PEMBALASAN!

1158 Words
“Aku tadi masuk lewat jendela waktu Mbak Wati melihat ke depan” jawabku. Mbak Wati masih diam, mukanya memerah menahan malu dan nafsu yang belum tuntas. “Aku boleh duduk mbak?” tanyaku, Mbak Wati hanya mengangguk tanda mempersilakan aku duduk diranjangnya. Aku duduk disebelah Mbak Wati yang juga duduk bersender di dinding kamarnya. “Mbak, kenapa mbak tegang sekali? Tarik nafas, lalu buang, lakukan beberapa kali sampai mbak merasa tenang” kataku pada Mbak Wati. Seperti kerbau yang dicolok hidungnya, Mbak Wati mengikuti intruksiku. Setelah melihat kondisi Mbak Wati mulai tenang, aku kembali bertanya “Mbak, mbak udah sering kayak tadi ya ? kenapa tadi manggil-manggil Jarot mbak?”. “Anu Rot, mbak keinget kejadian kemarin di padusan, tiba-tiba mbak merasa terangsang” jawab Mbak Wati pelan dan malu-malu. “Terus kenapa ga dilanjut mbak?” “Mbak malu Rot”. “Lah kenapa malu mbak? Kan Jarot udah sering liat tubuh Mbak Wati yang sexy ini” godaku sembari meremas payudaranya. “ughhhhhh..... dasar tukang ngintip nakal kamu Rot” jawab Mbak Wati dengan nafas yang mulai tak beraturan. “Mbak, mau Jarot bantuin?” tawarku sembari mengecup pipinya. Entah keberanian dari mana yang merasukiku, hingga aku berani melakukan itu. “Tapi ini hanya jadi rahasia kita ya Rot?” kata Mbak Wati. “Oke siap mbak” jawabku. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba bibir kami sudah menyatu, aku merasakan lidah Mbak Wati ingin masuk ke mulutku, aku sedikit membuka mulut dan mengeluarkan lidah hingga disedot begitu saja oleh Mbak Wati. Lidah kami saling membelit, saling menghisap dan bertukar ludah. Tanganku pun reflek mencari gundukan daging kenyal miliknya. Aku mulai meremas-remas dadanya, hingga Mbak Wati sedikit mendesah “ahhhh hemmmppppp” desahnya tertahan oleh mulutku, karena kami masih berciuman. Setelah cukup lama berciuman, Mbak Wati melepaskan ciumannya. “kita telanjang aja yuk Rot?” tanpa menjawab aku membuka kaosku, satu-satunya pakaian yang masih melekat di tubuhku. Mbak Wati juga sudah melepas dsaternya, dalam sekejab tubuh kami sudah sama-sama polos tanpa sehelai benang pun. Mbak Wati langsung terlentang di ranjang, dan tanpa di komando, instingku sebagai laki-laki membawaku membenamkan wajahku di payudaranya, aku ciumi setiap inci payudaranya. Mulai dari garis belahannya, lalu ke dekat daerah putingnya, aku cium, aku sedot, dan kadang putingnya ku gigit pelan, sehingga membuat tubuh mbak wati kelonjotan. Tanganku pun tak tinggal diam, tangan kiriku meremas p******a Mbak Wati, kadang juga ku cubit putingnya. “ugghhhhhh” desah Mbak Wati sembari mengusap rambutku, kala jemari tangan kananku mulai menyentuh area kewanitaannya. Ciumanku mulai turun dari d**a Mbak Wati menuju ke perut, ku jilati pusar Mbak Wati, lalu turun lagi ke gua kenikmatanya. Ku gigit manja j****t lebat milik Mbak Wati, kini aku mulai menjilati garis gua kenikmatan Mbak Wati. “aaahhhhhh, benar di situ Rot, enakkkkk... jilat lagi Rot” kata Mbak Wati. Kembali aku menjilati garis itu nait turun, sesekali lidahku mencoba membuka lubang itu. Mbak Wati merapatkan pahanya ketika aku mulai menyedot benjolan kecil di guanya. "Rot, enak seklai Rot,.... ahhhhhhhh" aku tak mempedulikan apa yang diucapkan Mbak Wati, aku masih menikmati v****a pertamaku. Tanganku pun tak tak tinggal diam, terus menerus memainkan p****g Mbak Wati yang membuat tubuhnya tak henti bergoyang ke kanan ke kiri. "ahhhhh Rot.... aku mau keluar Rotttt" tubuh Mbak Wati semakin liar bergerak. Aku langsung menghentikan jilatan dan remasanku. "Rot.... kamu jahat Rot... kenapa malah berhenti?" rengek Mbak Wati. "Aku capek Mbak hahaha" jawabku seenaknya. "Rot, lanjutkan Rot, mbak sedikit lagi mau keluar Rot.." katanya memelas. "sebentar ya Mbak, aku istirahat dulu hahahaha" jawabku mengejeknya. "Ayolah Rot..". Sekarang aku menggunakan tanganku untuk mengelus-elus gua Mbak Wati. Kembali dia mendesah "yaaaaaa... benar Rot, disitu.... Gesekin yang kenceng Rot... Ahhhhhhhh... Nikmat banget Rot." Kini jariku tak hanya menggesek saja, sesekali aku coba memasukan jariku ke dalam gua Mbak Wati, terasa begitu basah. "ughhhh ahhhhhhhh Jarottt.... Kocok yang kenceng Rotttt" perintah Mbak Wati. "aaaahhh Rott kencengin lagi Rot, aku mau sampai" mendengar perkataan Mbak Wati aku kembali menghentikan aktivitasku. "Kenapa berhenti lagi Rot? jangan siksa aku seperti ini Rot..." kata Mbak Wati. "Tanganku pegal sekali mbak, aku istirahat sebentar hehehe" aku kembali mengejeknya. "Rasain kamu, gaenak kan dimain-mainin kaya gini" batinku dalam hati. "dasar b******n kecil kamu Rot, aku bakalan teriak biar warga ke sini terus kamu diarak telanjang keliling kampung karena memperkosaku" ancam Mbak Wati. "Silakan mbak, karena bukan aku yang akan diarak, tapi kita. Warga pasti tidak percaya anak sepertiku akan berani berbuat kurang ajar begini" kataku santai. Mbak Wati terdiam, merenungi perkataanku. "Jadi gimana ? mau lanjut atau nggak?" tanyaku. Mbak Wati hanya diam saja, namun aku tau ada amarah yang membara dari sorot matanya. "Yaudah deh, aku pulang aja, percuma juga aku di sini" kataku. "Terusin Rot, jangan siksa aku begini" katanya. "Kalau mau diterusin, bilang dulu, Jarot yang ganteng, yang baik tolong puasin aku, mulai malam ini aku siap menjadi lontemu" kataku. Memang bahasaku cenderung kasar, aku mengetahui kata-kata itu dari anak-anak SMA yang sering nongkrong di warung dekat sekolahku, tempatku biasa membeli rokok dan es kukubima s**u hehe. Wajah Mbak Wati semakin merah dan sorot matanya semakin menyeramkan. "Kayanya emang mbak ngga mau, jadi yasudah aku pamit, maaf ya mbak, Jarot sudah mengganggu" kataku sembari memunggut pakaianku berpura-pura mau pergi. "Jarot". "iya mbak?". "Tolong puasin Mbak Wati ya Rot, mulai malam ini aku siap jadi lontemu" kata Mbak Wati lirih. "Apa mbak? aku ngga denger" godaku. Mbak Wati menarik nafas panjang lalu berkata lagi "Jarot yang ganteng, yang baik, tolong puasin aku dan mulai malam ini aku siap menjadi lontemu". "Oke kalau itu yang mbak mau, aku bantu semampuku" kataku sembari kembali ke ranjang, langsung mencium bibir sexy Mbak Wati sembari memainkan gunung kembarnya. Sekali lagi insting lelakiku membuatku berani menjilati telinga turun ke leher jenjang Mbak Wati, lalu kembali ke bagian favoritku, yaitu payudaranya yang begitu membuatku kecanduan. Aku mengulum, menyedot, menggigit p****g Mbak Wati yang sudah begitu keras hingga desahan demi desahan keluar dari mulut Mbak Wati. Aku yang merasa bahwa otongku sudah sangat keras mencoba memasukan ke dalam gua Mbak Wati yang terasa begitu basah. Ini adalah pengalaman pertama bagiku, sehingga setiap kali aku mencoba memasukan otongku pasti meleset. Mbak Wati sedikit tertawa melihat aku yang kesulitan memasukan otongku ke memeknya. Akhirnya aku kembali menjilati m***k Mbak Wati sehingga membuatnya kembali menggelinjang. "Ughhh Rot, isep itilnya Rott..." kata Mbak Wati. Aku sendiri tidak tahu i**l itu seperti apa, aku hanya menebak bahwa itu adalah benjolan kecil di m***k Mbak Wati. Dan benar saja, ketika aku menghisap dan menggigit manja benjolan itu, Mbak Wati bergerak tak karuan, menjepit kepalaku dengan pahanya dan menenkan-nekan kepalaku ke memeknya. "aaahhhh,......... ahhhhhh.... Jarot, enak Rot... ahhhhh". Tiba-tiba tubuh Mbak Wati mengejang dan keluar cairan dari dalam memeknya dengan aroma yang aneh, sedikit anyir tapi bukan anyir yang bikin muntah, mealikan membuat kecanduan. Nafas Mbak Wati terlihat tak karuan, aku melihat payudaranya yang bergoyang naik turun membuatku kembali bernafsu untuk memainkannya. "aaahhhh.. Rot... bentar... mbak... capek.... mo istirahat sebentar" kata Mbak Wanti terbata-bata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD