"Hukuman?" Nada mengulang ucapan Radit. Dia sudah terbayang hukuman ini pasti tak akan mudah.
Hukuman itu pasti menyakitkan, memalukan, dan merendahkannya.
'Sakit!' hati Nada merintih. Radit melakukan sesuai prediksi Nada. Lebih parahnya, setelah menghukum Nada, Radit juga mempermalukan Nada di hadapan istrinya yang tak bisa Nada maafkan.
"Kamu ngapain dengannya di kamar mandi? Enak-enak ya bercinta?"
"Viola, aku menghukumnya. Kamu jangan emosi dulu, Sayang. Aku cuma cinta kamu."
“AKU GAK PERCAYA!"
"Ya.. Ya kamu lihat saja! Aku beneran menghukumnya!"
Saat tadi Radit memberikan hukuman, Radit terlalu lama di kamar Nada. Dia lupa waktu. Sampai istri sahnya menggedor keras kamar mandi yang dijadikan Radit sebagai tempat menghukum Nada dan berhasil membuat pikiran Nada black and blue. Nada membenci Radit. Sekarang makin benci ketika Radit membiarkan istrinya melihat sendiri kondisi Nada di bathtub itu dan tersenyum menghina Nada.
"Kamu sudah percaya aku menghukumnya kan?"
"Sayang, maaf ya, aku pikir kamu menikmati berduaan dengannya," ucap Viola yang langsung hilang marahnya dan menaruh kedua tangannya melingkari leher Radit lalu bibirnya berpanggutan dengan Radit.
Jelas Viola terlihat senang. Dia bahagia melihat Nada yang disiksa. Ditambah belum sembuh juga luka di tangan Nada yang kemarin diinjak Viola.
"Aku gak mungkin begitu. Aku gak akan mengkhianati cintaku ke kamu, Sayang."
"Hm, aku percaya Radit. Kamu cuma untukku!"
'Scumbag's couple!' hati Nada menyinyir ketika melihat Radit menggendong istrinya ala bridal sebelum keluar meninggalkannya di kamar mandi sendirian dan Nada masih bisa mendengar suara tawa Viola dan bujuk rayu Radit padanya sebelum suara itu menghilang. Langkah Radit sudah menjauhi kamarnya.
Ck! Nada kesal pada dirinya karena di sela-sela hukuman menyakitkan itu, Radit tadi seakan sadar akan salahnya dan memberikan kehangatan untuk Nada. Membuat Nada sempat berpikir apa Radit punya rasa padanya dan cemburu sampai sebegitunya menghukum? Apa Nada yang memang kelewatan karena menjalin hubungan lagi dengan Dewa padahal dia sudah menikah? Apa memang semua salahnya dan Radit tidak sekejam yang dipikirkannya karena pria itu, terlihat merasa bersalah dan bahkan menjanjikan akan mengobati luka yang dibuatnya di tubuh Nada.
"Sudah diganti airnya sama dia, tapi masih merah darah juga."
Tapi ternyata itu janji palsu. Radit bahkan meninggalkan Nada dalam air bathtub yang terkontaminasi darah. Meski warna itu tak sepekat air pertama tadi. Tetap saja, darah Nada banyak mengalir disana.
Nada benci siksaan ini. Kalau bukan karena biaya pengobatan ibunya, Nada tak sudi direndahkan begini bahkan sekarang dia susah payah keluar dari bathtub lalu membilas diri di bawah shower sambil meringis.
Luka berdarah itu masih terbuka. Air dingin membuat rasa perih di kulitnya. Nada sendiri tak berani lihat lukanya. Belum lagi saat pakai handuk, Nada tak berani membalut dengan handuk. Hanya mentotol-totolnya pelan. Itu juga sudah perih.
Nada mengeluarkan kotak P3K dari laci kamar mandi, bersusah payah meng-cover lukanya dengan obat agar tak infeksi. Lokasinya di punggung membuatnya sulit mengaplikasikan obat.
Tapi malam itu, Nada sendirian. Tak ada yang membantunya. Kalau dia tak berusaha, lukanya bisa infeksi dan membahayakannya. Untuk tidur juga, Nada terpaksa tengkurap, tanpa cover punggungnya supaya lukanya terkena angin dan cepat mengering.
"Bahkan semalaman aku gak bisa tidur sih! Lalu apa aku masih berharap janjinya? Hell! Otakku emang udah rusak!"
Nada sungguh merasa tersiksa karena pikirannya yang berharap Radit datang untuk melihatnya. Dia seharusnya tak termakan bisikan Radit setelah menghukumnya. Nada kesal. Kan sudah lihat kemesraan Radit dengan Viola. Tapi kenapa dia memikirkan Radit dengan dekapan hangatnya?
Nada:
Didi, jemput aku jam setengah enam. Jangan telat! Aku mesti ke kampus pagi.
Dan malam itu, sukses Nada tak bisa tidur. Radit menyiksanya dua jam lebih. Nada mengobati lukanya sejam lebih karena lokasinya sulit dan gerakannya lambat, dia menahan sakit. Itu sudah beberapa jam berlalu, sampai sekarang jam empat pagi dia masih tetap terjaga. Padahal Nada sudah minum pereda nyeri dan antibiotik. Harusnya dia mengantuk dan sakit berkurang. tapi seakan tak berpengaruh. Apalagi dia tak minum? Nada tak terbayang sakitnya seperti apa. Beruntung Nada punya simpanan persediaan obat.
Makanya Nada benci Radit. Dia mau cepat ke kampus, bukan cuma karena kuliah pagi. Nada ingin menghindari ketemu Radit dan istrinya. Nada sudah mengirim pesan ke adiknya yang selalu bangun jam empat pagi untuk tahajjud.
Sudah cukup dirinya dipermalukan semalam. Terlihat berantakan dan terhina. Jadi meski sakit, Nada menahannya.
Harapan Nada, dia tak akan ketemu Radit lagi. Benih itu tumbuh, jadi dia tak perlu melayani Radit lagi. Nada ingin pergi secepatnya setelah bayi itu lahir. Nada ingin mengubur nama Radit dan keluarga Prayoga. Dia tak ingin bertemu mereka lagi.
Nada yakin, Dewa lah yang bisa membahagiakannya. Ah, Nada menyesal semalam Radit berhasil membuatnya berpikir kalau dia harus meninggalkan Dewa. Ck! Nada tak sudi! Memang dia selamanya mau jadi istri teraniaya Radit? No way!
"Kak Nada kenapa mukanya pucet?"
"Semalem pulang kemaleman dari cafe terus ngerjain tugas sampe ga tidur," dusta Nada yang mau cari aman dari interogasi adiknya.
Yah, Nada terlihat pucat karena dia menahan sakit punggungnya yang masih perih. Rasanya pereda nyeri yang baru diminumnya lagi tak bisa meng-cover sakitnya.
"Kak Nada gak se-cape ini waktu ama kak Dewa. Ngerjain tugas gak harus begadang."
"Hush, udah, jalan aja gak usah komentar."
Didi memang yang paling kecewa Nada menikah dengan Radit. Tapi dia juga tak ada pilihan kecuali membiarkan kakaknya berkorban demi kesembuhan ibu mereka. Didi cuma siswa SMA yang belum berpenghasilan dan dia tak mampu men-cover biaya pengobatan. Didi kesal pada dirinya sendiri.
"Maafin aku, Kak. Aku gak berguna."
"Sst, udah, gosah ngomong gitu! Di, aku taruh uang di tasmu sejuta setengah ya. Buat bayaran," ucap Nada yang memang duduk di belakang tas Didi. Dia memasukkan uang dari Dewa ke dalam dompet Didi. Dan ini bikin adiknya makin tak enak.
"Lain kali Kak Nada gak usah cari uang buat aku. Biar aku kerja di sablonan temenku. Uang dari dia, pake aja buat Ibu. Aku gak butuh, Kak."
"Eh, jangan! Fokus ke sekolahmu dulu aja. Ini bukan dari dia. Ini Dewa yang kasih."
Didi hampir saja mengerem mendadak mendengar nama Dewa. Senyum mengembang di bibirnya.
"Kak Nada gak putus kan ama kak Dewa? Dia, dia mau nunggu kak Nada?" tanya Didi antusias. Karena dia memang menyukai Dewa. Didi ingin Dewa yang jadi kakak iparnya.
"Hm, jangan lupa kamu nanti bilang makasih ke Dewa ya. Masalah hubunganku sama dia, Dewa bilang, dia mau nunggu aku. Dia masih cinta sama aku. Kami akan wujudkan impian kami. Dia sayang aku, Di."
"Syukurlah, aku juga pengen Kak Nada gak lagi ada urusan sama keluarga Prayoga. Aku mau sukses, biar ayah gak harus kerja sama mereka lagi."
Nada setuju. Dia yang merasa tersakiti oleh Radit juga berharap sama. Cuma, apakah harapan kakak adik itu sesuai dengan takdir yang sudah digariskan Tuhan? Mungkinkah semuanya terwujud?
Lalu bagaimana dengan Radit? Apa dia memang tak peduli pada Nada?