Disinilah Axel berada, di sebuah ruangan yang begitu luas dan mewah yang tak lain adalah kamar Bagas. Sesuai perintah, Axel pun mengiyakan apa yang di katakan oleh Bagas. Kini, Axel bisa melihat jelas pantulan dirinya yang berada di dalam cermin. Tampak Axel yang tengah berdiri dengan setelan jas membalut tubuh kekarnya.
Axel tidak percaya dengan fakta yang akan mengubah hidupnya sebentar lagi. Beberapa jam lagi statusnya akan berubah menjadi suami pengganti untuk Nona muda anak dari Bagas. Semua ini bagaikan mimpi buruk bagi Axel dan tentunya dia tak bisa menolak akan perintah Bagas.
Tak lama terdengar bunyi ketukan pintu dari luar dan berhasil membuyarkan lamunan Axel.
Tok ... tok ... tok ....
Axel berjalan mendekat ke arah pintu dan membukanya.
"Tuan, anda sudah di tunggu Pak Bagas di luar," ucap pelayan kemudian berlalu pergi.
Axel kembali melihat dirinya di dalam cermin.
"Aku akan menikah." Gumamnya dengan tatapan kosong.
Detik selanjutnya Axel melangkah keluar meninggalkan kamar mewah itu dan berjalan menuju ruangan dimana ijab Kabul akan di laksanakan.
🌷🌷🌷
"Sah ... sah ...." Terdengar suara penghulu dan para tamu undangan yang hadir hingga ke kamar Disya. Detik itu juga air mata Disya mengalir deras membasahi wajahnya. Dia tak mampu membendung air mata itu lagi.
'Ya Tuhan pernikahan macam apa ini yang akan ku lalui dengan manusia es itu? Membayangkannya saja aku tak sanggup apalagi untuk menjalaninya.' Disya
Beruntung ada Tika sahabatnya yang saat ini tengah menemani Disya, dan menguatkan dirinya yang tengah di ambang kehancuran. Kini Disya berjalan turun di bantu oleh Tika. Tampak Tika yang terus menggenggam tangan Disya seolah memberikan kekuatan untuk sahabatnya itu. Dimana Disya yang telah menceritakan semuanya kepada Tika perihal Revan yang meninggalkan dirinya dan hal itu membuat Tika terkejut.
Disya terus mengayunkan langkahnya hingga sampai di depan penghulu. Kini Disya duduk tepat di sebelah Axel tapi dia sama sekali tak memandang wajah Axel. Disya hanya terdiam menunduk meratapi nasibnya yang begitu menyayat hati. Dia tak menyangka bahwa hari pernikahan yang dia impikan telah berubah menjadi mimpi buruk di sepanjang hidupnya.
Tiba waktunya Axel memasangkan cincin pernikahan di jari manis Disya, begitu juga sebaliknya. Detik selanjutnya Disya mencium tangan Axel yang telah menjadi imam sekaligus suami sahnya. Seseorang yang akan menghabiskan sisa waktunya bersama Disya. Kini giliran Axel yang ingin mencium kening Disya, tapi secepat kilat Disya menunduk hingga Axel hanya mencium puncak kepala Disya. Setelah itu Disya pun bersalaman dengan Papa nya, keduanya pun sama-sama berlinang air.
"Ingat pesan Papa, jadilah istri yang baik. Dan jangan kecewakan Papa," bisik Bagas di telinga anaknya.
Begitu juga dengan Axel yang juga mengalami Bagas.
"Axel, aku titip anak kesayanganku. Tolong jagalah dia dan bimbinglah. Jangan pernah kamu menyakiti hatinya. Jika dia salah tegurlah dia dengan cara yang baik, jangan kasar dengan dia karena dia sangat perasa dan manja," pinta Bagas pada Axel dan di angguki kepala oleh lelaki itu sebagai tanda jawabannya.
Setelah acara ijab kabul, baik Disya maupun Axel tengah bersiap-siap untuk acara resepsi yang akan di gelar di hotel ini juga. Kebetulan hotel itu milik Bagas, acaranya begitu sangat mewah dan meriah karena Disya merupakan anak tunggal Bagas. Semua rekan bisnis dan koleganya pun di undang. Tampak Disya dan Axel bersanding di pelaminan dan menyalami satu persatu semua tamu.
Terdengar banyak tamu yang kasak kusuk membicarakan sosok Revan yang membatalkan pernikahannya. Tapi tak ada satu orang pun yang berani bertanya perihal itu.
Tamu yang hadir sangat banyak membuat Disya semakin lelah dan menguap. Kedua netranya menatap ke arah jam yang menunjukkan pukul 10 malam, tapi acaranya pun belum usai juga. Masih terlihat ramai dan semakin meriah.
Sekilas Axel melirik ke arah Disya.
"Apa Nona lelah?" tanya Axel tapi Disya hanya terdiam enggan menjawab pertanyaan yang sudah pasti lelaki itu tahu jawabannya.
"Jika Nona lelah bisa istirahat lebih dulu. Nanti aku akan mengatakannya kepada para tamu, dan Nona akan di antarkan oleh pelayan," ucap Axel.
Disya pun mengangguk sebagai tanda jawabannya. Tak lama datanglah seorang pelayan wanita membantu mengantarkan Disya ke kamar pengantin.
Disinilah Disya berada di sebuah ruangan yang begitu luas dan mewah.
"Kamar pengantin yang sangat indah," gumam Disya sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Kedua netranya tertuju pada sebuah ranjang pengantin yang berukuran king size.
Tampak kelopak mawar bertaburan di atas ranjang, lilin aromaterapi sudah tersusun rapi menambah indahnya suasana. Dan hal itu membuat hati Disya kembali teriris.
Disya meminta pelayanan wanita itu untuk membantunya membuka baju dan kemudian menggantinya dengan setelan piyama. Setelah itu dia keluar dari kamar mandi dan naik ke atas ranjang. Disya merasa lelah dan tak lama dia pun tertidur.
Ceklek ….
Terdengar suara pintu kamar yang terbuka, menampilkan sosok Axel yang masuk ke dalam kamar itu dan mengunci pintunya. Kedua netranya menatap lurus ke arah ranjang, dimana Disya yang sudah tertidur pulas dan sudah mengganti bajunya.
Axel kembali mengayunkan langkahnya menuju kamar mandi. Dia membersihkan diri lalu mengenakan setelan piyama yang telah di sediakan. Sebelum akhirnya dia keluar dari kamar mandi dan duduk di tepi ranjang.
Axel menatap lekat wajah cantik istrinya. Semua yang terjadi bagai sebuah mimpi, dia tak menyangka telah menyandang gelar sebagai seorang suami dari putri Tuannya. Sungguh sulit untuk di terima oleh akal sehatnya. Dalam sekejap takdirnya telah berubah kini dia sudah menikah, Disya lah yang menjadi istrinya sosok gadis manja dan juga cengeng.
Axel mengurut keningnya sembari mengingat pernikahannya yang secepat kilat.
'Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku harus bersikap dengannya nanti? Aku tahu betul dia mencintai orang lain dan aku hanya sebatas pengganti. Apa dia mau menerima pernikahan ini dan mau menerimaku? Tapi aku telah jadi suaminya dan aku berhak atas dirinya.' Axel
Dengan cepat dia mengambil bantal dan tidur di atas sofa. Dia lakukan itu karena takut kalau tak bisa mengontrol dirinya jika dia tidur dekat dengan Disya. Bagaimanapun dia lelaki dewasa yang normal. Axel pun segera membaringkan tubuhnya di atas sofa karena lelah dia segera masuk ke dalam alam mimpi. Dan malam pertama mereka berlalu begitu saja.
🌷🌷🌷
Pagi-pagi sekali Axel sudah bangun, lalu berjalan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Sorot mata Axel melirik ke atas ranjang, dimana Disya yang masih tertidur lelap membuat Axel tak tega membangunkannya.
Axel berjalan keluar dari kamarnya dan segera menemui Bagas.
"Selamat pagi Tuan," sapa Axel sopan seperti biasanya.
"Selamat pagi, mari duduk sini. Ada satu hal yang ingin aku katakan padamu."
.
.
.
🌷Bersambung🌷