9. Melarikan Diri

1183 Words
Azura terduduk lesu di atas lantai. Jiwanya seolah terbelah menjadi dua kubu. Satu sisi sedang membujuk diri untuk tetap percaya pada Gavin, sementara sisi yang lain tengah sibuk merutuk. Bodoh! Benaknya berteriak dengan berisik. Seluruh isi kepala berebut ingin memaki. Bagaimana bisa Azura sempat semudah itu percaya kepada Gavin yang sejatinya bukan siapa-siapa? Seharusnya Azura tahu kalau di dunia ini tidak ada yang bisa dipercaya selain dirinya sendiri. Keluarga yang merupakan orang terdekat saja bisa dengan tega membunuh orang tuanya. Apalagi Gavin yang baru saja Azura kenal beberapa jam yang lalu. Shit! Azura mengumpat dalam hati. Rasa panik dan ketakutan mulai merayap. Azura merasa sesak. Dadanya seperti dihimpit beban berat. Nggak mungkin kalau ini cuma kebetulan, pikirnya. Dia mulai menduga, mungkin Gavin dan Riki bekerja sama. Mungkin semua ini adalah jebakan yang sudah direncanakan sejak awal. Mungkin Gavin adalah alat untuk mempermudah Riki melancarkan rencananya. Aku harus bisa melawan, batin Azura. Tidak ada waktu untuk berpikir panjang. Azura segera bangkit, mencari jalan keluar dari rumah itu. Dia harus pergi sebelum Gavin masuk dan menemukannya. Pandangannya beralih ke jendela, tapi tidak ada cara yang aman untuk keluar. Dia berbalik, mencari pintu belakang atau tempat lain untuk bersembunyi. Sialnya, Gavin sudah masuk lebih dulu. "Azura?" Suara Gavin terdengar lembut, tapi bagi Azura, suara itu berubah menjadi ancaman yang menakutkan. Azura mematung di balik meja bar yang membentang di sisi kiri dapur. Tak ada jalan keluar membuatnya memutuskan untuk segera merunduk. Entah apa yang akan Azura lakukan setelahnya, tapi satu hal yang bisa diusahakan saat ini adalah bersembunyi. "Azura." Gavin terus memanggil namanya. Azura sudah tidak memiliki banyak waktu. Dia harus memeras otak untuk cepat-cepat bertindak. Saat suara Gavin terdengar semakin dekat, sudut matanya lantas menangkap sebuah pisau dapur yang tergeletak. Tangannya gemetar, tapi Azura harus membela diri. Dia harus bertahan. Rasa marah, benci, dan kecewa bercampur menjadi satu hingga menciptakan keberanian untuk meraih pisau itu. "Azura, di mana kamu?" Dari suaranya, Azura bisa menebak kalau Gavin sedang melangkah ke arah dapur. Sebelum jarak mereka semakin dekat, Azura lantas muncul dari balik meja. Di detik yang sama, Azura mengacungkan pisau dengan kedua tangan. "Pergi menjauh!" pekik Azura. Mata Gavin membelalak, dia berhenti sejenak. "Azura, apa yang kamu lakukan?" "Jangan pura-pura nggak tahu!" teriak Azura. Gavin menggeleng. Ekspresi wajahnya tampak bingung. Ada rasa ngeri, tapi Gavin tetap mencoba mendekati Azura. "Menjauh!" Azura berteriak dengan tangan yang berubah menjadi gemetar. "Tell me why? Kita bisa bicara baik-baik." "Kamu membawa Riki ke sini, 'kan? Kamu bekerja sama dengannya? Kalian berdua ingin menjebakku?" Gavin mengangkat kedua tangannya, mencoba menenangkan Azura. "Apa maksudmu?" "Berhenti berkilah!" pungkas Azura. "Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Berpura-pura menolongku agar bisa dengan mudah melenyapkan aku? Berapa banyak Riki membayarmu?" "Dengar, ini semua salah paham. Riki hanya klien. Kami bertemu untuk membicarakan proyek. Nggak lebih." Azura menggelengkan kepala, air mata mulai mengalir di pipinya. "Kamu pikir aku percaya?" Gavin mencoba melangkah mendekat, tetapi Azura mengacungkan pisau lebih tinggi. "Jangan mendekat, atau aku akan —" "Kita bisa bicarakan ini, Azura. Tolong, turunkan pisau itu. Aku nggak akan menyakitimu," kata Gavin dengan suara tenang. Perasaan Azura semakin kalut. Sungguh, hari ini seperti neraka baginya. Berawal dari kematian orang tuanya, lalu teror dari Riki dan keluarganya, dan kini Azura dihadapkan pada Gavin yang Azura pikir akan menyelamatkannya tapi ternyata justru berkhianat. "Menjauhlah!" pekik Azura. Gavin terus membujuk, tapi kepercayaan Azura telah musnah. Perlahan, Azura mencoba mundur, mencari cara untuk kabur dari rumah ini. Apapun akan Azura lakukan asal bisa menyelamatkan diri. "Azura, please, just listen to me," ucap Gavin. Azura sudah enggan diajak bernegosiasi. Di situasi seperti ini, Azura harus berani melawan. "Asal kamu tahu, aku nggak selemah itu untuk bisa kalian musnahkan." Azura berbicara tegas meski sebenarnya dirinya pun sedang ketakutan. "Taruh!" titah Gavin seraya menunjuk benda yang sedang Azura genggam. "Taruh, dan aku akan menjelaskan semuanya." Azura menggeleng. "Taruh, Azura." Gavin mengulangi ucapannya sambil melangkah maju mendekati Azura. Melihat Gavin yang sedang memangkas jarak, kaki Azura lantas mundur beberapa langkah. "Aku bisa melukaimu." "Kamu nggak percaya sama aku?" Gavin masih terus mendekat. "Stop! Aku bilang, aku bisa melukaimu." Pisau yang Azura pegang semakin diancungkan. Gavin sempat menghentikan langkah kaki. Matanya menyorot tajam ke arah Azura, berharap wanita itu melunak. Namun, karena Azura tindak kunjung bisa diajak kerjasama, alhasil Gavin tetap nekat mendekat. "Bukan cuma Riki yang bisa membunuh orang tuaku. Aku pun bisa melakukannya." Ancaman dari mulut Azura sangat berbanding terbalik dengan suaranya yang bergetar. Gavin tak peduli. Dia tetap melangkah dengan tatapan yang tidak juga terlepas dari manik cokelat milik Azura. Ekspresi wajah Gavin kini sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Padahal, kilau dari pisau sudah sejajar dengan bola matanya. "Jangan sentuh aku, atau —" Gavin tiba-tiba menyambar pisau di hadapannya, lalu menggenggamnya dengan kencang. "Atau apa?" Pandangan mata Azura berubah nanar. Bukan hanya karena melihat tetes darah keluar dari telapak tangan Gavin. Melainkan karena melihat ekspresi wajah Gavin yang berubah mengerikan. Saat jemari tangan Azura melonggar, Gavin segera merebut pisau itu dan melempar asal ke arah samping. Keduanya masih saling mengunci pandang. Bedanya, Gavin tampak jauh lebih dingin, sementara Azura cenderung panik dan semakin ketakutan. "Duduklah dan aku akan menjelaskan semuanya," ucap Gavin pelan, seolah dia tak merasakan sakit dari luka yang tergores di telapak tangan. Azura lantas mengangguk. Namun, pikirannya masih kalut. Masalah bertubi-tubi yang dia hadapi membuat otak Azura selalu menyalakan tanda bahaya. "Duduklah," titah Gavin sekali lagi. Kedua kaki Azura tampak menurut. Dia melangkah ke arah kiri, tapi dirinya kembali terpicu untuk membela diri. Alih-alih menuju sofa, Azura memilih untuk kembali meraih pisau dari lantai. "Fuckk off!" pekik Azura seraya melempar benda tajam itu ke arah Gavin. "Arrgghh!" Azura berhasil mendaratkan pisau di detik yang sama saat Gavin berteriak. Tidak tepat mengenai sasaran di bagian badan, tapi setidaknya Azura berhasil menyayatkan luka pada kaki Gavin sebelah kanan. Tanpa membuang waktu, Azura buru-buru berlari menuju pintu. "Azura!" Gavin gagal menghindar. Ada segaris luka yang langsung mengeluarkan darah. Entah seberapa parah, tapi Gavin tetap berusaha mengejar. "Azura, berhenti! Tolong, dengarkan aku!" Azura sama sekali tidak ingin mendengarkan. Setelah berhasil keluar dari rumah, dia terus berlari sekuat tenaga melewati halaman. Tubuhnya lemas, tapi kakinya bisa melesat dengan cepat karena didorong oleh ketakutan yang luar biasa. Entah kemana kakinya melangkah pergi, Azura tak tahu. Yang jelas, dia hanya ingin menjauh sejauh mungkin dari Gavin. Dia harus selamat. "Azura!" Di belakangnya, Gavin terus memanggil sambil berlari dengan tertatih. Namun, Azura tetap tidak menghiraukan. Dia hanya fokus pada satu tujuan, yaitu bertahan hidup. Saat hampir tiba di ujung jalan, Azura lantas memutar otak. Dia ingat kalau ada penjaga yang bertugas di komplek perumahan ini. Jadi, Azura tidak mungkin melewati jalan utama. Sambil mengedarkan pandang, Azura mencoba mencari arah yang aman. Ada pembatas berupa tanaman semak yang sepertinya bisa dilewati. Meski tubuhnya mungkin akan mendapatkan banyak goresan, tapi ini jauh lebih baik dibandingkan harus melewati pos satpam. Sejenak, Azura sempat menoleh ke belakang. Dia masih bisa melihat Gavin yang berlari di tepi jalan. Raut wajah Gavin terlihat bingung dan tampak sedang menahan luka. Namun, Azura tidak punya waktu untuk merasa bersalah. Yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan diri dan mencari tahu siapa yang benar-benar bisa dia percayai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD