Selama masuk ke dalam rumah, Tian tidak melunturkan senyumnya. Ia senang bisa sedekat ini dengan orang yang telah menguasai hati dan pikirannya. Sebelumnya, ia juga telah menghubungi kedua orang tuanya. Meminta ibunya untuk membuatkan makanan yang saat ini diinginkan Lucy. "Dad ..." Endru dan beritanya memang tidak bisa dipisahkan. Tian sudah sering melihat kebiasaan sang Daddy itu. Dirinya tidak kaget meski telah lama meninggalkan rumah ini. "Kau sudah datang." "Ya, Dad." "Kau tahu, kau sudah mengganggu orang tuamu, Nak." Tian merasa tersindir dengan perkataan Daddynya. Yang ia lakukan hanya tersenyum seraya menggaruk belakang kepalanya. Konyol memang. "Maafkan aku, Dad," sesal Tian. "Aku dan temanku sedang merindukan makanan negara kita. Aku terpaksa membawanya ke sini. Ya, Dad t

