Sesuai rencananya, Aurora akan mengambil beberapa barang-barangnya yang masih tertinggal di rumah Reyhan. Sabtu pagi ini dengan diantar Gina dia berangkat menuju rumah yang pernah menjadi tempat paling nyaman untuknya selama satu bulan. Hanya satu bulan.
"Beneran nggak mau aku tungguin?" tanya Gina ketika Aurora akan turun dari mobilnya.
"Nggak, Na. Nanti pulangnya biar Mas Reyhan saja yang mengantar," balas Aurora sambil melepas seatbelt yang membelit tubuhnya.
"Kalian berdua beneran udah baik-baik aja?"
Aurora mengangguk yakin sebagai jawaban. "Seperti yang sudah aku ceritakan kemarin."
"Oke."
Setelah mobil Gina menghilang dari pandangannya, Aurora segera masuk ke rumah Reyhan. Rumah itu terlihat tidak terawat, rerumputan yang mulai meninggi, dedaunan yang berserakan karena lama tidak disapu, dan di lantai teras debu tebal terlihat. Perempuan itu menghela napas lalu menggeleng pelan.
Perlahan dia membuka pintu yang langsung menghubungkannya dengan ruang tamu. Tadi ketika mengabari Reyhan kalau dia sedang di jalan, lelaki itu menyuruhnya untuk langsung masuk saja ke dalam rumah karena pintu depan tidak dikunci. Dari ruang tamu, dia terus melangkah ke dalam menuju ruang tengah, setelah sebelumnya menutup kembali pintu depan.
Suasana rumah begitu sepi, membuat dadanya berdetak sedikit lebih cepat karena teringat kejadian yang dia lihat ketika terakhir kali mendatangi rumah tersebut. "Mas," panggilnya pada Reyhan. Pintu kamar yang ditempati Reyhan—dan dirinya dulu, sedikit terbuka. Dia membukanya dengan hati-hati dan mendapati Reyhan sedang bergelung di bawah selimut tebal. Yang terlihat hanya kepala lelaki itu saja. Tanpa sadar Aurora menghembuskan napas lega karena apa yang dia pikirkan tidak terjadi.
"Mas," dia kembali memanggil Reyhan seraya mendekat ke ranjang.
"Hmm," Reyhan membuka matanya dan mengerjap pelan. "Hei," sapanya dengan suara serak namun bibirnya yang pucat tetap menyunggingkan senyum.
"Kamu sakit?" mendengar suaranya yang serak dan hidung yang terlihat memerah juga bibir yang pucat, Aurora langsung tahu kenapa lelaki itu masih bergelung di bawah selimut.
"Cuma agak demam sama flu," Reyhan menjawab sembari berusaha bangun dari tidurnya, menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur. "Kamu ke sini sama Gina?" mata yang sayu itu terlihat berbinar menatap perempuan di depannya. Dia rindu.
"Iya, tapi tadi aku suruh pulang aja. Kasihan kalau nanti kelamaan nungguin aku beres-beres. Kamu udah sarapan?"
"Belum. Aku nggak kuat bangun tadi. Pusing banget."
Aurora mendesah pelan, prihatin dengan kondisi mantan suaminya itu. "Aku buatkan sarapan dulu. Kamu tiduran aja kalau masih pusing," tanpa menunggu jawaban Reyhan, perempuan itu melangkah menuju dapur.
Sesampainya di dapur dia mengamati sejenak tempat itu. Dulu, angan-angannya tentang dapur ini adalah membuat berbagai jenis masakan yang dia bisa ataupun mencoba resep baru yang ditemuinya dari berbagai sumber untuk Reyhan dan anak-anaknya kelak. Melihat Reyhan menunggunya menyiapkan sarapan dan makan malam bersama buat hati mereka di meja makan. Ah, tapi itu dulu. Sekarang tidak lagi.
Aurora mengambil sedikit beras untuk membuat bubur, kemudian melihat isi kulkas untuk mencari sesuatu yang juga bisa dimasaknya. Ada daging ayam dan juga wortel, nanti akan dia campurkan pada buburnya. Perempuan itu kembali mengedarkan pandangannya pada isi kulkas yang sedikit kotor. Menurut perkiraannya, kulkas itu belum pernah dibersihkan sejak dia meninggalkan rumah tersebut.
Aurora tahu kalau Reyhan bisa masak. Itulah sebabnya kulkas itu tidak kosong. Selain dua hal yang dia temukan tadi, masih ada beberapa sayuran segar lainnya seperti telur, sosis, nugget, buah-buahan, dan beberapa jenis minuman. Setelah puas mengamati isi kulkas, dia segera melaksanakan niatnya untuk membuatkan bubur untuk Reyhan.
Tidak sampai setengah jam semuanya sudah tertata rapi di atas nampan. Semangkuk bubur dengan campuran daging ayam dan wortel, air hangat, obat demam dan beberapa potong apel. Aurora segera membawanya ke kamar lalu membangunkan Reyhan. "Mas, sarapan dulu. Aku sudah buatkan bubur," ucapnya seraya meletakkan nampan di nakas.
Saat Reyhan membuka mata, Aurora membantunya bangun.
"It smells good," puji Reyhan.
"And I hope the taste is good too," balas Rara, menyerahkan mangkuk yang berisi bubur pada Reyhan. "Tadi udah aku kipasin sebentar, masih agak panas kayaknya. Makannya pelan-pelan."
"Makasih," senyum di bibir Reyhan mengembang diikuti hatinya yang menghangat. Serasa masih jadi istriku, batinnya.
"Aku boleh beresin barang-barangku?" setelah memastikan Reyhan bisa makan dengan baik, Aurora meminta ijin pada lelaki itu.
Reyhan meliriknya sekilas, kemudian kembali fokus pada buburnya. "Mauku sih enggak. Mauku, kamu tetap di sini. Jangan pergi lagi."
"Mas."
"I know. Itu nggak mungkin. Aku habiskan dulu buburnya, nanti aku bantuin," ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari mangkok bubur di tangannya.
Aurora tidak menjawab apapun, membiarkan Reyhan menghabiskan sarapannya dengan tenang. Perempuan itu mendekat ke lemari di kamar itu dan membukanya. Tidak ada yang berubah dari rak tempat baju-bajunya disusun. Hanya di sebelahnya sedikit berantakan susunannya, tempat baju-baju Reyhan tersusun. Dia merapikan rak tersebut, setelahnya mengeluarkan satu per satu baju-bajunya dari lemari, meletakkannya di atas kasur untuk nantinya disusun di dalam koper.
Reyhan yang sudah menghabiskan buburnya mendekat, berdiri tepat di belakang Rara. Entah apa yang ada di pikirannya, lelaki itu tiba-tiba memeluk Aurora dari belakang dan menumpukan dagunya di bahu Aurora, membuat perempuan itu tersentak kaget. Baju yang ada di tangannya jatuh ke lantai.
"Sebentar aja please," bisik Reyhan.
Aurora yang tidak tahu harus berbuat apa kemudian diam setelah mendengar kalimat yang diucapkan Reyhan. Membiarkan lelaki itu memeluknya, memeluk perutnya di mana ada buah cinta mereka di dalamnya. Aurora memejamkan mata ketika dirasakannya jemari Reyhan mengusap pelan perutnya. Andaikan situasinya lebih baik, momen ini pasti akan sangat menyenangkan sekali untuk dinikmati, batinnya. Tanpa sadar, tangannya menyentuh tangan Reyhan yang ada di atas perutnya lalu mengikuti gerakan tangan lelaki itu di atas perutnya.
"Aku kangen kamu, Ra," Reyhan kembali berbisik. Kemudian lelaki itu membalikkan tubuh Aurora agar menghadap ke arahnya. Tangannya menyentuh dagu perempuan, kemudian beralih ke bibirnya dan mengusapnya pelan dengan ibu jari.
Aurora langsung merasakan hangat dari telapak tangan Reyhan. Dia tahu dan sadar apa yang akan dilakukan Reyhan selanjutnya, lalu segera menghindar dengan melangkah mundur hingga punggungnya menabrak lemari di belakangnya.
Apa yang dilakukan Aurora membuat Reyhan sadar atas perbuatannya barusan. "Ma-maaf. Maaf Ra," Reyhan mengusap rambutnya dengan kasar. Lelaki bermata coklat itu berusaha menghilangkan rasa gugupnya dengan mengambil koper milik Aurora di atas lemari.
"Obatnya udah diminum?" Aurora pun berusaha memutuskan rasa canggung yang tiba-tiba muncul.
Reyhan mengangguk mengiyakan. "Buburnya enak. Makasih ya."
"Mas, istirahat aja kalau masih pusing. Aku bisa sendiri kok," adalah jawaban yang diberikan Aurora kepada Reyhan atas ucapan terima kasih yang laki-laki itu ucapkan.
"Nggak apa-apa. Pusingnya sudah berkurang."
Akhirnya mereka duduk di karpet kamar tersebut, menyusun baju-baju yang akan dibawa pulang oleh Aurora ke kontrakannya ke dalam koper.
"Bajuku banyak juga ya ternyata," celetuk perempuan itu ketika melihat kopernya yang penuh. Sudah lupa dengan kejadian beberapa saat lalu.
"Banyak. Tapi yang dipakai itu lagi itu terus," Reyhan menanggapinya dengan suara sengau khas orang demam dan flu.
"Ya kan cuma di rumah aja. Ngapain juga pakai baju yang ribet. Kita juga dulu nggak pernah keluar."
"Bukan nggak pernah, cuma belum aja. Aku sudah menyusun banyak rencana untuk keluarga kita. Tapi kamu terlanjur pergi duluan."
"Kamu jahat. Makanya aku pergi."
"Iya. Aku b**o banget emang. Maaf"
"b**o tapi bisa sampai jadi kepala HRD. Mantap."
Reyhan tertawa mendengar kalimat yang diucapkan Aurora. Dia tahu perempuan itu tidak bermaksud menghinanya.
Setelah memastikan baju-baju mantan istrinya itu sudah masuk ke koper seluruhnya, Reyhan menutupnya kemudian meletakkannya di dekat pintu. "Selesai," ucapnya kemudian. "Ada lagi?" tanya lelaki itu sembari mendekati Aurora yang masih duduk.
"Ada. Aku mau cek dulu apa aja yang mau kubawa. Tolong bantuin aku berdiri dong," Aurora mengulurkan tangannya kepada Reyhan. Perutnya yang semakin besar membuatnya sering kesulitan untuk bangun dari duduk.
Untuk beberapa saat Reyhan termenung, menyadari kalau Aurora pasti mengalami banyak kesulitan melakukan sesuatu dengan perutnya yang besar itu. Akibat ulahnya di malam pertama setelah mereka menikah, dan tentu saja malam-malam setelahnya. Sampai akhirnya perempuan itu memergokinya selingkuh, membuatnya tidak bisa lagi menikmati malam-malam indah itu.
"Mas, malah ngelamun sih?" panggilan itu membuyarkan lamunan Reyhan.
Lelaki itu segera menghampiri Aurora masih mengulurkan tangannya dan membantu perempuan itu berdiri. "Eh, maaf."
"Mikirin apa?" tanya Aurora setelah dia berdiri di sisi Reyhan.
"Nggak ada. Hanya sedikit pusing," alasan yang sungguh sempurna, bukan?
"Yaudah istirahat aja. Aku beres-beres sendiri nggak papa kok," perempuan yang hari ini mengenakan terusan hitam selutut yang dilapisi dengan cardigan dongker itu melangkah keluar kamar, berniat untuk membiarkan mantan suaminya istirahat. Tapi baru sampai di depan pintu, tangannya digenggam oleh Reyhan.
"Ra," panggil lelaki itu dengan tatapan yang melekat pada mata bulat Aurora. "Do you still love me?"