Reyhan melajukan mobilnya ke arah Terban, di mana terdapat salah satu restoran Sunda yang menyediakan menu ayam bakar madu. Selama di perjalanan, hatinya terasa hangat. Setelah enam bulan kemarin sulit sekali berkomunikasi dengan istrinya, ralat, mantan istrinya, hari ini perempuan itu kembali membuka diri untuknya. Tidak lagi bersikap keras padanya. Dan yang lebih membuat lelaki itu senang adalah, Rara mau mengatakan keinginannya.
Sejak awal mengetahui tentang kehamilan Aurora, lelaki itu tidak pernah benar-benar tahu apa yang dialami perempuan itu. Reyhan yakin dia mengalami hal-hal yang sewajarnya dialami perempuan hamil seperti morning sick dan ngidam, namun Reyhan tidak tahu. Aurora tidak pernah memberi tahu dirinya. Hanya sekali dia melihat Rara muntah-muntah, ketika perempuan itu mengajukan surat pengunduran diri ke kantor mereka enam bulan lalu.
"Kamu masih morning sick?" tanya lelaki itu penasaran. Pandangannya jatuh pada jemari Aurora yang sedang mengusap pelan perutnya.
Aurora yang awalnya menatap ke luar jendela, beralih menatap Reyhan lalu menggeleng. "Sudah nggak, kan sudah lewat trimester satu. Malahan sudah masuk trimester tiga. Ya memang ada sih yang masih morning sick pas sudah di trimester tiga, tapi setahuku jarang," jelasnya.
Reyhan lagi-lagi tersenyum. Selain karena lega mendengar Aurora tak lagi mengalami morning sick, dia juga senang karena perempuan yang sekarang sudah jadi mantan istrinya itu tidak lagi irit bicara seperti enam bulan kemarin.
Mobil Fortuner hitam itu memasuki area parkir Bumbu Desa yang siang ini terlihat ramai.
Awalnya lelaki itu berniat membukakan pintu untuk Aurora, namun perempuan itu sudah lebih dulu keluar. Mencoba peruntungan lainnya, Reyhan menggenggam tangannya, yang syukurnya tidak ada penolakan dari perempuan itu.
"Ra," panggil Reyhan ketika mereka sedang menunggu pesanan datang.
"Hm?"
"Makasih ya."
"Untuk?"
"Untuk kamu yang nggak lagi membangun tembok tinggi di antara kita."
"Aku juga berterimakasih karena kamu sudah mau mengikuti kemauanku. Terimakasih karena kamu nggak maksa lagi untuk aku bertahan sama kamu," Aurora mengucapkan kalimat itu dengan lancar dan tenang. Matanya menatap langsung manik mata mantan suaminya yang juga sedang menatapnya.
"Kamu masih mau dengar penjelasanku?"
"Kalau aku dengarkan, apa akan ada yang berubah? Kenyataan kalau kamu menyelingkuhiku, kenyataan kalau sekarang kita sudah bercerai. Apa semua itu bisa berubah?"
Reyhan mendesah, menggeleng pelan. Dia tahu itu, penjelasannya tidak akan mengubah apapun. "Kamu benar, nggak akan ada yang berubah. Aku tetap laki-laki b******k yang nggak bisa menjaga komitmen. Aku minta maaf," ucapannya terjeda karena pesanan mereka datang. Ayam bakar madu untuk Aurora dan iga bakar untuk Reyhan.
Setelah pramusaji yang mengantar pesanan mereka pergi, Reyhan berniat melanjutkan omongannya yang tadi terhenti. Tapi demi melihat wajah antusias Aurora dengan ayam bakar madu di hadapannya, Reyhan mengurungkan niatnya. Membiarkan perempuan itu menikmati makanannya dengan tenang, pun dirinya melakukan hal yang sama.
Selesai menghabiskan makanan mereka, Reyhan mengantar Aurora pulang.
"Ra, kamu nggak pengen sesuatu lagi?"
Di sebelahnya, Aurora hanya diam. Tak ada jawaban untuk pertanyaan Reyhan. Lelaki itu mengalihkan pandangannya dari jalanan setelah beberapa saat tidak ada respon dari Aurora di sebelahnya. Dia tertawa kecil melihat perempuan yang sejak tadi diajaknya berbicara ternyata tertidur pulas seperti bayi. Ketika mobilnya berhenti di lampu merah, lelaki itu memundurkan sandaran kursi yang diduduki Aurora agar perempuan bisa tidur dengan lebih nyaman.
Untuk beberapa saat, lelaki itu memandangi perut mantan istrinya yang bulat itu. Ada anaknya di dalamnya. Reyhan mengelus dan mengecupnya pelan, lalu tertawa kecil ketika melihat ada sesuatu yang bergerak dari perut Aurora kemudian berisik, “Halo, nak. Sehat-sehat ya, jangan nakal sama bunda,” Pandangannya kemudian naik, mengamati wajah cantik Aurora. Pipinya yang semakin berisi, hidungnya yang kecil, alisnya yang tebal, bibirnya yang merah... Reyhan mengusapnya pelan dengan ibu jarinya. Berhati-hati agar tidak membangunkan Aurora. Perlahan, dia memajukan tubuhnya. Mengecup pelan dan lembut bibir yang sangat dirindukannya itu. Reyhan merindukan itu. Menyentuh Aurora, membawanya pada puncak kenikmatan cinta.
Klakson dari mobil di belakangnya menyadarkan lelaki itu kalau lampu lalu lintas sudah hijau, menyadarkannya dari pikiran kotornya.
***
Aurora mengerjapkan mata beberapa kali. Saat matanya sempurna terbuka, yang dilihatnya pertama kali adalah Reyhan yang sedang menatap ke luar jendela.
"Sudah bangun?" Reyhan yang menyadari ada gerakan di sebelahnya menoleh, tersenyum.
"Sudah," Aurora menjawab canggung.
Reyhan membantunya bangun, kembali menegakkan sandaran kursi agar Aurora bisa duduk dengan nyaman.
"Kita sudah di sini sejak tadi?" tanya Aurora.
"Mmm... lumayan, sekitar satu jam mungkin.”
Mata Aurora membulat mendengar jawaban itu. "Kenapa aku nggak dibangunin? Kamu kan harus ke kantor lagi," serunya panik sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
"Nggak papa, Ra. Aku sudah ijin setengah hari untuk hari ini," kata Reyhan menenangkan.
"Oh..." Aurora mengangguk paham, menghembuskan napas lega. "Maaf aku ketiduran. Akhir-akhir ini memang gampang ngantuk," jelasnya.
"Iya, nggak apa-apa."
"Mau mampir dulu, Mas?"
"Boleh?"
"Ya boleh kalau mau."
Reyhan mengikuti Aurora masuk ke kontrakannya, menyerahkan sekantong plastik besar kepada perempuan itu.
"J.Co? Kapan belinya?" tanya perempuan itu dengan kening berkerut.
"Tadi waktu kamu tidur. Aku Gofood."
"Oh. Kalau gitu aku buat teh dulu,” Aurora meletakkan handbagnya di sofa ruang tamu, lalu beranjak ke dapur untuk membuat teh hangat.
Reyhan mengikutinya ke dapur dan duduk di kursi makan. Lelaki itu diam mengamati Aurora. Sudah lama sekali rasanya dia tidak melihat pemandangan itu, Aurora yang berdiri di depan kompor menyiapkan sesuatu untuknya. Entah makanan atau minuman. Reyhan rindu.
Dia merindukan segalanya tentang perempuan itu.
Aurora meletakkan dua gelas teh di meja, satu untuknya dan satu untuk Reyhan. Dia membuka kotak yang berisi donat favoritnya itu, mengambil salah satu yang topping oreo.
"Apa aku secantik itu sampai kamu melihatku seperti begitu?" Aurora tahu sejak tadi Reyhan memperhatikannya.
"Iya. Kamu perempuan tercantik yang pernah kukenal," Reyhan menjawabnya.
Aurora hanya mendengus kecil.
"Ra?" panggil Reyhan.
"Silahkan dijelaskan kalau kamu masih ingin memberi penjelasan. Tapi itu nggak akan mengubah apapun tentang hubungan kita. Nggak sekarang, nggak di masa yang akan datang," ucap Aurora tegas.
Reyhan menghembuskan napas pelan, menyesap tehnya dengan nikmat.
"Aku... aku sama Riska belum pernah melakukan hubungan badan."
Aurora mengernyitkan dahinya. Belum pernah? Lalu yang mereka lakukan di pagi itu apa? Salto?
Seolah mendengar pertanyaan itu, Reyhan menjawab, "Pagi itu.. ehm, malamnya aku mabuk. Aku bahkan nggak tahu siapa yang membawaku pulang. Saat bangun pagi itu, ada perempuan di sebelahku. Aku pikir itu kamu," Reyhan menatap kosong gelas di genggamannya. "Aku pikir itu kamu, Ra. Aku nggak sadar dan, ya sudah, kejadiannya mengalir begitu saja. Seperti yang kamu lihat. Tapi aku belum melakukan apa-apa dengannya selain... s-selain yang kamu lihat waktu itu. Dan aku baru sadar setelah kamu masuk ke kamar. For your information, aku nggak b***l waktu. Cuma topless," Reyhan kembali menghembuskan napas berat. "Dan setelah itu, aku nggak berhubungan lagi dengan Riska dalam bentuk apapun. Aku memblokir semua kontak dia," lagi-lagi Reyhan menghembuskan napas. Campuran antara lega dan sesak. "Aku minta maaf. Untuk semua hal yang menyakiti kamu," lanjutnya.
"Kamu udah berapa kali bilang minta maaf hari ini?"
Reyhan menggeleng pelan. Kalau dia harus mengatakannya jutaan kali agar Aurora memaafkannya, dia akan melakukannya.
"Aku sudah memaafkan kamu, Mas. Semoga kamu juga bisa memaafkan diri kamu sendiri," seulas senyum terbit di bibir Aurora, membuat Reyhan percaya kalau perempuan itu benar-benar memaafkannya meskipun tidak akan melupakan kelakuan brengseknya.