Dua Puluh Tujuh

929 Words

Jangan sangka, wanita yang duduk di kursi mobil depan dekat kursi kemudi dengan sukarela diantar. Tian harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk itu. Tian harus memaksa otak serta mulutnya bekerja lebih ekstra, agar bisa meretakkan batu segunung. Tinggi amat yak? Ya, memang gengsi itu lebih tinggi dari apapun. Tidak ada satu pun yang bisa menyamainya. Makanya, punya gengsi jangan tinggi-tinggi. Gak punya temen 'kan? "Kau salah jalan." "Aku rasa tidak." "Aku tidak mau ke sana," desis Lucy. Matanya memandang tajam ke arah Tian yang pura-pura tida tahu. "Antar aku ke rumah Gery." "Mendadak aku lupa di mana rumah pria sialan itu." geram Tian. Tak suka saat Lucy menyebut nama pria itu. Apalagi memilih untuk pulang ke sana daripada rumah orang tuanya. "Turunkan aku! Aku tahu rumahnya." "Buka

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD