Dirga menghentikan mobilnya di depan rumah minimalis yang ditempati Aurora dengan perasaan gugup. Jemarinya mengetuk setir secara konstan, sedangkan matanya tak henti memandang pintu rumah yang tertutup rapat.
Berbekal tekad yang kuat, Dirga menyambar bungkusan plastik yang tergeletak di kursi penumpang lalu keluar dari mobil. Dia berusaha melangkah setenang mungkin, memastikan kalau debaran jantungnya sudah normal. Dia kemudian mengetuk pintu beberapa kali dan mendapati Aurora yang membukakan pintu untuknya, namun dengan ekspresi kesal terpampang jelas di wajah cantiknya.
Di hadapan Aurora saat ini, Dirga berdiri dengan wajah segar dan penampilan rapi. Mungkin sama seperti Reyhan, lelaki itu juga akan berangkat kerja. Tapi Aurora tak tahu apa yang membuat lelaki itu datang ke kontrakannya sepagi ini.
Aurora sedikit salah tingkah karena salah mengira kalau yang datang adalah Reyhan. Dia berdehem beberapa kali untuk mengurangi rasa terkejutnya. “Maaf, Ga. Kupikir siapa,” ujarnya salah tingkah.
“Kamu kenapa kelihatan kesal begitu? Ada yang datang barusan?” Dirga menatap heran perempuan di hadapannya, yang meskipun sedang kesal tetap terlihat cantik.
Aurora meringis dan mengangguk samar menanggapi pertanyaan Dirga. “Masuk, Ga,” dia melebarkan pintu agar lelaki itu bisa masuk lalu menutupnya kembali setelah Dirga masuk. Aurora kembali ke dapur dan Dirga mengikutinya.
“Ada apa?” tanyanya sesampainya mereka di dapur yang sekaligus menyatu dengan ruang makan.
“Aku bawain buah,” lelaki yang pagi ini mengenakan kemeja hijau army itu meletakkan bungkusan plastik di atas meja makan. “Tadinya mau aku belikan sarapan, tapi biasanya kan jam segini kamu sama Gina sudah sarapan.”
Dirga memang tahu kebiasaan dua sahabatnya itu. Sebelum Aurora menikah dan tinggal bersama Reyhan, dia dan Gina selalu sarapan bersama. Entah mereka memasaknya sendiri atau sarapan di luar. Intinya, sarapan adalah hal yang wajib dilakukan oleh dua perempuan itu. Dan Dirga sering ikut bergabung sarapan bersama mereka karena lelaki itu terlalu malas menyiapkan sarapan.
“Yep. Kami sudah sarapan tadi,” Aurora mengiyakan, mengangkat piring bekas sarapannya bersama Gina tadi dan meletakkannya ke dalam bak cuci. “Kamu sudah sarapan?”
Bukannya menjawab pertanyaan Aurora, Dirga malah mendekati perempuan itu sembari mengamati wajahnya yang masih terlihat kesal. Setelah berada tepat di hadapan Aurora, kedua tangan Dirga terulur merangkum wajah perempuan kesayangannya itu.
"Siapa yang sudah membuatmu kesal sepagi ini?" tanya Dirga. Mengingat bagaimana Aurora menyambutnya tadi, pasti ada orang lain yang datang sebelum dirinya. Otak cerdasnya mengatakan bahwa orang tersebut adalah Reyhan.
"Huh?" Aurora mengerjap beberapa kali. Dia masih terkejut karena tiba-tiba tangan besar Dirga menangkup wajahnya, membuat bulu roma di sekujur tubuhnya meremang.
"Siapa yang tadi datang ke sini? Reyhan?" tanya Dirga lagi. Ibu jarinya mengusap lembut pipi Aurora.
Perempuan di hadapannya itu mengangguk pelan. Lalu kedua tangannya menyentuh telapak tangan Dirga yang bertengger di kedua pipinya. "Ya. Dia ke sini untuk minta maaf lagi, juga meminta kesempatan kedua. Dia menjadikan anakku sebagai alasan supaya aku mau memberinya kesempatan itu."
"Lalu kamu mengatakan apa padanya?"
"Tentu saja aku menolaknya. Tapi dia bilang akan kembali ke sini sampai aku luluh dan mau memberikan kesempatan kedua padanya."
"Itu sebabnya kamu kesal sepagi ini?"
“Hm hm,” gumam Aurora sambil mengangguk pelan. Tanpa sadar dia menahan napas karena wajahnya dengan wajah Dirga begitu dekat. “Dirga?” panggilnya kemudian.
“Ya?” sahut Dirga tanpa mengalihkan pandangannya dan kedua tangannya dari wajah Aurora.
“Jangan begini,” Aurora mencoba menyingkirkan tangan Dirga dari wajahnya, namun tangannya justru gemetar saat menyentuh jemari lelaki itu yang terasa hangat dalam genggamannya. Kalau boleh jujur, apa yang dilakukan oleh Dirga membuatnya lupa akan moodnya yang buruk karena kehadiran sang suami tadi.
Akan tetapi, Aurora juga tahu diri. Dia masih menjadi seorang istri, dan tak baik bagi seorang perempuan yang sudah bersuami berada di dalam satu ruangan dengan laki-laki lain hanya berdua saja. Sekalipun itu adalah orang yang sudah hidup satu atap dengannya selama belasan tahun di panti asuhan dulu. Terlebih lagi, laki-laki itu memiliki perasaan padanya. Pun mungkin dirinya juga begitu. Bila dipancing sedikit saja, maka perasaan yang sejak bertahun-tahun lalu hanya dipendam sendiri dan tertimbun seiring dengan kehadiran Reyhan di hidupnya, bisa langsung tumpah seperti air bah. Tak peduli meskipun sudah ada laki-laki lain yang mengisi hidupnya. Yang sialnya, laki-laki itu mengkhianatinya.
Bertahun-tahun sering menghabiskan waktu bersama Dirga, ini adalah kali pertama mereka berdiri sedekat ini. Aurora bahkan bisa merasakan hangatnya napas Dirga berhembus menerpa puncak kepalanya. Tubuh bagian depan mereka hampir bersentuhan. Kalau diukur dengan penggaris, mungkin jaraknya hanya satu sentimeter.
Setelah mengatur napas beberapa kali, Aurora menguatkan dirinya agar tangannya tak lagi gemetar. Lalu dengan perlahan dia kembali menyentuh telapak tangan Dirga yang lebih besar darinya dan menurunkan tangan lelaki itu dari wajahnya.
“Ini nggak benar,” katanya kemudian.
“Apanya yang nggak benar, Ra?”
“Kita. Hanya berdua seperti ini.”
“Memangnya ini yang pertama kali? Kita sudah sering berada di ruangan yang sama hanya berdua.”
“Tapi itu dulu, beda. Sekarang aku sudah bersuami, kalau saja kamu lupa.”
Dirga mendengus keras dan berkata, “Tentu saja aku nggak lupa. Aku ingat kalau suamimu itu b******n,” dia menatap tajam perempuan di hadapannya itu, namun segera mengalihkannya karena mendapati tatapan terluka di mata Aurora.
Dirga tak tahu pasti apa yang membuat Aurora begitu terluka. Entah karena ucapannya barusan atau karena memang pada kenyataannya, suaminya itu memang b******n. Persis seperti apa yang baru saja dia katakan.
“Sorry,” ujar Dirga beberapa saat kemudian. Diamnya Aurora membuatnya merasa bersalah karena sudah mengucapkan k********r.
“No. Kamu benar. Suamiku memang b******n dan aku terlalu bodoh untuk menyadarinya.”
“Kamu nggak bodoh dan jangan pernah menyalahkan diri sendiri,” geram Dirga. Dia benci mendengar suara putus asa Aurora. Selama ini, dia selalu berusaha membuat perempuan itu senang. Tapi Si b******n Reyhan dengan seenak udelnya membuat perempuan itu terluka.
Gina juga sudah mengatakan itu berulang kali pada Aurora. Kalau ada yang bodoh dan harus disalahkan, orang itu adalah Reyhan.
Aurora tak menanggapi ucapan Dirga. Dia memilih melanjutkan pekerjaannya yang lagi-lagi harus tertunda. Dia membiarkan Dirga duduk tenang di meja makan, sedangkan dirinya mencuci piring bekas sarapannya bersama Gina tadi.
“Kamu masih ada urusan? Kalau sudah nggak ada, kamu bisa pergi sekarang,” Aurora sudah selesai mencuci sekaligus mengeringkan piring-piring. Dia membalikkan tubuhnya dan bersandar pada pantry di belakangnya. “Sampai urusanku dengan Reyhan selesai, tolong jangan datang ke sini dulu. Kalau Gina nyuruh kamu ke sini untuk menemaniku selagi dia dan Edo kencan, kamu nggak perlu melakukannya," lanjutnya. Sambil mengucapkan kalimat itu, dia menatap lurus mata Dirga.
Kalimat itu diucapkan dengan tegas dan ekspresi datar. Menandakan bahwa Aurora benar-benar serius dengan ucapannya itu.
"Why? Apa karena tadi malam? Aku bahkan belum sempat berkata apa-apa," kerutan samar muncul di dahi Dirga.
“Aku cuma ingin mengurus perceraianku dengan tenang. Kalau aku sering melihatmu di sini, aku nggak akan bisa tenang,” itu memang benar. Pesona seorang Satria Dirgantara terlalu kuat untuknya. Aurora takut dia tak mampu menghadapinya, selagi hatinya harus dia persiapkan agar kuat menanggung beban hidup setelah perceraiannya nanti.
Dan yang paling penting adalah, dia tak ingin membuat perasaannya yang terpendam kembali muncul ke permukaan hatinya ketika dirinya masih menjadi seorang istri.
‘Maaf, Ga,’ pada akhirnya hanya dua kata itu yang bisa diucapkan oleh Aurora, di dalam hati.