6. Bahaya yang Lebih Besar

1195 Words
Azura menatap bingung saat Gavin berjongkok di hadapannya. Lelaki itu menunduk sambil membawa satu kantong es yang sudah dibalut dengan kain. Merasa tak nyaman dengan posisi seperti ini, Azura lantas bergerak sedikit mundur. "Kamu mau apa?" tanya Azura. Gavin tersenyum tipis, seolah sudah langsung paham kalau Azura sedang sangat canggung. "Kakimu sedikit bengkak. Kamu sepertinya terkilir. Kalau nggak dikompres, bengkaknya bisa tambah parah." Mendengar penjelasan Gavin, Azura justru membisu dan membatu. Ada sedikit geliat aneh di hati saat mendapati perhatian kecil dari lelaki itu. Lagi-lagi, Gavin tampak semakin mirip seperti sosok Mars yang ada dalam mimpi. "Kamu mau mengompresnya sendiri?" tanya Gavin. Tangan kanan Gavin sudah terangkat seraya menyodorkan gulungan kain. Namun, Azura masih mematung. Dalam diam, manik cokelatnya terus saja tertuju pada mata abu-abu terang yang sedikit bercampur dengan corak biru. Mars, batin Azura. Sungguh, Azura merasa seperti hidup dalam mimpi. Bedanya, kali ini mimpi itu sudah membentuk rupa yang nyata. Sosok yang Azura sebut sebagai pahlawan juga telah menjelma menjadi manusia sungguhan. "Kalau gitu, aku aja yang mengompresnya," pungkas Gavin. Lamunan Azura seketika buyar saat merasakan sentuhan jemari lembut pada pergelangan kakinya. Berbekal gerak refleks, Azura buru-buru menepis dan mencegah. Selang satu detik kemudian, Azura lantas mengambil alih kompres dari tangan Gavin. "Aku aja," lirih Azura. Gavin tersenyum geli. "Ok, then." Azura pikir, kecanggungan di antara mereka sudah selesai sampai di sini. Namun, Azura masih dikejutkan dengan usapan pelan dari selembar tisu yang Gavin arahkan di seluruh bagian dahi. Damn! Tangan Gavin tidak langsung bersinggungan dengan wajahnya. Namun, sapuan jemarinya sangat terasa. Sungguh, Azura seperti bisa mendengar degupan jantungnya sendiri. "Ada sedikit goresan di sini," ucap Gavin seraya masih mengarahkan tisu di bagian dahi. Azura buru-buru menarik kesadaran dan kewarasan. Dia sedikit mendongakkan kepala, lalu mengambil alih tisu itu menggunakan tangan kanan. "Nggak perlu. Ini nggak sakit," ucap Azura setengah berbisik. Lengkungan bibir merah gelap milik Gavin kembali terukir. "Ok, kalau begitu." Sambil mengamati Azura yang sedang menempelkan es pada kaki, Gavin mulai bertanya pada dirinya sendiri. Cukup aneh saat mendapati dirinya memperbolehkan wanita asing masuk ke dalam rumah yang Gavin anggap sebagai tempat privasi. Namun, anehnya, perasaan aneh itu memanglah ada. Gavin tak bisa menyangkal kalau memang ada kedekatan dan kepercayaan yang sulit dijelaskan. "Azura." Gavin menatap Azura dengan tatapan serius, tapi tetap lembut. Ada getaran aneh dalam hati saat mereka saling pandang. Dan... ya. Ikatan di antara mereka kembali menunjukkan eksistensinya. "Siapa nama belakangmu?" tanya Gavin. "Aku nggak punya marga atau semacam nama yang diturunkan dari orang tua. Azura Jasmine. Hanya itu namaku. Kenapa?" Gavin ingin sekali menggali latar belakang Azura dan asal muasal mengapa mereka seolah digariskan takdir untuk bertemu. Namun, semua itu terlalu rumit. Alhasil, Gavin memutuskan untuk memulai dari masalah yang saat ini mereka hadapi. "Hanya ingin tahu," ucap Gavin dengan nada suara rendah. "Lalu, bisakah kamu ceritakan lagi padaku tentang detail mimpi-mimpi yang kamu alami akhir-akhir ini? Aku rasa, kita bisa menemukan petunjuk dari sana.” Azura menghela napas, mencoba mengumpulkan pikirannya. "Mimpi itu selalu sama. Aku berlari, dikejar oleh orang-orang yang ingin menyakitiku. Lalu kamu datang menyelamatkanku." Gavin terdiam sejenak. "Apa lagi yang kamu ingat?" "Hanya itu." "Benar hanya itu?" Gavin merasa ada sesuatu yang menghubungkan mereka, sesuatu yang lebih dari sekadar kebetulan. Kening Azura mengerut. Matanya menatap lurus, dengan sorot fokus seperti sedang mengingat sesuatu yang penting. Meski berupa kepingan memori, Azura tetap berusaha merangkainya satu per satu. "Kita bisa mulai dari detail terkecil. Apa saja yang ada dalam mimpimu?" tanya Gavin. Azura lantas mencoba mengingat lebih dalam setiap mimpi-mimpinya. Sementara Gavin memilih untuk mengeluarkan selembar kertas dan pena. Gavin bilang, dia perlu mencatat apa pun yang diingat oleh Azura. "Baik," kata Gavin. "Apa ada sesuatu yang menonjol? Sesuatu yang mungkin kita abaikan sebelumnya." Azura menutup matanya, berusaha mengingat lebih jauh lagi. "Dalam setiap mimpi, aku selalu berada di tempat yang serupa, dan suasananya selalu sama. Ada perasaan bahaya yang mengancam, dan aku selalu berlari." "Coba kamu ingat lagi, bagaimana ciri-ciri tempat itu?" "Pemakaman dan pepohonan hutan. Persis seperti apa yang terjadi padaku tadi," jawab Azura. "Tapi..." Gavin mendekatkan posisi duduknya ke arah Azura. "Tapi?" Azura membuka matanya. "Tapi ada satu mimpi yang sangat jelas. Aku berada di sebuah ruangan seperti kamar tidur, dan dindingnya berupa bata merah. Aku pernah bersembunyi di tempat itu." "Bata merah?" Gavin mengerutkan kening. "Apa kamu ingat seperti apa kamarnya? Atau mungkin benda-benda yang ada di dalam sana?" Azura mengangguk. "Ada hiasan dinding berbentuk lingkaran dengan garis-garis yang membentuk pola absrak." Gavin mulai menggambar pola yang dideskripsikan oleh Azura di kertas. "Apakah ini mirip dengan yang kamu lihat?" Azura memandang gambar itu dengan seksama, lalu mengangguk. "Ya." Telapak tangan Gavin sontak meremas kepala. Dia juga mengusap kasar seluruh wajahnya. Ada raut bingung, terkejut, sekaligus seberkas rasa takut. "Kamu tahu tempat itu?" tanya Azura. Tanpa menjawab, Gavin lantas menarik pelan kedua lengan Azura agar berdiri. Meski tak tahu akan dibawa kemana, Azura tetap menurut. Kakinya melangkah kemana pun Gavin membantunya memapah. "Aku mau menunjukkan sesuatu." Gavin berucap seraya membuka sebuah pintu. Napas Azura tertahan selama beberapa detik. Bibirnya sedikit terbuka dengan mata bulat yang menandakan keterkejutan. Kini, Azura menemukan satu lagi keanehan dalam mimpinya. "Apa ini tempat yang kamu lihat di dalam mimpi?" tanya Gavin. Meski berat dan masih tak menyangka, tapi Azura tetap menganggukkan kepala. "Iya." "Lalu, apa kamu ingat apa yang terjadi di tempat ini?" "Sedikit." "Apa?" tanya Gavin lagi. Mereka terus membicarakan detail-detail mimpi Azura. Setiap ingatan, setiap perasaan, kembali dicatat oleh Gavin. Ketika percakapan mereka semakin mendalam, Azura mulai merasa ada sesuatu yang lebih besar dan lebih berbahaya. Mimpi-mimpinya bukan sekadar mimpi. Mimpi itu seperti membawa pesan dan peringatan tentang sesuatu yang akan datang. "Apa lagi yang kamu ingat?" tanya Gavin. "Aku bersembunyi di tempat ini. Tapi… tapi akhirnya mereka menemukan aku." "Maksudnya, orang-orang yang mengejarmu?" "Iya." Tanpa terasa, kedua bola mata Azura memerah dan berubah basah. "Di tempat ini mereka bilang kalau… kalau mereka menginginkan nyawaku." Rahang Gavin mengetat. Entah mengapa, dadanya juga menjadi sesak. Ada rasa tidak terima saat membayangkan jika saja Azura celaka. Gavin juga tiba-tiba merasa seperti memiliki tanggung jawab untuk melindungi. "Azura," ucap Gavin dengan suara tegas. "Mungkin mimpimu itu sedang memberitahumu tentang bahaya yang akan terjadi di tempat ini. Tapi bisakah kamu tetap di sini? Bersamaku?" Azura merasa seperti sedang berjudi. Dia dihadapkan pada dua situasi yang resikonya sama-sama besar. Jika tetap di sini, Azura mungkin akan mendapatkan masalah. Namun, jika pergi, Azura bahkan tak tahu harus pergi kemana. "Bisakah?" tanya Gavin lagi. Tanpa sadar, Azura mengangguk perlahan. Biarlah dirinya tetap di sini. Entah sampai kapan, tapi sejujurnya keberadaan Gavin memang berhasil membuat Azura merasa kalau dirinya tidak sendiri. "Aku memang nggak bisa menjamin apapun. Tapi aku akan menghadapi semuanya sebisaku. Kita memang nggak pernah saling mengenal sebelumnya, tapi bisakah kamu percaya padaku?" tanya Gavin. Azura mengangguk. Pandangan mata Azura berkabut. Entah karena rasa takut, atau rasa haru. Atau... mungkin juga keduanya. "Terima kasih." Dua manusia itu masih tercenung dalam rasa ketidakpercayaan yang mau tak mau harus dipercaya. Ada rasa ingin menyangkal dan mundur dari sekelumit cerita rumit ini. Namun, mereka tahu kalau mereka harus tetap menghadapi semuanya. Ya. Menghadapi semuanya. Termasuk, bahaya yang mungkin lebih besar dari sebelumnya. Bahaya yang mungkin sebentar lagi akan datang ke tempat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD