Sinar bulan berpendar masuk melalui jendela yang terbuka. Gordennya berkibar-kibar ditiup angin, namun udara dingin yang nyaris membuat beku itu sama sekali tidak mengganggu Zayn yang saat ini sedang duduk di sofa, menghadap jendela, menatap kosong pada gemerlap kota yang tidak pernah mati. Dulu, dia begitu mencintai tempat ini, apartemen ini, dan segala yang ada di dalam hidupnya di kota ini. Namun sekarang, ada lobang yang begitu lebar di dadanya, menjatuhkan semua ke dasar sana dan nyaris menenggelamkannya juga. Zayn tidak pernah berpikir bahwa rasanya akan sesakit ini. Zara pergi dan perempuan itu pasti tidak akan sudi lagi untuk kembali dan menunggunya lebih lama. Dia yang membuat semua kekacauan ini. Sejenak Zayn berpikir bahwa memang sebaiknya Zara pergi. Zara terlalu baik untukny

