bc

CEO Bercadar Itu Istri Yang Kubuang

book_age16+
68
FOLLOW
1.0K
READ
love-triangle
family
drama
like
intro-logo
Blurb

“Aku tidak pernah menginginkanmu, Annisa. Jangan pernah berharap lebih.”

Kalimat itu diucapkan Rangga pada malam ia mengetahui istrinya hamil.

Menikahi Annisa hanyalah kewajiban demi menyelamatkan bisnis keluarga. Di mata Rangga, perempuan bercadar itu hanyalah istri bayangan yang tak pernah ia banggakan. Di mata Ratih, sang mertua, Annisa adalah menantu yang memalukan.

Dan ketika Selly, mantan kekasih Rangga, kembali ke hidupnya, keputusan itu menjadi mudah.

Rangga memilih Selly.

Rangga menandatangani surat cerai.

Rangga membiarkan Annisa pergi tanpa bertanya sedikit pun.

Ia tidak pernah tahu… Annisa pergi membawa anaknya.

Setahun kemudian, hidup Rangga runtuh.

Perusahaannya di ambang kebangkrutan. Saham keluarganya diambil alih oleh seorang investor misterius. CEO wanita bercadar itu mengambil kendali penuh dan mempermalukan Rangga di ruang rapat.

Suara itu terasa familiar.

Tatapan itu terlalu tenang.

Dan seorang anak kecil yang berdiri di sampingnya memiliki wajah yang membuat jantung Rangga berhenti berdetak.

Namun Annisa tidak kembali untuk memohon.

Ia kembali untuk membalas.

Kini Rangga harus berlutut di hadapan wanita yang dulu ia remehkan.

Meminta maaf pada anak yang tak pernah ia peluk.

Tapi apakah seorang perempuan yang telah bangkit dari luka dan penghinaan masih bisa mencintai lelaki yang pernah menghancurkannya?

Atau kali ini… Rangga yang akan dibuang?

chap-preview
Free preview
Bab 1.PernikahanYang Dipaksakan
“Aku tidak pernah menginginkanmu.” Kalimat itu diucapkan Rangga tepat sebelum ijab kabul diulang karena suaranya bergetar. Annisa mendengarnya dengan jelas. Semua orang sibuk menatap penghulu. Kamera keluarga menyala. Ratih tersenyum kaku di barisan depan. Tidak ada yang menyadari bahwa tepat satu menit sebelum pernikahan mereka sah, calon suaminya baru saja membunuh sesuatu di dalam dadanya. Annisa menunduk di balik cadar putihnya. Tangannya dingin. Jari-jarinya gemetar memegang buket kecil yang bahkan tidak ia pilih sendiri. Pernikahan ini bukan tentang gaun, bukan tentang bunga, bukan tentang cinta. Ini tentang hutang. Lima puluh miliar rupiah. Itulah angka yang membuat ayah Rangga datang ke rumah Annisa tiga minggu lalu dengan wajah pucat dan suara rendah. Perusahaan keluarga Rangga hampir bangkrut. Bank menekan. Investor menarik dana. Satu-satunya jalan adalah merger dengan perusahaan milik keluarga Annisa. Syaratnya satu. Rangga menikah dengan Annisa. Rangga setuju. Bukan karena ingin. Karena terpaksa. Ijab kabul selesai. Tangan Rangga menyentuh tangan Annisa hanya sepersekian detik. Tidak ada genggaman hangat. Tidak ada senyum yang tulus. Hanya formalitas yang kaku. “Sah.” Satu kata itu mengubah hidup Annisa. Tapi bagi Rangga, itu hanya transaksi. Malam pertama mereka tidak dihiasi tawa atau doa bersama. Tidak ada obrolan malu-malu. Tidak ada canda. Rangga berdiri di depan jendela kamar pengantin dengan jas yang belum dilepas. Ia menyalakan rokok, padahal ia tahu ibunya membenci bau asap. “Aku harap kamu tidak salah paham,” katanya tanpa menoleh. Annisa duduk di tepi ranjang. Gaun pengantinnya masih melekat di tubuhnya. Berat. Sesak. “Apa maksud Mas?” “Jangan berharap aku akan jadi suami seperti di sinetron. Pernikahan ini hanya formalitas. Kita tinggal serumah, tapi jangan pernah campuri hidupku.” Hening. Kata-kata itu jatuh seperti batu ke dalam air yang tenang. Tidak ada teriakan. Tidak ada tangisan. Hanya gelombang kecil yang perlahan menghancurkan dari dalam. “Baik, Mas,” jawab Annisa pelan. Jawaban itu membuat Rangga menoleh untuk pertama kalinya. Ia tidak melihat wajah Annisa. Cadar itu menutup semuanya. Ia benci cadar itu. Menurutnya, itu simbol keterbelakangan. Simbol perempuan yang tidak cocok berdiri di samping CEO muda sepertinya. “Besok aku tidak akan makan malam di rumah,” lanjut Rangga. “Jangan tanya ke mana.” Annisa hanya mengangguk. Pintu kamar tertutup. Dan malam pertama mereka berakhir sebelum benar-benar dimulai. Hari-hari berikutnya terasa seperti tinggal dengan orang asing. Rangga jarang pulang. Jika pulang, hanya untuk mandi dan berganti pakaian. Ratih, ibu Rangga, memperlakukan Annisa seperti tamu yang tak diundang. “Kamu ini menantu CEO, bukan santri kampung,” sindir Ratih suatu sore saat melihat Annisa tetap bercadar di ruang tamu. “Lepas itu kalau ada tamu. Malu dilihat orang.” Annisa tersenyum tipis. “Maaf, Bu. Saya belum siap.” Ratih mendengus. “Rangga bisa dapat perempuan mana saja. Kenapa harus kamu.” Kalimat itu lebih menyakitkan daripada tamparan. Tapi Annisa tetap diam. Karena ia tahu sejak awal, pernikahan ini bukan tentang dirinya. Seminggu setelah menikah, nama Selly kembali muncul. Selly adalah mantan kekasih Rangga. Cantik. Modern. Lulusan luar negeri. Tipe perempuan yang selalu berdiri di samping Rangga saat ia menghadiri gala dinner. Annisa melihat foto mereka berdua di media sosial. Selly baru kembali ke Indonesia. Captionnya sederhana. “Some feelings never change.” Komentar Rangga ada di sana. “Welcome home.” Jantung Annisa bergetar. Malam itu Rangga pulang larut. Bau parfum wanita melekat di kemejanya. “Kamu ketemu Selly?” tanya Annisa pelan. Rangga berhenti melangkah. “Siapa yang bilang kamu boleh tanya?” “Aku hanya ingin tahu.” “Kamu tidak perlu tahu. Ingat posisi kamu.” Posisi. Istri yang dibeli untuk menyelamatkan hutang. Annisa menunduk lagi. Ia mulai mengerti bahwa ia bukan pasangan. Ia hanya solusi sementara. Dua bulan berlalu. Perusahaan keluarga Rangga stabil kembali berkat suntikan dana dari ayah Annisa. Media memuji strategi merger itu. Rangga kembali dielu-elukan sebagai CEO muda berbakat. Tidak ada yang tahu bahwa di rumahnya sendiri, ia hampir tidak pernah berbicara dengan istrinya. Suatu pagi, Annisa berdiri lama di depan cermin. Ia memegang hasil tes kehamilan di tangannya. Dua garis merah. Tangannya bergetar. Ia tidak pernah meminta cinta. Tidak pernah menuntut perhatian. Tapi anak ini berbeda. Ini bukan transaksi. Ini darah dan daging. Sore itu ia menunggu Rangga pulang dengan jantung berdebar. “Aku ingin bicara,” ucapnya ketika Rangga akhirnya masuk. “Aku capek.” “Ini penting.” Rangga menghela napas kesal. “Apa lagi?” Annisa menyerahkan kertas kecil itu. Rangga membacanya. Wajahnya tidak berubah. Tidak ada senyum. Tidak ada keterkejutan bahagia. Hanya sunyi. “Kamu yakin ini anakku?” Kalimat itu membuat dunia Annisa runtuh. “Apa maksud Mas?” “Kita bahkan tidak pernah benar-benar bersama. Jangan membuat masalah baru.” Air mata menggenang di balik cadar. “Ini anak Mas.” Rangga tertawa pendek. “Bagus. Tambah beban saja.” “Mas…” “Aku tidak siap punya anak dengan perempuan yang bahkan tidak aku cintai.” Kalimat itu lebih tajam dari pisau. Annisa merasa tubuhnya dingin. Ia menunggu satu kalimat saja. Satu kalimat yang mungkin bisa menyelamatkan semuanya. Tidak ada. Rangga berjalan menuju kamar. Sebelum masuk, ia berkata tanpa melihatnya. “Kalau kamu merasa tidak kuat, kita bisa selesaikan sebelum terlambat.” Selesaikan. Annisa memegang perutnya. Untuk pertama kalinya sejak menikah, ia menangis tanpa suara. Beberapa hari kemudian, Rangga pulang membawa berkas. “Kita akhiri saja,” katanya datar. “Aku sudah bicara dengan pengacara.” Annisa membaca surat cerai itu dengan tangan gemetar. “Karena Selly?” tanyanya lirih. “Karena aku tidak pernah mencintaimu.” Jawaban jujur yang menghancurkan. Ratih berdiri di belakang Rangga. Tidak ada keberatan di wajahnya. Seolah perceraian ini memang sudah lama ditunggu. Annisa menatap kertas itu lama. Ia bisa saja memohon. Ia bisa saja membuka cadarnya dan menunjukkan wajah yang selama ini Rangga hindari. Ia bisa saja mengungkapkan bahwa ia mencintainya sejak lama. Tapi harga dirinya lebih mahal dari itu. “Baik,” ucapnya pelan. Rangga sedikit terkejut. “Kamu tidak akan protes?” “Tidak.” “Tidak akan minta apa-apa?” Annisa menggeleng. Ia menandatangani surat itu tanpa membaca ulang. Tinta hitam itu seperti garis penutup dari semua harapan yang pernah ia simpan. Malam itu ia mengemasi barang-barangnya sendiri. Tidak banyak. Ia memang tidak pernah benar-benar merasa memiliki rumah ini. Sebelum keluar, ia berhenti di ruang tamu. Rangga duduk di sofa, memainkan ponselnya. “Mas,” panggil Annisa. Rangga mendongak sekilas. “Apa lagi?” Annisa ingin mengatakan tentang anak itu. Tentang kehidupan kecil yang sedang tumbuh di dalam rahimnya. Tapi ia melihat ketidakpedulian di mata lelaki itu. Dan ia mengurungkan niatnya. “Tidak apa-apa,” katanya pelan. “Semoga Mas bahagia.” Ia berjalan keluar tanpa menoleh. Pintu tertutup. Rangga tidak mengejar. Tidak memanggil. Tidak berdiri. Baginya, ini akhir dari kesalahan. Baginya, ini kebebasan. Ia tidak tahu bahwa malam itu ia baru saja membuang lebih dari sekadar seorang istri. Ia membuang masa depan. Ia membuang darah dagingnya sendiri. Dan ia tidak pernah tahu… bahwa perempuan yang pergi dalam diam itu tidak akan kembali sebagai Annisa yang sama. Beberapa bulan dari sekarang, seorang CEO wanita bercadar akan mengambil alih saham perusahaannya. Dan seorang anak kecil akan berdiri di samping wanita itu. Dengan mata yang sangat mirip dirinya. Namun saat ini, Rangga hanya tersenyum puas, mengetik pesan pada Selly. “Akhirnya selesai.” Di tempat lain, Annisa duduk sendirian di kursi tunggu bandara, memegang perutnya yang masih rata. Air matanya jatuh satu per satu. “Tenang, Nak,” bisiknya. “Ibu tidak akan pernah membuangmu.” Pesawat menuju luar negeri dipanggil. Annisa berdiri. Langkahnya perlahan. Tapi tekadnya mulai mengeras. Ia tidak akan kembali sebagai perempuan yang dipijak. Ia akan kembali sebagai seseorang yang membuat Rangga menyesal telah membuangnya. Dan ketika hari itu tiba… Apakah Rangga masih punya tempat di hatinya? Atau justru ia yang akan berlutut memohon pada perempuan yang dulu ia anggap tidak layak?

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.2K
bc

Menyala Istri Sah!

read
2.7K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
52.9K
bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
4.2K
bc

Desahan Sang Biduan

read
55.8K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.6K
bc

After We Met

read
188.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook