Dua Puluh Empat

1095 Words

Lucy menyerah menutup matanya, sampai pagi pun dirinya tidak bisa tidur. Hanya sekedar menutup mata. Tidak ada rasa kantuk sama sekali. Mungkin dirinya terlalu banyak melamun dan memikirkan yang seharusnya tidak perlu ia pikirkan. Menguncir rambutnya, Lucy memilih bangun. Ia menuruni tangga. Terlihat di matanya dua orang pelayan membereskan meja makan. "Gery ke mana?" "Tuan Gery baru saja berangkat, Non." "Pagi sekali." "Saya tidak tahu, Non. Tapi memang biasanya Tuan berangkat jam segini." Lucy menganggukkan kepalanya. "Bibi, Aku ingin makan nasi goreng khas negaraku." Dua orang pelayan itu saling menoleh, tidak mengerti maksud Lucy. Pikir mereka, bukannya nasi goreng sama saja. "Kita buatkan, Non." "Tidak, bibi. Jika kalian yang buat rasanya akan berbeda. Biar Aku buat sendiri."

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD