“Lo dari mana aja? Jam segini baru nyampe? Tumben!”
"Jangan tanya-tanya dulu, Ka! Gue ngos-ngosan!"
Nada berlari hingga kelasnya. Ika sahabatnya tak biasa melihat Nada telat. Apalagi tampilannya sekarang semrawut. Wajahnya pucat, rambut berantakan dan napas seperti tesengal.
Ika tak bertanya lagi karena dosen sudah memasuki ruangan. Nada pun mulai mengatur napas dan detak jantungnya. Dia mencoba berkonsentrasi.
Untuk tiga jam pelajaran tidak ada seorang pun yang berani bicara. Karena pelajaran ini adalah pelajaran tersulit pada semester ini. Urologi, Andrologi dan Ginekologi. Mata kuliah 6 SKS ini cukup menakutkan untuk mereka semua para calon dokter.
Beruntung pelajaran kali ini dapat diselesaikan tanpa ada masalah bagi Nada. Tugas-tugas kuliahnya pun sudah dikumpulkannya membuat Nada bisa bernapas lega. Meski Nada mengerjakan tugas sambil mendengarkan dosennya. Itupun dapat contekan dari Ika. Dia semalam tak sempat menyalinnya.
Semua karena Radit dan Viola menyedot energinya, di ranjang dan untuk beberes rumah. Untung saja dosennya baru ingat tugas saat diujung jam kuliah. Nada bisa punya sedikit waktu mengerjakannya.
"Lo gak biasanya se-kacau ini."
"Emang hidup gue kacau, Ka! Berantakan, hancur, doomed! Dah, lo gosah tanya-tanya!" cicit Nada yang memang lelah. Lapar pula perutnya karena kemarin hanya diisi nasi gudeg dan tadi pagi cuma sehelai roti tawar.
“Praktikum masih dua jam lagi, lo mau ke mana dulu?" Ika tak mau cari masalah dengan sahabatnya yang moody.
“Nada, kita bisa mengobrol sebentar?” tapi sebelum Nada menjawab, seorang pria, teman sekelasnya yang juga tadi memperhatikan Nada yang kacau di kelas menghampirinya.
Pria itu tampak khawatir.
"Gue duluan ke kantin ya!" Ika yang tahu hubungan diantara keduanya pun menyingkir.
Dia tahu, pasti ada sesuatu yang tak beres kalau melihat kecanggungan keduanya.
Lagian, Nada biasa diantar jemput oleh pria itu. Tadi teman lelaki Nada sudah lebih dulu sampai, bahkan setengah jam sebelum kuliah di mulai. Sedangkan Nada terlambat. Nada, tak melarang sahabatnya pergi. Dia memang harus bicara dengan pria itu. Selain, hatinya juga merindu sosok itu.
“Ikut denganku dulu, kita bicara di tempat biasa."
Atap gedung kampus, tempat di mana Nada dan sering bertemu untuk sekadar makan siang bersama dengannya. Mereka juga sering mengerjakan tugas-tugas mereka di sana. Atap yang menjadi saksi bisu tentang kisah mereka.
“Kenapa tidak bicara padaku tentang masalah ibumu, Nada?” mereka cuma berdua di sana. Dewa pun mulai berbicara dengan pandangan matanya menatap langit yang mulai terik.
Mereka berteduh di dekat pintu masuk.
“Itu masalah keluargaku. Lagipula aku tidak ingin kamu dapat banyak masalah dengan ibu tiri dan ayahmu lagi.”
Masih terngiang di dalam ingatan Nada bagaimana marahnya ibu tiri Dewa di telepon ketika Nada meminjam uang ke Dewa untuk biaya opname ibunya. Pada malam itu, pertengkaran besar terjadi di rumah Dewa karena ibu tiri Dewa memanasi ayah Dewa mengenai uang berobat ibu Nada. Padahal yang dipinjam Nada uang Dewa, bukan ayahnya. Itu uang tabungan Dewa. Ibu tirinya tahu karena dia tak menyuruh adik tiri Dewa mengecek hp Dewa dengan berpura-pura meminjamnya.
Sejak saat itu, Nada, dia tidak pernah lagi meminjam uang Dewa lagi. Dan uang yang dipinjamnya untuk berobat sebelumnya, telah dibayar lunas beberapa hari lalu setelah Prawiryo memberikannya uang.
"Tapi-"
"Kita sudah putus Dewa!"
Nada setuju menikah dengan Radit. Saat memberikan uang itu, Nada juga sudah minta putus dengan Dewa, karena dia merasa tak lagi pantas untuknya.
Nada akan menikah dengan Radit, dia akan kehilangan keperawanannya, bahkan akan mengandung anaknya Radit. Nada merasa kotor dan tak lagi pantas bersama Dewa.
“Apa dia sudah melakukannya denganmu? Kalian menikmatinya?”
Dewa mengembuskan napasnya. Berusaha untuk menghilangkan semua rasa sesak di dadanya dan menaruh kedua tangan di pinggangnya dengan tatapan mata lurus menembus cakrawala, menahan kesal dan amarahnya.
Nada sudah cerita soal pernikahan itu juga yang membuat Dewa emosi dan marah, beberapa hari lalu.
“Dia cukup baik, Dewa! Dia tidak melakukan apa pun selain melakukan tugasnya.”
“Cukup baik! Hahaha!” Dewa tertawa sinis. “Katakan padaku, sudah berapa kali dia memanjakanmu di ranjang sampai kamu memujinya Nada?”
"Dewa, aku tidak sehina itu dan ingat! Kita sudah putus!" Nada ingin balik arah meninggalkan Dewa yang menyakiti hatinya sebelum tangan pria itu menyambar dan membawa Nada dalam dekapannya.
“Maaf. Aku tidak bermaksud merendahkanmu. Justru aku sangat takut kalau dia menikmati permainan kalian dan berbuat hal yang lebih dari itu. Aku masih mencintaimu dan kita belum putus Nada.” Dewa enggan berpisah, meski dia tahu Nada sudah jadi istri orang.
Ini juga menyakitkan untuk Nada. Dia terdiam, menikmati dekapan itu dengan air matanya yang menitik.
“Maafkan aku, Nada. Aku akan menunggumu. Selesaikanlah kesepakatanmu dengannya. Setelah itu, kita bisa pergi berdua, melanjutkan cita-cita kita meniti karir di London, negara impianmu, kan?” Dewa bicara masih sambil mendekap Nada dalam pelukannya.
“Dewa, lupakan semua tentang kita! Aku tidak lagi pantas untukmu. Carilah wanita lain yang bersih dan suci!"
"No, cintaku cuma kamu, Nada. Selamanya begitu. Ini janjiku, sampai mati hanya kamu!"
Hubungan mereka yang sudah lebih dari dua tahun bukanlah hal yang mudah untuk Nada mengikhlaskan Dewa, begitupun sebaliknya. Dewa tulus mencintai Nada.
Tapi saat ini status Nada adalah istri orang. Walaupun hanya sementara, tetap saja untuk Nada dia tidak layak lagi untuk Dewa. Nada tidak ingin membuat Dewa menunggu terlalu lama. Dirinya tidak layak untuk pria yang masih dicintainya ini.
"Dewa, tapi-"
“Ssttt, aku akan tetap menunggumu. Aku sangat mencintaimu, Nada! Jangan larang aku untuk menunggumu! Maaf, karena ketidakmapuanku dari segi finansial membuatmu begini, Nada.”
Dewa semakin mendekap erat tubuh Nada tanpa ingin melepaskan kekasihnya sama sekali. Untuk beberapa saat, mereka diam seperti itu dan menikmati kehangatan tubuh masing-masing. Hati Nada juga merasa lebih tenang berada dalam dekapan Dewa. Sampai getar telepon Dewa mengganggu.
“Ada apa meneleponku?” sapa Dewa setelah melihat ID penelepon.
Dia terpaksa melepaskan Nada dari pelukannya sejenak.
“Aku sibuk! Masih ada kelas lagi dan praktikum setelah ini! Pergilah sendiri.”
Dewa mematikan teleponnya dan kembali memegang tangan kanan Nada.
"Siapa?"
"Bukan siapa-siapa, gak penting. Cuma urusan di rumah,"
Mungkin itu telepon dari keluarganya. Nada tahu, Dewa tak suka dengan ibu tirinya. Makanya dia tak ingin memperpanjang lagi. Nada memilih duduk dan berbincang mengenai hal-hal lucu dengan Dewa. Mengenang masa-masa mereka saat dulu semuanya terasa ringan dan mudah, saat mereka menghabiskan waktu bersama di atas atap ini. Hingga akhirnya, waktu berlalu begitu cepat. Sudah lebih dari satu setengah jam mereka berada di atap dan sekarang waktunya kembali ke kelas praktikum.
Semua terasa mudah dengan kehadiran Dewa. Mood Nada membaik.
“Hari ini kamu kerja part time?”
Saat ini kuliah sudah selesai. Nada berjalan dalam rangkulan Dewa menyusuri koridor kampus ketika Dewa bertanya.
"Hm."
“Ya udah, yuk ku antar. Nanti pulang jam berapa? Aku jemput ya?”
Nada pun mengangguk, karena memang sudah kebiasaan Dewa begitu. Lagian, Nada part time juga di tempat sepupunya Dewa. Coffee Shop Tia.
"Makasih Dewa, bye!"
"Kiss-nya?"
Tak ragu, Nada memberikan bayarannya dengan mengecup pipi Dewa. Pria itu menunjuk bibirnya, tapi Nada tak bisa, ini di depan cafe. Nada malu.
"Sampai jumpa nanti malam Dewa!" Nada berlari masuk, karena dia juga sudah telat.
Pekerjaan pasti sudah menunggunya. Nada masuk lewat pintu beakang, ganti baju seragam, dan segera menghampiri kaca dapur, melihat jika ada pesanan yang harus diantar.
"Tolong bawa pesanan nomor sebelas ya!"
"Siap!"
Dengan hati-hati, Nada mengambil pesanan dan langsung menuju meja dengan nomor sebelas yang sudah dihapal oleh Nada di mana letaknya.
“Selamat menikmati pesanannya!” ujar Nada sambil menaruh pesanan untuk pelanggan di meja nomor sebelas itu.
Nada yang fokus menata pesanan di meja, tidak melihat siapa saja di meja itu. Dia memang jarang memperhatikan wajah pelanggan cafe.
Hingga suara seseorang yang sedari tadi memperhatikannya tapi Nada tak kunjung menatapnya, tak sabar ingin menyapa.
“Denada Aprilia, kamu bekerja di sini?”