I am Coward, But I Love You

1109 Words
Aurora berkali-kali mengubah posisi berbaringnya yang rasanya tiak juga menemukan posisi nyaman. Dari terlentang, menyamping ke kiri, menyamping ke kanan, semuanya tak ada yang membuatnya segera terlelap. Dia bahkan menghidupkan kembali lampu yang sebelumnya telah dipadamkan lalu memadamkannya kembali. Tapi matanya tak kunjung terpejam juga. Pikirannya masih terus mengingat momen ketika dia dan Dirga berpelukan tadi. Tubuhnya masih mengingat dengan jelas bagaimana hangat dan nyamannya memeluk lelaki itu. Selama ini, yang bisa dirasakan olehnya hanyalah genggaman tangan Dirga ketika mereka menyeberang jalan ataupun ketika dengan usilnya laki-laki itu mengacak rambutnya. Juga ketika Dirga mengusap pipinya untuk menghapus air mata setiap kali Aurora menangis karena dibully oleh teman-temannya semasa SMA. Hanya itu kontak fisik yang pernah terjadi di antara mereka. Aurora tak pernah merasa senyaman itu saat berpelukan dengan Reyhan. Aurora merasa aman dan terlindungi di dalam pelukan Dirga. Dia juga merasa tenang. Dalam pelukan lelaki itu, segala gundah gulananya lesap entah kemana. Pelukan itu seolah memberitahu Aurora bahwa laki-laki itu menyerahkan seluruh hidupnya untuk menjaga dan melindunginya dari segala hal buruk di dunia ini. Seperti yang selama ini dilakukannya. Menyadari hal itu, bibirnya melengkung membentuk senyum. Tiba-tiba dia merasa rindu pada lelaki itu. Dammit! Bisa-bisanya dia merindukan laki-laki lain di saat dirinya masih sah sebagai istri Reyhan? Tapi bukankah suaminya yang lebih dulu bermain api di belakangnya? Aurora tidak bermaksud membalas perbuatan suami yang telah mengkhianatinya itu. Hanya saja, dia jadi menyadari satu hal, bahwa dia menyesal karena di masa lalu telah membesarkan rasa gengsi di dalam dirinya. Gengsi yang selalu mencegahnya untuk mengungkapkan perasaannya pada seorang Satria Dirgantara. Kalau saja dulu… ah tidak. Apa yang sudah terjadi tak akan bisa diganti. Denting notifikasi di ponselnya yang tergeletak di atas nakas memutus segala pikiran Aurora tentang Dirga. Perempuan itu bangun dan menyandarkan punggungnya pada dinding kamar setelah sebelumnya meletakkan bantal di sana. Dia membuka lock screen ponselnya dan mendapati nama Reyhan muncul sebagai pengirim pesan. Aurora memang sudah membuka blokir nomor lelaki itu sore tadi. Dia melakukannya setelah Reyhan berjanji untuk tidak lagi mendatanginya di kontrakan tanpa seizin Aurora. Reyhan Abimanyu: I miss you, Ra Membaca pesan tersebut membuat Aurora menghela napas berat, merasa muak dengan sikap suaminya itu. Dia baru saja akan mengetik pesan balasan untuk Reyhan ketika sebuah pesan lainnya masuk. Dari Dirga. Satria Dirgantara: Hei. Belum tidur? Dengan senyum yang kembali terukir di bibirnya, Aurora mengetik balasan untuk pesan tersebut. Putri Aurora: Hei… belum. Kenapa? Satria Dirgantara: Nothing. Cuma ingin bilang, aku akan selalu ada buat kamu apapun yang terjadi Putri Aurora: Thank you, Ga :) Satria Dirgantara: Anytime, Ra... Aurora lupa pesan Reyhan yang belum dibalasnya. Dengan segera, pikirannya kembali dipenuhi Dirga. Pesan yang dikirim lelaki itu barusan, apakah itu menandakan bahwa dia masih mencintai Aurora? Dengan tangan yang sedikit bergetar, Aurora memaksa jemarinya mengetik kembali pesan balasan untuk Dirga dan segera mengirimnya. Putri Aurora: Do you still love me? Tetapi belum semenit pesan itu terkirim, jantungnya sudah berdebar tak karuan dan dia sudah berkali-kali merutuki dirinya sendiri yang merasa bodoh telah menanyakan hal tersebut pada Dirga. Ketika Aurora berniat untuk menarik kembali pesan tersebut, Dirga sudah lebih dahulu membacanya, dan detik selanjutnya lelaki itu menelponnya. “Angkat nggak ya?” Aurora bimbang. Dia berkali-kali menepuk jidatnya, juga menghembuskan napas panjang, berusaha menenangkan diri. Sayangnya, debaran jantungnya tak kunjung mereda. Justru semakin menjadi seiring dengan dering telepon dari Dirga yang sepertinya tidak akan berhenti sebelum Aurora menjawabnya. “Hei,” suara Aurora sedikit bergetar. “Sorry, Ga. Nggak perlu dipikirkan pesanku tadi. Just forget it, okay? Kamu bisa menghapusnya dan…” [“Ra,”] Dirga menyela omongan Aurora yang di telinganya terdengar gugup dan panik. [“Rileks, okay?”] Di seberang sana, Dirga mendengar Aurora yang menarik dan menghembuskan napas berkali-kali. Breathe in, breathe out. [“Better?”] tanya Dirga, memecah keheningan yang semakin memberi jarak setelah keduanya saling diam beberapa saat. Aurora hanya menjawab dengan gumaman pelan. Dia masih sibuk merutuki dirinya yang entah kesurupan apa sampai bisa-bisanya mengirim pesan  seperti itu pada Dirga. Apa yang saat ini ada di pikiran lelaki itu setelah membaca pesan Aurora? Apakah dia akan menganggap Aurora aneh? Apakah Dirga akan menganggap Aurora tak tahu diri? [“Boleh kujawab pertanyaannya?”] dengan hati-hati Dirga bertanya. "No. Nggak. Jangan. Jangan bicara apapun, please,” Aurora kembali gugup dan panik. To be honest, dia ingin tahu apakah Dirga masih memiliki perasaan padanya. Tapi dia juga takut mendengar jawabannya. Jika laki-laki itu menjawab ‘masih’, memangnya ada yang akan berubah? Kalaupun laki-laki itu menjawab ‘masih’, apakah mereka masih memiliki kesempatan untuk bersama? Pernikahannya dengan Reyhan bahkan belum jelas akan bermuara kemana. [“Why? Aku sudah menjadi pengecut selama bertahun-tahun, meskipun tahun-tahun itu aku melewatinya bersamamu. Jadi untuk sekali ini saja, bolehkah aku jujur tentang perasaanku?”] “Lalu apa setelahnya?” Dirga terdiam mendengar pertanyaan itu. Lalu apa? Memangnya, jika dia berkata jujur tentang perasaannya pada Aurora, apakah perempuan itu lantas menerimanya? Pun jika dia jujur tentang perasaannya pada Aurora, tak ada untungnya bagi perempuan itu. Bisa jadi kejujurannya justru semakin membuat runyam keadaan Aurora yang sudah kacau. Aurora dan Reyhan bahkan belum tentu jadi bercerai. [“Kenapa kamu nggak berani jujur sejak dulu? Kenapa kamu memilih menjadi pengecut?”] Tidak tahu. Sejak dahulu, Dirga tak pernah tahu mengapa dirinya begitu pengecut untuk mengungkapkan perasaannya pada Aurora. Sampai Gina dan Edo lelah mendorong dan membujuknya untuk jujur pada perempuan itu. Sampai dirinya sendiri patah hati ketika Aurora melabuhkan hatinya pada laki-laki lain. ["Aku nggak tahu. Aku memang sepengecut itu."] Aurora tak tahu harus berkata apa. Pada dasarnya dia pun sama pengecutnya dengan Dirga. Tapi dia tak ingin mengakui hal tersebut. Sejak remaja, sudah banyak perempuan yang menunjukkan rasa tertariknya pada Dirga. Tak tanggung-tanggung, mereka bahkan berani mengungkapkannya langsung pada lelaki itu. Banyaknya perempuan yang menaruh hati pada lelaki itu membuat Aurora insecure. ["Ra?"] Panggilan Dirga membawa Aurora kembali dari lamunannya. "Ya?" Ada jeda yang lumayan lama setelah Dirga memanggil namanya. Aurora bisa mendengar kalau di seberang sana Dirga menghembuskan napas berat berkali-kali, seolah ingin mengatakan sesuatu yang begitu mengganjal hatinya sejak lama. Kenapa, Ga?" pancing Aurora kemudian. ["Aku mau jujur sama kamu,"] gumam Dirga. Aurora membelalakkan matanya tak percaya, namun kemudian kepalanya menggeleng kuat-kuat. ["A-aku ci—"] Dan sebelum Dirga menyelesaikan pengakuannya, Aurora lebih memutuskan panggilan tersebut. Apakah jahat jika Aurora tak membiarkan Dirga menyelesaikan kalimatnya? Kalimat yang diyakini Aurora kalau isinya adalah ungkapan cinta yang sejak duu sekali ingin didengar telinganya. Aurora ingin mendengarnya. Tapi pikirannya masih kalut dengan kondisi rumah tangganya. Batinnya berkali-kali melafalkan kata maaf meskipun Dirga tak mendengarnya, berharap semoga apa yang dilakukannya barusan tidak membuat seorang Satria Dirgantara patah hati untuk kesekian kalinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD