"Kamu bisa tinggal di sini sembari kita mencari jalan keluar untuk masalah ini," ucap Gavin.
Azura menggeleng cepat. Dia tidak mungkin semudah itu menerima tawaran untuk tinggal di bawah satu atap.
"Setidaknya untuk malam ini," lanjut Gavin. "Besok pagi aku akan menemanimu mencari tempat tinggal sementara."
"Sebenarnya aku bisa sendiri, dan —"
"Aku sudah bilang kalau aku akan menemanimu," pungkas Gavin.
Azura terpaku. Semakin lama berbicara dengan Gavin, lelaki itu semakin mirip dengan Mars. Bahkan, bagaimana aksen bicaranya saat menggunakan Bahasa Indonesia juga sama persis.
"Sekarang kamu mau istirahat dulu?" tanya Gavin. "Kamu bisa menggunakan kamarku kalau kamu nggak mau tidur di kamar yang tadi."
Azura menggeleng. "Aku di sini saja."
"Ok, I hear you."
Di sela pembicaraan mereka, ponsel Gavin lantas berdering. Buru-buru lelaki itu menekan tombol hijau, lalu mendekatkan ponsel pada telinga kanan. Meski tidak tahu sedang membicarakan tentang apa, tapi Azura bisa menebak kalau Gavin sedang membahas tentang pekerjaan.
"Azura." Gavin menatap mata cokelatnya dengan perasaan tidak enak. "Aku tahu kalau saat ini kamu pasti sedang sangat terpukul. Aku tahu kamu sedang membutuhkan dukungan. Tapi … sebenarnya aku punya pekerjaan yang harus aku selesaikan."
Azura mengangguk satu kali, sebab dia sudah tahu kemana arah pembicaraan Gavin.
"Aku nggak mau meninggalkan kamu sendiri. Tapi aku sudah ada janji meeting penting," lanjut Gavin.
Cukup tahu diri, Azura lantas melebarkan kedua bibirnya. Dia tidak mungkin menahan Gavin untuk tetap tinggal, meski sebenarnya Azura sedang sangat ketakutan.
"Aku janji, aku nggak akan lama. Jadi, tolong tetaplah di sini."
Walau Azura sudah mengiyakan, tapi Gavin tetap bisa melihat sorot khawatir, takut, sekaligus tegang.
"Rumah ini aman untukmu. Aku pakai sensor sidik jari di pintu, jadi nggak semua orang bisa masuk," lanjut Gavin.
"Ok," jawab Azura.
"Bisakah kamu percaya padaku?"
Meski terasa dekat, tapi mempercayai orang asing yang baru ditemui adalah hal bodoh. Walau begitu, Azura dengan bodohnya tetap berkata ‘iya’. Bagi Azura, Gavin memanglah seorang Mars di dunia nyata.
Azura pun tak punya pilihan lain selain tetap berada di rumah ini. Melapor pada polisi pun tidak akan ada gunanya, sebab orang bilang, polisi selalu memihak kepada orang yang lebih punya banyak uang dan wewenang. Dibandingkan Riki, Mira, dan keluarganya, Azura adalah lawan yang sangat remeh.
Sempat terpikir untuk lebih baik tinggal di rumah Anna. Namun, di sisi lain, itu juga bukan keputusan yang baik. Jika Azura bersembunyi di sana, keluarganya pasti akan dengan mudah menemukannya.
"Sebelum jam tujuh malam, aku pasti sudah kembali kesini," ucap Gavin.
Lagi-lagi, tak ada yang bisa Azura lakukan selain mengangguk.
"Ada seorang satpam di pos depan. Aku akan meninggalkan pesan untuknya agar melarang siapa pun datang ke rumahku. Ok?"
"Ok."
"Kamu bawa ponsel?"
Azura mengangguk. "Tapi sengaja aku matikan. Aku yakin keluargaku sedang mencoba menghubungiku."
Gavin lantas meraih secarik kertas, lalu menuliskan deret nomor di atas sana. "Ini nomorku. Kalau ada hal mendesak, nyalakan saja ponselmu dan segera telepon aku. Ok?"
"Ok." Ucapan Azura sangat berbanding terbalik dengan mimik wajah penuh kerisauan.
"Kamu akan aman di sini. Sekali lagi, tolong percaya padaku."
"Iya, ok."
"Aku berangkat sekarang. Ok?"
"Ok."
"Meninggalkanmu sendiri di sini juga sangat berat untukku. Tapi…,"
"Pergilah," sahut Azura. "Aku percaya padamu."
Tetap ada rasa takut sekaligus tidak tenang saat Azura harus berada di rumah orang asing dan hanya sendirian. Meski tak lebih dari dua jam, tetap saja terasa sangat lama. Apalagi ketakutan Azura saat dikejar orang suruhan Riki siang tadi belum juga sirna.
Kedua kaki Azura melangkah menuju dapur, lalu kembali lagi ke ruang tengah. Merasa tak nyaman duduk di sofa, Azura lantas berdiri mendekati jendela. Belum juga sepuluh detik, dia sudah kembali ke arah dapur untuk menuang segelas air minum.
Gelisah tak kunjung hilang hingga langit Yogyakarta berubah gelap. Sempat ada niatan untuk menyalakan ponsel dan menghubungi Gavin agar segera pulang, tapi hal itu mustahil Azura lakukan. Hari ini, dirinya sudah banyak merepotkan lelaki itu. Jadi, rasanya tak etis jika Azura juga mengganggu waktu kerjanya.
"Papa, Mama, aku harus gimana?" ucap Azura pada dirinya sendiri.
Kedua mata Azura terus tertuju pada jarum jam yang membunyikan suara detik di tengah kesunyian. Matanya berkaca mengingat sederet peristiwa yang masih sulit dicerna. Ada jutaan emosi, tapi saat ini yang paling kentara adalah rasa takut.
Jujur saja, Azura takut dirinya terbunuh. Berakhir dengan kematian bukanlah hal yang mustahil. Terlebih lagi, saat kini Azura sudah mengambil langkah seperti ini. Azura bisa memastikan kalau satu kali saja Riki menemukan keberadaannya, nyawanya akan tamat.
Berbagai pikiran buruk terus muncul hingga membuat kedua tangan Azura dingin. Meski Gavin sudah menjamin kalau tempat ini aman, Azura tetap masih tidak bisa tenang. Bahkan, entah mengapa, suara detik jarum jam terdengar seperti hitungan mundur atas kematiannya.
"I'll get through this," monolog Azura pada dirinya sendiri.
Benak dan perasaan Azura masih cukup kacau meski dia sudah berkali-kali mensugesti diri dengan sederet hal positif. Dia tidak ingin menangis, tapi entah mengapa kedua matanya tetap saja melepas tangis. Beruntung, di tengah kerisauan itu, Gavin menepati janji untuk pulang sebelum jam tujuh malam.
Azura buru-buru mengusap kasar kedua pipinya saat mendengar suara deru mobil yang mendekat ke arah carport. Setelah sedikit melompat dari sofa, Azura buru-buru mengintip dari celah tirai jendela. Sialnya, hal yang Azura lihat justru sesuatu yang sangat tidak dia duga.
"Ya Tuhan," lirih Azura dengan mata yang tiba-tiba membola.
Mobil berwarna abu-abu tua itu sangat Azura kenal. Azura yakin, itu bukanlah mobil milik Gavin. Tapi… tunggu dulu.
"Gavin," ucap Azura pelan.
Gavin tampak keluar dari kursi penumpang. Seingat Azura, sore tadi Gavin pergi menggunakan mobilnya sendiri. Namun, mengapa saat ini Gavin datang bersama seseorang yang Azura hapal benar postur tubuhnya?
"Nggak mungkin." Bola mata Azura mulai memerah dan berkaca. "Apa dia menjebakku?"
Dugaan Azura mulai mendekati kebenaran saat seorang lelaki turun dari kursi kemudi. Lelaki itu sempat mengobrol dengan Gavin, sebelum akhirnya mereka saling berjabat tangan. Tak lupa, keduanya juga saling tersenyum seperti baru saja menyetujui sebuah kesepakatan.
Kedua kaki Azura melemas. Tangannya gemetar seiring dengan bagian telapak yang mulai berubah dingin. Semakin Azura mengamati lelaki yang berada di hadapan Gavin, detak jantungnya semakin tak beraturan.
Ada rasa ingin menyangkal, barangkali matanya melakukan kesalahan dalam melihat. Namun, tidak. Lelaki itu memang benar lelaki yang sangat Azura kenal.
Riki.