Sudah seminggu ini Aurora cuti dari pekerjaannya di kantor. Satu minggu ini pula dia benar-benar menghindari Reyhan sejak hari Minggu pagi itu, memutus semua akses komunikasi dengannya. Dia memblokir nomor lelaki itu dan tak membalas semua email-email yang setiap hari dia kirim pada Aurora.
Seminggu menenangkan pikiran yang nyatanya tak kunjung tenang, membuat Aurora terpikir untuk mengajukan surat pengunduran diri. Dia masih memiliki cukup tabungan untuk hidup beberapa bulan kedepan. Jadi dia tak perlu khawatir untuk itu. Aurora juga masih memiliki pekerjaan sampingan sebagai content creator di salah satu situs pekerja lepas, dan hasilnya lebih dari cukup untuk biaya hidupnya dan bayinya ketika lahir nanti. Dan yang terpenting, dia sedang tidak ingin bertemu dengan Reyhan untuk saat ini.
Maka di Senin pagi yang mendung ini, Aurora menguatkan hati pergi ke kantor yang tentu saja akan membuatnya bertemu dengan Reyhan, melawan rasa mual yang beberapa hari ini selalu datang setiap pagi. Perempuan berusia 27 tahun itu memantapkan diri untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya.
Mobil Reyhan sudah terlihat di parkiran ketika dirinya sampai di kantor, dengan langkah pasti dia segera menuju ruangan suaminya. Aurora mengetuk pintu pelan ruang kepala Human Resource Department (HRD), yang mana saat ini jabatan itu dipegang oleh Reyhan, lalu masuk setelah suara dari dalam mempersilahkannya untuk masuk. Reyhan terlihat terkejut dengan kedatangan istrinya, tapi juga terlihat senang. Setelah satu minggu ini dia tak bisa menghubungi sang istri, akhirnya perempuan itu muncul sendiri di hadapannya saat ini. Dia bangkit dari kursinya menghampiri Aurora. “Hei,” sapanya dengan gugup.
Aurora tidak membalas sapaan tersebut, tanpa basa-basi dia langsung mengatakan maksud kedatangannya ke ruangan Reyhan. Aurora pikir Reyhan akan bertanya-tanya dan mencegahnya untuk mengundurkan diri, namun lelaki itu justru antusias dengan rencana istrinya. Dia bilang kalau Aurora bisa fokus saja dengan kandungannya dan tak perlu memikirkan soal urusan mencari nafkah karena itu adalah tanggung jawabnya sebagai seorang suami. “Nanti aku jemput, ya? Pulang ke rumah,” Reyhan menggenggam tangan Aurora lembut, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari.
“Kamu masih menginginkanku pulang setelah aku memergoki kamu sedang b******a dengan perempuan lain?” Aurora bertanya datar tanpa menatap Reyhan sambil menahan mual yang mulai datang lagi. Terlebih saat ingatannya tentang pagi itu kembali melintas dalam otaknya.
“Aku tahu kalau aku nggak tahu diri. Katakanlah aku b******k, b******n atau apapun itu. Tapi aku masih suami kamu. Aku masih punya hak untuk nggak memberimu ijin keluar rumah. Dan sekarang aku punya hak atas anak yang ada di rahim kamu. Aku bisa saja memaksamu pulang. Tapi aku nggak ingin memakai cara keras.”
“Tapi kamu sudah melakukan kekerasan padaku. Kamu lupa?” kali ini Aurora menatap Reyhan dengan mata berkaca-kaca.
Reyhan terlihat kaget mendengar ucapan istrinya. “Itu... aku minta maaf. Aku khilaf, Ra. Aku emosi mendengar kamu mengatakan cerai. Aku nggak ingin kita bercerai,” ucapnya dengan nada memelas. Lalu dia berlutut di hadapan Rara. “Please, kasih aku kesempatan. Aku berjanji akan menggunakan kesempatan itu dengan baik jika kamu mau memberiku kesempatan sekali lagi.”
“Kamu tahu alasanku pulang Minggu lalu selain untuk memberitahu kabar tentang kehadiran anak kita? Karena aku ingin memberimu kesempatan. Tapi apa? Orang yang ingin kuberi kesempatan itu justru sedang bermesraan dengan selingkuhannya. Kamu pikir aku masih bisa mempercayaimu setelah itu? Nggak. Bagaimana bisa aku memberimu kesempatan lagi kalau rasa percayaku saja sudah mati?” dan mual yang ditahan Aurora sekuat tenaga tak bisa lagi berkompromi. Tanpa permisi dia berlari ke toilet yang ada di ruangan Reyhan, memuntahkan isi perut yang pagi ini hanya terisi setengah gelas teh hangat dan selembar pancake.
Aurora merasakan tangan hangat Reyhan memijat pelan tengkuknya. Dia berniat menyingkirkannya, tapi isi perutnya lebih dulu bereaksi meminta untuk dikeluarkan. Setelah merasa lebih tenang, dia membasuh sekitar bibirnya dan memastikan tak ada sisa muntahan yang menempel. Reyhan masih berdiri di belakangnya.
“Are you okay?” tanya Reyhan pelan.
Aurora mengangguk, padahal yang sebenarnya dia rasakan jauh dari kata baik.
Reyhan menuntun Aurora kembali ke ruangannya, mendudukan perempuan itu di sofa yang terletak di dekat meja kerjanya. “Aku ambilkan air hangat dulu.”
Aurora menyandarkan punggungnya, mencari posisi paling nyaman dan memejamkan mata setelah mendapatkannya. Beberapa saat kemudian Reyhan masuk kembali membawa segelas air hangat dan menyerahkannya pada sang istri. Aurora menghabiskan setengah isinya, lalu meletakkannya di atas meja kopi.
“Aku ada rapat sebentar lagi, nggak lama kok. Kamu tunggu di sini dulu, ya? Setelah aku selesai rapat nanti kita pulang.”
“Aku langsung pulang saja. Urusanku sudah selesai,” Aurora berdiri, bersiap untuk meninggalkan ruangan Reyhan.
Namun tangan Reyhan lebih dulu mencekal tangannya dengan kuat. “Pulang bersamaku,” ucap Reyhan tegas.
“Aww sakit, Mas. Lepaskan,” Aurora meringis kesakitan akibat cekalan dari Reyhan yang terlalu kuat. “Kamu mau main kasar lagi kalau aku nggak mau pulang denganmu?” tanya Aurora menantang, menatap mata Reyhan dengan tajam.
“Kalau dengan cara keras bisa membuat kamu mau pulang bersamaku, aku akan melakukan itu,” lalu Reyhan pergi meninggalkan istrinya sendiri di ruangannya, dengan pintu yang dikuncinya dari luar.
Tidak sampai setengah jam setelah perdebatan sengitnya dengan Aurora dan memaksa sang istri untuk pulang bersamanya, Reyhan menyelesaikan rapatnya dan kembali ke ruangannya. Yang pertama kali ditangkap netranya setelah membuka pintu ruangan adalah Aurora yang sedang berbaring menyamping di atas sofa dengan mata terpejam.
Reyhan berlutut di hadapan perempuan itu, mengamati wajah dan mengusap lembut pipinya yang sedikit lebih berisi dari terakhir kali dia menyentuhnya. “Sayang, bangun. Ayo pulang,” bisiknya. Namun bisikan itu tak membuat Aurora membuka mata.
Tiba-tiba saja sebuah ide terlintas di benaknya. Dengan hati-hati, dia mendekatkan wajahnya pada wajah lelap Aurora dan mengecup bibir perempuan itu lembut dan dalam. Reyhan sengaja melakukan hal tersebut untuk membangunkan sang istri, sebab panggilannya tadi tak berhasil membuat perempuan itu terjaga.
Selain itu, dia juga rindu merasakan bibir manis yang sudah sebulan lebih tak disentuhnya itu.
Benar saja, kecupan tersebut membangunkan Aurora dari tidurnya. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya sempurna terbuka.
“Ayo pulang,” ulang Reyhan. Sebelum memulai rapat bersama timnya tadi, dia sudah lebih dulu meminta ijin untuk pulang dan melanjutkan pekerjaannya di rumah. Itupun kalau nanti pembicaraannya bersama Aurora berjalan lancar.
Aurora yang masih kesal karena dikunci di dalam ruangan itu hanya menarik napas dan menghembuskannya dengan kasar. Tanpa merasa perlu menanggapi ucapan sang suami, Aurora bergegas keluar dari ruangan tersebut.
Reyhan menyusul di belakangnya. Dia menggenggam erat tangan Aurora agar perempuan itu tak bisa kabur darinya. Syukurnya, perempuan itu tak menolak genggaman tangannya karena terlalu malas untuk berdebat dengan suaminya itu. “Kamu masih mual?” tanya Reyhan dengan lembut dan dijawab dengan gelengan oleh Aurora.
Aurora tak mengerti dengan sikap Reyhan akhir-akhir ini. Lima tahun menjalin hubungan, tak pernah sekalipun lelaki itu berlaku kasar padanya. Itulah yang menjadi salah satu alasan Aurora menerima lamaran Reyhan satu tahun yang lalu. Tapi sekarang, Reyhan yang ada di sebelahnya saat ini begitu asing di matanya. Entah memang Reyhan yang berubah, atau Aurora yang ternyata tak sepenuhnya mengenal lelaki itu.
“Kamu ingin makan sesuatu?” Reyhan masih berusaha membuat Aurora bersuara, namun sepertinya perempuan itu masih sangat kesal padanya. Dan lagi-lagi Aurora hanya menggeleng sambil mengenakan sabuk pengaman.
Saat akhirnya mobil Reyhan bergabung dengan kendaraan lainnya di jalan raya, Aurora menoleh untuk menatap Reyhan dan berkata dengan suara dingin dan tegas. “Aku akan ikut pulang kalau kamu mau menyetujui keinginanku untuk bercerai.”
“What? No! Aku nggak akan melakukan itu. Kita akan tetap menjadi suami istri dan menjadi orang tua yang utuh untuk anak kita.”
“Fine. Kalau gitu turunkan aku sekarang.”
“Nggak."
"Turunkan aku sekarang atau aku akan loncat.”
“Lakukan kalau kamu berani. Lihat, di belakang kita ada bus besar dan kamu ak—” Reyhan tak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Aurora lebih dulu melepas sabuk pengaman dan membuka pintu mobil. Dia hampir saja melakukan niatnya jika Reyhan tak langsung mencekal tangan perempuan itu. “Kamu gila ya?! Bahaya, Ra. Kamu bisa mati, tahu nggak?” teriak Reyhan setelah menepikan mobilnya dan berhenti.
“Aku nggak gila dan aku lebih baik mati daripada melanjutkan pernikahan kita,” Aurora balas berteriak. Dia sudah menutup kembali pintu mobil di sebelahnya agar pertengkaran mereka tak menarik perhatian orang-orang yang mungkin lewat.
"Apa kamu nggak mikirin perasaanku saat mengatakan hal itu?" balas Reyhan. Cekalan tangannya belum terlepas, takut Aurora akan kembali melakukan hal nekat dan membahayakan.
"Apa kamu nggak mikirin perasaanku ketika kamu bersama perempuan lain?" balas Aurora telak.
Reyhan tak mampu menjawab pertanyaan tersebut, karena tentu saja dia tak memikirkan perihal perasaan Aurora ketika dia sedang bersama Riska. "Bisa kita bicarakan ini di rumah? Kita bicara dengan kepala dingin. Please, Ra."
Aurora berpikir sejenak lalu mengangguk setuju. "Oke. Tapi setelah itu antarkan aku pulang ke kontrakanku," putusnya kemudian.
Dengan berat hati, Reyhan menyetujui usulan sang istri. Dia kembali melajukan mobilnya menyusuri jalanan.
Dua puluh menit kemudian mereka sampai di rumah. Dua puluh menit yang rasanya lama sekali karena mereka lewati dengan saling diam.
Sesuai kesepakatan, mereka berbicara dari hati ke hati. Mencoba menemukan titik temu untuk kelangsungan rumah tangga mereka.
"Apa kamu nggak bisa mempertimbangkan lagi? Aku paham kalau anak saja nggak cukup jadi alasan untuk mempertahankan rumah tangga kita, tapi coba kamu jujur dengan diri sendiri. Apa kamu benar-benar menginginkan perceraian? Apa perasaanmu padaku benar-benar sudah nggak bersisa untuk diperjuangkan sekali lagi?"
"Untuk apa aku memperjuangkan perasaanku pada orang yang nggak bisa menghargai komitmen?"
Ruang tengah yang pernah diharapkan oleh Aurora untuk menjadi ruang yang paling hangat dan nyaman di rumah tersebut selain kamar, kini terasa begitu dingin dan menyesakkan. Satu hal yang diinginkannya saat ini adalah keluar dari ruangan tersebut.
"Gimana kalau aku tetap nggak mau bercerai?" Reyhan kembali membuka suara setelah beberapa saat hanya menunduk dan diam.
"Kamu egois," desis Aurora.
"Aku cinta kamu, Aurora."
"Kamu nggak akan melakukan hal yang menyakiti aku kalau kamu mencintaiku."
"Just give me a second chance. Aku akan melakukan apapun supaya pernikahan kita tetap utuh," Reyhan yang tadinya duduk di sofa yang berbeda dengan Aurora, berlutut di hadapan perempuan itu sambil menggenggam tangannya.
Reyhan tidak tahu kalau Aurora pun berusaha untuk kembali mempercayainya. Tapi semakin dicoba, Aurora justru semakin yakin kalau dia sudah tidak bisa lagi percaya pada sang suami. Kalaupun bisa, akan memakan waktu bertahun-tahun lamanya. Aurora tak akan sanggup hidup dengan memendam rasa curiga setiap harinya.
"Maaf karena keputusanku membuat kamu kecewa. Tapi aku mohon, jangan paksa aku untuk tetap bersama kamu menjalani pernikahan ini. Aku nggak akan menuntut apapun ketika mengajukan perceraian nanti. Aku juga nggak akan membuat kamu sulit bertemu kalau anak kita nanti sudah lahir. Aku cuma mau kita pisah," air mata Aurora menetes meskipun sudah berusaha ditahannya.
"Sudah nggak ada lagi yang ingin kubicarakan. Bisa antarkan aku pulang sekarang?" lanjut Aurora.
"Ini rumah kamu, Sayang."
"Kamu tahu apa yang kumaksud, dan jangan panggil aku 'sayang' lagi," Aurora sengaja menekankan kata 'sayang' dalam kalimat yang diucapkannya supaya Reyhan mengerti kalau dia benar-benar tak menginginkan lagi panggilan tersebut keluar dari mulut lelaki itu.