Tian berlari di koridor rumah sakit. Perbuatannya tidak bisa di anggap benar. Bisa-bisa mengganggu pasien lain yang tengah beristirahat. Tidak patut dicontoh. Tapi kebahagian Tian , tidak ada duanya. Ia sangat amat bahagia. Yang dinanti, akhirnya kembali juga. Tuhan ternyata sayang padanya. Ia tidak perlu menunggu lebih lama lagi. Hanya sesaat. Tak lebih dari seminggu. Debar di d**a begitu bergemuruh. Semakin bergemuruh saat berada di depan pintu ruangan orang yang ia tuju. Sedikit gemetar, Tian membuka pintu tersebut. Wajah Tian pias, orang yang ia tunggu masih berbaring. "Tuan..." "Kau membohongiku?" Mengerti maksud, Tuannya. Tian langsung mengangkat kedua tangannya di depan d**a. "Tidak, Tuan. Nona Cia disarankan dokter untuk kembali istirahat." "Kenapa?" "Untuk beradaptasi. Tub

