Divorce

1182 Words
“Sejak kapan?” Aurora bertanya dengan suara lirih. Dia tahu akan terasa sangat menyakitkan jika mendengar jawabannya, tapi entah mengapa dia juga ingin mengetahui sejauh mana hubungan Reyhan dengan Riska, selingkuhannya yang juga adalah teman masa SMA Aurora. Iya, Riska adalah teman SMA-nya, Gina, dan Dirga. Yang sangat dia ingat dari perempuan itu adalah, dahulu Riska sangat menyukai bahkan tergila-gila pada Dirga. Dia selalu menempel pada Dirga di setiap kesempatan, membuat Aurora dan Gina jengah melihatnya. Kala itu, Dirga juga merasa terganggu, katanya. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, tidak tega untuk menyuruh Riska menjauhinya. Dasar manusia berhati malaikat. Mobil yang mulai melaju menyadarkan Aurora kalau pertanyaannya belum dijawab oleh Reyhan. “Sejak kapan, Mas? Kita bahkan baru menikah satu bulan, dan kamu udah selingkuhin aku. Kamu selingkuhin aku sejak kita masih pacaran?” setetes air mata terjun bebas di pipinya. Buru-buru Rara mengusapnya. Jawaban tak kunjung keluar dari mulut Reyhan. Akhirnya perempuan itu tidak bertanya lagi, memilih untuk menahan air mata yang masih menggenang agar tidak luruh membasahi pipinya. Menikmati rasa sakit di hati sembari mengamati jalanan kota Jogja di sore hari. Diamnya Reyhan sudah cukup menjawab pertanyaannya. “Sejak… setahun yang lalu,” suara lirih itu membuyarkan lamunan Aurora. Aurora tertawa pelan mendengarnya. Tawa miris, tentu saja. Satu tahun? Satu tahun yang lalu adalah waktu di mana Reyhan melamarnya, menjanjikan kehidupan bahagia dalam pernikahan. Lalu apa maksudnya kalau saat itu juga dia mulai menjalin hubungan dengan perempuan lain? *** Aurora menghabiskan makan malamnya tanpa selera. Siapa juga yang akan berselera makan satu meja dengan suaminya yang baru saja ketahuan selingkuh di pernikahan mereka yang baru berumur sebulan? Siapa juga yang akan berselera makan setelah menyaksikan suaminya berciuman seperti lupa dunia dengan perempuan lain? “Sayang,” seharusnya Reyhan tahu kalau istrinya tidak akan menghiraukan panggilannya. “Ra, setelah ini kita bicara, ya?” Reyhan mengusap punggung tangan perempuan di hadapannya. Meskipun tanpa selera, Aurora berhasil menghabiskan sate ayam yang tadi dibeli Reyhan. Merayu, huh? Hampir lima tahun pacaran tentu saja dia tahu kalau Aurora sangat menyukai sate ayam. Selesai membereskan piringnya, Aurora memanaskan air untuk membuat dua gelas teh. Memang tidak ada gunanya juga menghindar, jadi dia akan mendengarkan Reyhan membicarakan apapun yang ingin dia bicarakan. Setelah selesai makan Reyhan menunggunya di ruang tengah. Aurora menyusulnya bersama dua gelas teh yang masih panas. Seharusnya, momen minum teh bersama akan menyenangkan seperti biasanya--kebiasaan baru yang mereka lakukan sejak menikah, tapi kali ini pasti akan sangat menyakitkan. “Ayo kita cerai,” ucap Aurora, memecah keheningan karena sejak tadi Reyhan belum juga berbicara. Lelaki itu menatapnya dengan pandangan kaget dan marah. Rasakan. Tapi ini bukan gertakan. Sungguh. “Jangan bercanda, Aurora.” “Aku nggak bercanda, Rey.” “Rey?” pandangannya terlihat semakin marah. “Kenapa? Keberatan dengan panggilanku barusan?” “Ra, aku ingin mengajak kamu untuk berbicara secara baik-baik. Bukan begini,” dia mendekati istrinya, menggenggam lembut kedua tangannya. Aurora menggeleng. “Maafkan aku, sayang. Please. Aku janji nggak akan mengulanginya. Aku akan mengakhiri hubunganku dengan perempuan itu. Tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya,” ucap Reyhan  memohon. “Aku bahkan belum menjelaskan apapun kepadamu, Ra. Aku akan menjelaskan semuanya malam ini,” lanjutnya. “Apa saja yang sudah kamu lakukan dengan Riska?” ini adalah hal yang paling ingin Rara tahu, karena akan menjadi poin paling penting untuk keputusan selanjutnya yang akan dia ambil. “Kamu mengenalnya?” Reyhan mengernyitkan dahinya. Barangkali bingung dan tidak menyangka kalau istrinya mengetahui nama selingkuhannya. “Apa dia nggak mengatakan kalau kami adalah teman SMA?” Reyhan menggeleng, mengacak rambutnya frustasi. Dia menangkupkan wajahnya ke telapak tangan, dan sedetik kemudian punggungnya bergetar. Menangis. “Maafkan aku, Ra. Tolong maafkan suamimu yang b******k ini,” ucapnya sambil terisak. See? Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Aurora tadi, dan perempuan itu sangat tahu bahwa dari ciuman panas mereka kemarin malam--yang sayangnya harus dia saksikan, mereka sudah melakukan sesuatu yang lebih dari itu. Apa pemikiran Aurora terlalu menuduh? Lalu kenapa dia tidak bisa jujur tentang apa saja yang sudah dilakukannya kalau memang tuduhan dalam pikiran Aurora salah? “Lucu sekali. Kamu melamarku setahun yang lalu, tapi saat itu juga kamu mulai menyelingkuhiku. Maksudmu sebenarnya apa?” “Aku mencintai kamu, Ra. Aku mencintaimu. Itulah alasanku melamarmu dan mengajak kamu menikah,” katanya pelan, tapi masih bisa didengar oleh telinga Aurora. “Kamu mencintaiku tapi kamu menyelingkuhiku.” “Tapi kamu yang kunikahi, bukan dia. Apa itu nggak cukup?” teriak Reyhan dengan suara tertahan. “Nggak,” Aurora membalas teriakannya lebih keras. “Nggak cukup sama sekali. Yang kamu lakukan adalah m*****i pernikahan yang suci dengan perbuatan kotormu itu. Dan kamu menyakitiku, Mas,” pertahanan Rara akhirnya runtuh. Cairan hangat dari mata yang sejak tadi dia tahan kembali membanjiri pipinya. “Aku bisa menduga sejauh mana hubungan kalian, apa saja yang sudah kalian lakukan dari cara kalian berciuman kemarin malam. Aku nggak akan bisa lagi hidup tenang sama kamu. Aku nggak bisa lagi untuk percaya kamu sepenuhnya. Aku nggak bisa lagi lihat kamu sebagai laki-laki yang menyayangiku seutuhnya, dan… aku terlanjur jijik sama kamu. Jadi, ayo kita cerai.” Reyhan menatap istrinya dengan tatapan marah, lalu sedetik kemudian yang Aurora rasakan adalah rasa panas dan perih di pipinya setelah sebuah tamparan keras dari Reyhan mendarat di sana. “Cerai, kamu bilang? Kita bahkan baru satu bulan menikah,” Reyhan bahkan tidak merasa bersalah dengan apa yang telah dia lakukan barusan. Seharusnya, Aurora yang menamparnya. Menampar mulutnya yang dengan kurang ajar menjamah bibir wanita lain selain bibir istrinya. “Iya. Pernikahan kita memang baru satu bulan, tapi kamu sudah menyelingkuhiku bahkan sebelum kita menikah. Kamu sangat mengerti, Mas, kalau perselingkuhan adalah hal yang paling nggak bisa aku maafkan dalam sebuah hubungan, apalagi pernikahan. Lalu yang kamu lakukan barusan menjadi nilai plus buat aku mengajukan perceraian ke pengadilan,” Aurora menyentuh pipinya, mengusapnya pelan dengan harapan bisa meredakan rasa perih di sana. Sepertinya Reyhan baru menyadari perbuatannya tadi setelah mendengar ucapan istrinya. Dia menatap tangannya yang juga sedikit memerah akibat tamparan keras yang dilayangkan pada Aurora. “Ra, maaf sayang. Aku nggak bermaksud untuk menampar kamu. Tadi.. tadi aku emosi. Aku nggak ingin kita cerai, sayang. Aku mencintaimu, Aurora. Tolong kasih aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya,” dia mendekati Aurora, mencoba memeluknya. Haruskah? Haruskah Aurora memberinya kesempatan kedua? Aurora refleks menjauh. “Apa yang akan kamu perbaiki? Gelas yang sudah terlanjur kamu pecahkan nggak akan bisa kamu kembalikan bentuknya seperti semula. Gelas yang kamu pecahkan sampai hancur berkeping-keping bahkan remuk itu adalah kepercayaanku,” Aurora menarik napas tertahan, meredam emosi yang membuncah. “Kamu tahu, Mas? Aku bahkan jijik dengan kamu. Aku nggak akan bisa dan nggak akan mau kamu sentuh lagi. Jadi, ayo kita cerai.” Rara pikir perkataannya itu akan membuat Reyhan sadar bahwa kesalahannya benar-benar fatal, tapi sayangnya itu justru membuat emosi lelaki itu semakin memuncak. Matanya memerah dan tangannya terkepal, napasnya tidak beraturan. Dia kembali mendekati Aurora, membuatnya terpojok di dinding yang dingin. Kedua tangannya mengurung perempuan itu, lalu bibirnya menyentuh bibir perempuan itu dengan kasar. “Kamu ingin cerai, Sayang? Nggak akan. Aku nggak akan mengabulkan permintaanmu yang konyol itu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD