Hanya Bisa Bersabar
Dua tahun berlalu:
Nayra yang sudah bangun awal untuk melakukan pekerjaan dirumah, dari membersihkan dapur, membuat sarapan, mencuci piring dan pakaian serta membersihkan hal lainnya yang hanya dilakukan oleh Nayra tanpa ada membantunya.
Tapi Nayra tidak ambil pusing, karena itu sudah tanggung jawabnya sebagai seorang istri.
Tepat pukul 6 pagi, semua sarapan sudah tertata rapi diatas meja makan. Langkah kaki yang sedang berjalan mengarah Nayra membuatnya tersenyum. Dia sangat tau langkah kaki itu.
Saat langkah kaki itu berhenti tepat dibelakangnya, dia merasa tangan yang sedang melingkar dipinggangnya.
" Selamat pagi sayang"
CUP!
Satu kecupan mendarat dipipinya Nayra.
" Selamat pagi kembali mas" balas Nayra dengan wajah tersenyumnya
" Kenapa kamu tidak membangunku hm?" tanya Rendi sang suami
" Mas terlihat lelah sekali, makanya aku sengaja gak bangunin"
" Kalau kamu bangunin aku, aku bisa membantumu untuk melakukan pekerjaan rumah"
Nayra menggelengkan kepalanya, dia memutar badannya dan menghadap Rendi.
" Itu sudah kewajibanku sebagai seorang istri mas. Dan kamu juga sudah sangat lelah setelah pulang bekerja, makanya aku sengaja gak bangunin kamu"
Tiba-tiba:
" Tidak usah bermesraan terus, toh kalian juga bukan pengantin baru lagi" tegur Sarah sang Ibu
Seketika Nayra langsung melepaskan tangannya Rendi dari pinggangnya, namun Rendi tidak melepaskannya justru dia semakin mempereratnya.
" Mas" bisik Nayra
" Biarin aja, gak usah terlalu kamu peduliin apa yang diomongkan Ibu"
Tatapan Sarah sangat tajam sekali mengarah Nayra hal itu sedikit membuat Nayra merasa takut.
" Dan kamu Nayra, kapan lagi kamu memberikan Rendi keturunan ha?"
" Ibu" tegur Rendi
" Diam kamu!" bentak Sarah membuat Rendi melindungi Nayra " Udah dua tahun menikah masih saja kamu tidak hamil-hamil. Ibu malu selalu ditanya oleh kelurga besar Wijaya" sambungnya
Nayra menundukkan kepalanya yang bersembunyi dibelakangnya Rendi. Genggamannya begitu erat sekali dikemejanya Rendi.
" Bu" panggil Rendi
" Apa? Kamu mau membela istrimu yang salah itu ha?"
" Bu, ini masih pagi. Sudahlah"
" Kamu selalu saja membela istrimu, seharusnya kamu sadar Rendi sudah dua tahun kalian menikah tapi dia tidak memberikan kamu keturunan"
Rendi terdiam, sebenarnya yang dikatakan oleh Ibunya benar. Tapi dia tidak pernah memaksanya karena Rendi tau bahwa itu sudah diatur oleh Tuhan yang kapan saja akan datangnya.
Tatapan Sarah tidak pernah lepas dari Nayra yang masih bersembunyi dibelakangnya Rendi.
" Lihatlah? Istrimu benar-benar pengecut Rendi, dia hanya bersembunyi dibelakangmu"
Lalu:
" M-maafkan Nayra bu" gumam Nayra namun masih bisa didengar
" Maaf, maaf terus yang kau lontarkan Nayra. Apa tidak bisa sedikit saja menjadi istri yang berguna ha?"
" Ibu cukup" bentak Rendi yang membuat Sarah terkejut
Tapi, Sarah tidak mau mengalah walaupun Rendi membentak dirinya.
" Kamu berani membentak Ibumu sendiri demi istri yang tidak berguna ha?"
" Maafkan Rendi bu"
Nayra hanya bisa menghelankan nafasnya saja, disaat Rendi mulai membelanya tapi Ibunya tidak pernah mau mengalah dan pada akhirnya Rendi tidak berani melawan Ibunya.
" Sudahlah, pagi ini Ibu benar-benar muak dibuat oleh istrimu Rendi"
" Bu"
" Diam! Jangan pernah kamu membelanua terus Rendi. Dia tidak bisa memberikan kamu keturunan"
Dan pada akhirnya, air mata Nayra yang tadinya dia tahan kini menetes juga. Dadanya begitu sangat sakit sekali saat mendengar ucapan mertuanya.
" Bu, Nayra juga sudah berusaha bu. Dia juga sudah konsultasi dengan Dokter Kandungan, bahwa semuanya baik-baik saja tidak ada satupun masalah. Mungkin memang belum rejekinya bu"
" Sudah Ibu bilang Rendi, jangan membela istrimu terus. Jika kamu selalu membelanya maka dia akan terus besar kepala"
" Tapi bu"
" Kita sarapan, Ibu sudah lapar"
Rendi menghelankan nafasnya, dia mengalah dan tidak bisa melawan Ibunya. Kini Sarah menarik kursinya yang mengeluarkan suara decitan, lalu duduk.
Rendi membalikkan badannya, dia mencoba untuk menenangkan istirnya.
" Tidak apa-apa okey?" bisik Rendi kepada istrinya
Nayra hanya menganggukkan kepalanya, dia menangis dalam diam. Walaupun sakit dia tidak bisa membalasnya karena dia sangat tau mertuanya begitu keras kepala sekali.
" Kita sarapan dulu ya" ucap Rendi dengan lembut kepada sang istri
Belum sempat Nayra menjawabnya, kini Sarah kembali membuka suaranya.
" Selesaikan pekerjaanmu dulu baru sarapan"
" Bu"
" Kewajiban seorang istri"
Saat Rendi ingin membalas ucapan Ibunya, Nayra menarik tangannya Rendi dan menggelengkan kepalanya.
" Tidak apa-apa mas, aku selesain pekerjaanku dulu" bisik Nayra
" Tapi sayang, kamu harus sarap-"
" Rendi" potong Sarah
Nayra mengganggukkan kepalanya yang menandakan bahwa dia tidak apa-apa. Dia mendorong Rendi dengan lembut agar ikut sarapan bersama Ibunya.
Rendi yang tidak bisa melawan Ibunya, dia pun akhirnya mengalah dan mendekat kearah kursi. Sarah mengangkat wajahnya dan menatap Rendi.
" Duduk, dan sarapan"
" Baik bu"
Rendi menarik kursinya dan duduk, lalu Nayra pergi meninggalkan Rendi dan Ibunya untuk melakukan sarapan. Dia sudah terbiasa diperlakukan Ibunya Rendi seperti itu, yang bisa Nayra lakukan hanya menguatkan dirinya saja.
" Ayo tahan Nayra, kamu pasti kuat kok. Aku yakin kamu kuat, selama Mas Rendi berpihak kepadamu semuanya akan baik-baik saja" gumam Nayra dalam hatinya