Akhir Kisah (Singkat) Kita

1236 Words
Enam bulan kemudian… Aurora berjalan tenang meninggalkan halaman pengadilan agama. Dress biru dongker yang dikenakannya menjuntai indah di bawah lutut, menari-nari disapa angin menjelang tengah hari. Surai panjangnya yang mencapai pinggang dibentuk menjadi fishtail braid kian membuatnya terlihat anggun. Perutnya yang semakin besar dan tubuhnya yang semakin berisi bahkan tidak membuat anggunnya hilang. Kaca mata hitam yang menutupi mata bulatnya menambah kesan dingin dan tak tersentuh pada perempuan berusia 27 tahun itu. Tangannya memegang sebuah amplop yang berisi surat perceraiannya dengan Reyhan. Ya, akhirnya perempuan itu memilih mengakhiri semuanya. Dia tidak menuntut harta gono gini sedikitpun. Bahkan ATM yang Reyhan berikan padanya di awal menikah akan dia kembalikan secepatnya. Setelah ini dia akan kembali ke rumah yang dia tinggali bersama Reyhan selama satu bulan, untuk mengambil beberapa barangnya yang masih tertinggal di sana, sekalian mengembalikan ATM itu. “Ra,” Reyhan yang baru datang menghampirinya. Penampilannya sedikit berantakan. Wajahnya kusut dan matanya sembab, tapi berbinar ketika melihat perempuan yang masih dicintainya berjalan dengan anggun di halaman pengadilan agama. “Kamu sendiri?” “Iya,” jawab Aurora singkat kemudian melepas kaca matanya. Dia menahan rasa ingin tahunya atas penampilan Reyhan yang tidak rapi seperti biasanya. “Aku antar pulang, ya?” “Nggak perlu, Mas. Aku mau ke obgyn dulu. Hari ini jadwalnya check up.” “Aku boleh ikut?” tanya Reyhan ragu-ragu. Selama beberapa bulan ini, Aurora tidak pernah mengajaknya ikut serta setiap kali perempuan itu mendatangi dokter kandungan. Padahal Reyhan sudah meminta untuk dikabari setiap kali Aurora akan check up ke dokter kandungan. Aurora hanya memberi tahu hasilnya saja, dan berpesan pada lelaki itu agar tidak perlu mengkhawatirkan apapun karena semua baik-baik saja. Aurora terdiam beberapa saat, menimbang tawaran dari lelaki di hadapannya yang kini telah resmi menyandang status sebagai mantan suaminya. Dia kemudian menjawab “boleh” dengan senyum kecil tersungging di bibirnya. Reyhan tentu saja sangat senang mendapat kesempatan itu. Dia menyerahkan kunci mobilnya pada Aurora, meminta perempuan itu untuk menunggu di sana. Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan urusannya di dalam gedung itu, karena Reyhan hanya perlu mengambil surat cerainya saja. Surat yang ingin sekali dia bakar dan berharap semua kembali baik-baik saja seperti semula. Di mobil, Aurora menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang, mengelus pelan perutnya yang besar. Dia tertawa pelan ketika bayinya meresponnya dengan tendangan kecil. Perempuan itu kemudian mengamati isi mobil yang dulu sering ditumpanginya. Tidak ada yang berubah, termasuk sebuah foto yang diselipkan oleh Reyhan di sun visor. Foto itu adalah foto dirinya dan Reyhan yang diambil di tahun ketiga mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Aurora berniat mengambilnya, namun urung karena Reyhan lebih dulu masuk ke mobil. Aurora menyerahkan kunci mobil yang tadi Reyhan berikan padanya, namun Reyhan tidak segera melajukan mobilnya. Lelaki itu justru hanya terdiam dengan pandangan kosong keluar jendela. “Mas,” akhirnya Aurora bersuara setelah lebih dari sepuluh menit mereka hanya diam. Reyhan tidak menjawab panggilannya. Hanya menatap perempuan yang kini telah menjadi mantan istrinya itu dengan pandangan yang tak bisa diartikan oleh Aurora. Dalam hatinya, lelaki itu memuji betapa cantiknya perempuan yang saat ini tengah mengandung buah hatinya. Buah cintanya dengan Aurora. Cinta yang kemudian dihancurkan oleh kebodohannya sendiri. Reyhan menghembuskan napas berat baru kemudian dia bersuara, “aku masih berharap bisa mendapat kesempatan lagi dari kamu, Ra. Merawat anak kita bersama, makan masakan kamu setiap hari, melihat wajah kamu setiap mau tidur dan bangun tidur. Kamu benar-benar nggak bisa kasih aku kesempatan lagi?” Aurora menghela napas pelan. “Kamu lupa ya? Enam bulan lalu aku pulang untuk memberi kesempatan itu ke kamu. Tapi…” tapi Aurora tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Dia menggigit bibir bawahnya untuk menahan air mata yang mulai menggenang agar tidak tumpah membasahi pipi tembamnya. Ingatan tentang suaminya yang sedang berhubungan badan dengan selingkuhannya selalu membuat dadanya sakit. “Lagi pula, mama kamu senang kan karena akhirnya kita berpisah,” lanjutnya. Ada kegetiran dalam suaranya kala mengungkapkan kenyataan tersebut. Reyhan menatap Aurora kaget. Dia tahu? Batinnya. “Aku tahu kok kalau mamamu sebenarnya nggak menyukaiku. Aku ingat bagaimana reaksinya sewaktu pertama kali kamu memberitahu mama kalau aku tumbuh besar di panti asuhan,” tentu saja. Reaksi dari mama mertuanya kala itu sangat terbaca oleh Aurora. Sebab mendapat reaksi seperti itu ketika orang tahu bahwa dia adalah anak yang tumbuh di panti asuhan bukanlah yang pertama kali. Reaksi kaget dengan pandangan meremehkan. Tidak tahu harus berkata apa, Reyhan memilih melajukan mobilnya ke rumah sakit yang disebutkan Aurora. Sepanjang jalan dia berkali-kali menghela napasnya yang terasa berat. Lelaki itu sangat tidak menyangka kalau selama ini mantan istrinya tahu kalau mamanya tidak menyukainya. Saat Reyhan mengutarakan keinginannya untuk menikahi Aurora, mamanya sempat menentang. Tapi Reyhan bersikukuh bahwa Aurora adalah yang terbaik untuknya. Reyhan sungguh-sungguh mengatakannya. Karena memang begitulah menurutnya. Lalu bagaimana dengan Riska? Soal Riska, sebenarnya Reyhan tidak memiliki perasaan yang disebut cinta pada perempuan itu. Dia hanya merasa nyaman berada di dekat Riska. Dan dengan bodohnya, dia menerima ajakan Riska untuk kencan. Padahal Riska juga tahu kalau lelaki itu sudah memiliki kekasih. Iya, Riska yang mengajaknya kencan dan memiliki sebuah hubungan, bukan Reyhan. “Aku minta maaf soal mama,” ucapnya kemudian ketika mobilnya berhenti di lampu merah. “Soal sejauh mana hubunganku dengan Riska, kamu masih mau mendengarnya?” tanya Reyhan dengan ragu. “Untuk apa?” Lampu hijau membuat Reyhan menunda jawabannya. “Setidaknya, untuk mengurangi rasa jijik kamu ke aku. Tapi aku nggak akan memaksa. Kalau kamu nggak ingin mendengarnya nggak apa-apa. Aku nggak akan menjelaskan kalau memang kamu nggak ingin dengar.” “Aku pikirkan dulu.” Reyhan senang mendengarnya. Artinya masih ada sedikit kesempatan untuk menjelaskan. Meskipun penjelasannya tidak akan mengubah banyak hal, namun seperti yang dikatakannya pada Aurora tadi, setidaknya rasa jijik perempuan itu padanya berkurang. *** Aurora memperhatikan wajah mantan suaminya yang sedang berjalan ke arahnya di kursi tunggu. Lelaki itu baru saja menebus resep vitamin yang diberikan obgynnya di apotek. Wajahnya terlihat lebih ceria dibandingkan dengan wajah yang dia lihat di halaman pengadilan agama tadi. Lelaki itu duduk di sebelahnya, menyerahkan bungkusan plastik kecil yang berisi vitamin. Aurora memasukkannya ke dalam tas setelah mengucapkan terima kasih. “Mau lunch bareng, nggak?” tanya Reyhan. Aurora tidak mau lagi keras pada lelaki itu, toh dia sudah memenuhi permintaannya untuk bercerai. Lagi pula, Reyhan tidak lagi memaksa jika keinginannya ditolak. Dan itu membuat Aurora lega, tidak lagi takut akan menerima perlakuan kasar seperti malam itu. “Boleh,” jawabnya. “Kamu mau makan apa?” Rara diam berpikir. Sejak tadi malam dia ingin makan ayam bakar madu, tapi tidak tahu harus mencarinya di mana. “Aku pengen makan ayam bakar madu, tapi nggak tau di mana” ucapnya pelan. Reyhan tersenyum melihat wajah Rara yang menurutnya menggemaskan. Antara ingin jujur tapi juga malu. “Anakku yang mau, ya?” tanya lelaki itu dengan seringai kecil di bibirnya. Aurora hanya mengedikkan bahunya sebagai jawaban. “Ya sudah. Ayo kita makan ayam bakar madu,” Reyhan menggamit jemari Aurora, membantu perempuan itu berdiri, kemudian melangkah meninggalkan lobi rumah sakit dengan jemari yang saling bertaut. Sebenarnya, Aurora sedikit canggung dengan perlakuan Reyhan. Mengingat enam bulan kemarin hubungan mereka tidak terlalu baik. Tapi sejak bertemu di pengadilan agama tadi, dia memutuskan untuk menerima perlakuan baik Reyhan padanya dan bayinya. Dan sejujurnya, dia senang diperlakukan manis seperti ini. Kalau ditanya apakah dia masih mencintai Reyhan? Perempuan bermata bulat itu akan dengan tegas menjawab iya. Sayangnya, rasa itu sudah tidak dibarengi lagi dengan kepercayaan. Sebuah pondasi penting dalam menjalin hubungan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD