nungguin dia," Aurora menghampiri lelaki itu lalu duduk tepat di sebelahnya. "Nggak mau aku temenin? Biasanya juga kamu yang sibuk minta temenin kalau Gina sama Edo kencan entah ke mana," lelaki itu mengalihkan pandangannya dari layar televisi di depannya, menatap perempuan yang duduk di sebelahnya itu. "Memangnya kamu nggak ada acara? Ini malam minggu loh. Ya mana tau kamu mau kencan juga." "Kencan sama kamu di sini." Respon tersebut membuat pipi Aurora memerah. Dan itu membuat Dirga senang. Sejak dulu, hobinya adalah menggoda Aurora. Membuat perempuan itu kesal hingga akhirnya terjadi keributan di antara keduanya. Keributan yang hampir setiap hari terjadi. Keributan yang hampir setiap hari memenuhi langit-langit panti asuhan bernama Rumah Cinta, tempat mereka berdua dan Gina tumbuh. "Kamu cantik kalau lagi malu-malu begitu." "Apaan sih." Dirga terkekeh karena kali ini tidak hanya membuat pipi Aurora memerah, tetapi juga membuat perempuan itu salah tingkah. Lelaki itu tidak melanjutkan keusilannya, karena sedang tidak ingin membuat Aurora kesal. "Ga, kamu beneran mau nemenin aku, kan?" "Iya," Dirga mengangguk meskipun pandangannya tetap terarah pada layar tv yang kini menayangkan kartun. "Mau keluar nggak?" "Ke mana?" "Aku pengen makan jagung bakar di Bukit Bintang." "Oke, ayo kita tambahin kemacetan Jogja di malam Minggu," sahut Dirga sambil tertawa, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Aurora berdiri. Dan satu jam kemudian, mereka sudah duduk manis di atas tikar yang digelar oleh para pedagang jagung bakar di Bukit Bintang. Bukit Bintang atau yang disebut juga Hargodumilah itu terletak di dataran tinggi Gunung Kidul. Dari tempat tersebut, orang-orang bisa menikmati pemandangan Yogyakarta dari ketinggian. Pemandangan akan terlihat lebih indah di malam hari karena cahaya dari lampu-lampu yang terlihat seperti taburan bintang di langit. Barangkali itulah sebabnya tempat tersebut dinamakan Bukit Bintang. Sambil menunggu pesanan, mereka menikmati pemandangan Jogja malam hari yang terlihat indah dari tempat mereka duduk saat ini. "Udah lama banget ya kita nggak ke sini," celetuk Aurora yang tatapannya menerawang jauh ke bawah. "Iya. Terakhir kali kayaknya pas kita masih kuliah." Pedagang yang mengantarkan jagung bakar yang tadi mereka pesan menginterupsi obrolan mereka. Dirga memperhatikan Aurora yang duduk di sebelahnya. Duduknya terlihat kurang nyaman. Tapi wajahnya berbinar melihat jagung bakar di hadapannya. "Ra, ke mobil aja yuk. Kamu kayaknya kurang nyaman duduk di sini. Di mobil kan bisa sandaran," usulnya pada perempuan itu. Dirga tahu, menikmati jagung bakar dengan pemandangan kerlip lampu Kota Jogja adalah hal yang diinginkan Aurora. Tapi melihat perempuan itu beberapa kali mencari posisi duduk yang nyaman dan tidak kunjung menemukannya sampai pesanan mereka datang, membuat Dirga terganggu. Aurora memberikan cengiran kecil sebagai responnya atas usul Dirga. Dia sadar kalau sejak tadi lelaki itu memperhatikannya. Dia juga sadar kalau lelaki di sebelahnya tahu kalau dia tidak nyaman. Tanpa menunggu respon lain dari Aurora, Dirga meminta pada pedagang yang tadi mengantarkan pesanan mereka agar jagung bakar tersebut dibungkus. Setelah itu dia menghampiri Aurora yang sudah berdiri menunggunya, lalu merangkul bahu perempuan itu dan berjalan menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka duduk. Aurora menoleh dan mendongak untuk menatap wajah Dirga. "Jadi kayak suami istri," ujarnya diikuti tawa kecil setelahnya. Dirga ikut tertawa mendengarnya, dan diam-diam mengaminkan di dalam hati. Berharap suatu saat mereka benar-benar menyandang status tersebut. Bukan hanya ‘seperti’, seperti apa yang baru saja dikatakan Aurora.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD