Bertemu Lagi

1484 Words
"Do you still love me?" Reyhan menatap Aurora lekat. Matanya menelusuri jawaban atas pertanyaan yang baru saja diajukannya pada perempuan di hadapannya. Perempuan yang saat ini sedang mengandung anaknya. Perempuan yang dia sakiti perasaannya, karena dengan bodohnya dia menjalin hubungan dengan perempuan lain di belakangnya hanya karena terbuai rasa nyaman. Perempuan yang kini statusnya sudah berubah menjadi mantan istri akibat kebodohan yang dilakukannya itu. Aurora balas menatap mata Reyhan sama lekatnya. Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sama dengan yang pernah dia tanyakan pada Dirga. Sekarang, Reyhan yang menanyakan hal itu padanya. "Aku memang masih mencintaimu, tapi akan kupastikan kalau perasaan itu nggak akan bertahan lebih lama lagi," dia memberikan jawaban yang sangat tidak diinginkan oleh Reyhan. "Apa aku benar-benar nggak punya kesempatan kedua? Kamu nggak mau memberiku kesempatan itu bahkan secuil pun?" "Kayaknya kita udah bahas ini berkali-kali. Tapi aku nggak akan bosan untuk bilang kalau aku nggak memberikan kesempatan kedua untuk orang yang selingkuh," Aurora melepaskan genggaman tangan Reyhan, melangkah menuju dapur untuk membereskan beberapa alat masak yang dulu dia beli. Perempuan itu tidak menyentuh barang-barang apapun selain barang yang dibeli dengan uangnya sendiri. Reyhan mengikutinya dari belakang sambil mengamati setiap gerak-gerik Aurora, siap siaga jika perempuan itu membutuhkan bantuannya. "Kamu mau makan apa? Biar aku masakin sekalian buat makan siang," ujar Aurora setelah memastikan kalau semua barang di dapur yang harus dibawa pulang ke kontrakannya sudah dia masukkan ke dalam kardus. "Kamu makan di sini juga?" "Nggak. Nanti aku makan sama Gina." "Ya sudah nggak usah masak kalau begitu. Nanti aku bisa delivery." "Ya sudah aku makan di sini," Aurora mendengus. Reyhan tersenyum puas. "Ya sudah, terserah anakku maunya apa." Aurora kemudian mengeluarkan sisa ayam di kulkas dan juga kangkung. Dia akan memasak ayam semur dan tumis kangkung untuk makan siang nanti. Tak sampai satu jam setelahnya, menu makan siang itu sudah tersedia di atas meja. "Oh iya, ATM kamu masih sama aku. Aku ambil dulu. Nanti biar nggak lupa lagi buat kembalikan ke kamu," Aurora baru akan menyuap makanannya ketika teringat tujuan lainnya dia mendatangi rumah mantan suaminya itu. Reyhan menahannya ketika perempuan itu akan mengambil ATM miliknya. "Nggak perlu dikembalikan, Ra. Kamu bisa pakai itu untuk keperluan anak kita. Kamu juga boleh pakai itu untuk keperluan kamu," ucap Reyhan sungguh-sungguh. "Tapi..." "Aku nggak bisa memperbaiki kesalahan yang sudah kubuat, karena kamu nggak mau memberiku kesempatan untuk itu. Tapi aku masih memiliki tanggung jawab untuk anakku. Aku tahu ini bukan soal uang. Tapi untuk sekarang, cuma ini yang bisa kulakukan sebagai bentuk tanggung jawabku untuk anakku." Aurora menghembuskan napas pelan. Dalam hatinya dia membenarkan ucapan Reyhan. "Oke kalau begitu. ATM kamu tetap aku pegang," ujarnya kemudian dengan senyum simpul di bibirnya. Reyhan tersenyum lega kemudian berkata, "Aku boleh minta tolong?" Dahi Aurora berkerut, bingung mendengar pertanyaan lelaki di hadapannya. "Minta tolong apa?" tanyanya kemudian. "Kamu kalau lagi kepingin sesuatu, misalnya mau makan apa gitu, bilang ke aku. Bisa?" "Kenapa?" "Ya... aku nggak bisa selalu ada di samping kamu. Aku nggak bisa pijetin kaki kamu kalau kamu ngerasa pegal-pegal. Aku nggak bisa jadi orang pertama yang kamu cari kalau kamu butuh bantuan untuk ngelakuin sesuatu. Aku cuma mau jadi calon ayah yang baik untuk anakku. Ya?" mata coklat Reyhan menatap Rara dengan penuh harap. "Please?" lanjutnya. Di depannya, Aurora tersenyum simpul setelah terdiam beberapa saat. "Nanti aku bilang kalau aku mau sesuatu. Dan besok-besok aku akan kabarin kamu kalau aku mau check up." "Thank you," ucap Reyhan tulus. *** Perdebatan sengit antara sepasang kekasih di depannya tentang tempat makan siang tidak mengusik ketenangan Dirga. Dia masih sibuk dengan pikirannya sendiri di kursi penumpang belakang. Sedang apa Aurora di rumah mantan suaminya? Barang-barangnya sebanyak apa memangnya? Kenapa sesiang ini belum juga selesai? Kenapa belum ada kabar sampai sekarang? Kabar? Memangnya dia akan mengabarimu? Suara dalam pikiran lelaki dengan potongan rambut classy side-part itu berteriak nyaring. Lebih nyaring dari perdebatan sengit yang masih berlangsung di depannya. Lamunan lelaki itu baru berakhir ketika Edo memanggilnya dari kursi kemudi, memberitahukan dirinya bahwa mereka sudah sampai di tempat makan. Dirga melihat ke luar jendela. Setelah perdebatan panjang, Gina dan Edo akhirnya sepakat memilih Lippo sebagai tempat makan siang mereka. Entah di mana tepatnya, Dirga juga belum tahu. Dia hanya mengekori dua manusia di depannya yang masih sibuk berdebat entah apa. Yamie Panda ternyata menjadi tempat makan siang mereka di Sabtu siang ini. Tidak buruk, pikir Dirga. Selera makannya tidak begitu baik sebenarnya. Maka memakan sesuatu selain nasi adalah pilihan yang baik menurutnya. Dasar aneh, ejeknya pada diri sendiri. "Ga, ngelamun aja sih dari tadi. Mikirin Rara, ya?" Gina menegurnya setelah memesan tiga Yamie Manis Pangsit Goreng dan tiga es teh untuk mereka bertiga kepada pramusaji. Dirga hanya mendengus sebagai tanggapan. "Makanya, kalau cinta tuh diungkapkan. Dipendam terus kan begini nih jadinya," Edo di hadapannya menambahi dengan seringai menyebalkan di wajahnya. Edo dan Gina adalah saksi bagaimana patah hatinya Dirga ketika Aurora menikah. Dua orang itu juga yang selalu kesal dengan Dirga karena lelaki itu tidak pernah berani mengungkapkan perasaannya pada Aurora. Padahal menurut Gina, perempuan itu pun memiliki perasaan yang sama dengannya. Dua sahabatnya itu sama-sama saling memendam perasaan. "Tapi kenapa dia malah pacaran sama Reyhan?" tanya Dirga ketika itu. "Ya nungguin kamu datang kelamaan. Capek duluan dia. Ada Reyhan yang baru datang tapi bisa ngasih dia rasa nyaman, dan yang lebih penting lagi si Reyhan itu berani ngungkapin perasaannya. Kamu? Cuma sembunyi terus," Gina menjawab sinis kala itu. Terlalu lelah dengan sikap Dirga yang pengecut. Dirga sendiri tidak paham dengan dirinya yang tidak pernah berani mengungkapkan perasaannya pada Rara. Kalau ditanya kenapa, dia sama sekali tidak memiliki jawaban yang meyakinkan. "Kamu punya kesempatan lagi, Ga. Jangan dibuang gitu aja," Gina kembali berkata dengan mulutnya yang penuh mie. "Really?" "Of course. Katanya dia nggak mau balikan sama Reyhan bagaimanapun juga. Dia nggak akan jadikan anaknya alasan untuk itu. Buat Rara, nggak ada kesempatan kedua untuk orang yang berkhianat," jelas Gina. "You have a big chance, bro. Tinggal kamu mau apa enggak," Edo menambahi. Ketika akan menanggapi, ponsel Gina yang diletakkan di atas meja bergetar panjang tanda panggilan masuk. "Rara," Gina memberi tahu siapa yang menelponnya. "Ya Ra?" ["Na, bisa minta tolong jemput nggak?"] tanya Aurora di seberang sana. "Loh, katanya Mas Reyhan yang mau nganterin pulang?" ["Lagi demam dia."] "Oh oke bis—" belum selesai Gina menjawab, Edo di sebelahnya memberi isyarat dengan gelengan dan kerlingan mata. Awalnya Gina bingung, tapi segera paham setelah Edo menunjuk Dirga dengan matanya. "Eh, Ra, aku lagi kencan sama Edo, hehe. Kalau Dirga yang jemput gimana? Nanti aku yang bilangin deh." Dirga di depan Edo hampir menyemburkan es teh yang sedang diminumnya. Di seberang sana, Rara sedang menimbang-nimbang. Apakah dia akan menerima tawaran Gina atau memesan Gocar saja. ["Aku nggak enak sama Dirga, Na. Aku pesan Gocar aja deh,"] putusnya kemudian. "Jangan ih. Dirga juga paling nggak ada kerjaan. Udah kamu tunggu di sana. Aku bilang ke Dirga dulu. Bye," tanpa salam Gina memutus panggilan tersebut lalu menatap Dirga dengan penuh arti. "Kesempatan emas nih. Sana jemput Rara." Yang ditatap justru melotot dan mendengus kasar. *** Reyhan membantu Dirga memasukkan barang-barang milik Aurora ke dalam mobil H-RV abu-abu tua milik Dirga. Tidak banyak, hanya sebuah koper besar dan dua kotak kardus berukuran besar dan sedang. "Maaf ya aku nggak bisa antar kamu pulang," Reyhan membuka pintu penumpang lalu membantu Aurora masuk ke dalam mobil. "Nggak apa-apa. Kan sudah dijemput Dirga. Kamu istirahat saja. Obatnya jangan lupa diminum," pesan Aurora sebelum rehat menutup pintu mobil. Reyhan mengangguk, lalu beralih pada Dirga yang sudah duduk manis di belakang kemudi. "Ga, sorry ngerepotin. Makasih sudah mau jemput Rara," katanya. Dirga mengangguk mengiyakan, kemudian menyalakan mobilnya lalu pamit pada Reyhan. Sepuluh menit berselang, hanya ada keheningan di dalam mobil. Juga kecanggungan. Dirga menyalakan musik untuk mengurangi suasana canggung yang sangat dibencinya itu. Ini adalah kali pertama mereka di mobil hanya berdua setelah obrolan mereka di tengah malam enam bulan lalu. Dirga masih terus merutuki dirinya karena tidak pernah bisa memulai obrolan setiap kali berada di situasi canggung seperti ini. "Ga," suara Aurora terdengar lirih. "Hm?" Dirga menoleh, dan mendapati pujaan hatinya itu sedang menatapnya. "Maaf ya kalau aku bikin kita jadi canggung begini," ucap Aurora penuh penyesalan. Dirga tidak tahu harus merespon apa. Dia mempererat pegangannya pada kemudi dan berusaha keras untuk konsentrasi mengemudikan mobilnya. Suasana kembali hening dan canggung. Bahkan suara alunan musik tidak lagi mampu mengatasinya. Sampai beberapa saat kemudian Dirga berkata, "Aku juga minta maaf. Maaf karena aku masih jadi pengecut sampai saat ini." Aurora menoleh dan tersenyum lembut lalu berkata, "Nggak apa-apa. Waktu itu kamu udah cukup berani kok, cuma saat itu aku lagi dalam keadaan yang membingungkan. Jadi aku nggak berani mendengar pernyataan kamu. Maaf karena aku belum bisa ngasih kamu kesempatan untuk ngungkapin apa yang seharusnya kamu ungkapkan sejak dulu." Dirga membalas senyuman Aurora sama lembutnya. "It's okay. Jadi sekarang… aku udah boleh nemuin kamu lagi, kan?" Dengan senyum yang masih belum luntur dari bibirnya, Aurora mengangguk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD