Flat kecil tempat Azura tinggal terasa seperti tempat perlindungan dari dunia luar yang penuh bahaya. Dindingnya mungkin sempit, tapi di sini, dia bisa merasakan kedukaan dan melepaskan seluruh kesedihan. Sejak kepergian orang tuanya, baru kali inilah Azura bisa menangis sejadi-jadinya.
Pergantian malam menuju pagi tidak serta merta dijadikan sebagai waktu istirahat. Azura justru sedang memuaskan diri untuk meratap. Bukankah menangis dan meraung adalah hal yang wajar? Terlebih, penyebabnya adalah kematian tragis dari orang yang terkasih.
"Aku akan membuat mereka membayar semua ini," bisik Azura pada dirinya sendiri.
Sebagian kepahitan yang Azura rasa akhirnya bermuara pada rasa marah. Azura tak bisa menyangkal rasa dendam akibat kelakuan biadab keluarganya. Gara-gara kejadian malam itu, hidup Azura seketika berubah dalam hitungan jam. Sialnya, perubahan ini seolah menuju ke arah kehancuran.
Semoga saja kehancuran ini tidak berkelanjutan. Semoga saja usaha Azura menemui Laura tadi segera membawa hidupnya agar sedikit lebih aman dan nyaman. Semoga.
"Azura."
Pagi masih terlalu pagi. Namun, Azura sudah mendengar suara seorang lelaki yang memanggilnya samar. Sambil mengerjapkan mata yang berat, Azura akhirnya bangkit menuju pintu yang terus diketuk dari luar.
"Kamu baru bangun?" Wajah Gavin menyembul dari celah pintu yang baru terbuka separuh.
Azura tersenyum tipis, lalu mempersilakan Gavin masuk.
"Atau kamu memang nggak tidur?" tanya Gavin lagi.
Azura menoleh dengan dahi sedikit mengernyit. "Aku baru bangun."
"No way. Matamu sembab karena pasti kamu menangis semalaman. Dan kantong matamu hitam karena kamu nggak bisa tidur. Iya, ‘kan?"
Kedua bibir Azura melengkung tipis. Tanpa perlu membenarkan, sepertinya Gavin sudah tahu kalau tebakannya memang benar. Entah ekspresi wajah Azura yang mudah ditebak, ataukah memang Gavin yang terlampau peka.
"Makanlah dulu. Aku membawakanmu sarapan," ucap Gavin seraya menaruh kantong plastik di atas meja. "Aku nggak tahu makanan apa yang kamu suka, jadi …"
"Bubur ayam?" sahut Azura bertanya.
Alis Gavin seketika bertaut. Mulut yang masih terbuka lantas tertarik membentuk lengkungan lebar. Beberapa detik kemudian, barulah lelaki itu menyemburkan tawa.
"How do you know?" tanya Gavin.
Azura menggeleng. "Cuma nebak."
"Dan tebakanmu benar."
"Kebetulan."
"Nggak mungkin. Aku nggak percaya kebetulan," sahut Gavin cepat. "Apa sosok aku yang ada di mimpimu juga pernah membawakan makanan ini?"
Azura tak menjawab, hanya mengangkat kedua bahu sambil mengangkat alis.
"Oh, c’mon, Ra" Gavin mengambil posisi duduk tepat di hadapan Azura. "Aku mau tahu lebih banyak tentang mimpimu. Apa kamu pernah mimpi soal ini?"
Pandangan mata Azura tampak sedang menerawang. Selama beberapa detik, mulutnya masih bungkam. Hingga saat Azura menarik napas panjang, kepalanya akhirnya berkenan mengangguk sebagai jawaban pembenaran atas ucapan Gavin.
"Aku pernah mimpi tentang kamu yang sangat suka makanan ini. Kita pernah makan bersama di mimpiku," terang Azura.
"Apa kamu juga tahu kenapa aku sangat suka bubur ayam?"
Azura mengangguk. "But, well, aku nggak tahu apakah alasan ini benar apa nggak. Sekali lagi, itu cuma mimpi."
Gavin mulai tertarik dengan perbincangan ini. Bukan tentang bubur ayam, tapi lebih kepada mimpi Azura yang sepertinya sangat akurat. Gavin yakin, mimpi-mimpi tentang dirinya bukanlah sekadar mimpi biasa.
Masih sambil duduk di atas sofa, Gavin lantas meraih dua lembar kertas dan dua lembar pena dari dalam tas miliknya. Satu kertas dan pena dia taruh di atas pangkuannya, sementara satunya lagi diulurkan pada Azura. Wanita itu sedikit bingung, tapi tetap diam menurut.
"Apa ini?" tanya Azura.
"Tulis alasan kenapa aku suka makanan ini."
Azura sontak mengernyitkan dahi.
"Tulis saja," pinta Gavin. "Aku juga akan menulis hal yang sama. And we’ll see, apakah jawaban kita sama atau nggak."
Permainan ini mungkin akan terdengar gila, tapi Gavin sangat penasaran untuk mencoba. Jika hal remeh seperti ini saja sudah valid, maka mereka bisa menggali lagi mimpi-mimpi itu lebih banyak. Gavin yakin, masih ada banyak hal yang bisa mereka jadikan petunjuk.
"Tulislah," titah Gavin sekali lagi.
Tak sampai dua puluh detik, Gavin dan Azura sama-sama sudah menyelesaikan tulisan mereka. Keduanya saling bertatapan mata, pun sedikit menahan senyum. Tepat saat Gavin menghitung mundur dari angka tiga, dua kertas itu akhirnya dibuka secara bersamaan.
'Karena ini adalah makanan yang pertama kali dicoba saat datang ke Indonesia.’
Dua manusia itu sama-sama mematung. Pandangan mata mereka terpaku pada dua kertas dengan deretan huruf yang sama persis. Benar-benar sama persis, dari urutan satu kata ke kata yang lain. Pembeda tulisan mereka hanyalah bentuk huruf Azura yang sedikit lebih rapi.
"What the …" Gavin membiarkan kalimatnya menggantung.
"Aku merasa seperti de javu," lirih Azura.
Gavin menarik napas panjang-panjang. "Ok, sekarang aku semakin yakin kalau pertemuan kita memang sudah digariskan."
Pembicaraan pagi ini menjadi awal dari kedekatan mereka yang mulai tumbuh. Kepercayaan dan kenyamanan pun perlahan muncul. Dua manusia yang semula sama sekali tak saling mengenal, kini mulai saling membuka diri.
"Aku tinggal di sini sudah hampir satu tahun." Gavin bercerita tentang alasan mengapa dia berada di Indonesia. "Bulan depan, visa kerjaku akan diperpanjang."
"Apa perusahaanmu memang mengirim kamu untuk bekerja di Indonesia?"
Gavin menggeleng. "Aku sendiri yang memutuskan untuk bekerja di sini."
"Kenapa?"
"Laura."
Kedua alis Azura mengernyit. "Laura?"
"Iya. Dia adalah alasan mengapa aku memilih tinggal di sini."
Gavin lantas menjelaskan kalau mereka sudah saling mengenal sejak kuliah. Keduanya sama-sama menempuh pendidikan di Edinburgh. Tidak digambarkan seberapa dekat, tapi Gavin berucap kalau dirinya dan Laura memang sangat dekat.
Laura berdarah campuran. Ibunya asli Indonesia, sedangkan ayahnya warga Skotlandia. Sejak lahir, Laura tinggal di Edinburgh. Namun, setelah ayahnya meninggal, Laura dan ibunya memutuskan untuk pindah ke Indonesia. Di saat itulah Gavin akhirnya memutuskan untuk ikut bersamanya.
"Laura nggak punya teman di Indonesia. Dan aku merasa berat kalau harus membiarkan dia di sini sendiri. Aku ingin selalu ada untuknya."
Ada sesak yang entah mengapa hinggap di hati Azura. Sulit dijelaskan, tapi d**a Azura terasa seperti dipenuhi perasaan tidak nyaman. Ah, ini gila! Terlalu aneh jika Azura merasakan sensasi seperti ini hanya karena mendengar deskripsi perhatian Gavin kepada Laura.
Ingat, Gavin bukanlah Mars. Dia bukan sosok pangeran yang ada di dalam mimpiku. Dia bukan tercipta hanya untukku, batin Azura.
"Laura memang sudah dewasa, tapi … dia tetap selalu menjadi gadis kecilku yang manja," lanjut Gavin.
Azura tak bisa berkata-kata. Bibirnya terkatup sambil menelisik binar pandang Gavin saat menceritakan wanita yang dia sebut sebagai teman baik. Gavin seperti sedang mengilustrasikan bagaimana sosok seseorang yang sangat mampu membuat dirinya bahagia.
"Sepertinya kalian sangat akrab," ucap Azura setelah beberapa lama keduanya saling diam.
"Bisa dibilang begitu."
"Apa kalian sepasang kekasih?"
Begitu pertanyaan itu terlontar, senyum di wajah Gavin memudar. Lelaki itu seperti sadar akan satu hal. Seolah-olah, Gavin sedang kelepasan membicarakan sesuatu yang tidak seharusnya dia katakan.
Selang tak sampai tiga detik, Gavin lantas menoleh ke arah Azura. Tangannya kembali terulur ke arah puncak kepala Azura untuk sekadar mengusap rambut. Tak lama kemudian, jemarinya turun untuk mencubit pipi Azura dengan lembut.
"Bagaimana kalau iya?" Gavin bertanya pelan seperti sedang berbisik. "Dan bagaimana kalau nggak?"
Azura mengedipkan matanya beberapa kali. Selama beberapa saat, mereka tenggelam dalam suasana yang sangat kaku. Ada kecanggungan yang terbit di setiap pandang mata yang bertemu.
"Makan dulu, yuk." Gavin buru-buru mengalihkan pembicaraan.
Azura mengangguk.
"Kamu mau pakai kedelai?" tanya Gavin seraya membuka dua buah mangkuk kertas berisi bubur yang asapnya masih mengepul.
"Nggak. Ambil saja kalau kamu mau. Kamu suka, ‘kan?"
Gavin mendongak. "Aku merasa seperti sedang bicara dengan paranormal. Kamu seperti tahu semua hal."
Azura hanya terkekeh.
"Selamat makan," ucap Gavin.
Sejak hari itu, Gavin selalu datang setiap pagi dan petang. Terkadang, dia datang menenteng beberapa jenis makanan, atau sesekali hanya membawa dua cangkir kopi. Azura yang sebelumnya tidak pernah menyentuh kopi, kini mulai menjadi pecinta kopi.
Mereka berbincang tentang banyak pembahasan. Mulai dari sari hal-hal kecil seperti cuaca, hingga cerita-cerita masa lalu yang membangun kepercayaan di antara mereka berdua. Setiap harinya, ada saja kebersamaan mereka yang membuat hidup terasa lebih bermakna.
Diam-diam, sesuatu mulai tumbuh di hati keduanya. Perasaan yang lebih dari sekadar rasa aman. Mungkin, ini lebih mirip seperti sebuah kenyamanan dan kehangatan. Semua terasa sangat nyata, meski tidak pernah diungkapkan melalui kata-kata.
"Aku nggak bisa ke sini besok pagi," ucap Gavin pada suatu malam.
"Nggak papa."
"Sorenya, aku juga masih harus kerja."
Azura mengangguk dan mencoba melebarkan senyum. "Iya, nggak masalah."
"Mungkin aku akan datang besok lusa."
Sungguh, Azura benar-benar tak masalah jika saja Gavin tidak bisa datang. Azura paham, kalau ada banyak pekerjaan yang harus Gavin prioritaskan. Entah mengapa, Azura justru merasa kalau Gavin sendiri yang merasa berat untuk tidak menemuinya, barang hanya satu hari.
Sejak tadi, Gavin sibuk menjelaskan sederet hal yang harus rampung di minggu ini. Meski Azura sama sekali tidak menuntut penjelasan, tapi Gavin tetap saja memperlihatkan betapa padat jadwalnya esok hari. Bahkan, Gavin juga berucap kalau jam makan siangnya harus diisi dengan agenda meeting.
"Kalau ini bukan pekerjaan penting, aku pasti akan meluangkan waktu untuk menemuimu. Tapi …"
"I’m ok, Vin." Azura menyahut cepat.
"You sure?"
Azura mengangguk.
"I … I’ll miss you," ucap Gavin terbata.
Azura sontak tercenung dengan pengakuan Gavin satu itu. Memang, ini hanya sebaris kata berisi ungkapan kerinduan. Namun, Azura tak menyangka kalau kalimat itu akan terlontar dari mulut Gavin.
"Boleh aku … memelukmu?" lanjut Gavin lagi.
Keterkejutan Azura masih belum usai. Bibirnya pun tak sempat menjawab pertanyaan Gavin. Namun, tubuhnya tiba-tiba sudah direngkuh dengan erat.
Sangat erat.
Entah harus menyikapi dengan cara seperti apa, tapi sejujurnya dekapan ini sungguh terasa hangat.
Bahkan, sangat amat hangat.