Pertengkaran Sengit

1012 Words
Nayra yang baru saja selesai dengan semuanya, kini dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar dengan wajah yang tersenyum. Namun saat dia keluar, terdengar suara Rendi dan Ibunya yang sedang bertengkar. Nayra sangat penasaran sehingga membuatnya melangkahkan kakinya dengan cepat menuruni tangga itu. Saat tiba dilantai satu, langkahnya langsung menuju ruang tengah yang dari tadi terdengar suara Rendi dan Ibunya. " Ada apa ini?" tanya Nayra saat tiba diruang tengah Rendi dan Sarah langsung menoleh saat mendengar suaranya Nayra. Tatapan Nayra mengarah Rendi yang begitu lepas kendali, mungkin dia sudah marah sekali dengan ibunya. Sedangkan Sarah, dia langsung terlihat kesal dan mendekat kearah Nayra. Namun hal tak pernah disangka oleh Rendi dan Nayra disaat Sarah melayangkan tangannya kewajahnya Nayra. Plak! " IBU!" bentak Rendi dengan suara tingginya Nayra yang begitu terkejut saat tamparan itu melayang kepipinya. Tangannya yang memegangi pipinya dengan air mata yang mengalir. Sementara Rendi langsung mendekat kearah istrinya dan memeluknya. " Ini semua gara-gara kamu, seharusnya Rendi tidak menikahi perempuan yang tidak berguna seperti dirimu" " Ibu cukup, jangan selalu menyalahkan Nayra" " Kamu juga selalu membelanya terus Rendi, seharusnya kamu ajarkan dia mandiri agar tidak manja" " Bu, dia tidak manja. Tapi apa salahnya jika aku memanjakan istriku bu" " Selalu saja menjawab, sudahlah lebih baik kamu ceraikan saja dia" Kata-kata itu membuat Nayra semakin menangis dalam diamnya. Genggamannya begitu erat sekali dijas hitamnya Rendi. Begitu juga dengan Rendi memeluknya sangat erat. Setelah mengatakan seperti itu, Sarah pergi meninggalkan mereka berdua. Dia benar-benar sangat marah sekali karena Rendi selalu berpihak kepada Nayra. Disisi lain: Dikediamannya Jeng Nira. " Lho dari mana ma?" tanya Velita yang sedang duduk disofa tengah Jeng Nira tidak menjawabnya, dia langsung duduk disamping Velita. Lalu dia menghelankan nafasnya membuat Velita merasa bingung melihat Mamanya. " Mama kenapa sih?" Jeng Nira kembali menghelankan nafasnya, lalu menjawab pertanyaan putrinya. " Mama cuma heran sayang dengan Jeng Sarah" " Heran?" ulang Velita diangguki Jeng Nira " Emangnya ada apa dengan Jeng Sarah ma?" tanyanya " Itu lho, sepertinya Jeng Sarah tidak menyukai menantunya" " Ha? Tidak menyukainya bagaimana ma? Bukannya istri Mas Rendi itu orangnya cantik ma?" " Itu yang Mama pikirkan sayang, tapi kayaknya dia tidak dianggap seperti menantu melainkan-" Ucapannya Jeng Nira berhenti, hal itu membuat Velita semakin penasaran. " Melainkan apa sih ma?" " Dia diperlakukan seperti babu sayang" " Ha? Mama yakin?" Jeng Nira menganggukkan kepalanya dan kembali menghelankan nafasnya. Lalu menjawab pertanyaan putrinya. " Yakin sayang, soalnya Mama sering melihat menantu Jeng Sarah membersihkan halaman belakang disamping rumah kita itu setiap harinya. Tapi Jeng Sarah mengatakan bahwa menantunya begitu pemalas" Velita mengernyitkan keningnya, merasa bingung saat mencerna semua ucapan Mamanya. " Lalu, hal yang tidak disukai Jeng Sarah apa dengan menantunya?" " Iya Mama juga tidak tau sayang, dan lagi juga tadi Nak Rendi bertengkar dengan Jeng Sarah" " Aduh benar-benar deh, emang apa yang ditengkarkan mereka berdua?" " Iya masalahnya hanya sepele tapi tidak sepenuhnya kesalahan Nak Rendi. Tapikan itu sudah kewajibannya sebagai suami memanjakan istrinya, namun Jeng Sarah sepertinya tidak suka jika Nak Rendi memanjakan istrinya" " Ish otak orang satu itu kayaknya bermaslaah deh ma" " Heh mulut kamu gak boleh begitu sayang" " Tapi habisnya lho ma, masa iya dia melarang Mas Rendi yang sedang memanjakan istrinya" Jeng Nira menghelankan nafasnya sambil memijat batang hidungnya. " Mama juga tidak tau, kenapa dia begitu" jawab Jeng Nira Kali ini Velita yang menghelankan nafasnya karena juga ikut bingung. " Sudahlah ma, mulai sekarang Mama harus menjaga jarak sama Jeng Sarah" " Lho kenapa sayang?" " Ma, Velita tidak ingin Mama berteman sama orang seperti itu. Lihatlah, dia bagaimana dengan menantunya sendiri. Nanti kalau terjadi sesuatu pastinya kita yang akan disalahkannya, jadi lebih baiknya jangan terlalu berteman dengan dia ma" Jeng Nira langsung terdiam, yang dikatakan Velita sangat benar tidak ada salahnya. Lalu Jeng Nira teringat sesuatu. " Oh iya, Mama lupa sesuatu" " Hmm apa lagi ma?" " Itu kata Jeng Nira, dia menyesal telah merestui Nak Rendi dengan istrinya. Lalu dia mengatakan jika dulu Nak Rendi menikah denganmu mungkin tidak akan begini" Mata Velita membulat saat mendengar ucapan Mamanya. " Ma, yang benar saja lho. Mereka sudah menikah masa baru sekarang menyesalnya?" " Iya Mama juga tidak tau sayang, Mama gak ngerti sebenarnya apa yang dipikirkan oleh Jeng Sarah" Velita menggaruk-garuk alisnya yang tak gatal, karena dia memang merasa bingun dan keheranan tingkah Jeng Sarah. Dilihat dari sisi istrinya Rendi memang sangat cantik dibandingkannya. Lalu kenapa Jeng Sarah harus seperti itu? " Ma, ingat ya. Velita tidak ingin merusaka rumah tangga orang, apa lagi kita sudah mengenal Mas Rendi bagaimana ma. Itu bukan sifat Velita yang menyetujui semuanya, Velita tidak suka ada orang yang berpikiran seperti itu ma" jelas Velita dengan tegas Jeng Nira langsung memegang tangannya Velita, dia sangat tau bagaimana putrinya. " Velita, Mama juga tidak akan membiarkan itu terjadi. Dan Mama juga tidak ingin berhubungan mendalam dengan Jeng Nira karena dari dulu orangnya memang angkuh merasa setiap ucapannya sangat benar" " Makanya dari itu, Velita mengatakan kepada Mama bahwa Mama harus berhenti bertemanan dengan Jeng Sarah. Dia juga orangnya keras kepala, apa yang dia mau sepertinya harus dapat" Jeng Nira hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum, semua yang terucap dari bibir putrinya sangat benar. Bahwa Jeng Sarah itu sifatnya jika belum dapat maka dia tidak menyerah, walaupun itu salah tetapi dia tidak mempedulikan itu. ** Dikediamannya Wijaya. Nayra menangis hingga terisak, didepannya Rendi sedang berjongkok sambil memegangi kedua tangannya Nayra. " Maafkan aku sayang" ucap Rendi dengan sendu Nayra menggelengkan kepalanya dengan cepat, lalu mengangkat wajahnya menatap Rendi dengan mata yang sebam serta bengkak. " Ini bukan salah mas, seharusnya aku tadi tidak menyetujuinya mas saat mas bertanya kepadaku" " Hey, dengarkan mas. Itu sudah tanggung jawab mas sebagai istri yang harus memanjakan istrinya. Hanya Ibu saja yang terlalu bagaimana menanggapinya" " Tapi tetap saja itu semua salahku mas" Rendi bangun dari jongkoknya, lalu membawa Nayra kedalam pelukannya. Dia tidak menyangka Ibunya akan selalu bersikap seperti itu kepada Nayra. Kini Rendi mengelus-elus punggungnya Nayra yang masih terisak didalam pelukannya. Dia sangat tau, kata-kata Ibunya sudah menyakiti perasaan istrinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD