Udara malam terasa sejuk, mendekati dingin. Namun, keringat tetap saja mengalir di pelipis Azura. Beberapa helai rambut yang terlepas dari ikatan juga tampak menggumpal karena basah.
Azura masih tidak tahu arah tujuan kakinya melangkah. Ke mana pun itu, yang jelas dia harus menjauh dari Gavin dan Riki. Orang asing yang ternyata berbahaya, dan keluarga yang sangat mengancam nyawa.
"Di mana ini?" monolog Azura seraya menoleh kanan dan kiri.
Begitu tiba di jalan raya, Azura berhenti sejenak untuk mengatur napas dan menenangkan pikiran. Dia mengamati sekeliling, kemudian sadar kalau tempat ini tidaklah asing. Azura sangat mengenali jalan dan bangunan di sekitar sini.
Sebuah perasaan lega muncul di dadanya. Setiap sudut jalan terlihat cukup akrab, karena wilayah ini tidak jauh dari rumah tempat dirinya tinggal. Namun, perasaan lega itu dengan cepat berubah menjadi kecemasan. Keluarga Riki, termasuk Riki sendiri, juga tinggal di area sekitar sini. Jadi, Azura harus sangat berhati-hati.
Azura berhenti berlari dan mencoba berjalan senormal mungkin. Meski sedang terburu-buru, Azura tetap harus menghindari perhatian semua orang. Jangan sampai keberadaannya terlihat mencolok.
Tenang, Azura. Kamu pasti bisa bertahan, ucap Azura pada dirinya sendiri.
Sebenarnya, ini adalah salah satu kawasan yang Azura sukai. Di persimpangan depan, Azura sering menghabiskan waktu bersama ayahnya di kedai kopi. Namun, sial, wilayah ini sekarang sudah sangat berbahaya bagi Azura. Sekali saja dirinya terlihat dan tertangkap, nasib Azura pasti akan tamat.
Tenang. Fokus, titah Azura kepada otak dan tubuh.
Matanya terus berkeliling, menandakan kewaspadaan. Azura menoleh ke belakang untuk memastikan Gavin tidak berhasil mengejarnya. Di waktu yang sama, dia juga tengah mencari tanda-tanda keberadaan Riki atau anggota keluarganya yang lain.
Saliva sudah Azura telan dengan susah payah. Rongga mulutnya terasa kering. Berbanding terbalik dengan pelupuk yang justru menitikkan embun.
Tuhan, aku tahu Kau pasti bersamaku, batin Azura.
Sulit untuk menyemangati diri sendiri di saat seperti ini. Namun, mau bagaimana lagi? Saat ini, Azura hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.
Aku harus bisa.
Perlahan, Azura mulai meniti jalan raya. Sungguh sial, pandang matanya menangkap keberadaan mobil yang sangat dia kenal. Itu adalah mobil yang sama seperti mobil yang tadi mengantar Gavin pulang.
Damn! Itu pasti Riki. Mobilnya terparkir tepat di depan sebuah mini market.
Jantung Azura seperti terlepas dari tempatnya. Ketegangan menjalar ke seluruh tubuh. Beruntung, otaknya masih bisa menyuruh kaki untuk segera pergi dari sini.
Dengan cepat, Azura gegas memutar langkah. Dia berusaha mencari jalan lain agar tidak melewati depan mini market. Namun, tepat saat Azura berbalik, dia justru melihat sosok yang sangat dia takuti.
Riki. Lelaki itu baru saja keluar dari pintu mini market itu.
Azura terdiam selama se-per sekian detik, mencari cara untuk bisa melarikan diri. Dia tidak bisa lari ke arah yang sama karena pasti akan terlihat oleh Riki. Namun, Azura juga tidak bisa berbalik ke arah rumah Gavin. Tempat itu sudah tidak aman baginya.
"Azura!" teriak Riki. Suaranya menggema di jalan yang sepi.
Azura refleks menoleh, membuat matanya bertemu dengan manik mata milik si pembunuh. Saat itu juga, Azura tahu bahwa dia tidak punya banyak waktu. Dengan sekuat tenaga, Azura berbalik dan mulai berlari secepat mungkin.
"Azura!" pekik Riki lagi.
Azura tidak berhenti. Dia terus berlari, berusaha mencari tempat untuk bersembunyi. Saat langkah kakinya sedang mengayun cepat, tubuh Azura tiba-tiba terhuyung ke samping. Seseorang menarik lengannya kencang, hingga membuat Azura nyaris ambruk.
"A-hhmmpp!" Mulut Azura gagal bersuara karena dibungkam.
Kedua mata Azura menatap sosok di hadapannya dengan nyalang. Dia terus berusaha melawan, tetapi tenaganya tidak cukup kuat. Tangannya terkunci dan tubuhnya setengah didekap.
"Tenang, ini aku," bisik suara yang tidak asing di telinganya.
Azura menoleh, dan matanya bertemu dengan mata Gavin. "Gavin?"
"Diamlah."
Bukannya tenang, Azura justru semakin takut. "Lepas!"
Kedua tangan dan kaki Azura bergerak memukul dan menendang apapun di hadapannya. Hampir saja cekalan tangan Gavin terlepas. Namun, Gavin semakin menarik kuat tubuhnya agar mendekat.
"Diam dan tenang. Berapa kali aku bilang kalau aku nggak akan melukaimu," ucap Gavin sambil menarik Azura ke arah gang kecil.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Azura dengan suara terengah-engah.
"Aku mencarimu. Aku tahu kamu akan mencoba melarikan diri, jadi aku mengikuti dari belakang. Perasaanku mengatakan kalau kamu nggak aman," jawab Gavin.
"Jangan membual. Apa maumu sebenarnya?"
"Berhenti berdebat, Azura. Kita harus cepat." Gavin menarik tangannya agar berlari mengikutinya.
"Lepas!" pinta Azura.
"Tolong jangan melawan. Aku akan menjelaskan semua kesalah pahaman kita, tapi nggak sekarang. Ini bukan waktu yang tepat."
Azura ingin berteriak, marah, dan memberontak. Namun, saat ini, dia tidak punya banyak pilihan selain mengekor di belakang Gavin. Dia memang harus segera lari dari Riki, manusia paling bahaya di dunia ini.
"Lewat sini," titah Gavin.
Mereka berdua berlari melalui gang-gang kecil. Berbekal penerangan seadanya, Gavin membawa Azura melewati setapak di dekat sungai. Insting Gavin mengatakan kalau Riki tidak akan memilih jalan ini.
"Kamu lelah?" tanya Gavin kepada Azura yang geraknya semakin lambat.
Sebenarnya iya, tapi Azura memutuskan untuk menggelengkan kepala. Mereka tak boleh berhenti. Sekuat tenaga, Azura harus terus melangkah menuju tempat yang lebih tersembunyi.
"Sebelah sini, Azura."
Gavin menarik Azura ke balik tembok tinggi, lalu menyuruhnya berhenti untuk sejenak mengambil napas. Keduanya sudah sama-sama terengah. Meski belum sepenuhnya aman, tapi tempat ini cukup bisa dijadikan persembunyian sementara.
"Are you ok?" tanya Gavin seraya menatap wajah Azura yang sedikit pucat.
Azura mengangguk. "Seharusnya aku yang bertanya, apa kamu baik-baik saja. Maksudku, tangan dan … kakimu."
Gavin menunduk menatap arah yang Azura tunjuk. "Tenang saja. Ini bukan masalah besar."
Jejak darah masih membekas pada celana dan sebelah tangan. Rasa nyeri akibat lemparan pisau juga masih terasa. Namun, hal itu bukan sesuatu yang penting bagi Gavin. Asal mereka berdua selamat dari kejaran Riki, maka semua akan baik-baik saja.
"Sebenarnya apa maumu?" tanya Azura saat napasnya tak lagi terburu.
"Ok, look. Soal tadi, kamu cuma salah paham."
"Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu mengenal Riki?" tanya Azura dengan marah.
"Aku nggak tahu kalau dia pamanmu. Selama ini, aku berinteraksi dengannya hanya sebatas hubungan dengan klien," jawab Gavin dengan napas tersengal. "Aku nggak punya alasan untuk curiga sama dia."
Azura menggelengkan kepala, bibirnya tersenyum sinis. "Kalian merencanakan ini semua?"
"No! Aku benar-benar nggak tahu kalau Riki adalah keluargamu. Aku hanya mengenalnya karena dia pemegang tender untuk pembangunan taman yang aku kerjakan."
Azura bungkam. Dia mencoba menilai apakah pengakuan ini adalah alibi atau bukan.
"Aku tahu kalau sulit bagimu buat percaya sama aku. Tapi aku bersumpah kalau aku hanya ingin menolongmu," lanjut Gavin.
"Kalau begitu, terima kasih telah membawaku lari dari Riki. Kamu baru saja menyelamatkan aku dari bahaya, tapi kamu juga merupakan bahaya untukku," pungkas Azura.
Gavin mengusap wajahnya kasar. Dia benci perdebatan. Namun, dia juga tidak ingin Azura terus salah paham padanya.
"Aku harus pergi," lanjut Azura.
Kedua kaki Azura sudah bersiap melangkah meninggalkan Gavin, tapi tentu saja lelaki itu mencegahnya.
"Kamu harus punya rencana," kata Gavin sambil melihat sekeliling, memastikan tidak ada yang mengikuti mereka. "Kamu nggak bisa terus berlari tanpa arah."
Azura tahu kalau ucapan Gavin benar. Namun, sederet masalah yang dia alami membuat Azura seperti kehilangan kepercayaan pada semua orang.
"Sekali lagi, mungkin akan sulit mempercayai orang asing sepertiku. Tapi kumohon, percayalah kalau aku nggak akan melukaimu," bujuk Gavin.
Azura menyelami manik abu-abu di hadapannya untuk sekali lagi mencari kejujuran di dalam sana. Keraguan dan kecurigaan tak mungkin enyah begitu saja. Namun, tatapan Gavin yang teduh kembali mengingatkan dirinya kepada Mars.
Ada sedikit kepercayaan yang mulai tumbuh lagi. Mungkin, hanya mungkin, Gavin benar-benar ingin membantunya. Sekali lagi, mungkin. Hanya mungkin.
"Aku butuh kamu untuk jujur padaku," ucap Azura dengan tegas.
Gavin mengangguk. "Aku bersumpah demi apapun. Aku mengenal Riki hanya karena alasan pekerjaan. Saat aku pulang tadi, mobilku mogok. Dan karena rumah kita satu arah, Riki menawarkan untuk memberiku tumpangan."
"Hanya itu?" tanya Azura ragu.
"Yes. I swear to God."
Jujur saja Azura belum bisa tenang. Benaknya masih diliputi ketakutan, kekhawatiran, kemarahan, kecurigaan, dan sederet perasaan tidak nyaman. Namun, … ah, sial!
Namun, mengapa tubuhnya luluh saat Gavin meraihnya untuk dipeluk? Mengapa tak ada penolakan? Dan … mengapa dekapan ini terasa hangat dan nyaman?