Tita menatap kesal Angkasa yang kini menatapnya dengan pandangan serba salah. Ia tidak habis pikir, bagaimana lelaki ini berniat akan meninggalkan dirinya dan Balqis hanya karena wanita lain. “Kita belum makan, Angkasa.” Ujar Tita dengan mulut terkatup. “Kalian makan dulu aja. Aku cuma mau lihat keadaan Bulan, enggak akan lama. Nanti aku langsung ke sini.” “Bulan lebih penting?” Wajah Angkasa kini menjadi pucat. “Tita, aku mohon kamu jangan berpikiran yang enggak-enggak. Aku janji enggak lebih dari sejam aku udah balik ke sini.” Ketika Tita akan membalas perkataan Angkasa, pramusaji datang membawa nampan besar berisi pesanan mereka. Tita meliriknya sebentar, selera makannya sudah hilang. Sementara Angkasa menatap Tita serba salah.

