A Question

1376 Words
Dirga berbaring terlentang di atas kasurnya sejak dua jam yang lalu, hanya menatap langit-langit kamarnya yang gelap. Pikirannya masih dipenuhi wajah Aurora yang sedih dan putus asa, juga kalimat yang diucapkan perempuan itu tentang kehamilannya. Goddammit! Dirga mengusap wajahnya kasar. Wajah Reyhan muncul dalam benaknya. Ingin sekali dia menghantamkan tinju ke wajah lelaki itu, yang dengan teganya menyakiti Aurora. Aurora-nya, yang sejak dulu selalu dijaga dan dilindunginya. Kalau saja waktu bisa berputar ke masa lalu, Dirga ingin sekali kembali ke masa di mana Aurora belum bertemu Reyhan. Kemudian dia akan mengungkapkan perasaannya pada perempuan itu dan mencintainya dengan sepenuh hati. *** Lima tahun yang lalu, di acara wisuda Aurora… Dirga mengedarkan pandangannya di antara kerumunan orang-orang yang berkumpul di gedung serba guna kampus, mencari sosok Aurora di antara kerumunan tersebut. Indra penglihatannya menangkap sosok mungil itu sedang berusaha menerobos kerumunan yang kian sesak, tidak jauh dari tempatnya berdiri. Bergegas dia menghampiri Aurora, menggamit tangannya, lalu membawanya ke Fakultas Saintek yang letaknya tidak jauh dari gedung itu. Dari ekor matanya, lelaki itu sesekali melirik pada perempuan bermata bulat itu. Anggun sekali hari ini penampilannya. Kebaya biru dongker berpadu dengan rok batik, juga heels tujuh senti yang membuat perempuan mungil itu terlihat lebih feminin. Tidak lupa polesan make up tipis di wajahnya yang membuat Dirga semakin terpana. "Kok ke sini sih, Ga? Fakultasku kan di gedung sebelah," protes Rara. "Kejauhan kalo mesti ke Fakultas Psikologi. Kasihan kamu, nanti kakinya sakit jalan kejauhan. Jadi ke fakultasku aja dulu. Ibu sama ayah udah nunggu di lobi depan juga," jawab Dirga, masih menggandeng tangan Rara dengan erat. Ibu dan ayah yang dimaksud lelaki itu adalah orang tua mereka di panti asuhan yang menjadi tempat bernaung mereka selama ini. "Ya tapi temen-temenku ngumpulnya di sana semua," Aurora masih melanjutkan protesnya. "Yaudah ke sini dulu sebentar, temui ibu sama ayah. Kamu kan yang minta mereka buat ikut dateng ke wisuda kamu," Dirga menanggapi protes Aurora setenang mungkin. Mendengar ayah dan ibu panti disebut, Aurora seketika diam dan tetap mengikuti kemana Dirga membawanya. "Hai cantik," Bu Ratna yang sedang duduk, langsung berdiri menghampiri Aurora yang baru sampai di lobi Fakultas Saintek, memeluk dan mengucapkan selamat atas wisuda gadis itu. "Makasih ya, Bu. Makasih juga sudah mau datang ke wisuda Rara. Jadi berasa punya orang tua," matanya berkaca-kaca saat mengucapkan kalimat itu. "Kamu ngomong apa sih. Ibu sama ayah kan orang tua kamu, Ra." "Iya," Aurora tidak bisa berkata apa-apa lagi, sebab air matanya terlanjur jatuh. "Kok nangis? Duh nanti make up kamu luntur loh," Bu Ratna mengusap pelan air mata di pipi Rara, lalu kembali memeluknya. "Selamat ya, Ra. Akhirnya resmi punya gelar Sarjana Psikologi," Pak Sandi, yang biasa mereka panggil dengan sebutan ayah, ikut menghampiri mereka dan menyalami Aurora. "Makasih, Ayah. Makasih sudah mau repot-repot datang ke wisuda Rara." "Foto yuk," Dirga berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba sendu itu. Dia meminta tolong temannya yang kebetulan lewat untuk mengabadikan momen tersebut. Setelahnya, dua orang yang sudah Aurora anggap sebagai orang tua kandungnya itu pamit untuk kembali ke Rumah Cinta, karena akan ada tamu yang berkunjung ke yayasan tersebut. "Aku ke fakultas ya, Ga," pamit Aurora. "Aku datang ke kampus buat kamu loh, terus ditinggal gitu aja?" "Ck, ikut yuk. Sekalian aku mau kenalin kamu sama seseorang," Aurora menarik tangan Dirga agar lelaki itu mengikutinya. "Siapa?" tanya Dirga penasaran. "Rahasia dong." Dirga mendengus kesal. Di lobi Fakultas Psikologi, terlihat teman-teman Aurora sedang asik berfoto ria. Seseorang melambaikan tangan padanya sambil tersenyum. "Hei.." sapanya ketika Aurora—dan Dirga sudah berada di depannya. "Selamat ya," ucapnya seraya mengecup pipi Aurora dan menyerahkan sebuah buket bunga. Aurora melepaskan tangannya yang sejak tadi menggenggam tangan Dirga untuk menerima bunga itu. "Makasih, Mas. Ga, kenalkan ini Mas Reyhan. Mas, ini Dirga, yang sering aku ceritain," Aurora memperkenalkan keduanya. Reyhan mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Dirga lalu memperkenalkan diri. "Reyhan, pacarnya Rara." "Dirga, teman hidupnya Rara di Rumah Cinta," Dirga balas menjabat tangan Reyhan dan memperkenalkan diri. Diam-diam Aurora mengamati ekspresi wajah Dirga, mencoba membacanya. 'Ekspresi macam apa itu.' Batinnya. Ekspresi Dirga tidak terbaca. Aurora tidak menemukan kecewa dan sedih dalam ekspresi itu, tidak juga menemukan ekspresi senang. Padahal ketika mereka bertemu di gedung serba guna tadi wajah Dirga terlihat senang. "Saya tahu. Rara banyak cerita tentang kamu," Reyhan membalas perkenalan Dirga. "Senang bisa bertemu kamu, Dirga." Dirga hanya mengangguk. Tatapannya kemudian beralih pada Aurora yang berdiri di sebelah Reyhan, namun tanpa sengaja dia melihat tangan mereka saling bertaut dan membuat hatinya berdenyut nyeri. "Ra aku balik ke fakultas ya. Ada janji sama Edo." Itu dusta. Dirga hanya tidak ingin berlama-lama ada di sana, mendapati kenyataan bahwa Aurora telah melabuhkan hati pada pria bernama Reyhan. Melihat senyum bahagia gadis itu saat Reyhan melambaikan tangan padanya, melihat senyum Aurora ketika menerima buket bunga dari Reyhan, dan genggaman tangan itu. Sungguh, semua itu membuat ngilu hatinya. Dirga hanya ingin pergi meninggalkan keramaian itu. Meninggalkan Aurora yang sedang dimabuk cinta. Dia ingin menghilang. Dia patah hati. *** Entah kenapa momen itu kembali menghampiri ingatan Dirga. Hari di mana Aurora wisuda, yang justru menjadi hari patah hatinya. Malam ini hatinya kembali berdenyut nyeri mendapati bahwa Aurora sedang mengandung anak dari seorang pria b******k. Harapannya tentang perpisahan antara Aurora dengan suaminya mulai luntur. Sejak pulang dari kontrakan dua sahabatnya tadi, yang dia lakukan di apartemen studionya itu hanya berguling-guling di atas kasur. Malam yang semakin larut tidak membuat matanya menyerah untuk mendukung pikiran-pikirannya yang isinya hanya Aurora, Aurora dan Aurora. Mungkin benar bahwa Dirga egois karena sangat berharap Aurora dan Reyhan bercerai. Tapi menurutnya, itulah yang terbaik. Dia setuju dengan perkataan Edo bahwa selingkuh adalah dosa terbesar dan tidak termaafkan dalam sebuah pernikahan. Apalagi, tadi Aurora sempat bilang kalau dia sudah tidak bisa lagi mempercayai suaminya itu. Jika sebuah rumah tangga berdiri tanpa adanya kepercayaan, apakah orang-orang di dalamnya sanggup bertahan dari segala terjangan badai? Sekalipun ada anak, rasanya akan sulit hidup bersama seseorang yang tidak bisa kita percaya. Lagipula, perceraian tidak selalu buruk, kan? Kalau pada akhirnya perceraian bisa membuat seseorang hidup lebih bahagia, kenapa harus bertahan pada sebuah pernikahan yang membelenggu? Dirga mengacak rambutnya dengan kesal. Seharusnya dia tak peduli dengan itu semua. Seharusnya dia tidak perlu memikirkannya. Tapi ini tentang Aurora, perempuan yang selalu dia jaga sepenuh hati sejak kecil. Perempuan yang jika namanya disebut selalu membuat dadanya berdebar. Ini tentang Aurora, perempuan yang selalu dicintainya sejak dahulu. Bahkan sebelum dirinya mengerti perasaan seperti apa yang disebut cinta. Tahu tidak akan bisa tidur dalam waktu dekat, Dirga bangun dari kasurnya menuju dapur. Perutnya lapar lagi. Dia membuat mie instan rebus dan segelas teh hangat. Perut kenyang barangkali bisa membuat pikirannya lebih tenang dan mengundang rasa kantuk untuk datang. Setelah selesai menghabiskan mie rebusnya, lelaki berusia 27 tahun itu duduk sofa depan tv tanpa melakukan apa-apa. Hanya menghirup aroma teh hangat untuk mencari ketenangan dari minuman berwarna coklat bening tersebut. Sedikit membantu, pikirnya. Dirga menyandarkan punggungnya di sofa, memejamkan mata, berharap kantuk akan segera menghampirinya. Alih-alih merasakan kantuk, ingatannya justru kembali memutar adegan pelukan antara dirinya dengan Aurora tadi. Dan dia baru menyadari bahwa dia sangat menikmati pelukan tersebut dan berharap bahwa Aurora pun menikmatinya. Pelukan tadi adalah yang pertama kalinya di antara mereka. Selama ini, kontak fisik mereka hanya berjabat tangan ketika menyetujui sesuatu, bergandengan tangan saat menyeberang jalan, dan juga saling mengacak rambut masing-masing ketika kesal. Tak lebih dari itu. "Gosh! I miss you, Ra," Dirga bergumam samar. Kemudian tangannya terulur mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja kopi lalu membuka aplikasi w******p. Dia membuka ruang obrolannya dengan Aurora dan mendapati perempuan itu sedang online. Niat awalnya hanya membaca ulang chat-nya dengan perempuan itu. Chat yang tak pernah dihapusnya sejak pertama kali dia mengirim pesan pada Aurora sejak aplikasi tersebut diinstal di ponselnya. Tapi melihat perempuan itu masih online di tengah malam seperti ini, membuat laki-laki itu ingin menyapanya. Satria Dirgantara: Hei. Belum tidur? Sebuah pesan pembuka yang basi, rutuknya dalam hati. Balasan Aurora muncul selang beberapa detik kemudian. Putri Aurora: Hei… belum. Kenapa? Satria Dirgantara: Nothing. Cuma ingin bilang, aku akan selalu ada buat kamu apapun yang terjadi Putri Aurora: Thank you, Ga :) Satria Dirgantara: Anytime, Ra… Dirga pikir Aurora tak akan membalas pesannya lagi, namun ternyata, Aurora kembali membalas. Dengan balasan yang membuat jantung Dirga seperti akan copot. Putri Aurora: Do you still love me?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD