KAMU SELALU MEMBUATKU KHAWATIR

1599 Words
“Kamu lama sekali kembalinya! Apa karena telepon tadi?” di saat Radit tengah melamun, suara wanita masuk ke pendengarannya. “Viola, tadi eyang meneleponku, maaf ya, membuatmu menungguku.” Radit tak sadar Viola sudah berada di tangga atas. Radit berharap Viola tidak berpikir yang aneh-aneh karena dia terlalu lama berada di kamar Nada. Radit juga tak berharap Viola slah sangka dengan telepon yang diterimanya. “Aku menunggumu cukup lama, Sayang. Apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa eyang meneleponmu?” Viola bicara sambil menghampiri Radit. Dia lalu mengalungkan tangannya di leher suaminya dengan bibirnya juga memberikan kecupan lembut yang selalu disukai Radit. “Tak apa, hanya memintaku menjaganya dan tak menyakitinya. Viola, kamu mau tidur sekarang?” Radit tak ingin membahas panjang lebar. Radit mengecup dahi istrinya dan tanpa menunggu jawabannya, dia menggendong Viola ke kamar mereka Radit menutup pintu kamar mereka dan merebahkan tubuh Viola di ranjang sebelum menjatuhkan tubuhnya di samping istrinya. “Sayang, ayo kita hangakan ranjang kita.” Viola merangsangnya. Meski Radit sedang tak berminat setelah bermain dengan Nada, dia tetap menuntaskan kewajibannya pada istri sahnya yang sudah meminta. Keduanya masih saling berpagutan, bergelut di dalam selimut dengan jari-jari mereka mencoba saling memberi rangsangan saraf. Mereka menyalurkan hasrat satu sama lain. "Kamu selalu hebat, Sayang!" Satu sisi, Radit sebetulnya lelah. Dia hanya berusaha memuaskan Viola sebagai permintaan maafnya karena telah membuat Viola menunggu. Jadi dia lega karena istrinya masih bisa menikmati itu meski tenaganya sudah terkuras dan hanya sisa-sisa. Main dalam waktu berdekatan, jelas ini sungguh sulit. Radit memaksa dirinya untuk ON meski ujungnya dia mengumpat. 'Kenapa tadi harus membayangkan tubuhnya untuk bangun?' Hatinya berdesir tak terima. Padahal di hadapannya ada istrinya yang molek, wanita blasteran Rusia-Spanyol stang tinggi, lebih menarik dari Nada sang gadis kampung. Tapi kenapa harus bayangan Nada di bathtub yang membangunkan hasratnya? "Terima kasih Sayang, meski aku tak lagi bisa memberikanmu anak, kamu tetap me-ratu-kan aku." Mereka berdua memang tak mungkin lagi dikaruniai anak setelah kecelakaan Viola delapan tahun silam yang membuat Viola terpaksa mengangkat rahimnya. Tapi untuk hal ‘olahraga’ di tempat tidur, Radit tak pernah absen setiap malamnya. Tapi baru kali ini Radit bermain justru memikirkan wanita lain. Tapi sudahlah, yang penting kini istrinya sudah terpejam dan tadi menyukai permainannya. Namun lagi-lagi Radit sulit tidur karena terbayang wajah Nada yang melepaskan kepuasannya tadi saat mereka bercinta. Tampak seksi dan menggoda. Radit mengumpat hatinya. Dia memeluk Viola, tapi kenapa Nada yang terus-terusan dibayanginya? "Ini masih malam, kamu mau kemana?" Jujur saja, Radit tadinya mau keluar. Dan melihat kondisi Nada, dia khawatir. Apalagi setelah penjelasan kakeknya. Tapi sayang, istrinya terbangun. “Maaf membangunkanmu. Aku mau ke toilet tadi, cuci-cuci." "Gendong! Aku juga mau dibersihkan Radit." Suaminya menurut, menggendong dan membersihkan tubuh istrinya sebelum membawanya lagi ke ranjang mereka. Viola malas jalan. "Kamu memang suami terbaik, Sayang." Viola puas. Namun di sisi lain, Viola tak pernah berhenti mengingatkan dirinya betapa dia membenci keluarga Radit karena keegoisan mereka yang membuatnya mengubur impiannya menjadi desainer terkenal. Karena itu, setelah tujuannya tercapai nanti, dia akan menceraikan Radit. Biar tahu rasa! Viola ingin jadi istri, bukan menjadi pembantu apalagi babysitter dari keturunan Radit yang bukan berasal dari darah dagingnya. Dia harus berpisah. Radit dan keluarganya yang akan bertekuk lutut di kakinya, mengharapkannya kembali. Viola tahu, Radit tak bisa hidup tanpanya. Sedangkan keluarga Prayoga membutuhkan Radit sebagai penerus yang menjalankan perusahaan mereka. Jadi, bagaimana mereka tanpa Radit? Hancur! Viola menginginkan ini sebagai puncak kesuksesan balas dendamnya. Sudah tak ada lagi manis cinta yang dulu. Hatinya penuh dendam dan kebencian. “Kalau begitu, kita tidur lagi, ya Sayang! Tubuhku sudah sangat lelah dan besok ada beberapa pertemuan penting di perusahaan.” Radit bicara sambil memosisikan Viola tidur dalam rangkulannya. “Baiklah, Sayang, tapi bisa beritahu dulu apa yang dikatakan eyang?” Viola mencecar. Dia harus tahu demi meluruskan rencananya. “Hanya memberitahuku alasan Denada mau menikah menjalankan rencana ini,” jawab Radit yang sudah memejamkan mata dengan tangannya melingkari tubuh Viola. “Ah, apa itu, Radit?” “Ibunya sakit dan dia butuh biaya pengobatan. Eyang membantunya dengan syarat keturunan Prayoga,” jawab Radit terpaksa jujur. "Jangan terlalu dipikirkan ya. Eyang, cuma ingin kita memperlakukannya dengan baik. Tetap nantinya eyang setuju setelah dia melahirkan, kami bercerai." "Hm, iya Sayang, aku paham." "Aku tidur dulu, Sayang. Aku capek sekali," ucap Radit, sebelum matanya benar-benar terlelap karena kelelahan. Viola mengecupnya meski hatinya masih dipenuhi kekesalan. ‘Ternyata itu yang kamu bicarakan dengan cucumu, tua bangka! Isk, berbuat baik padanya? Siapa yang sudi? Yang penting sekarang, selama kamu tidak menghambat karirku, aku tidak peduli apa yang kamu katakan kepada lelaki bodoh dan pengecut ini!’ Viola menahan marahnya ke Radit yang menurutnya, suaminya terlalu lemah sebagai lelaki. Padahal seharusnya Radit tak boleh disetir keluarganya. Tapi kini Viola masih membutuhkan support materi dari Radit untuk karirnya. Dia mencoba bersabar, meski kesal, tetap tidur dalam rangkulan Radit. *** Keesokan harinya. “Non! Non! Non Nada bangun, Non! Tuan dan Nyonya sudah di ruang makan menunggu Non.” Suara Ningsih terdengar di telinga Nada. Walah, Nada kesiangan! Dan bukan masalah kesiangannya saja yang membuatnya malu. Semalam, setelah Radit menyetubuhinya, dia lupa bersih-bersih dan pakai pakaian. Bahkan panggulnya masih disanggah bantal Nada hanya menutupi tubuhnya dengan handuk, itupun Nada yakin, dia mengambil handuk tak sadar karena kedinginan. “Aku akan bersiap sekarang! Lima menit, aku akan ke ruang makan!” "Baik Non, saya sampaikan ke Tuan." Setelah Ningsih keluar, Nada berlari ke arah kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air shower dan menyikat gigi. Semua hanya semenit. Setelah itu, Nada mencuci muka dan berganti pakaian. Tidak ada waktu leyeh-leyeh. Nada terburu-buru bukan hanya untuk sarapan bersama, kuliah pertamanya jam delapan pagi. Nada harus segera bergegas ke kampus dalam waktu kurang dari setengah jam. [Di, anterin aku ke kampus!] Setelah mengirimkan pesan pada adiknya, Didi, Nada segera keluar ke ruang makan. Radit dan Viola terlihat sudah ada di ruang makan dan masih belum menyantap makanannya karena menunggu Nada. Jadi saja Nada merasa bersalah. “Apa yang kamu lakukan sampai kesiangan?” dan belum sempat Nada meminta maaf, Radit sudah menyidangnya bak seorang ayah pada anaknya yang berbuat salah. Walaupun jengkel menunggu lama, suara Radit masih sangat lembut dan tidak ada kesan marah sama sekali. Dia teringat perintah kakeknya, Prawiryo. “Maaf," hanya kata itu yang bisa diucapkan Nada. Tak mungkin kan dia bilang karena kelelahan membersihkan rumah dan melayani Radit dia jadi ketiduran? "Kamu bawa tas, mau kemana?" selidik Radit lagi. "Kuliah." “Jadi, kamu masih kuliah?” “Iya, tingkat tiga Jurusan Kedokteran,” jawab Nada singkat. “Duduklah, ayo sarapan dulu!” Radit berusaha bersabar dengan istrinya yang lebih muda empat belas tahun darinya ini. Cocok sudah menjadi adiknya Radit. Dia, ingin memosisikan Nada sebagai adiknya. "Maaf Tuan, Nyonya, adik saya sudah jemput. Saya berangkat dulu." Belum sempat Nada duduk, handphone-nya bergetar dalam saku celananya. Ada pesan dari adiknya yang sebelum Nada kirim pesan juga sudah menunggu tak jauh dari pagar rumah Radit. “DENADA APRILIA!” Makanya Nada hampir saja berlari meninggalkan ruang makan kalau tidak Radit memanggil namanya. “Maafkan saya Tuan. Jam delapan saya ada kelas." Radit melihat jam tangan pemberian Viola di lengannya, sudah jam tujuh lewat dua puluh menit. Nada cuma punya waktu empat puluh menit lagi untuk sampai ke kampusnya. “Baiklah kamu boleh pergi tapi makanlah dulu sarapanmu, walau hanya satu suap!” perintah Radit ke Nada. “Oh baiklah kalau begitu! Terima kasih.” Nada segera mendekat ke arah meja makan dan mengambil satu lembar roti tawar, masih menggigitnya, dia melambaikan tangan kepada kedua orang yang duduk di meja makan itu sambil berlari. Radit menghela napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Nada yang menurutnya lucu, ceroboh, dan polos itu. “Sayang, sampai kapan kamu mau bengong? Kapan kita mulai sarapannya?” protes Viola yang tak suka suaminya masih menatap bayangan Nada yang sudah menghilang. “Maafkan aku, Sayang! Aku tadi khawatir, karena sikapnya sangat ceroboh.” Radit berbicara jujur kepada Viola. “Kamu jangan terlalu main hati. Dia akan baik-baik saja. Kecuali kalau kamu mulai mencintainya.” "Aku hanya mencintaimu, Sayang. Ayo makan." Kalau sudah disindir begitu, Radit tak enak. Viola sangat pandai menyimpan rasa amarah di dalam hatinya. Jadi, sebesar apa pun kesalnya pada Radit, Viola tidak akan menunjukkannya. Dia masih membutuhkan Radit dan uangnya untuk mendukung karirnya. Akhirnya mereka berdua menikmati sarapan seperti biasa, hanya berdua tanpa Nada. Suasana meja makan seperti inilah yang sebenarnya sangat diinginkan oleh Viola. Tapi untuk saat ini, suasana ini sangat menyebalkan bagi Viola. Radit hanya fokus kepada makanannya bahkan tidak memedulikanya. Biasanya, sebelum Nada ada di rumah Viola dan Radit, saat makan adalah saat di mana mereka berdua saling bicara dan saling menghangatkan suasana. Tapi sekarang, Radit memintanya menerapkan konsep makan sesuai dengan ketentuan di rumah keluarga besar Prayoga, mereka tidak lagi mengobrol kecuali kalau ada yang penting. “Radit, kita hanya berdua. Apa kau akan tetap makan sambil diam seperti ini?” “Iya, sesuai dengan kesepakatan kita. Kebiasaan ini akan membuat kita lebih menghargai makanan yang kita makan, menikmatinya, dan mensyukurinya. Dan kita bisa mengobrol setelah makan selesai,” jawab Radit yang sejujurnya sedang tak mood juga untuk mengobrol. Tenaganya habis untuk memuaskan Viola dan menanam benih dalam rahim Nada semalam. Dia tak sempat mengurus kerjaannya. Sekarang pikirannya penuh dengan pekerjaan. Sambil makan, sambil dia membayangkan apa yang akan dikatakannya nanti pada rapat dengan investor nanti. Untung Viola tak menjawab lagi. Radit lega. Tapi tentu saja dalam hati Viola dia tidak menyukai cara Radit makan seperti ini. Viola hanya tidak ingin menambahkan masalah sebelum dirinya mencapai puncak kesuksesan, sehingga Viola membiarkan Radit seperti itu. Makan pagi kali ini adalah hal yang sangat tidak menyenangkan untuk Viola.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD