Busy Morning

1136 Words
Aurora mengerti bahwa semalam Dirga hanya sedang ingin menggunakan kesempatan yang terbentang di hadapannya. Tapi mendengar langsung ungkapan cinta dari lelaki yang sudah bersamanya sejak balita itu, rasanya bukan sesuatu yang benar untuk saat ini. Jadi sebelum lelaki itu meneruskan kalimatnya, Aurora segera memutuskan panggilan tersebut. Dadanya berdebar cukup kencang setelah itu. Dia bahkan khawatir kalau Gina di kamar sebelah bisa mendengar detak jantungnya yang masih menggila. Akan tetapi, kenyataan bahwa Dirga mulai berani menunjukkan perasaannya membuat Aurora senang dan moodnya membaik. Ketika bangun tadi, untuk pertama kalinya setelah beberapa hari terakhir, dia bisa tersenyum setelah membuka mata. Bukan menarik napas berat seperti hari-hari sebelumnya. “Dih ngapain sih senyum-senyum begitu,” Gina baru saja keluar dari kamarnya dengan penampilan rapi khas pekerja kantoran memergoki Aurora yang tengah mengunyah nasi goreng sambil senyum-senyum.. “Sarapan dulu, Na,” Aurora menyodorkan piring berisi nasi goreng bagian Gina. Nasi goreng di piringnya sendiri tinggal tersisa setengah. “Aku nggak bisa sarapan sambil didera rasa penasaran, Ra,” Gina mengerling jahil. “Kenapa sih senyum-senyum begitu? Kasih tahu dong…” sahabatnya itu menggoyang lengannya, mencoba membujuknya. “Awalilah hari dengan tersenyum,” tak mau kalah, Aurora membalas kerlingan Gina dan mengabaikan wajah memelas sahabatnya itu. Sahabatnya itu hanya mendengus. Tapi kemudian tangannya mulai menyuapkan nasi goreng yang dimasak Aurora ke mulutnya dan langsung lupa dengan rasa penasarannya. Lima belas menit setelahnya Gina berangkat dengan dijemput Edo. Aurora baru saja akan membereskan piring sisa sarapannya bersama Gina, ketika terdengar ketukan pintu berkali-kali. “Sebentar,” sahut Aurora sambil meletakkan kembali piring di tangannya ke atas meja. Dia melangkah dengan cepat dan memutar kunci, lalu membuka pintu dan mendapati Reyhan berdiri di hadapannya. “Hei,” Reyhan menyapa. Penampilan laki-laki itu rapi seperti biasanya. “Ada perlu apa, Mas?” balas Aurora enggan. Dia masih malas bertemu suaminya itu sejak insiden beberapa waktu lalu. Sebenarnya setelah hari itu pun, Reyhan sudah menemuinya  lagi untuk meminta maaf karena sudah menguncinya di dalam ruangan dan meneriaki Aurora saat perempuan itu mengatakan akan loncat dari mobilnya jika Reyhan tak menuruti keinginannya untuk cerai. “Apa ada larangan seorang suami menemui istrinya sendiri?” Reyhan tak suka mendengar pertanyaan itu dari Aurora. Seolah dia merupakan orang asing. Maka dengan berat hati Aurora melebarkan pintu dan mempersilahkan sang suami masuk. “Kamu sudah sarapan?” tanya Reyhan setelah dia duduk di sofa. “Sudah.” Reyhan menarik napas berat dan menghembuskannya perlahan. “Aku minta maaf, Sayang,” katanya kemudian yang lagi-lagi merupakan sebuah permintaan maaf. Matanya menatap lurus mata bulat sang istri yang duduk di hadapannya. “Permintaan maafmu nggak merubah apapun,” sahut Aurora dingin. Dia membalas tatapan Reyhan dengan tatapan tajam. “Apa yang harus kulakukan agar kamu mau memaafkanku?” “Ceraikan aku,” jawab Aurora tegas. “Hanya itu yang perlu kamu lakukan,” sambungnya setelah sengaja menjeda kalimatnya tadi. “Aku nggak bisa, Ra. Dan aku nggak ingin kita bercerai. Please, kamu boleh meminta apapun asal jangan cerai. Aku cinta sama kamu. Sangat cinta dan nggak akan bisa melepaskan kamu,” Reyhan berdiri dan menghampiri Aurora, lalu menjatuhkan lututnya di hadapan perempuan itu sambil menggenggam tangannya. “Please, maafkan aku dan beri aku kesempatan kedua, Sayang. Kalau kamu nggak ingin melakukannya demi aku, lakukan itu untuk anak kita.” “Nggak usah bawa-bawa anak.” “Kamu egois, Ra.” “Aku egois dan kamu b******n. Aku sudah bilang kalau selingkuh adalah dosa yang tak termaafkan dalam sebuah pernikahan. Jadi nggak usah bujuk aku untuk memaafkan kamu. Kamu bahkan melakukan kekerasan padaku. Lengkap, kan? Perselingkuhan dan kekerasan dalam rumah tangga. Dua hal yang sangat mendukung untuk menjadi alasan perceraian,” kemudian dia melepaskan tangan Reyhan yang menggenggamnya lalu melipat kedua tangannya di depan d**a. Sedangkan laki-laki di hadapannya itu hanya bisa menunduk penuh penyesalan. Bayangan tentang indahnya hidup berdua bersama lelaki yang sudah menemaninya selama lima tahun itu benar-benar lenyap tak bersisa. Jangankan membayangkan, melihat wajah suaminya saja sudah membuatnya muak setengah mati. Ingin rasanya dia mencabik-cabik wajah tampan suaminya itu, namun kuku-kukunya nggak cukup panjang untuk bisa mencakar. Aurora pikir hari ini dia bisa menghabiskan hari dengan tenang, damai dan bahagia. Setelah berhari-hari bangun dalam keadaan hidup segan mati tak ingin, baru pagi ini dia bisa bangun dalam keadaan senang. Akan tetapi, semesta tidak mendukungnya. Dia tahu Reyhan akan terus mendatanginya untuk meminta maaf. Tapi sekali lagi, baginya sudah tak ada yang tersisa dalam kehidupan rumah tangganya selain rasa kecewa yang begitu dalam. Kalau tadi malam Aurora masih ragu apakah dia benar-benar ingin bercerai atau mempertahankan pernikahan mereka setelah mengetahui kehadiran sang buah hati, maka kehadiran Reyhan pagi ini justru membuatnya yakin kalau bercerai adalah keputusan yang paling tepat. Dia lebih memilih menjadi janda daripada harus hidup dalam pernikahan yang tak sehat. Mungkin Reyhan memang benar-benar ingin meminta maaf dan berjanji tak akan mendua lagi. But who knows? Aurora sudah tidak bisa percaya pada lelaki itu sekalipun Reyhan melakukan sumpah pocong. What the heck! Setelah mengatur napas sedemikian rupa agar bisa bicara dengan tenang, Aurora kembali menatap wajah Reyhan yang terlihat begitu frustasi. Wajah frustasi itu hampir saja menggoyahkan niatnya untuk mengeluarkan kalimat yang sudah disusunnya. Tapi dia tak boleh goyah hanya karena hal tersebut. “Aku sudah menemukan pengacara untuk mengurus perceraian kita. Dalam waktu dekat dia pasti akan segera menghubungi kamu. Jadi mohon kerjasamanya untuk tidak mempersulit prosesnya, Mas.” Bahu Reyhan terkulai lemas. Kepalanya menunduk semakin dalam dan helaan napasnya terdengar semakin berat. “Apa nggak bisa dipertimbangkan lagi, Ra? Aku sudah meminta maaf dan mengakui kesalahanku. Aku juga sudah berjanji untuk nggak berhubungan lagi dengan dia.” “Nggak ada lagi yang harus kupertimbangkan,” sahut Aurora ketus. “Anak kita, Ra,” Reyhan mengangkat kepalanya dan membalas tatapan tajam sang istri. “Aku sudah bilang sebelumnya untuk nggak melibatkan anak,” Aurora memijat pelipisnya. Kepalanya mulai pusing karena pembicaraan mereka yang rasanya hanya berputar-putar saja. “Kalau yang kamu khawatirkan adalah aku akan menjauhkan kamu dan anak kita setelah dia lahir, aku nggak akan melakukan itu. Aku sudah mengatakan ini sebelumnya, kalau saja kamu lupa." “Ra…” “Kamu nggak kerja? Seharusnya jam segini kamu sudah duduk di depan komputer. Bukan duduk di depanku dengan wajah kusut seperti itu.” Reyhan mengangkat tangannya untuk melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan. Dia kembali mendesah pelan untuk kesekian kalinya. “Aku pamit dulu. Besok aku ke sini lagi, jadi tolong pikirkan baik-baik permintaanku. Demi anak kita.” See? Dasar keras kepala! Aurora mengumpat dalam hati. Sepeninggal Reyhan, Aurora kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena kedatangan ‘tamu tak diundang’. Sayangnya, pekerjaan itu harus tertunda kembali karena lagi-lagi pintu depan diketuk. Setelah menghembuskan napas dengan kasar, dia kembali ke ruang tamu dan membuka pintu dengan kasar juga lalu berseru, “Apa lag…” namun mulutnya justru menganga melihat siapa yang berdiri di hadapannya saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD