TERIMALAH HUKUMAN DARIKU SAYANG

1471 Words
Di tempat lain sebelumnya. “Sudah selesai, tinggal bikin laporan aja. Makasih ya Dewa.” Nada melihat jam di handphone-nya lalu merapikan buku-bukunya ke dalam tas dan berkemas ingin segera pulang. Jam sudah menunjukkan pukul satu malam. Tak terasa waktu semakin larut saat Nada dan Dewa mengerjakan tugas kuliah. Memang setelah keluar dari kafe, Dewa tidak langsung mengantar Nada pulang. Mereka ke tukang nasi goreng langganan untuk makan malam dan mengerjakan tugas seperti yang biasa mereka sering lakukan setiap kali Nada pulang dari kerja part time. Malam ini, karena Nada lembur sampai jam sebelas malam, mereka mengerjakan tugasnya juga selesai lebih malam. "Uangmu Wa." "Pegang! Itu buat sekolah Didi." "Tapi-" "Nada, pegang!" "Part time apa bisa dapat satu setengah juta?" "Udah, yang penting halal. Lagian, itu bukan bayaranku sehari kerja," dusta Dewa. Padahal punggung, kaki dan tangannya sakit-sakit semua karena dia terpaksa jadi stuntman adegan berbahaya di film. Bayaran besar, tapi tubuhnya seperti patah-patah. "Yuk, aku anterin pulang." "Dewa, aku gak pulang ke rumah ayah. Tapi ke rumahnya dia. Maaf Dewa." Dan sekarang, bayangan Radit muncul di pikiran Nada. Dia takut Radit marah padanya karena pulang terlambat. Meski dia juga tak enak pada Dewa. Nada serba salah. “Kalau begitu berikan data laporanmu padaku. Biar aku selesaikan di rumah nanti!” Dewa tanpa izin dari Nada langsung membuka tas Nada dan mengambil laptop. Dia butuh file laporan praktikum Nada yang belum selesai dan mengirim ke google drive. "Wa, kamu masih harus beresin kafe kan." "Tenang aja. Kamu selalu bisa mengandalkanku, Nada. Meski aku belum jadi orang kaya sekarang, aku janji, aku pasti kaya! Aku pasti jadi orang hebat sampai uang bukan lagi jadi masalah!" Nada tak kuat untuk tidak melabuhkan kepalanya di d**a Dewa. Rasanya semua lelahnya sirna. Hangat terasa saat dirinya mendengar detak jantung Dewa. Nada terharu dengan pengorbanan dan cinta Dewa untuknya. "Aku menunggumu, Nada. Selesaikan cepat urusanmu di rumah itu, lalu kita wujudkan mimpi-mimpimu!" "Kerja di London, terus kita bakalan liburan keliling eropa!" "Hm, as you wish! Aku janji itu semua akan terwujud, Nada!" bisik Dewa sambil melabuhkan kecupan di dahi Nada. "Ayo, kuantar pulang!" Dewa mengeluarkan uang selembar uang sepuluh dan dua puluh ribuan untuk membayar makanan mereka sebelum meninggalkan warung. "Pakai jaketku!" Dewa memang tak rela Nada memakai pakaian seketat baju seragam di kafe Tia. Pas keluar kafe tadi, dia memang sudah merelakan jaketnya dipakai Nada. Karena cardigan Nada terlalu tipis dan itu masih tertinggal, digantung di loker. Dewa cuma membawa tas Nada saja. "Makasih ya Wa!" "Ga ada utang budi untuk cinta, Nada!" Dewa mengusap lengan Nada yang melingkari pinggangnya. Setelah dia memakai tasnya di depan dadanya, Dewa pun langsung menyalakan mesin motornya. Mereka segera melaju ke jalanan menuju ke rumah Radit berdasarkan petunjuk Nada. Seperempat jam kemudian, motor Dewa sampai di depan rumah Radit. "Gak ada kiss?" "Hihi." Nada terkekeh pelan, lalu dia mendekat dan melabuhkan kecupan di dahi Dewa. 'Tidak apa, dia kekasihku, di dalam sana, pria itu menikahiku hanya supaya anaknya punya status,' ucap di hati Nada yang sebetulnya mengalami tekanan batin. Berat rasa hatinya menolak Dewa. Tapi ada rasa bersalah juga mengecup pria yang bukan suaminya. Normalisasi pikirannya penting untuk Nada, demi kewarasannya. "Besok aku jemput!" "Gak usah! Ketemu di kampus aja. Didi jemput aku sekalian aku mau kasih uangnya, Wa!" Nada lalu melambaikan tangan kepada Dewa sebelum masuk ke gerbang rumah. 'Tak apa. Ini hanya sementara. Nanti aku dan Nada akan selamanya bersama, mewujudkan mimpi kami.' Tak ingin melihat Nada memasuki rumah pria berstatus suami Nada, Dewa pun kembali menyalakan mesin motornya dan melaju meninggalkan rumah Radit. 'Mudah-mudahan semua sudah tidur!' Sementara di dalam rumah, Nada celingak-celinguk sambil menutup pintu ruang tamu perlahan. Suasana di dalam rumah Radit sudah gelap menandakan bahwa semua penghuni rumah sudah tidur, bukan? Lalu Nada berjalan mengendap-endap menuju ke kamarnya. Sukses, dia merasa lega saat memasuki kamarnya yang gelap. “Sudah puas keluyuran tengah malam?” sayangnya suara baritone yang dikenalinya ternyata ada di kamarnya. Jantung Nada bertalu-talu, takut, cemas, dan sorot mata pria yang baru menyalakan lampu itu membuat Nada takut. Tatapan itu tak seperti biasanya. Kejam, mengerikan, dan penuh amarah. Nada mundur selangkah. Tapi bisa kemana dia? Di belakangnya pintu yang sudah tertutup. Nada terpojok di sudut tak bisa memegang handle pintu yang langsung dikunci oleh tangan kanan Radit. “Maafkan saya Tuan, sa-saya pulang terlambat. Se-saya-" PLAK! Radit main tangan. Jelas rasa tamparan itu membekas perih, panas, dan lebih terluka sakit di lubuk hati Nada merasakan pedihnya lengan kekar pria menerpa wajahnya. “Sudah jelas aku katakan tadi di kafe, habis bekerja, jangan mampir ke mana-mana dulu dan langsung pulang ke rumah! Masih berani memberi alasan?” Nada menunduk tak berani menatap ke arah wajah Radit, matanya memerah karena seumur hidup, ini pertama kalinya dia ditampar seorang pria. “Katakan siapa aku?” sentak Radit dengan tangan kanannya kini mengurung Nada hingga stuck di pojokan pintu tanpa jalan keluar. "JAWAB!" “Tu-tuan Raditya Abimanyu Prayoga,” terbata-bata Nada menjawab. Tenaganya semakin lemas. Dia seakan butuh oksigen lebih banyak untuk memompa darahnya. “Aku tahu kalau kamu sudah hapal namaku sejak kita bertemu pertama kali! Maksud dari pertanyaanku, Apa hubunganku denganmu, Denada Aprilia?” “Suami kontrak.” PLAK! Apa yang salah dari jawaban Nada? Wanita itu tak tahu. Tapi Radit semakin marah. Dia tak terima. “Bagaimana jadinya kalau kuberikan rekaman CCTV di luar gerbang tadi ke kakekku? Apa menurutmu keluargaku masih mau membiayai ibumu di rumah sakit?" "Jangan!" Nada langsung memekik. Nada tahu kesalahannya. Dia mencium Dewa. Wajah Nada langsung memelas penuh harap. "Jangan, kumohon. Aku minta maaf. Jangan lakukan itu." "Aku bisa batalkan memakaimu sebagai surrogate mother. Aku bisa bilang, kamu bukan wanita bersih dengan bukti itu. Bagaimana menurutmu?" Radit menjauhi Nada, dia mengangkat tangannya dari pintu dan berbalik arah. "Kumohon jangan. Maaf Tuan. Aku tak akan begitu lagi." Nada secepatnya berlutut, memegang kaki Radit. Dia takut sekali. Nada berkali-kali menyesali perbuatannya tadi. Dia lupa kalau rumah orang kaya pasti ada CCTV-nya. Nada mengumpat dirinya di dalam hati. Dia ngeri sekali andai Radit melakukan niatnya. Nada sudah kehilangan keperawanannya. Mungkin saja janin itu sudah ada di rahimnya. Tapi bagaimana jika keluarga Radit tak menginginkannya lagi dan menganggapnya perempuan murahan? Aduh, Nada tak berani membayangkan itu. Terlebih jika ibunya bakalan meninggal kalau pengobatan dihentikan. Nada tak akan bisa memaafkan dirinya. Nada menangis memohon tanpa melepaskan kaki Radit. "Menjauh dariku! Aku jijik sama perempuan murahan, bekas priia lain sepertimu!" "Maaf Tuan, Maaf!" Meski Radit berusaha melepaskan kakinya, Nada tak mau. Dia terpaksa menyeret tubuhnya mengikuti langkah Radit. Sampai akhirnya suaminya itu duduk di ujung tempat tidur, Nada tetap bersimpuh di kakinya dengan derai air mata dan sudah sesegukan. "Berhenti menangis dan merengek!" Karena Radit sudah meninggikan suaranya, Nada pun berusaha menahan suaranya, meski masih sesegukan. "Kamu menikah denganku masih dengan status berpacaran dengannya?" Nada menggelengkan kepalanya. "Saya sudah putus waktu itu," ucap Nada terbata-bata. "Tapi apa tadi yang kulihat? Dia bahkan mengantarmu ke sini. Dia tahu hubungan kita?" Tak berani berbohong, Nada pun mengangguk. “Maaf. Dia tidak menerima alasan apapun untuk putus. Baru dengan alasan itu, dia setuju putus.” Nada tertunduk dan butiran air mata mulai mengalir lagi dari sudut matanya. “Lalu hari ini, dia ingin kembali lagi padamu?” Nada mengangguk. “Walaupun dia tahu hubungan kita, dia tetap mau kamu?” Nada mengangguk lagi masih dengan derai air matanya. "Meski kamu sudah tidak perawan?" kali ini, Nada mengangguk dengan luka perih baru tergores di hatinya. Entah apa mau Radit mengingatkan ini padanya. Ingin merendahkan Nada yang menjual diri padanya kah? Nada benci Radit! Hatinya terluka. Kalau bukan karena ibunya, Nada akan menamparnya. Nada diam bukan karena dirinya lemah. Tapi keberlangsungan pengobatan ibunya ada di uang keluarga Prayoga. Sesak hatinya dan kembali bulir air mata menjadi saksi bisu atas kepedihan di relung sanubarinya. Tapi pengakuan Nada tadi, memberikan efek berbeda untuk Radit. Sedikit ada rasa kesal, dan banyak kebencian untuk Dewa karena harga dirinya dan rasa kepemilikannya terganggu. Sebagai pria, memang Radit lumayan egois. Dia mengaku tak menyukai Nada. Tapi dari dulu, dia tak suka jika barang yang sudah di klaim miliknya diminati orang lain. "Berdiri!" Lalu, tiba-tiba saja Radit memegang pergelangan tangan Nada, memaksa wanita itu bertopang lagi di atas kedua kakinya sebelum Radit menarik tubuh Nada hingga kini tubuh Nada tersentak dan bersentuhan dengan d**a bidangnya. Nada memang tak ada niat melawan. Dia pasrah. Lagi-lagi bayangan tentang ibunya membuat Nada menerima takdirnya. Semau Radit saja. Nada tak mau membantahnya. Asal ibunya tetap dibiayai. Asal Radit menyembunyikan rapat-rapat rahasianya dari keluarga Prayoga, Nada rela diperlakukan bagaimanapun. Nada hanya menunduk dengan air mata masih mengalir di sudut matanya. Nada tidak berani menatap Radit dengan jarak dekat seperti ini. Sementara Radit menundukkan kepalanya sambil menatap tajam ke arah Nada. Sebelum dia mendekatkan bibirnya ke telinga Nada. Suara berat serta desah napas Radit yang panas menggelitik telinga Nada ketika berbisik, “Kamu akan mendapat hukuman malam ini, Denada Aprilia!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD