Suasana nya begitu hening, hanya ada suara sendok dan garfu yang berirama dipiring. Pikiran Rendi masih tertuju kepada sang istri, dia tidak tau harus bagaimana menghadapi Ibunya.
Lalu suasana berubah saat Sarah mengatakan sesuatu.
" Rendi, lebih baik kamu ceraikan saja Nayra dan menikahlah dengan anak temannya Ibu"
DUG!
Jantung Rendi berdebar dengan kencang saat mendengar ucapan Ibunya, yang tadinya dia menunduk kita terangkat. Wajahnya begitu sangat terkejut hingga tidak bisa berkata-kata apapun lagi.
" Sudah dua tahun kalian menikah dia tidak hamil-hamil, lebih baik kamu ceraikan saja dari pada harus bertahan dengan orang tidak berguna"
Disisi lain.
Nayra yang tadinya telah selesai menyapu halaman belakang, saat dia masuk tanpa disengaja dia mendengar ucapan mertunya. Hatinya sakit, dadanya begitu sesak bahkan tangannya gemetar.
Air mata mulai menggenang dikelompak matanya yang membuat penglihatannya menjadi buram.
" Mas Rendi cuma dia saja? Apakah dia setuju dengan ucapan Ibunya untuk menceraikanku?" gumam Nayra dalam hatinya
Tangannya mencengkram dadanya sangat erat, sakitnya benar-benar luar biasa rasanya nafasnya tercekat sekali. Tidak ada pembelaan untuk suaminya.
Namun:
" Bu" panggil Rendi
Seketika Nayra menatap kearah Rendi yang pada akhirnya dia membuka suaranya. Begitu juga dengan Sarah yang langsung mengangkat wajahnya menatap putranya.
" Bagaimana bisa Ibu menyuruhku untuk menceraikan Nayra dan menikah dengan anak temannya Ibu?"
" Jadi kamu menolaknya?"
" Tentu saja aku menolaknya bu, aku mencintai Nayra bu"
" Tapi dia tidak memberikanmu keturunan Rendi, istri macam apa itu?"
Lagi-lagi, selalu itu yang diucapkan oleh mertuanya. Dia juga ingin cepat hamil, tapi dia tidak bisa memaksakan jika memang belum ada rejekinya mengarah kesana.
" Jangan terlalu mendalami rasa cintamu kepada Nayra, dia istri tidak berguna"
" Bagaimana bisa Ibu mengatakan dia tidak berguna?" tanya Rendi dengan nada sedikit meninggi " Jika dia tidak berguna, mungkin dirumah ini tidak akan bersih hingga makanan yang Ibu makan itu ada diatas meja" sambungnya
KRAK!
Suara kursi berdecit yang membuat Nayra semakin menatap kearah suami dan Ibu mertuanya.
" Jadi kamu lebih memilih istrimu dibandingkan ibumu yang melahirkanmu ini ha?"
" Ibu bukan begitu"
" Lalu apa ha Rendi? Kamu ya benar-benar anak durhaka. Seharusnya kamu memilih Ibumu dibandingkan istrimu, ibu mengatakan yang sebenarnya bahwa memang istrimu itu tidak berguna"
Tiba-tiba:
" CUKUP BU AKU BILANG CUKUP!" bentak Rendi dengan nada yang penuh emosi
Seketika Sarah benar-benar terkejut, ini untuk pertama kalinya dia mendengar suara Rendi yang begitu menakutkan.
Nafas Rendi naik turun, dia sudah sangat emosi tapi mencoba untuk menenangkan dirinya.
" Maaf bu, aku tidak bermaksud membentak ibu" ucap Rendi dengan jujurnya
Rendi menarik nafasnya begitu dalam sekali, dia menghembuskan secara kasar. Sarah yang masih terdiam tidak melontarkan perkataan apapun lagi. Namun tatapannya begitu tajam saat melihat kearah Rendi.
" Bu, sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan Nayra. Dia wanita yang aku cintai bu, tidak ada wanita yang bisa menggantikan Nayra bu. Mau dia tidak bisa memberikan aku keturunan, tetapi dia masih tetap istriku satu-satunya bu. Jadi tolong bu tolong jangan terlalu jahat dengan istriku bu, kasian dia bu"
Sarah tidak menjawab apapun dia hanya diam seperti patung. Namun hanya nafas dan bola matanya saja yang terdengar serta bergerak.
Tanpa disadari Rendi dan Sarah, Nayra merasa sedikit lega saat mendengar kata-katanya Rendi. Dia mengira Rendi akan setuju.
" Kalau begitu, Rendi berangkat bekerja dulu. Tolong bu jangan terlalu keras kepada istriku"
Rendi pun pergi meninggalkan Sarah yang masih dimeja makan. Dia hanya diam tanpa menjawab apapun, namun hatinya begitu sangat kesal sekali bahwa Rendi memihak kepada istrinya.
" Argh, lagi-lagi dia masih memihak istrinya. Apa sih istimewanya istrinya yang gak bisa memberikan keturunan?"
Sarah begitu sangat kesal sekali, sehingga membuat dirinya sangat susah untuk mengontrol dirinya. Namun dia melihat diatas meja makan berantakan akhirnya dia berteriak memanggil Nayra.
" Nayra, Nayra"
Saat beberapa detik kemudian:
" Iya bu, saya disini" jawab Nayra dengan cepatnya
Sarah menoleh sedikit saat Nayra datang.
" Bersihkan meja makan itu"
Nayra mengganggukkan kepalanya dan menjawab. " Baik bu"
Nayra mendekat dan mulai menyusun dan membersihkan yang diatas meja itu.
" Lalu, kamu tidak boleh makan apapun hari ini. Itu hukuman untuk kamu yang sudah membuat anakku menjadi durhaka paham?"
" I-iya bu"
" Bagus, setelah itu kembali ke pekerjaanmu jangan sampai ada yang tertinggal"
" Baik bu"
Sarah pergi meninggalkan Nayra dengan wajah yang begitu tidak bisa dikontrol lagi. Sementara Nayra hanya bisa menghelankan nafasnya saja, ini bukan untuk pertama kalinya dia tidak dibolehkan makan disaat moodnya sedang hancur. Jadi bagi Nayra hal ini sudah biasa, hanya saja dia tidak berani mengatakan kepada Rendi karena takut pertengkaran seperti tadi akan terjadi.