Mulutku terdiam, tubuhku semakin membeku mendengar pertanyaan dari Mbak Wati. "Mati aku, tamat sudah image-ku sebagai anak baik-baik di dusun ini” gumamku dalam hati. Ya, memang aku dan dua sahabatku itu terkenal sebagai anak yang baik di dusun ini. “KAMU INI DITANYA MALAH DIAM SAJA SEPERTI ORANG MATI” hardik Mbak Wati yang membuatku tersadar Kembali dari lamunanku. “Maaf mbak, Jarot khilaf” kataku dengan kepala tertunduk. “Oke, untuk hari ini mbak maafin kamu, tapi awas kalau kamu ulangi lagi, karena itu tidak sopan, tidak patut, meski sebenarnya itu hal yang wajar, apalagi untuk anak-anak seusia kalian memang sedang memiliki rasa penasaran yang tinggi, apalagi tentang bagaimana bentuk tubuh lawan jenis” kata Mbak Wati panjang lebar, aku masih menunduk mendengarkannya. Aku takut sekali untuk menatap wajahnya, dan masih tak henti-hentinya mengutuki kegoblokanku tadi. “Rot, mbak mau tanya” kata Mbak Wati. “Rot, lihat wajah mbak kalau mbak lagi ngomong” katanya sedikit lebih keras. Aku perlahan mengangkat wajahku, terlihat wajah Mbak Wati begitu teduh, tidak terlihat lagi raut kemarahan diwajahnya. “Kamu mau lihat tubuh mbak ngga Rot?” tanyanya, tentu saja aku mengangguk. “HAHAHAHA, ENAK SAJA KAMU ROT, ROT. SUDAH SALAH KOK MAU DAPET ENAKNYA, KAMU HARUS DIHUKUM” kata Mbak Wati, dengan keras dan senyum yang menyeramkan. Jujur akum akin bergidik melihat ekspresi yang seolah-olah dia akan menelanku bulat-bulat.
“Sekarang kamu buka semua bajumu, cepat.” Kata Mbak Wati lagi. “Kenapa mesti dibuka mbak? Jarot malu” jawabku. “Ya biar impas dong rot, kamu udah liat tubuh mbak, masa mbak ga boleh lihat tubuh kamu”. Dengan keraguan aku membuka seluruh pakaianku, membelakangi Mbak Wati. “Hadap sini”. Aku memutar tubuhku sembari menutupi burungku yang lemas tak berdaya. “Kenapa otongmu ditutup? Kan kamu kalau liat punya mbak ngga ada yang ditutupi, cepet pinggirin tanganmu” perintah Mbak Wati. Kini tanganku berpindah ke mukaku, menutup wajahku yang teramat sangat malu. “Ih lucu banget sih o***g kamu, masi belum ada bulunya” katanya, aku membuka wajahku dan sedikit terkaget karena Mbak Wati pun sudah telanjang, entah kapan dia membuka jariknya. Kini kami berdua benar-benar polos tanpa sehelai benang pun. Aku tak henti-hentinya menelan ludah melihat p******a bulat milik Mbak Wati dengan puncaknya yang berwarna coklat muda, dan rambut yang cukup lebat membentuk segitiga di bagian bawah sana. Tanpa aku sadari, otongku mulai bangun dan mengeras. “Ih nakal ya, liat beginian langsung bangun” ejek Mbak Wati sambal memainkan dadanya naik turun. “Maaf mbak” hanya itu yang bisa aku ucapkan, namun tanpa usaha untuk menutupi adik kecil laknatku itu. “Kamu siap-siap ya Rot, mbak bakal kasih hukuman buat kamu” kata Mbak Wati, tiba-tiba dia sudah berjongkok di depanku, menggenggam otongku, dan memainkannya naik turun. “Uuughhhh” desahku. “Enak?”. “Enak banget mbak” jawabku polos. Ini pertama kalinya barang pribadiku dipegang oleh orang lain, dan sensasinya sangatlah berbeda dengan waktu aku memainkannya sendiri. Gerakan tangan Mbak Wati makin cepat, aku pun semakin kelonjotan dibuatnya dan ketika aku hamper mencapai o*****e, tiba-tiba dia berhenti mengocok otongku. Kekecewaan yang luar biasa aku rasakan saat ini. “hahahaha, kenapa rot? Jelek banget mukamu” ejeknya sekali lagi. Aku Kembali tertunduk. “Mau yang lebih enak?” tanya Mbak Wati, segara aku menganggukan kepalaku beberapa kali, bahkan otongku pun ikut manggut-manggut seolah memberi kode untuk segera dituntaskan. Kembali Mbak Wati menggenggam otongku, namun kali ini bukan dikocoknya, melainkan dimasukan kedalam mulutnya. “Ngga jijik mbak?” tanyaku. “Oh kamu ngga mau, yaudah.” Katanya merajuk. “Ma….. mau mbak”. Lalu kembali dia memasukan otongku kedalam mulutnya. Rasa hangat, licin, geli, aku tidak tau lagi harus menggambarkan seperti apa kenikmatan ini. Secara reflek aku memegang kepala Mbak Wati membantunya maju mundur seirama dengan gerakan pinggulku. Mbak Wati semakin mempercepat gerakannya, sehingga aku merasa otongku seperti ingin meledak, dan lagi-lagi Mbak Wati melepas otongku dari mulutnya. Kali ini tak hanya kecewa, namun juga sakit di bawah perutku.
“Kenapa rot? Ga enak ya? Hahaha” ejeknya lagi. Aku hanya bisa tersenyum kecut, sembari mengurut otongku, berharap dia segera memuntahkan JJ (Jarot Junior). “Rot, kamu mau pegang ini mbak?” kata Mbak Wati sembari membusungkan dadanya, sehingga payudaranya menyentuh otongku, dan membuatnya bangun lagi. “Bo….boleh mbak emangnya?” tanyaku memastikan kembali. “Pegang aja, selama ini kan kamu cuma bisa liatin aja”. Dengan gemetar aku menyentuh gundukan daging lembut itu, terasa begitu empuk dan pucuknya sedikit keras. “haha dasar tukang ngintip, giliran suruh megang gemetaran” Kembali Mbak Wati mengejekku. “Udah ah, nanti ketahuan orang kalau kita disini bareng, nanti dikira kita aneh-aneh, sekarang pakai pakaianmu lagi, terus pergi dari sini, mbak mau mandi” usir Mbak Wati. “Tapi mbak ga bakalan kasih tau siapa-siapakan?” tanyaku sembari mengenakan pakaianku lagi. “Ya bakalan aku kasih tau seluruh warga kampung, kalau Jarot itu tukang ngintip hahaha” jawabnya. Kembali aku menunduk, “modar kau rot” kataku dalam hati. “Tentu saja enggaklah, udah gila emang mbak ini, kalau mbak ngasih tau orang-orang, itu namanya mbak mempermalukan diri sendiri” kata Mbak Wati. “Sudah cepat keluar sana, mbak keburu masuk angin” usirnya.
Aku keluar dari padusan dengan penuh kekecewaan, rasa ngilu di bawah perutku pun tak kunjung hilang. Dengan lemas aku pulang ke rumah. Aku langsung menuju ke kamarku, mengunci pintu dan langsung saja melakukan aktivitas yang sempat tertunda. Aku langsung memainkan otongku naik turun, sembari membayangkan Mbak Wati memainkan otongku dalam mulutnya seperti tadi, aku mengingat kembali bagaimana payudaranya bergonyang naik turun seirama dengan kepalanya yang maju mundur diotongku. Tak sampai lima menit, air kenikmatan itu muncrat dengan kerasnya, hingga sampai ke muka ku. “Sial, ini semua gara-gara Mbak Wati” gerutu ku sembari membersihkan wajahku dari air kenikmatanku sendiri. Aku berjanji pada diriku sendiri, aku harus membalas dendam pada Mbak Wati, entah kapan itu aku harus melakukannya. Keesokan harinya, seperti biasa aku menunggu di sungai sembari memancing, hingga ku dengar sayup-sayup, suara Mbak Wati dan Mbak Nur mendekati padusan. “Lah kok berdua sih, sial. Pasti Mbak Wati sengaja, dia pasti tahu kalau aku mau balas dendam” aku kembali menggerutu, dan mengutuki nasib sialku.
Aku harus mengurungkan niatku untuk membalas dendam hari ini, akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Di perjalanan aku menemukan ide gila, kenapa aku tidak menunggu di rumah Mbak Wati saja? Toh mereka hanya tinggal berdua, jadi rumahnya pasti kosong saat ini. Ya begitu saja, aku memantabkan niatku untuk menuju rumah Mbak Wati. Dengan mengendap-mengendap aku masuk melalui pintu belakang, memang di dusunku biasanya pintu dapur setiap rumah tak pernah dikunci. Aku berhasil masuk, langsung menuju ke salah satu kamar yang menurutku adalah kamar Mbak Wati, mujur bagiku, pintunya tak terkunci! Segera aku bersembunyi dikolong tempat tidur agar tak ketahuan. Lama aku menunggu perempuan 23 tahun itu tak kunjung pulang, hingga akhirnya pun ketiduran. Aku terkejut ketika mendengar suara pintu terbuka, beruntung aku tidak mengeluarkan suara ketika kepalaku menyundul bale-bale tempat tidur, dan sepertinya perempuan itu pun tak menyadari keberadaanku. Aku mengeluarkan sedikit kepalaku, melihat wanita itu sedang berganti baju di depan almari dengan cermin besar. Aku kembali terkejut, karena ternyata ini kamar Mbak Nur, bukan Mbak Wati. Dari cermin aku melihat pantulan tubuh polos Mbak Nur begitu putih, payudaranya memang tidak sebesar milik kakaknya, namun puncaknya yang berwarna pink terlihat begitu menggairahkan bagiku, dan bagian guanya yang dicukur bersih begitu lucu, membuatku begitu bernafsu. Tanpa terasa otongku kembali mengeras melihat pemandangan itu, aku terus mengamati Mbak Nur dari masih telanjang hingga berpakaian, aku pun tau bahwa dibalik dasternya, Mbak Nur tidak lagi memakai BH. Ketika Mbak Nur keluar kamar, aku langsung pergi melalui jendela karena jelas bukan dia target utamaku.
Aku kembali pulang ke rumah, berniat berpamitan dengan orang tuaku, bahwa aku akan menginap di rumah Andi, karena ada tugas kelompok yang harus dikerjakan bersama. Setelah berangkat dari rumah, aku menuju rumah Andi agar orang tuaku tidak curiga. Malam hari ketika semua orang tertidur, aku mengendap-endap keluar rumah Andi menuju rumah Mbak Wati. Aku mengetuk jendela kamar Mbak Wati, lalu berlari ke depan ketika dia membuka jendela kamarnya untuk melihat siapa yang mengetuk jendelanya, aku langsung mengetuk pintu utama rumahnya, sehingga Mbak Wati pergi ke ruang tamu untuk mengecek, tanpa sempat mengunci jendela kamarnya. Dengan cepat, aku melompat masuk ke dalam kamar Mbak Wati dan bersembunyi di bawah tempat tidur. Kembali Mbak Wati memasuki kamarnya mengunci pintu dan jendelanya kembali, lalu naik ke tempat tidurnya. Tak berselang lama, aku mendengar sura aneh dari atas, rupanya Mbak Wati bermasturbasi, dari kaca almari yang sama persis dengan yang ada di kamar Mbak Nur, aku dengan jelas melihat Mbak Wati menyingkapkan dasternya hingga ke perutnya, dan mengeluarkan dua payudaranya di belahan daster atasnya. Aku melihat tangan kanan Mbak Wati meremas-remas p******a kanannya, sementara tangan kirinya bermain di guanya yang ditumbuhi rambut cukup rimbun. “uuughhhhh” desahan mulai keluar dari mulut Mbak Wati yang tengah menikmati aksi solonya dengan mata terpejam. Semakin lama gesekan tangan kirinya semakin cepat memain klentitnya. “aahhh rott... terussss rottt, ahhhhh.... Jarot....” racau Mbak Wati, aku sedikit terkejut mendengar Mbak Wati bermasturbasi dengan memanggil namaku. Apakah Mbak Wati sedang membayangkan bersetubuh denganku? Aku pun mengubah posisiku menjadi terlentang, dengan pelan ku plorotkan celanaku, aku pun mulai mengurut ototngku yang sudah berdiri sempurna. “Rot... masukin Rot, entotin Mbak Rot, Mbak udah ngga tahan Rot” kembali Mbak Wati meracau seperti orang kesetanan. Mendengar itu nafsuku makin naik ke ubun-ubun, aku secara perlahan keluar dari persembunyianku, dan berdiri di samping wajah Mbak Wati dengan o***g yang sudah berdiri sempurna. Dengan perlahan ku dekati wajah Mbak Wati “jadi dimasukin ngga mbak?” tanyaku perlahan. Mbak Wati yang kaget reflek menghentikan aktivitasnya dan merapikan dasternya seada-adanya. “ka....kamu kok bisa di sini?” tanya Mbak Wati dengan sedikit terbata-bata.