"Eh, Nada?"
"Ma-maaf Bu Tia! Saya bersedia potong gaji mengganti kerugiannya."
Nada memang kesal dan tidak terima dengan penilaian Dimas tadi. Cuma dia juga tidak ingin merugikan Tia dan merusak acara penting kafe. Cepat-cepat Nada berlutut untuk mengambil pecahan tadi.
"Eh, Nada, hati-hatilah, tanganmu lebih mahal dari gelas, duh!" Tia, dia sudah berdiri dan menghampiri Nada tergesa-gesa.
"Maaf ya Bu Tia. Saya-"
"Dah, aman! Kamu obati tanganmu! Eh, tapi ini kenapa? Luka kapan ini? Kok tanganmu banyak bekas luka?"
Pertanyaan Tia membuat Radit melayangkan pikirannya pada luka Nada kemarin yang terkena duri mawar.
"Kamu jatuh dan terinjak ban motor Dewa?"
Cuma pertanyaan Tia ke Nada ini agak tidak nyambung dengan luka Nada di ingatan Radit. Luka bekas duri, itu di telapak tangan. Tapi yang ditatap Tia justru punggung tangan Nada yang terlihat membiru.
Radit bisa melihat dari jarak sekarang. Luka itu dia tak tahu.
"Enggak Bu, bukan."
"Dan ini kenapa juga? Telapak tanganmu juga ketusuk-tusuk. Kamu habis ngapain sih?" tanya Tia lagi karena perban yang dipakai Nada kemarin sudah dilepasnya. Jadi luka duri mawar juga bisa dilihat. Dan luka itu belum kering sudah terkena beling lagi terutama di ujung-ujung jari Nada. Makanya Tia khawatir.
"Sisil, tolong ya ini dirapihin! Nada, di ruangan saya ada kotak P3K. Ayo kita obatin dulu!"
"Bu, di ruang ganti pakaian juga ada. Saya bisa obatin sendiri."
"Tapi-"
"Tenang aja Bu, saya kan calon dokter."
Benar juga! Nada pasti tahu cara mengobati lukanya dan Tia tak lagi memaksa. Dia membiarkan Nada ke ruang ganti di saat rekan Nada membantu membersihkan bekas beling tadi.
"Sil, Nanti kalau udah, ambilin aku muffin sama ice lemon tea ya!"
"Siap Bu,"
Tia kembali lagi ke mejanya dan mendapati wajah Dimas yang gelisah.
"Dia kayaknya denger yang gue bilang ya? Apa dia tersinggung?"
"Au ah!" Tia malas menimpali. Tapi pandangan matanya sempat melirik Radit yang wajahnya menegang meski Tia tak mengatakan apapun.
"Hati-hati makanya kalau ngomong, Mas!" cicit Ando, "Nada itu gadis baik-baik. Dia anak yang terdidik, mahasiswi kedokteran, temen seangkatannya Dewa. Dia kerja part time di sini untuk tambahan biaya sekolah adiknya. Perjuangan hidupnya berat. Dia cuman anak tukang kebun, sekolah juga ngandelin beasiswa, terus nyokapnya kena kanker sekarang. Jadi jangan sembarang nuduh lo."
"Yah, jangan nyalahin gue! Sikapnya Radit noh bikin gue curiga!"
Radit, dari tadi memang tidak memberikan respon apapun. Dia diam saja mendengarkan obrolan teman-temannya, di samping pikirannya juga masih melalang buana memikirkan luka di tangan Nada.
Sejak kapan luka itu ada? Semalam dia terlalu bernafsu tidak memerhatikan detail. Siapa yang menyakiti Nada?
"Tia, bantuin gue minta maaf ke Nada dong. Gue tadi bercanda. Gue beneran pengen nikahin dia. Gue bisa penuhin semua kebutuhannya."
Bahkan saking seriusnya berpikir, Radit malas untuk menimpali kegilaan Dimas. Toh Nada juga tak menyukainya.
"Sssh, pokoknya jangan ganggu Nada! Dia calonnya ponakan gue. Dewa, serius ama dia. Nada tuh segalanya buat dia. Mereka udah ngerencanain masa depan mereka bersama. Jadi jangan lo ganggu, Mas!" dan kalau Ando tidak menceritakan tentang masalah percintaan Nada dengan ponakannya Dewa, pasti Radit masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Sesayang itu Dewa ama dia?"
"Hm!"
"Secinta itu?"
"Banget, Mas! Nih gue ceritain perjalanan cinta mereka!"
Kini, Radit makin tak tahan mendengar cerita Ando.
"Kamu gapapa, Dit?"
Entah sejauh mana murka Radit, yang jelas, wajahnya kini sudah seperti benang kusut tak beraturan. Makanya Tia bertanya. Dia daritadi memang lebih tertarik memerhatikan Radit ketimbang meladeni kegilaan Dimas.
"Gak. Cuma kepikiran Viola aja. Dia belum tahu aku ke sini."
"Sorry ya! Kamu jadi harus ngumpet-ngumpet di belakang istrimu. Moga cepat kami bisa balikin modalnya ya Dit."
"Ah, santai aja, gak usah dianggap serius. Aku kepikiran Viola bukan masalah kafe. Dia mau berkarir lagi di Eropa," dusta Radit.
Karena sebetulnya dia tidak enak saja pada Tia makanya menjadikan rencana Viola kambing hitam. Istrinya marah besar saat tahu Radit investasi di kafe-nya Tia. NIlainya sih cuma setengah miliar. Tidak ada apa-apanya ketimbang kekayaan keluarga Prayoga.
Tapi karena masalah ini Viola merasa Radit terlalu memanjakan teman-temannya. Dia membenci teman-teman Radit yang menurutnya memanfaatkan Radit. Viola juga marah dengan investasi Radit di perusahaan telekomunikasi milik Dimas.
Jadi pertemanan antara Radit dengan teman-temannya ini agak tersendat. Dan mereka tak bisa banyak bertemu karena ketidaksukaan Viola.
"Baguslah dia ke sono. Lo bisa sering kumpul bareng lagi ama kita, Dit," makanya Dimas membercandai Radit.
"Ah, ngapain gue kumpul ama lo, Mas?"
"Yah, kalau ada bini lu kan nggak bisa nongkrong."
"Dah, ah! Mending gue tidur atau ngurusin perusahaan ketimbang dengerin lo ngomong gak jelas!"
"Ah, jangan gitu lo! Diem-diam lo sering kangen ma gue kan?"
"Ah, jauh-jauh dari gue! Jangan peluk-peluk!"
"Mmuah! Gue cium lo Dit! Biar mimpiin gue!"
"Najish!" Radih mengelap pipinya diikuti seringai tawa Tia, Ando, dan Dimas.
Sahabat Radit yang satu itu memang absurd. Tapi dia yang selalu mencairkan suasana diantara Radit dan Ando yang sebetulnya pendiam. Meski Dimas juga sering tidak jelas, tapi kedua temannya memang tidak bisa membencinya.
Contohnya Radit yang tadi kesal ke Dimas, kini sudah bisa bercanda lagi meski perasaannya masih ada khawatir pada Nada apalagi saat melihat istri kecilnya sudah kembali sibuk di kafe Tia.
Petang itu kafe sangat ramai. Pesanan online, offline, take away ataupun dine in juga tiga kali lipat dari biasanya. Banyak promo di anniversary cafe yang sudah diumumkan di media sosial. Nada cukup lelah bolak-balik mengambil makanan, mengantar makanan, menulis pesanan dan melakukan banyak lagi hal lainnya hanya dengan Sisil. Orderan tiga kali lipat dari biasa dengan jam kerja yang cukup panjang. Ini sesuatu.
"Udah setengah sebelas, kamu bilang dia cuma part time, tapi kerjanya kenapa sampai jam segini Tia?"
Radit tak bisa tinggal diam. Melihat Nada terlalu sibuk bekerja dan Dimas juga tak henti-hentinya memerhatikan Nada, mengomentari tubuh Nada. Jadi saja dia protes ke Tia.
"Ini lagi anniversary Radit. Semua pegawai juga tahu kalau hari ini mereka lembur. Kafe buka sampai jam sebelas."
"Sebe-ssh!" Radit makin emosi karena itu belum terhitung waktu bersih-bersih, "Satu lagi! Pakaian pelayan di sini terlalu ketat! Kurasa mereka tidak harus berpakaian seperti itu!" jadi kemana-mana protesnya.
"Bukan desain pakaian itu idemu? Kata kamu outfit waiters di coffee shop harusnya seperti di Eropa!" Radit mati kutu. Dia lupa. Sedangkan Dimas jadi puas menertawainya.
"Gue tadi nikmatin kok lekukan tubuhnya si Nada, Dit. Dalemnya pasti aduhai tuh! Ajib, ketat bikin pikiran gue kerangsang!"
Tia hanya bisa geleng-geleng kepala saja sebelum meninggalkan mereka. Dia harus mengurus suatu di kasir. Tak ada waktu mendengarkan Dimas.
"Bang, yang bener aja dong Nada disuruh kerja sampai jam segini! Tega lo Bang!" cuma belum sempat Radit memarahi Dimas karena pikiran kotornya, mereka semua terdistraksi dengan seseorang yang datang sambil berteriak ke Ando.
“Dewa, kan sekarang Anniversary cafe, lupa?" seru Ando polos menjawab.
"Gue tetep ga terima Nada kerja sampe jam segini! Gue-"
"Ini udah selesai kok Wa! Dah mo tutup nih! Tuh, yang nyisa cuman temen-temennya Ando doang. Nada juga lagi bantu beberes dapur."
Memang meja lainnya sudah kosong. Sisil juga baru mengganti keterangan di pintu jadi close sesaat setelah Dewa masuk.
"Tapi besok pagi kuliah padat banget! Tambah praktikum! Dia pasti sekarang belum ngerjain tugas juga! Belum lagi belajar buat Quiz. Tadi ada tugas juga, kalian mo nyiksa dia apa?"
"Dewa, udah Wa! Aku yang mau kok!" Nada yang sudah membawa alat-alat kebersihan kaget, dia menghampiri Dewa dan menarik tangan pria itu tanpa sadar kalau mata Radit sedang memerhatikan tangan Nada dengan rahangnya yang mengetat.
"Tapi Cintaku, besok kan-"
"Ssst, udah! Bayarannya juga lumayan lagi, Wa. Dah, gapapa, ada yang mesti dibayar di sekolah Didi!"
"Nih!"
"Apa nih?"
"Hasil part time-ku. Cukup buat tambahan bayaran Didi. Sejuta setengah kan?" Dewa mau menaruh di tangan Nada tapi wajahnya langsung memerah.
"Tanganmu kenapa?" Emosinya kembali terlihat.
"Tadi jatoh, cuma kena beling dikit."
"Dikit kamu bilang? Ni apa? Dalemnya masih ada beling kecil!"
"Gak kok!"
"Nada, aku nih calon dokter! Dan aku pengen banget jadi dokter bedah. Nggak mungkin yang kayak gini doang aku nggak tahu kalau di dalamnya masih ada sisa beling! Biiar aku keluarin dulu!"
"Dewa, kerjaanku-"
"Duduk diam! Tar aku yang beresin kerjaanmu!" ucap Dewa yang frustasi berlari ke arah ruang ganti pakaian dan mengambil kotak P3K.
Dia berlutut, saat Nada duduk di kursi, lalu Dewa dengan telaten membersihkan tangan wanita yang dicintainya.
"Widih, patah hati gue!" ucap Dimas cukup kencang dan dia di lirik Dewa.
"Cewek lo cantik, gue jadi patah hati!"
"Wa, udah!" Dewa mau berdiri dan menghajar Dimas, tapi di larang Nada dengan tangannya menyentuh d**a Dewa, sungguh menambah kesal Radit yang sudah mengepalkan tangannya emosi.
Dewa menurut dan sudah fokus lagi menggunakan pinset mengambil pecahan beling di ujung jari Nada yang kini meringis menahan sakit. Dewa kembali mengobatinya, meniupi lukanya, dan memberikan cairan antiseptik lalu antibiotik.
Pemandangan yang seharusnya terlihat biasa saja tapi membakar hati Radit.
"Dit, lo mo pulang?" tak sadar, Radit sudah berdiri dan kalau tidak disapa Dimas, dia tak tahan ingin menarik Nada pergi.
"Ah, makasih Wa, udah gapapa kok tanganku," ucap Nada yang tahu Radit marah padanya. Nada kikuk menarik tangannya. Bagaimanapun Radit berstatus suaminya. Nada gamang karena Dewa juga kekasihnya.
"Ehm, mau ngobrol sama Tia. Tuh, dia lambain tangan," syukurlah Tuhan membantunya dengan Tia yang memang ingin membahas investasi Radit. Dia pas sekali ingin memanggil Radit.
"Bang, gue bawa Nada balik. Tar kunci taro aja di bawah pot kaya biasa, gue nanti balik lagi beresin kafe."
"Eh, Wa, aku bisa- "
"Ayok pulang! Tugas kuliah kamu masih banyak! Untuk kerjaan, kamu bisa andalkan aku, Nada! Cukup kamu fokus ke impian kita!" ucap Dewa tegas, membuat Nada tak mendebat. Sayangnya itu masih terdengar oleh Radit yang berhenti berjalan dan mengepalkan tangannya.
Apa impian mereka berdua?
"Dit, ayok!" kikuk, Radit yang tadi berhenti melangkah terpaksa mengikuti Tia ke ruangannya di saat Dewa, menuju ruang ganti dan mengambilkan tas Nada. Dia membawa Nada keluar dari kafe.
"Ini rekapan empat tahun." Radit tak peduli dengan itu! Nilai segitu tidak terlalu penting bagi Radit. Tapi Nada yang terlihat dari kaca ruangan Tia sedang naik motor Dewa dan tangannya memegang pinggang dengan tubuh merapat, menempel ke Dewa, ini mengganggunya.
"Jadi aku transfer ke kamu segini ya Dit!"
“Berikan uang itu ke Nada saja!”
“Hah, apa maksudmu, Dit?” Tia bingung.
“Kamu bilang dia butuh uang. Anggap aku memberikan beasiswa untuknya," sejatinya Radit tak terima Nada diberikan uang oleh Dewa.
"Begitu?"
"Hm, tapi jangan bilang itu dariku. Katakan kita berempati padanya. Dan beri syarat IPK-nya di atas 3,5."
"Dermawan sekali!' cicit Tia jadi curiga.
"Kamu ingat bagaimana dulu aku berjuang untuk beasiswaku?"
Karena dulu Radit kuliah tidak dapat biaya dari keluarganya. Dia harus mendapatkan beasiswa, bekerja paruh waktu dan memang keluarga Prayoga sangat disiplin masalah uang. Mereka terkesan pelit tapi ini untuk pendidikan survival keturunan mereka. Sampai terbukti Radit berprestasi, baru tunjangan pun diberikan bertahap mulai semester tiga. Tapi tetap ada pertanggungjawaban. Makanya Viola kesal dengan kedisiplinan mereka.
Inginnya Viola yang kenal Radit di semester tujuh dan Radit sudah banyak tunjangannya, dia ingin menikahi Radit sang pewaris tunggal keluarga Prayoga agar hidupnya bak princess. Tapi kenyataan tak semanis itu. Keluarga Prayoga sangat ketat terhadap aturan. Dan Tia tahu aturan itu juga.
Dia paham kenapa Radit berempati pada Nada.
"Baiklah, aku akan memberikannya nanti.”
"Dit, lo mo balik gak? Apa mo ngencanin bininya Ando lama-lama di dalem?"
Kalau tidak didatangi Dimas, mungkin Radit masih ingin bertanya tentang Nada dan Dewa. Tapi ya sudahlah! Ini juga sudah malam dan tak mau ribut dengan Viola.
Radit mengendarai mobilnya sangat tegang. Pikirannya terus mengarah pada Nada dan makin gusar ketika sampai di rumah.
"Ini sudah jam dua belas lewat Viola. Kenapa masih di ruang tamu?"
"Kamu juga baru pulang?"
"Hm, ada kerjaan tambahan. Menungguku kah?"
"Tepatnya menunggu orang yang baru turun dari motor di depan itu! Katanya anak baik-baik tapi jam segini baru pulang diantar lelaki."
Harusnya Nada sudah sampai karena Radit cukup lama di ruangan Tia. Nada juga pakai motor harusnya lebih cepat.
Sudah Radit kesal di kafe, emosi Radit makin dipermainkan saat melihat perlakuan Nada dengan si pengendara motor. Tangannya mengepal dan hampir meledak saat Viola berbisik:
"Dia dekat sepertinya dengan yang mengantarnya ya? Menurutmu, apa anak yang dilahirkannya nanti itu beneran anakmu, Radit?"