Bab 2 . Cadar Yang Membuat Malu

1204 Words
Bab 2. Cadar yang Membuat Malu “Lepas itu kalau kamu masih punya rasa tahu diri.” Suara Ratih terdengar pelan, tapi cukup tajam untuk membuat udara di ruang tamu terasa lebih tipis. Annisa berdiri di depan meja makan besar rumah keluarga Rangga. Ia membawa nampan berisi teh hangat untuk tamu penting perusahaan. Tangannya stabil. Langkahnya tenang. Namun kalimat itu menghantam tepat di dadanya. Tamu-tamu itu adalah rekan bisnis lama keluarga Rangga. Mereka datang untuk merayakan pulihnya kondisi perusahaan setelah suntikan dana dari keluarga Annisa. Semua tertawa. Semua memuji kecerdikan Rangga. Tidak ada yang tahu siapa sebenarnya yang menyelamatkan semuanya. “Ini menantu saya,” ucap Ratih dengan senyum yang terlalu dipaksakan. “Agak… berbeda.” Beberapa pasang mata langsung menatap Annisa dari ujung kepala sampai kaki. Salah satu istri rekan bisnis tersenyum tipis. “Masih bercadar ya, Bu Ratih? Jarang sekali sekarang.” Ratih tertawa kecil. “Ya begitulah. Kami masih beradaptasi.” Adaptasi. Seolah Annisa adalah benda asing. Annisa menunduk sopan. Ia meletakkan cangkir satu per satu tanpa suara. Ia bisa merasakan tatapan yang menilai, mengukur, meremehkan. “Rangga tidak keberatan?” tanya wanita itu lagi. Rangga yang duduk di ujung meja hanya tersenyum kaku. “Itu pilihan dia.” Bukan istriku. Bukan kebanggaanku. Hanya pilihannya. Annisa menangkap jarak dalam nada itu. Ia tidak berharap dibela. Ia hanya tidak menyangka akan ditinggalkan sedingin itu di depan orang-orang. Setelah tamu pulang, Ratih tidak menunggu lama. “Masuk ke ruang keluarga,” perintahnya. Annisa mengikuti. Begitu pintu tertutup, senyum Ratih menghilang. “Kamu tahu tidak betapa memalukannya kamu tadi?” Annisa terdiam. “Semua istri kolega Rangga tampil elegan, terbuka, modern. Kamu? Seperti bayangan hitam di sudut ruangan.” “Saya minta maaf, Bu.” “Maaf tidak mengubah apa pun. Kamu itu menantu keluarga besar. Belajarlah menyesuaikan diri.” Annisa menggenggam ujung lengan bajunya. “Cadar ini bagian dari keyakinan saya.” Ratih tertawa pendek. “Keyakinan tidak akan membayar citra perusahaan.” Kalimat itu menusuk. Rangga yang sejak tadi berdiri di dekat pintu akhirnya bicara. “Sudahlah, Bu.” Annisa menoleh sekilas, berharap. Rangga melanjutkan dengan suara datar. “Biar dia lakukan apa yang dia mau. Selama tidak mengganggu.” Selama tidak mengganggu. Ia pergi. Sekali lagi. Meninggalkan Annisa sendirian dengan dadanya yang terasa sesak. Malam itu, Annisa berdiri lama di depan cermin kamar mereka. Ia menyentuh kain cadarnya perlahan. Banyak orang mengira cadar adalah penghalang. Padahal bagi Annisa, itu adalah pelindung. Itu adalah bagian dari dirinya yang tidak bisa ia lepaskan hanya demi diterima. Tapi hari ini, untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri. Apakah aku salah? Suara notifikasi ponsel Rangga terdengar dari meja. Nama Selly muncul berkali-kali. Annisa tidak sengaja melihat ketika layar menyala. Selly: Tadi ketemu istrimu ya? Dia selalu pakai begitu di rumah juga? Beberapa detik kemudian. Selly: Kamu pantas dapat yang lebih cocok, Rangga. Jantung Annisa bergetar. Ia tidak membaca balasan Rangga. Ia tidak perlu. Ia sudah tahu jawabannya dari sikap lelaki itu. Beberapa hari kemudian, Rangga mengadakan acara makan malam dengan klien asing di restoran mewah. Ratih langsung mendatangi kamar Annisa sore itu. “Kamu ikut.” Annisa sedikit terkejut. “Saya?” “Iya. Biar orang tahu kamu istri Rangga. Tapi ada syarat.” Annisa tahu ke mana arah pembicaraan ini. “Lepas cadarmu malam ini.” Udara di kamar terasa membeku. “Bu…” “Kalau kamu benar peduli pada suamimu, lakukan ini.” Annisa menatap Ratih. Wajah wanita itu tegas, tidak ada ruang untuk kompromi. “Saya tidak bisa.” “Tidak bisa atau tidak mau?” “Saya tidak siap.” Ratih mendekat satu langkah. “Kalau begitu jangan salahkan saya kalau Rangga semakin menjauh.” Kalimat itu seperti ancaman. Annisa terdiam. Ia tidak ingin menjadi alasan Rangga malu. Tapi ia juga tidak ingin mengkhianati dirinya sendiri. Malam itu, ia tetap datang ke restoran. Dengan cadar. Tatapan orang-orang kembali terasa berat. Beberapa berbisik. Beberapa tersenyum sinis. Klien asing itu terlihat heran, tapi tetap sopan. Namun yang paling menyakitkan adalah sikap Rangga. Ia menjaga jarak. Tidak memperkenalkan Annisa dengan bangga. Tidak menyentuh tangannya. Tidak menunjukkan bahwa mereka pasangan. Annisa berdiri seperti bayangan. Di tengah makan malam, salah satu klien bertanya dalam bahasa Inggris yang lancar. “Your wife is very reserved. Is it cultural?” Rangga tersenyum tipis. “Something like that.” Bukan karena ia menghormati. Bukan karena ia bangga. Hanya karena terpaksa menjelaskan. Annisa menunduk. Ia merasa kecil. Setelah acara selesai, Rangga masuk mobil tanpa bicara. Ratih duduk di kursi depan dengan wajah kesal. Begitu mobil berhenti di rumah, Ratih turun lebih dulu. Rangga masih duduk di balik kemudi. “Kamu puas sekarang?” tanyanya pelan. Annisa terdiam. “Apa yang Mas maksud?” “Kamu keras kepala. Kamu tahu itu membuat semuanya canggung.” “Saya tidak berniat mempermalukan siapa pun.” “Tapi kamu melakukannya.” Kata-kata itu memukul lebih keras dari sebelumnya. Annisa menahan napas. “Kalau Mas benar-benar merasa saya memalukan… kenapa Mas menikahi saya?” Pertanyaan itu keluar begitu saja. Rangga memalingkan wajah. “Kamu tahu alasannya.” “Hutang.” Satu kata itu terasa begitu dingin. “Kalau hutang sudah lunas, apakah Mas masih akan mempertahankan saya?” Sunyi. Tidak ada jawaban. Itu sudah cukup. Annisa membuka pintu mobil dan turun. Langkahnya terasa lebih berat dari biasanya. Di dalam kamar, ia duduk lama dalam gelap. Ia tidak menyesal memakai cadar. Ia hanya lelah dianggap beban. Lelah menjadi istri yang tidak pernah dibela. Ia mengusap perutnya pelan. Kehidupan kecil di dalam sana adalah satu-satunya yang membuatnya merasa berharga. Tiba-tiba pintu kamar terbuka tanpa diketuk. Ratih berdiri di sana dengan wajah tegang. “Besok pagi kita ke rumah sakit.” Annisa terkejut. “Rumah sakit? Untuk apa, Bu?” Ratih menatapnya tajam. “Aku tidak mau cucu dari perempuan yang bahkan tidak bisa menjaga citra keluarga.” Dunia Annisa seperti berhenti berputar. “Apa maksud Ibu?” Ratih melangkah masuk. “Kita selesaikan sebelum semuanya makin rumit.” Tangannya otomatis melindungi perutnya. “Tidak.” Suara itu keluar tanpa ragu. Ratih menyipitkan mata. “Kamu pikir kamu punya pilihan?” Annisa berdiri. Tubuhnya gemetar, tapi matanya tegas di balik cadar. “Ini anak saya.” “Dan anak keluarga kami,” potong Ratih dingin. “Jangan paksa saya mengambil keputusan.” Langkah kaki terdengar dari luar kamar. Rangga. Annisa menoleh, berharap sekali saja lelaki itu akan berdiri di sisinya. Ratih berbicara lebih dulu. “Rangga, jelaskan pada istrimu. Kita tidak bisa ambil risiko.” Rangga berdiri di ambang pintu. Wajahnya sulit dibaca. “Mas…” suara Annisa hampir pecah. “Anak ini…” Beberapa detik yang terasa seperti hukuman. Lalu Rangga berkata pelan. “Kita bicarakan besok.” Bukan pembelaan. Bukan penolakan. Hanya penundaan. Ratih tersenyum tipis, seolah sudah menang. Annisa berdiri di tengah kamar dengan tubuh gemetar. Untuk pertama kalinya sejak menikah, ia merasa benar-benar sendirian. Dan untuk pertama kalinya, sesuatu di dalam dirinya mulai berubah. Jika mereka menganggapnya lemah… Jika mereka mengira ia tidak punya pilihan… Mereka salah. Pagi besok mungkin akan menjadi hari yang menentukan. Apakah ia akan kehilangan segalanya. Atau justru hari itu menjadi awal dari seseorang yang tidak lagi bisa mereka kendalikan. Annisa memegang perutnya erat. Di balik cadar itu, matanya tidak lagi hanya menangis. Ada api yang mulai menyala
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD