Permintaan Bagas

1036 Words
"Mulai saat ini panggil saya Papa karena kamu telah menjadi menantu saya. Dan semua urusan perusahaan akan saya serahkan padamu," ucap Bagas. "Tapi Tuan ...." "Axel ini perintah karena saya sudah memikirkannya. Saya ingin kamu menjaga putri saya dan juga perusahaan saya. Apa kamu bersedia?" tanya Bagas menatap wajah Axel dengan seksama. Dengan berat hati akhirnya Axel pun mengangguk tanda setuju akan ucapan Bagas. "Baiklah Tuan ... eh Pa, saya bersedia. Tapi tetap perusaahan atas nama Disya, saya hanya menjalankannya saja. Saya tidak mau di tuduh mengambil kesempatan dalam kesempitan," tegas Axel. Seulas senyum terbit di bibir Bagas, inilah yang dia suka dari Axel, sikapnya baik, jujur, dan tidak serakah. Padahal dengan jelas kesempatan sudah ada di depan mata tapi dia tidak memanfaatkannya untuk kepentingannya sendiri. Jika itu orang lain mungkin sudah menerimanya. "Axel, apa kamu sudah melihat surat kabar hari ini?" tanya Bagas. "Maaf Tuan, eh Pa saya belum melihatnya," jawab Axel yang secepat mungkin meralat ucapannya dengan wajah tertunduk. "Lihat dan bacalah ...." Bagas melempar surat kabar ke hadapan Axel. Axel pun mengambil dan membaca surat kabar tersebut. Sorot matanya memerah terpancar kilatan amarah di dalam sana. "Lalu apa yang harus kita lakukan Pa?" tanya Axel. Bagas menghela nafas beratnya kemudian menghembuskannya secara perlahan. "Biarkan saja berita ini juga sudah menyebar. Aku cuma berharap bahwa Disya mampu menerima ini semua. Aku tahu dia sangat rapuh dan begitu manja." Terlihat jelas guratan sedih di wajah Bagas saat ini. "Papa tenang saja, saya akan selalu mendampinginya dan juga melindunginya," ucap Axel tanpa ragu. "Aku minta kamu mencari tahu perihal Revan mengapa pergi di hari pernikahannya dan kemana dia pergi. Temukan dia secepatnya," titah Bagas. "Baik, Pa. Aku akan menemukannya," ucap Axel antusias. "Ingat Axel, aku ingin keluarga Pradipta mendapatkan balasan yang setimpal atas penghinaan yang mereka lakukan pada keluargaku," ucap Bagas dengan penuh amarah. "Saya pastikan mereka akan mendapatkan balasannya, Pa. Ini janji saya," ucap Axel sungguh-sungguh. "Dan satu hal lagi aku minta darimu, tolong jaga Disya anakku. Aku percayakan dia padamu, aku sangat yakin kamu bisa membahagiakannya. Meskipun aku tahu, belum ada cinta di hati kalian. Tapi aku mohon padamu ... tolong sayangi dan bahagiakan lah dia. Hanya dia harta yang aku punya. Jangan pernah kau menyakitinya dan membuatnya menangis. Axel berjanjilah padaku, kau akan menjaganya hingga akhir hayat," ucap Bagas. Axel terdiam melihat Bagas sampai memohon padanya. Tanpa di minta pun dia akan melindungi Disya sampai nafas penghabisan karena Disya kini adalah istrinya. Axel telah menetapkan sebuah prinsip dalam hidupnya bahwa menikah hanya sekali seumur hidup. Walaupun pernikahan ini dadakan dan jelas bukan keinginannya, tapi sedikitpun tak terbesit di benaknya untuk menceraikan Disya. "Percayalah Tuan, saya akan menjaganya.” Axel berusaha menenangkan Bagas selaku mertuanya. "Terimakasih," ucap Bagas merasa lega dengan jawaban Axel. Kini dia dapat pergi dengan tenang saat ajal menjemputnya nanti. Bagas begitu percaya dengan Axel, mengingat dia sangat mengenal siapa sosok Axel. Dulu dia pertama kali bertemu dengan Axel, Axel adalah seorang anak yang tinggal di panti. Saat itu usianya sekitar 10 tahun. Membuat Bagas tersentuh akan keberanian dan kejujurannya. Waktu itu Bagas di kejar oleh beberapa bandit di jalan sepi dan kebetulan ada Axel yang ada disana sedang melihatnya. Dengan tekad dan keberanian yang penuh Axel pun membantu Bagas untuk melawan para bandit hingga bandit itu kabur. Walaupun mereka berhasil kabur, tapi tetap saja Axel mengalami luka dalam karena tusukan belati. Bagas segera membawanya ke rumah sakit. Saat di tanya keluarganya, Axel pun mengatakan bahwa dia tinggal di panti, tidak memiliki keluarga apalagi orangtua. Hal itu membuat Bagas merasa iba melihat keadaan Axel, hingga akhirnya Bagas memutuskan untuk membawanya pulang dan menyekolahkannya. Namun Axel yang sudah nyaman tinggal di panti dan tak enak hati terus menolak tapi Bagas tetap memaksanya dan memberikannya pekerjaan. Jadi Axel bekerja sambil sekolah karena dia tak mau menerima semua itu dengan cuma-cuma. Awalnya Axel mulai bekerja sebagai tukang kebun, naik menjadi sopir pribadi. Perlahan Bagas mengajarinya berbisnis dan menguliahkannya, hingga kini dia menjadi sekretaris sekaligus asisten pribadi Bagas. Axel yang memang otaknya cerdas hingga dia dapat maju dengan sangat pesat. Kualitas dan kinerjanya tidak di ragukan lagi, hanya saja dia sosok pendiam dan tak pernah tersenyum. Dan hal itu sukses membuat orang sekitarnya merasa takut walau hanya sekedar menyapanya. Kini Axel berjalan keluar dari ruangan Bagas. "Bagaimana bisa aku membahagiakan Nona Disya? Aku sama sekali tak mengenalnya dan aku tak tahu bagaimana cara membuat wanita bahagia. Bahkan sejauh ini aku juga tak pernah dekat dengan wanita manapun. 🌷🌷🌷 Disya bangun dari tidurnya, kedua netranya menyapu pandang ke seluruh ruangan. "Dimana aku?" tanya Disya pada dirinya sendiri. Tampak Disya terdiam untuk beberapa saat, seketika dia teringat dengan peristiwa semalam bahwa dia sudah menikah dengan Axel. Detik itu juga buliran bening kembali meluruh dari matanya. Disya masih tak percaya Revan tega meninggalkannya. 'Sebenarnya apa yang menyebabkan dia pergi? Bukankah kami saling mencintai? lalu kemana dia pergi?' Disya Setelah puas menangis sebelum akhirnya Disya mencari ponselnya. Berulang kali dia mencoba menghubungi Revan tapi hasilnya nihil, nomor Revan tetap tidak aktif. Namun hal itu tak membuat Disya menyerah, dia tetap terus menghubungi Revan hingga akhirnya dia lelah dan membanting ponselnya dengan kesal. "Apa salahku? Kenapa kamu tega berbuat ini padaku? Kamu jahat ... jahat Revan!" teriak Disya histeris. 🌷🌷🌷 Tak lama Axel kembali ke kamarnya, kedua netranya menatap ke sekeliling ruangan. Tampak kamar yang begitu kacau balau, bantal dan selimut berserakan, gorden pun masih tertutup rapi. Terlihat jelas pecahan kaca di atas lantai. Dia yakin pasti semua itu ulah Disya yang membanting gelas hingga berserakan di atas lantai. Melihat itu Axel pun sedikit panik dan bergegas mencari keberadaan Disya. Dengan langkah lebar dia berjalan menuju kamar mandi, tapi sosok yang dia cari pun tak ada disana. Hingga dia menelusuri kamar itu pun hasilnya nihil, Disya tetap tak ada. Kini dia berjalan ke arah balkon, dan ternyata Disya ada disana. Disya terduduk lemas dengan wajah yang tertunduk. Axel yakin pasti Disya habis menangis. Perlahan Axel berjalan mendekati Disya, dia mencoba membujuknya. "Nona Disya ... ayo kita masuk. Disini hawanya dingin, anginnya terlalu kencang tak baik untuk kesehatan. Nanti anda bisa sakit," ucap Axel pelan dan hati-hati. "Diam! Kau tak perlu mengasihani aku. Pergi ... aku hanya ingin sendiri!" ucap Disya dengan nada suara yang mulai meninggi. . . . 🌷Bersambung🌷
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD