Waktu bergulir dengan cepat. Sekarang mereka sedang berkutat dengan soal-soal ulangan tengah semester. Amanda dan Aqilla satu ruangan, sedangkan Nadia berada di ruangan sebelah. Sebelum bel istirahat berbunyi, mereka selalu berkumpul di depan ruangan.
Ulangan tengah semester berlangsung selama lima hari. Sekarang hari keempat dan juga hari ulang tahun Aqilla Fariza Mufia yang ke-17. Amanda dan Nadia tentu sudah mengucapkannya tadi pagi lewat grup w******p dan di sekolah.
Dua mata pelajaran telah selesai. Sekarang waktunya istirahat. Nadia sudah keluar dari ruangannya, tapi tidak dengan kedua sahabatnya. Nadia menunggu mereka di depan ruangan. Tidak berselang lama, kedua gadis tersebut keluar dan menghampiri Nadia yang sedang duduk.
"Nadia!" teriak Aqilla heboh, sambil menghampiri saha-batnya. Sedangkan Amanda hanya tertawa melihat tingkah konyol Aqilla.
"Ya Allah, Aqilla ... Berisik!" jawab Nadia. Aqilla langsung mengerucutkan bibirnya, membuat Nadia dan Amanda gemas dan langsung mencubit pipinya.
"Gimana soalnya. Mudah, bukan?" tanya Nadia.
"Alhamdulillah, Nad. Soal-soalnya mudah," jawab Amanda.
"Alhamdulillah kalau begitu. Oh ya. Manda, Aqilla antar aku ke kamar mandi yuk," ucap Nadia. Mereka pun mengan-tar Nadia ke kamar mandi yang tidak jauh dari ruangannya.
Mereka berjalan ke arah kamar mandi siswi dekat musala. Amanda dan Aqilla melihat Alvin bersama Devan di dekat musala. Mereka langsung menarik tangan Nadia untuk tidak ke sana. "Nad, ke kamar mandi sebelah sana aja, yuk. Jangan ke sini," cegah Aqilla.
"Iya, Nad. Kamar mandi yang itu aja, yuk," lanjut Amanda.
"Ih, kalian kenapa sih? Aku udah kebelet nih. Udah ah. Kalau kalian gak mau ikut, tungguin aja deket musala."
Baru saja Amanda dan Aqilla ingin memberitahu bahwa Alvin dan Devan berada di dekat musala itu, tapi Nadia sudah pergi. Akhirnya mereka menunggunya di teras musala.
Nadia mempercepat jalannya karena kantung kemihnya sudah sangat penuh. Saat melihat Alvin dan Devan sedang duduk di teras musala, rasanya Nadia ingin kembali ke ru-angannya. Namun, sekarang ia tidak peduli dan mengabaikan Alvin dan Devan yang melihatnya. Tanpa permisi, Nadia melewati kedua cowok tersebut dan langsung masuk ke kamar mandi samping musala.
Aqilla dan Amanda sudah sampai di teras musala. Mereka ingin sekali pergi, tapi kalau tidak menunggu Nadia, bisa-bisa Nadia ngambek. Mereka pun duduk di teras musala, tidak jauh dari kedua cowok itu.
Tidak berselang lama, Nadia keluar dari kamar mandi. Ia langsung menghampiri kedua sahabatnya. "Hmm ... Syukur-lah, kalian nungguin aku. Soalnya, noh … dua cowok yang sok ganteng itu ada di sini," ucap Nadia sambil memakai sepatunya.
"Awalnya sih kita gak mau nunggu kamu. Risi sama mereka. Tapi karena kamu ngambekan, jadi kita tungguin deh," ucap Aqilla.
"Ya sudah, yuk. Kita masuk ruangan lagi!" ucap Amanda.
Baru saja ketiga gadis ingin beranjak, Devan dan Alvin menghampiri mereka. “Hai, Qilla," sapa Devan sambil tersenyum ke arah Aqilla.
Aqilla tidak mengindahkan perkataan Devan. Ia lang-sung mengajak kedua sahabatnya pergi. Alvin yang melihat muka Devan memelas karena diabaikan oleh gadis yang ia sukai itu pun tertawa.
“Hahaha .. Yang sabar, Bro,” kata Alvin sembari tertawa.
Tiba-tiba beberapa adik kelas perempuan yang lewat menyapa Alvin. Lelaki itu hanya membalas dengan senyuman.
“Enak, ya, yang dikagumi para cewek mah,” celetuk Devan. Lagi-lagi Alvin tertawa, kemudian merangkul sahabatnya itu dan berjalan menuju ruangan.