Lucid Dream

1675 Words
Aurora menghembuskan napasnya perlahan, mencoba untuk menenangkan diri dan menahan agar air matanya tidak lagi tumpah. Dia lelah menangis. Sejak satu bulan yang lalu setelah mendapati kenyataan bahwa suaminya menyelingkuhinya, yang dia lakukan hampir setiap malam adalah menangis. Setelah merasa cukup tenang, Aurora keluar dari kamar mandi menuju dapur untuk mengambil segelas air putih, membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Dia haus sekali, ternyata. Di meja makan, Gina sedang duduk menikmati nasi goreng yang dibuatnya untuk sarapan. “Kamu mandi? Kenapa lama sekali di dalam?” tapi Aurora tak menanggapi pertanyaannya. Perempuan itu dengan santai duduk di sebelahnya, ikut menikmati nasi goreng bagiannya di piring lain. Gina mengamati wajah sembab sahabatnya itu. Sepanjang mengenal Aurora, Gina tak pernah melihatnya serapuh ini. Mereka sama-sama melewati masa-masa yang berat hidup tanpa orang tua, tapi Gina tak pernah melihat Aurora seperti saat ini. Aurora yang ada di hadapannya sekarang terlihat seperti Aurora yang ingin mengakhiri hidupnya. Bukan Aurora yang akan tetap berdiri kokoh sekalipun badai tak kunjung berlalu. “Ra?” panggil Gina. “Hm?” “Are you okay?” “Kamu akan tertawa kalau aku bilang baik-baik saja.” Gina mengangguk paham, lalu kembali menikmati nasi gorengnya yang sudah hampir habis. Dia tak akan memaksa sahabatnya itu untuk bercerita. Jika merasa sudah siap, perempuan itu pasti akan datang padanya untuk berkeluh kesah. “Na,” gumam Aurora pelan. Suaranya bahkan hampir tak terdengar. “Ya?” “Hari ini kamu ada acara? Atau akan pergi dengan Edo?” “Nggak. Edo dan Dirga sedang ada tugas keluar kota. Besok hari Minggu mereka baru pulang. Why?” Aurora lagi-lagi menghembuskan napas dengan berat. “Temani aku ke obgyn, mau nggak?” Gina yang baru saja menghabiskan nasi goreng di piringnya menatap Rara dengan mata membulat dan pipi menggembung karena nasi goreng terakhirnya belum ditelan. “Obgyn?” tanyanya memastikan setelah dia mengunyah dengan cepat dan menelan nasi goreng terakhirnya. Lagi-lagi Aurora mengangguk pelan. “Iya, obgyn. Dokter kandungan, kalau kamu nggak tahu apa itu obgyn.” Dalam situasi normal, Gina akan memutar bola matanya untuk menanggapi jawaban Aurora. Tapi kali ini dia tidak melakukannya, pun tak berkata apa-apa. Yang dilakukan selanjutnya adalah menarik Aurora ke pelukannya, mengusap pelan punggung sahabatnya itu dan membiarkannya mengeluarkan segala sesak yang menumpuk di d**a. Dia tak berkata apa-apa. Hanya memeluk dan meyakinkan bagaimanapun keadaan Aurora, dia akan tetap ada di sisinya. Sejak dulu dan akan selalu begitu. *** Malam sudah larut, namun Aurora masih belum bisa memejamkan matanya.. Sejak tadi dia hanya memandangi foto USG bayinya, yang menurut dokter usianya sudah memasuki enam minggu. Bayi. Dia tersenyum sendiri ketika satu kata itu menari-nari di pikirannya sejak dirinya dan Gina keluar dari ruangan dokter kandungan siang tadi. Aurora tak menyangka akan ada nyawa lain yang hidup di dalam tubuhnya, di rahimnya. Dia akan menjadi seorang ibu. Rasanya masih sulit untuk percaya, padahal hasil testpack dan pemeriksaan dokter sudah membuktikannya. “Belum tidur, Ra?” Gina membuka pintu kamar Aurora setelah sebelumnya mengetuk beberapa kali, menyandarkan tubuhnya di salah satu sisi pintu. Mungkin dia melihat lampu kamar Aurora masih menyala. “Belum. Kamu sendiri kenapa belum tidur? Biasanya jam segini sudah ke mana-mana.” Gina menghampiri Aurora, duduk di tepi ranjang. “Baru selesai telpon Edo,” jawabnya. “Kangen-kangenan, ya?” goda Aurora. Gina hanya tersenyum kecil. “Kamu sudah memberi tahu Reyhan?” dia bertanya lagi. Aurora menggeleng pelan. Sejak tadi pagi sepulangnya dari obgyn pun dia sudah memikirkannya. Haruskah dia memberi tahu lelaki itu tentang kehamilannya? “Should I?” tanyanya ragu. “You should tell him, Ra. Dia juga anaknya Reyhan, jadi bapaknya harus tahu kalau dia ada. Lagi pula kamu nggak mungkin bisa terus bersembunyi dari Reyhan, kan? Kalian masih bertemu terus di kantor dan sebulan ini pun dia hampir setiap hari ke sini untuk menemuimu. Meskipun nggak pernah kita bukakan pintu.” Satu bulan ini memang Reyhan sering mendatanginya, sebab Aurora selalu menghindar setiap kali mereka bertemu di kantor. Akan tetapi, baik Aurora maupun Gina, tak pernah membukakan pintu untuk lelaki itu. “Kalian masih sah sebagai suami istri. Reyhan masih memiliki tanggung jawab padamu, dan sekarang pada bayi ini juga,” Gina meletakkan tangan kirinya di atas perut Aurora, menepuknya lembut. “Tell him,” lanjutnya. ‘Apa Reyhan akan senang? Lalu bagaimana dengan rumah tangga kami? Apa aku harus membatalkan niatku untuk menggugat cerai lelaki itu?’ pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepala Aurora. Kepercayaannya pada lelaki itu benar-benar sudah hancur. Setiap kali dia mengingat kejadian malam itu, rasa bencinya pada Reyhan semakin membuncah, seolah lupa bahwa hatinya pernah begitu mencintai lelaki itu. Tapi di lain waktu, Aurora juga merindukannya. “I will tell him,” ucapnya kemudian dengan senyum kecil di bibirnya. “Good. Dan kalau bisa, kamu pulang dulu. Aku nggak mengusir kamu dari sini, ini juga rumahmu. Tapi seperti yang kukatakan tadi, kalian masih sah sebagai suami istri. Nggak baik kalau seperti ini terus. Kamu harus pulang dan hadapi kenyataan. Pastikan lagi keputusan apa yang akan kamu ambil untuk rumah tangga kalian.” Aurora mengangguk paham. Di antara dirinya, Gina dan Dirga, Gina memang selalu menjadi yang paling realistis namun juga penuh pertimbangan dalam memutuskan sesuatu. Gina mungkin terlihat sedikit urakan dan juga gaya hidupnya lebih bebas dibanding Aurora dan Dirga. Tapi dia selalu menjalani hidupnya dengan baik. Terlebih lagi setelah dia mengenal Edo dan menjalin hubungan dengan lelaki itu. Hidupnya benar-benar lebih tertata. Kalau orang tak mengenalnya, mereka tak akan menyangka bahwa Gina tumbuh besar di panti asuhan. “Besok pagi kita sarapan di luar, yuk. Setelah itu, antarkan aku pulang, ya?” Gina mengangguk, tersenyum senang. Keesokan pagi yang agak siang setelah sarapan gudeg di Kota Gede, Gina mengemudikan mobilnya menuju daerah Banguntapan untuk mengantarkan Aurora pulang ke rumahnya dan Reyhan. Suasana sepi menyambut mereka saat sampai di rumah itu. “Masuk dulu yuk,” ajak Aurora pada Gina yang dijawab dengan anggukan. Aurora mengedarkan pandangan ke sekitar halaman rumah, mengamati adakah perubahan yang terjadi setelah dia meninggalkan rumah itu satu bulan lalu. Tak ada perubahan selain rumput-rumput yang semakin tinggi dan dedaunan gugur yang berserakan. Tentu saja Reyhan tak akan peduli dengan hal-hal semacam itu. Aurora mengetuk pintu beberapa kali, memanggil nama Reyhan namun tak ada jawaban dari dalam. Dia mengulangi lagi beberapa kali, tapi tetap tak mendapatkan jawaban. Sedang apa Reyhan di dalam? Mandi? Atau tidur lagi? Akhirnya Aurora mencoba membuka pintu, barangkali tidak dikunci. Benar saja, Reyhan tidak menguncinya. Kunci dengan gantungan berbentuk hati itu masih menggantung di tempatnya. Setelah mempersilahkan Gina duduk di ruang tamu, Aurora mencari Reyhan di kamar mereka yang pintunya tertutup rapat. “Mas,” dia mengetuk pintu dengan cat putih itu. Lagi-lagi tak ada jawaban. Ketika tangannya terulur untuk membukanya, dia mendengar suara-suara aneh semacam… desahan? Semakin lama suara itu semakin jelas terdengar. Ya, itu suara desahan dari seorang perempuan. d**a Aurora terasa seperti dihantam palu mendengarnya. Apa yang sedang dilakukan Reyhan di dalam kamar mereka? Apakah lelaki itu membawa perempuan lain ke dalam kamar mereka? Aurora menggenggam erat kenop pintu, bimbang, haruskah dia membukanya? Jika dia membukanya, pemandangan yang akan dilihat oleh matanya kemungkinan besar adalah sesuatu yang menjijikkan. Tapi ini hanya halusinasinya saja kan? Ini hanya mimpi, karena pikirannya yang belum bisa kembali mempercayai sang suami. Hanya suara-suara aneh yang sekelebat lewat. Aurora meyakinkan diri. Ya, ini hanya mimpi. Pasti dia tadi salah mendengar. Maka dari itu, dia membuka pintu kamar tersebut perlahan. Berharap bahwa apa yang baru saja terlintas di dalam pikirannya tidaklah nyata. Ketika pintu akhirnya sempurna terbuka, yang tertangkap oleh netranya adalah dua manusia sedang berpelukan mesra dengan bibir saling bertaut di bawah selimut abu-abu kesayangannya. ‘Benarkah ini hanya mimpi? Tapi mengapa mimpi ini terasa nyata sekali’, ucapnya dalam hati. Menyakitkan. Rasa mual tiba-tiba menyerang perutnya. Sungguh ini hanya mimpi? Aurora tak tahu. Tapi dia tidak kuat lagi berada di kamar itu. Dia segera berbalik badan ketika mendengar Reyhan memanggilnya dengan suara tercekat. Aurora tidak peduli, ini hanya mimpi. Tidak perlu didengarkan. Maka dengan langkah cepat dia menghampiri Gina di ruang tamu, mengajaknya pergi meninggalkan mimpi yang baginya terasa nyata sekali. “Rara! Aurora!” suara Reyhan terus memanggil Aurora. Akan tetapi perempuan itu terus menyangkal bahwa suara yang memanggilnya itu adalah suara yang sedang berusaha membangunkan dia dari mimpinya. Pikirannya terus berkata bahwa suara yang didengarnya itu hanya ada di alam mimpi, dia tak perlu menanggapinya. Reyhan mungkin sedang sarapan di luar, atau di rumah Mama, pikir Aurora. Apa yang dia lihat barusan adalah mimpi. “Hei, Sayang. Aku.. aku nggak tahu kalau kamu mau pulang. Harusnya kamu mengabariku terlebih dulu, aku bisa menjemputmu,” Reyhan menggenggam tangan Aurora, berdiri di hadapan perempuan itu dengan napas terengah dan penampilan yang sangat berantakan. Sisa percintaan yang tidak selesai karena kedatangan istrinya. Bukankah ini hanya mimpi? Tapi genggaman tangan Reyhan terasa nyata sekali di tangan Aurora. “Na, ini cuma mimpi kan?” Aurora menatap Gina di sebelahnya, berharap dia akan berkata ‘iya, ini cuma mimpi kok’. Tapi Gina hanya diam, menatap Reyhan dengan tatapan murka. Dan akhirnya Aurora sadar bahwa semua yang dilihat dan didengarnya adalah kenyataan. “Ra, Sayang...”  “Apa?” Aurora menatap Reyhan dengan tajam hingga membuat lelaki itu gugup. “A-aku…” “Aku apa, sialan?” teriak Aurora tepat di depan wajah pias Reyhan. Aurora bahkan tak peduli jika teriakannya mengundang rasa ingin tahu para tetangga. Tanpa menunggu jawaban sang suami, Aurora melepaskan genggaman tangan Reyhan dan bergegas masuk ke mobil. Ketika akan membuka pintu, dia teringat tujuan awalnya pulang. Lalu dia mengeluarkan amplop berwarna coklat dan kembali menghampiri Reyhan yang masih berdiri terpaku di tempatnya. “Tadinya aku ingin coba mengurangi sedikit egoku, aku ingin coba memberimu kesempatan kedua. Tapi ternyata kamu memang nggak pantas untuk mendapatkan itu,” Aurora menyerahkan amplop coklat itu pada Reyhan. “Maaf sudah mengganggu kegiatanmu di Minggu pagi ini. Permisi,” ucapnya, lalu bergegas menyusul Gina masuk ke dalam mobil. Dia tak peduli dengan Reyhan yang masih terus memanggil namanya. Aurora menangis di sepanjang perjalanan. Menangisi laki-laki b******k yang awalnya ingin dia berikan kesempatan kedua, namun ternyata kembali membuatnya kecewa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD