Hampir setiap hari kami mengintip di padusan, sampai-sampai kami hafal jadwal kapan dan siapa saja yang sedang mandi di sana. Memang terlalu m***m kami waktu itu. Namun cerita yang benar-benar tak pernah ku lupakan adalah ketika aku kelas 1 SMP. Waktu itu seperti biasa aku sedang ingin mengintip di padusan, aku hafal bahwa disekitar jam 3 sore, biasanya Mbak Nur dan kakaknya Mbak Wati yang pergi mandi. Dari sekian banyak orang yang sering ku intip waktu mandi, Mbak Nur dan Mbak Wanti adalah salah satu yang terbaik dan terfavorit untukku. oh maaf, bukan salah satu, tapi salah dua hehe. Setelah menunggu cukup lama, ditemani gemericik air dan gigitan nyamuk, akhirnya Mbak Wati masuk ke dalam padusan, namun hanya sendiri. "Tumben Mbak Wati nggak sama Mbak Nur, apa karena aku tidak mengajak Adi sama Yudi ya, wah rugi ini, harusnya dapat dua." keluhku dalam hati. Sialnya aku yang sedikit kecewa itu tanpa sadar memukul dinding bambu padusan, yang sontak membuat Mbak Wati menutupi dadanya dengan kain jarik lalu berteriak "SIAPA ITU? KURANG AJAR YA KAMU BERANI-BERANI MENGINTIP, KALAU KETANGKET TAK POTONG BURUNGMU". "Kucing mbak." jawabku spontan. "g****k" umpatku dalam hati sembari menepuk jidatku sendiri dan membuatku justru diam membatu tak bisa beranjak dari situ. "HALAH MANA ADA KUCING BISA NGOMONG, KAMU PIKIR AKU BODOH, SEKARANG KAMU MEMILIH MENGAKU DI HADAPANKU, ATAU KU LAPORKAN KAU PADA PAK KADES?" kata Mbak Wati. Mendengar mbak wati akan melapor pada Pak Kades yang tidak lain adalah bapak dari Adi, langsung membuat nyaliku menciut. Aku dengan gemetar, dan teramat takut mengetuk pindu padusan yang terbuat dari seng dan dijepit menggunakan bambu. "cepat masuk" kata Mbak Wati. "Maaf Mbak, aku tidak bermaksud mengintip, tadi umpan pancingku jatuh disamping padusan, aku berniat mengambil tapi malah terpeleset, jadi berpegangan pada dinding padusan" kataku panjang lebar mengelak dan mencari alibi agar Mbak Wati tidak terlalu marah. "oh begitu Rot? berarti hampir setiap hari ya umpanmu jatuh di situ?" tanya Mbak Wati dengan senyum sinis. Mendengar pertanyaan itu.