Setelah bercerai dari Reyhan, Aurora tidak lagi memikirkan tentang pernikahan. Apalagi menikah dalam waktu dekat. Sebab fokusnya waktu itu adalah membesarkan buah hatinya dengan baik. Namun takdir berkehendak lain. Dia belum diizinkan menjadi ibu yang baik bagi buah hatinya. Kemudian, fokusnya beralih pada kesehatan mentalnya yang benar-benar buruk dan sangat membutuhkan pertolongan dari psikolog. Jadi ketika sore ini, di suasana yang memang terasa hangat, Aurora merasakan tubuhnya kaku setelah mendengar ajakan menikah yang lagi-lagi keluar dari mulut Dirga. “Ni-nikah?” tanyanya gugup. “Iya, menikah denganku, jadi istriku dan ibu dari anak-anakku. Will you?” Dirga meraih tangan kanan Aurora yang belum digenggamnya. Dengan kedua tangan yang saling menggenggam, Dirga menatap lekat netra Au

