Dirga menghembuskan napas berat berkali-kali. Sejak tadi tatapannya tak lepas dari gawai di genggamannya, dengan sebuah aplikasi sosial media yang sedang terbuka, menampilkan profil seorang perempuan yang sudah lebih dari satu bulan ini membuat hidupnya tak tenang. Well, bukan hanya satu bulan terakhir saja, sebenarnya. Lebih tepat jika dikatakan seumur hidupnya.
Tak ada update baru dari profil tersebut, postingan terakhir di feednya adalah sebuah foto siluet dengan latar belakang sunset di sebuah pantai yang diposting sekitar tiga bulan yang lalu. Dirga sangat tahu di mana dan kapan persisnya foto itu diambil.
“Ga,” suara panggilan itu tidak membuat Dirga mengangkat kepalanya untuk melepaskan pandangan dari gawainya. Hanya gumaman singkat yang keluar dari mulutnya untuk menjawab panggilan itu. “Nggak sakit tuh mata sama leher dari tadi nunduk terus liatin hp?”
Dirga menatap Edo yang duduk tepat di hadapannya. “Nggak,” jawabnya singkat lalu kembali menatap gawainya, beralih pada aplikasi w******p untuk mengirim pesan pada seseorang lalu meletakkan gawai keluaran terbaru itu di atas meja. Kopi hitam tanpa gula yang sejak tadi hanya didiamkan hingga dingin akhirnya menarik perhatian lelaki itu. Dia menyeruput perlahan kopi single origin asal Aceh tersebut, menikmati rasa asam pahitnya tanpa ekspresi.
“Mikirin Rara, ya?” Edo kembali bertanya. Tentu saja sahabatnya itu sangat tahu tentang perasaan yang dipendam Dirga entah sejak kapan itu.
Dirga mendengus kemudian bergumam pelan. “Apa sih.”
Edo tertawa melihat wajah sahabatnya sejak kuliah itu. “Kalau kangen ya disamperin lah, kan dia sekarang di kontrakan terus sama Gina. Nggak bakalan ketahuan sama suaminya kalau kamu nyamperin,” kata Edo dengan seringaian lebar dari bibirnya.
“Ya tetap saja dia istrinya orang,” Dirga mendesah pelan.
“Sepertinya Rara nggak mau balik lagi sama si Reyhan.”
Dirga menatap Edo, tertarik dengan apa yang baru saja dikatakan oleh sahabatnya itu. “Memang dia jadi mengajukan gugatan cerai?” tanyanya penasaran.
“Kepo,” balas Edo.
“b*****t,” Dirga melempar gulungan tisu ke wajah Edo, namun berhasil ditangkap oleh sahabatnya itu. Edo tertawa puas atas respon dari Dirga.
“Tanya saja sama pacarku. Bakal dijabarin panjang lebar kalau kamu yang tanya,” jelas Edo.
Dirga mengangguk mengiyakan.
“Kalau misalnya dia benar-benar bercerai, gimana Ga?” Edo kembali bertanya pada Dirga.
“Apanya yang gimana?”
“Oh come on Dirgantara. You know what I mean.”
Awan kelabu dan rintik gerimis yang mulai turun lebih menarik perhatian Dirga daripada wajah penasaran Edo di hadapannya. Dirga menatap keluar jendela, menghela napas pelan. Menghela napas adalah kebiasaannya sejak lima tahun lalu, ketika Aurora pertama kali mengenalkan Reyhan sebagai kekasihnya.
Sejujurnya Dirga juga mempertanyakan hal yang sama dengan yang Edo tanyakan barusan. Bagaimana jika perempuan itu bercerai dengan suaminya? Apakah dirinya akan menggunakan kesempatan itu untuk mengungkapkan perasaannya pada perempuan yang sejak dulu dia cintai itu? Lalu kalau sudah diungkapkan, mau apa lagi? Mengajak perempuan itu menikah? Apakah Aurora akan menerimanya? Berbagai pertanyaan itu sukses membuat kepalanya berdenyut nyeri. Dirga memijat kepalanya pelan.
“Do,” panggil Dirga. Edo hanya membalasnya dengan gumaman kecil. “Kalau misalnya mereka beneran cerai, menurutmu aku masih punya kesempatan?”
Edo yang sedang menatap ponsel, mengalihkan perhatiannya pada Dirga. Sahabatnya itu sejak dulu tidak pernah percaya diri untuk urusan hati. Padahal yang dia tahu, perempuan yang sangat dicintai sahabatnya itu juga memiliki perasaan yang sama dengan Dirga. Tapi juga memiliki rasa tidak percaya diri yang sama besarnya dengan Dirga, sehingga akhirnya memilih untuk membuka hati untuk pria lain. Seorang pria yang berani menyatakan perasaannya. Seorang pria yang sekarang menjadi suaminya, dan mengkhianatinya. “Memangnya, kalau mereka akhirnya bercerai, kamu masih mau sama Rara? Secara dia janda,” ucap Edo dengan hati-hati.
“Does it matter?”
“For some people, yes it does. I don’t know about you.”
“Yang penting itu Rara, mau dia janda juga aku nggak peduli.”
“Good. I know you will treat her better than that bastard. Sekarang berdoa saja semoga mereka benar-benar berpisah. For the God sake, aku nggak berharap Rara mempertahankan rumah tangganya. Selingkuh adalah dosa terbesar dalam sebuah pernikahan dan tidak termaafkan.”
Dirga tersenyum mendengar penuturan Edo, lalu mengangguk pelan.
Mereka kemudian kembali sibuk masing-masing. Edo dengan ponselnya, Dirga dengan pikirannya.
***
Mobil H-RV berwarna abu-abu tua itu sudah terparkir hampir setengah jam di depan halaman sebuah rumah minimalis, namun pengemudinya belum juga turun. Sejak tadi pengemudinya hanya menatap rumah itu dengan bimbang. Dia ingin sekali bertemu dengan salah satu penghuni rumah itu, tapi juga tak akan tahan jika nanti yang dihadapinya adalah wajah sedih.
Tapi kemudian sebuah ketukan pelan dari jendela membuatnya terlonjak kaget, lalu buru-buru menurunkan kaca jendela mobilnya.
“Kenapa nggak masuk?” suara lembut seorang perempuan menyapa gendang telinga Dirga.
“Eh, hai Ra,” Dirga kemudian keluar dari mobilnya. “Kamu dari mana?”
“Dari minimarket depan, beli cemilan,” Aurora memperlihatkan totebag yang penuh berisi belanjaannya. “Masuk yuk,” ajaknya kemudian. Dirga mengangguk pasrah, lalu mengikuti Aurora masuk ke dalam rumah yang merupakan kontrakannya dengan Gina.
“Gina nggak di rumah?” suasana sepi yang menyambut mereka ketika memasuki rumah membuat Dirga bertanya. Basa-basi saja, karena sebenarnya dia sudah tahu kalau Gina sedang ada acara dengan teman-teman kantornya.
Aurora menggeleng. “Lagi keluar, ada acara dinner sama temen-temen kantor katanya. Tadi dia dijemput, makanya mobilnya ditinggal,” jelas Aurora.
Mendengar kata dinner, Dirga jadi ingat bahwa dirinya juga belum makan malam. “Kamu sudah makan, Ra?” lelaki itu mengikuti Aurora menuju dapur.
“Belum, Ga. Ini aku mau masak. Kamu juga belum makan, kan? Mau makan bareng nggak?”
Dirga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ragu untuk menjawab iya. Saat ini mereka hanya berdua di rumah. Bagaimana jika tiba-tiba Reyhan datang? Tidak masalah untuknya, tapi tentu saja bisa menjadi masalah untuk Aurora. Bisa-bisa Reyhan melempar tuduhan bahwa Aurora pun memiliki hubungan dengan dirinya.
“Ga?” panggilan itu membuyarkan lamunan Dirga.
“Eh um, memangnya nggak apa-apa aku makan di sini? Kita cuma berdua loh,” tanyanya ragu. Sungguh, Dirga sangat senang bisa menikmati waktu berdua dengan Aurora. Apalagi sambil menikmati makan malam bersama perempuan itu. Seperti dulu.
Aurora tersenyum. Oh lihatlah senyum itu, Dirga sangat merindukannya. “Ya nggak papa sih. Lagi pula ini bukan pertama kalinya kita berdua di sini. Dulu pun kamu sering menemaniku kalau Gina pergi sampai larut malam. Kenapa? Kamu nggak berniat melakukan sesuatu padaku, kan? Atau kamu takut tiba-tiba suamiku datang?”
Dirga meringis pelan. “Iya,” jawabnya untuk pertanyaan kedua Aurora.
“Reyhan sudah ke sini tadi sore, jadi kemungkinan dia ke sini lagi kecil. Atau malah nggak mungkin sama sekali,” terang Aurora sembari menyiapkan bahan-bahan masakan.
Dirga mengangguk, sedikit lega mendengarnya. “Aku bantu, ya,” katanya kemudian, mengambil alih pisau yang dipegang Aurora lalu mengiris cabai, bawang dan tomat yang sudah disiapkan oleh perempuan itu. Rara membiarkannya, karena dia tahu bahwa Dirga juga sering masak.
Hampir setengah jam kemudian bihun rebus telur sudah tersedia di atas meja makan lengkap dengan teh hangat yang diseduh Aurora. Mereka menikmati makan malam sambil berbincang santai. Padahal, ada banyak sekali pertanyaan yang bercokol di kepala Dirga. Tapi dia memilih untuk menahannya, tidak ingin merusak suasana makan malam. Nanti setelah makan, pikirnya.
“Kamu sama Reyhan gimana?” tanya Dirga pelan. Menyebut nama lelaki itu selalu membuat dadanya sesak. Mangkuk mereka sudah hampir kosong, hanya menyisakan beberapa potong cabai.
Sebelum menjawab pertanyaan dari sahabat lelakinya itu, Aurora membawa mangkuk kotor untuk dicuci. Dirga mengikutinya, membantunya mengeringkan mangkuk dan peralatan masak yang dicuci Aurora.
“Aku belum tahu, Ga. Aku belum bisa membuat keputusan untuk hubunganku dengan Reyhan. Satu hal yang pasti aku tahu, aku sudah nggak bisa lagi percaya sama dia. Kamu tahu? Minggu lalu aku pulang, tapi…” Aurora merasa kesulitan untuk melanjutkan kalimatnya. Air matanya menggenang, namun ditahannya sekuat tenaga agar tidak tumpah. “Reyhan dan perempuan itu sedang…” Aurora menggeleng. “Hampir berhubungan badan, di kamar kami,” Aurora tertawa miris, membuat air mata yang ditahannya akhirnya luruh membasahi pipi.
Tangan Dirga serta merta mengusap pelan air mata Aurora. Hatinya hancur melihat orang yang dia jaga sejak kecil meneteskan air mata.
“Aku sudah siapkan surat gugatan cerai,” Aurora mulai terisak. Melihat itu, Dirga menariknya ke dalam pelukannya. Di dalam pelukan hangat itu, Aurora kembali berbicara, “Kamu tahu, Ga? Aku nggak pernah membayangkan ada di situasi seperti ini. Kupikir, aku bisa merasakan hangatnya sebuah keluarga setelah aku menikah. Tapi ternyata hidupku nggak seberuntung itu."