7. Kepercayaan

1002 Words
'Jika kamu bersikeras ingin hidup, maka kupastikan hidupmu tidak akan tenang. Dan jika kamu menginginkan ketenangan, aku bersedia membantu mewujudkannya dengan cara mengembalikan kamu kepada Tuhan.' Kalimat itu terngiang jelas saat Azura menatap tiap sudut kamar di hadapannya. Semakin lama berada di sini, Azura semakin ingat dengan sederet peristiwa yang dia alami di dalam mimpi. Tempat ini benar-benar sama persis. "Are you ok?" tanya Gavin. Azura menoleh ke samping, lalu mengangguk. "Duduklah dulu. Wajahmu pucat." Meski tidak menatap diri lewat cermin, tapi Azura merasa kalau dirinya memang tidak baik-baik saja. Terbukti dari munculnya beberapa titik keringat dingin pada dahi. Bahkan, Azura juga merasa kalau tarikan napasnya berubah semakin sesak. "Aku merasa mereka sedang mencariku. Dan entah mengapa, aku merasa kalau mereka sangat dekat dengan rumah ini," ucap Azura. "Jangan khawatir. Nggak akan ada yang bisa masuk ke rumah ini tanpa membuat janji dulu denganku." "Kamu yakin?" Gavin mengangguk. "Iya." Selama beberapa saat, Azura duduk di atas sofa dengan wajah yang masih terlihat tegang. Dia tak banyak bicara. Azura hanya sesekali menyesap minuman hangat yang digenggam menggunakan dua tangan. Sinar matahari mulai meredup menampakkan gumpalan mega berwarna jingga. Lukisan Tuhan yang satu ini tidak pernah tidak memukau. Namun, untuk kali pertama dalam hidupnya, Azura sama sekali tidak tertarik untuk menikmati langit senja. Cahaya kemerahan masuk melalui jendela besar yang ada di sebelah barat ruangan. Langit sore sedang menampakkan warna terbaiknya, tapi suasana hati Azura justru semakin bertambah suram. Hanya ada satu yang ada di benak Azura, yaitu ... dia tidak ingin mati. "Boleh aku tanya sesuatu?" Gavin menatap Azura dengan penuh perhatian dan simpati. Azura mengalihkan pandangan pada Gavin. "Tentu." "Kalau pertanyaanku menyinggung privasi keluargamu, maka nggak perlu dijawab. Aku cuma ingin tahu lebih banyak, karena aku merasa semuanya saling berkesinambungan." Azura mengangguk lemah, menanti ucapan Gavin selanjutnya. "Mengapa keluargamu membunuh orang tuamu? Apa kamu tahu alasannya?" "Iya, aku tahu," ucap Azura dengan suara bergetar. Dia menatap Gavin, mencoba mencari kekuatan dalam tatapannya yang tenang. "Ini tentang bisnis keluarga." Gavin diam, memberikan isyarat agar Azura melanjutkan. "Keluargaku bernaung di bawah perusahaan konstruksi. Tapi…," Azura menghela napas berat. "Keluargaku terlibat kasus penggelapan uang dalam salah satu proyek." Mata Gavin membulat sedikit, menandakan betapa terkejutnya dia mendengar pengakuan Azura. "Jadi... keluargamu terlibat dalam aktivitas ilegal?" "Iya. Papa sama Mama mengetahui hal itu dan berencana membongkar semuanya." "Orang tuamu berencana melaporkan kasus ini?" Azura mengangguk pelan. "Iya. Mereka nggak bisa diam saja. Mereka ingin kebenaran terungkap. Tapi keluargaku... mereka marah besar. Mereka takut jika semuanya terbongkar, mereka akan kehilangan segalanya." "Apa ini alasan di balik kematian orang tuamu?" Setitik air luruh dari kedua mata Azura saat mendengar kata ‘kematian’. Masih ada rasa tidak menyangka kalau nyatanya orang tuanya sudah benar-benar tidak ada. Sungguh menyesakkan. "Kemarin malam, sepulang aku dari kantor, aku melihat dua pamanku sedang menyeret tubuh Mama sama Papa ke dalam mobil," ucap Azura dengan sedikit terbata. Tenggorokan Gavin tercekat. Hatinya ikut sesak saat melihat titik embun muncul di sudut mata Azura. "Aku nggak tahu apakah saat itu Mama sama Papa masih bernyawa atau nggak. Yang jelas, mereka sudah nggak sadar dan tubuh mereka sudah banyak mengeluarkan darah," lanjut Azura. Sambil menahan tangis, Azura kembali menjelaskan kejadian kemarin. Saat itu, Azura sempat berteriak histeris. Namun, mulutnya buru-buru dibekap, dan dua tangannya dicekal agar Azura tidak memberontak. Dua pamannya lantas menyeret tubuh Azura masuk ke dalam mobil. Di dalam sana, Azura masih bisa melihat dengan jelas wajah Beni dan Mulan. Azura tidak sempat mengamati apakah mereka masih bernapas atau tidak. Namun, Azura bisa melihat kedua mata mereka yang sudah tertutup. "Aku nggak ingat betul apa yang pamanku lakukan padaku. Yang jelas, saat itu aku langsung nggak sadarkan diri. Dan waktu aku bangun, aku udah ada di rumah sakit," lanjut Azura. "Bersama orang tuamu?" tanya Gavin. Azura tampak menelan ludah. "Bersama jenazah kedua orang tuaku." "God!" Gavin spontan menunduk seraya mengusap wajahnya menggunakan kedua tangan. "Saat itu, dokter dan pihak kepolisian mengatakan padaku kalau Mama sama Papa mengalami kecelakaan. Aku juga melihat bukti foto mobil mereka yang memang ringsek." Tentu Azura sudah langsung melakukan pembelaan. Dia sempat berucap kalau orang tuanya sengaja dilenyapkan. Namun, upayanya sama sekali tidak digubris saat pihak keluarga menjelaskan kalau kondisi Azura sedang tidak stabil. "Mereka bilang kalau aku cuma nggak bisa menerima kenyataan dan pikiranku sedang kacau, makanya aku berbicara yang tidak-tidak. Padahal, demi Tuhan, aku tahu kalau kematian ini direncanakan," lanjut Azura. Azura akui, dirinya memang sempat histeris. Dia juga beberapa kali pingsan. Namun, Azura masih waras. Dia tidak gila saat mencoba menjelaskan kalau sebenarnya orang tuanya sengaja dibunuh. "Saat itu, semua keluargaku mulai memberiku ancaman. Mereka menekanku biar nggak membeberkan semua ini. Sialnya, saat itu aku benar-benar sendiri," ucap Azura. "Aku gagal mengemukakan kebenaran." Gavin mengulurkan tangan demi bisa mengusap kedua tangan Azura yang gemetar. "Ini bukan salahmu." "Mereka merekayasa kematian orang tuaku agar terlihat seperti kecelakaan," ucap Azura. "Dan saat itu, nggak ada yang percaya padaku." Gavin spontan meraih tubuh rapuh Azura untuk dia rengkuh. "Aku percaya padamu." Hanya beberapa detik mereka berdua saling mendekap sambil menyesap duka. Namun, ini sudah lebih dari cukup. Meski jiwa mereka seperti sudah terpaut, tapi keduanya belum sedekat itu untuk terlalu lama berbagi peluk. "I'm sorry for your loss," ucap Gavin lirih. Setelah menyeka air mata dari kedua pipi, Azura lantas mengangguk. Bibirnya tersenyum tipis. Tersenyum miris. "Mereka keluarga dari pihak ayahmu?" tanya Gavin. "Iya. Ibu adalah anak tunggal, dan keluarga jauh dari pihak Ibu semuanya ada di Kupang. Jadi, selama ini, kami hanya berhubungan dengan keluarga dari ayah." Gavin menarik napasnya panjang. Sejenak, kepalanya mendongak, seperti sedang bersiap mengambil keputusan. "Azura." Gavin lantas berucap sambil menyorot manik mata Azura dalam-dalam. "Aku belum menemukan cara untuk membantumu. Tapi, tolong percaya padaku kalau aku akan selalu membersamaimu untuk bisa melewati semua ini." Kedua mata Azura sontak membola. Dia ragu untuk memberikan kepercayaan pada lelaki yang baru dia temui satu kali. Namun, kemiripan Gavin dengan Mars membuat hati Azura memperbolehkan adanya rasa percaya. "Sekali lagi, it's hard to trust stranger like me, but ... aku akan ada bersamamu," tegas Gavin sekali lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD