10. Amazed.

2117 Words
Nara meletakkan satu tangannya di atas alis guna meminimalisir radiasi sinar matahari yang jatuh di mata, ketika ia melepas pandangannya menatap gedung mewah yang memiliki 20 lantai dengan lima lantai tambahan di bawah tanah lewat kaca mobil yang terbuka. Luas gedung tersebut kurang lebih 70.000 meter persegi dan menampung sekitar 1200 orang karyawan dan eksekutif. Berbeda dengan gedung tinggi lain yang berada di daerah Gangnam, mereka—para karyawan dan petinggi perusahaan, yang datang ke sana akan terlebih dahulu disambut oleh empat petak taman yang diisi berbagai macam bunga serta pohon rindang di sisi kanan dan kiri jalan masuk utama ke gedung Prospero Enterprise. Sebelum naik tangga menuju pintu utama gedung, ada sebuah air mancur besar berbentuk bulat di tengah pelataran. Di tengah-tengah air mancur itu, ada sepasang patung yang menurut informasi dari desainer gedung tersebut merupakan perwujudan dari Eros dan Psyche dalam mitologi Yunani yang sedang mengangkat bola dunia bersama-sama. Belum hilang kekagumannya terhadap desain gedung perusahaan milik Oh Sejun yang ternyata jauh lebih megah dan lebih mewah dibandingkan dengan perusahaan milik ayahnya, Nara masih dibuat mengernyit heran ketika ia melihat sikap hormat dari para pegawai yang tak sengaja berpapasan dengan Oh Sejun begitu pria itu keluar dari mobil. Memang, sikap hormat ketika para bawahan bertemu dengan atasan mereka di kantor merupakan hal yang wajar. Namun menurut Nara, ada sesuatu yang lain dibalik sikap hormat yang para bawahan itu tunjukkan kepada Sejun ketika pria itu lewat di depan mereka. Terutama dari para karyawan wanita tentunya. Dari binar-binar mata serta senyum terkembang di bibir karyawan-karyawan wanita yang rata-rata cantik itu, ada secercah kekaguman tak biasa yang dibalut oleh keinginan untuk dimiliki oleh owner sekaligus CEO perusahaan tempat mereka bekerja. Lewat pengamatan jeli tersebut, Nara jadi bertanya-tanya, apakah Sejun pernah memanfaatkan ketampanan dan kekayaan yang dia miliki untuk memikat lalu mengambil keuntungan dari para wanita yang tentu saja tidak akan menolaknya itu? Pertanyaan selintas lalu yang muncul di pikiran Nara mendorongnya untuk menoleh ke arah Sejun, menatap sisi wajah pria yang berjalan di sampingnya lekat-lekat. Merasa diperhatikan, Sejun melirik sekilas ke samping sebelum masuk ke lift khusus yang diperuntukkan bagi para pejabat tinggi perusahaan. "Pssstt... psstt... Oh Sejun!" panggil Nara dengan suara lirih begitu pintu lift tertutup. Pria bermarga Oh itu melirik tanpa minat kepadanya kemudian kembali fokus menatap ke depan. "Ya! Di sini tidak ada orang. Kau tidak perlu mengabaikanku seperti itu." "Tidak ada orang tetapi ada CCTV. Aku tidak mau dianggap orang gila oleh tim keamanan di perusahaan ini gara-gara bicara sendiri." "Aku hanya ingin bertanya—" Sorot mata setajam elang milik Oh Sejun yang terhunus kepadanya, seketika membungkam mulut Nara seperti kunci otomatis hingga kalimat yang masih menggantung di bibir terpaksa harus ia telan kembali. "Ingat! Kau sudah berjanji untuk tidak menggangguku. Jadi apa pun yang ingin kau katakan atau kau tanyakan, simpan semuanya sampai jam kerjaku habis. Arraseo?" Nara pun menjawab iya dengan nada malas, tak lagi berminat mengutarakan apa yang ingin ia tanyakan kepada pria serius yang seringkali tak berperasaan itu. Sesampainya Sejun di lantai tempat ruangannya berada, dia langsung disambut oleh Jimmy yang saat itu sedang menunggu di depan lift. "Akhirnya kau datang juga," kata Jimmy merasa lega. Sejun menanggapi sekretarisnya dengan anggukan singkat. Berjalan menuju ruangannya dengan langkah tegas berwibawa, sementara Jimmy mengekor di belakang, mengambil bahan rapat yang sudah disiapkan di atas meja kerjanya untuk diserahkan kepada Sejun. "Apakah semuanya sudah siap?" tanya Sejun setelah ia duduk di kursi kerja, sementara tangannya sibuk membuka map berisi data-data lengkap yang berhubungan dengan rapat pagi ini. "Mereka semua sudah menunggu di ruang rapat sejak lima belas menit yang lalu." "Baiklah," Sejun bangkit dari tempat duduknya, "ayo ke sana." ... Ekspresi tegang menghiasi wajah para karyawan begitu Sejun dan Jimmy memasuki ruang rapat, karena rapat kali ini diadakan guna mengevaluasi progres kerja mereka selama tiga bulan. "Maaf karena saya sedikit terlambat," kata Sejun di hadapan para undangan rapat yang hadir. Tanpa banyak basa-basi, meeting pun dimulai dengan Jimmy yang bertindak sebagai moderator, Park Semi—sekretaris Sejun yang lain sebagai notulen, serta Sejun sendiri sebagai pemimpin. Rapat pagi ini berjalan dengan efektif, tidak bertele-tele, dan tepat sasaran meski suasana tegang menyelimuti para peserta rapat yang kinerjanya dikoreksi Sejun secara detail. Sepanjang pertemuan itu berlangsung, Nara hanya duduk diam di salah satu bangku kosong sambil memperhatikan Sejun. Kendatipun dia tidak terlalu mengerti apa yang sedang Sejun bahas dengan para bawahannya, sikap Sejun yang terlihat sangat berwibawa, tegas, dan sangat cemerlang itu seakan menghipnotis Nara untuk terus memaku pandangannya ke arah Sejun. Debaran halus mulai terasa di jantungnya hingga Nara hilang dalam lamunan penuh kekaguman akan sisi lain Sejun yang baru ia ketahui. Setelah rapat berakhir, pria itu terus berkutat dengan pekerjaannya sampai matahari mulai bersembunyi di balik awan dan gurat-gurat jingga terbentang di ufuk barat. Sejun menutup map yang sudah ia tanda tangani lalu ia serahkan kepada Jimmy. "Aku ada urusan lain," Sejun berdiri sambil merapikan dasinya, "jika ada kendala lain selain yang sudah kita bahas di rapat tadi, segera laporkan kepadaku." Sambil membenarkan letak kaca mata yang ia pakai, Jimmy bertanya, "Memangnya kau mau ke mana?Tumben sekali jam segini sudah mau pulang." "Aku mau pergi ke paranormal yang kau beritahu kemarin." Sontak punggung Jimmy menegang. Matanya awas memandang ke sekeliling ruang, bergidik ngeri begitu ingatan kejadian kemarin terlintas di benaknya. "A-apakah hantu itu masih mengikutimu?" Sejun mengangguk santai, memandang Nara yang berdiri di belakang Jimmy dengan tatapan tak terbaca. "Serius?" tanya Jimmy takut-takut. "Buat apa aku berbohong?" Melihat ekspresi Jimmy yang sepucat mayat setelah mendengar pengakuan jujur dari Sejun, membuat hasrat jail Nara mencuat ke permukaan. Kembali, Nara meniup-niup tengkuk Jimmy seperti yang ia lakukan tempo hari hingga bulu kuduk pria itu meremang dan dia kaku di tempatnya berdiri. "Jangan jail." Sejun memperingati sembari menjejalkan satu tangannya ke saku. Kedua sudut bibir Sejun seperti ditarik-tarik gara-gara ekpresi pengecut Jimmy yang menurutnya sangat bagus untuk dijadikan meme. Sebagai ganti, pria itu sengaja batuk hanya demi menyamarkan tawa menggelitik yang ia simpan rapi di balik bibirnya yang terkatup rapat. Menghela napas panjang, Sejun mencoba menenangkan Jimmy dengan tepukan lembut seraya berkata, "Sudah jangan dipikirkan. Sebentar lagi dia juga akan lenyap, kok. Aku sudah menyiapkan antisipasi supaya gadis itu jera jika dia terus mengganggumu." Kata lenyap yang Sejun ucapkan cukup menyentil hati Nara. Gadis itu cemberut lalu tertunduk dalam. Merasa berat mengikuti langkah Sejun yang berlalu tanpa mempedulikan Nara ada di belakang mengikutinya atau tidak. ... Mercedes-Maybach S600 milik Sejun melaju dengan kecepatan sedang di tengah jalanan kota Seoul yang ramai lancar menuju perkampungan padat penduduk di pinggiran Distrik Giheung, Provinsi Gyeonggi-do. Menghabiskan satu setengah jam perjalanan dalam gelembung kesunyian, akhirnya mereka pun tiba di jalanan depan gang sempit tempat paranormal yang Jimmy ceritakan itu tinggal. Untuk mencapai gang tersebut, Sejun harus rela meninggalkan mobil mewahnya di pinggir jalan kemudian menaiki anak-anak tangga dengan jumlah yang cukup banyak dan pastinya melelahkan. Pria tampan berkulit putih s**u itu berkacak pinggang, membuang napas kasar, sementara tatapannya naik ke ujung jalan yang berada jauh di atas sana. Titian yang terbentang di hadapannya sekarang membuat Sejun ingin sekali berbalik badan lalu pulang ke rumahnya yang nyaman. Namun jika mengingat lama perjalanan yang sudah ia tempuh demi bisa sampai ke tempat ini, tekad tidak mau menyia-nyiakan jerih payah sendiri pun tumbuh lebat dan mengakar kuat di dalam hatinya. Sejun lantas cepat-cepat berlari menaiki anak-anak tangga seperti kuda yang habis dipecut, meninggalkan Nara yang masih terpaku di bawah sana. "Kenapa kau masih di sana?" tanya Sejun bersama embusan napas putus-putus begitu ia sampai di anak tangga terakhir. "Ayo ke sini!" Nara menatap nanar ke arah Sejun, sementara di kakinya seolah terpasang bola besi yang membuatnya enggan melangkah mengikuti pria yang sudah lebih dahulu sampai di atas. Perkataan yang Sejun lontarkan secara asal sewaktu di kantor rupanya cukup melukai perasaan Nara. Kata 'lenyap' mampu merasuk kemudian mengoyak jantung hatinya dengan tusukan yang membuat Nara merasa dirinya telah menjelma menjadi manusia buangan yang tak pantas dipedulikan oleh siapa pun. "I am trash and trash must be thrown away. How pathetic!" bisik hatinya sedih. Selama perjalanan hening menuju ke tempat ini, jiwa Nara terbagi menjadi dua antara mengikuti Sejun yang mau membantunya supaya dia bisa kembali hidup dengan normal alih-alih koma di rumah sakit, atau diam saja tanpa berusaha dengan pikiran lebih baik dirinya mati seperti apa yang ia inginkan di awal sebelum terjadinya tragedi. Salah satu opsi dari dua pilihan tersebut menjadi sesuatu yang tidak bisa ia pilih semenjak kepercayaan dirinya kepada Sejun menurun secara drastis. Pertanyaan tentang, bagaimana jika Sejun benar-benar berniat melenyapkannya menggunakan bantuan cenayang dengan dalil ingin membantunya, atau, apakah dia benar-benar harus membiarkan hidupnya berakhir dengan cara yang tragis, sedangkan impian-impian yang sudah ia susun untuk hidupnya di masa depan belum ada satu pun yang tercapai, terus membombardir hati dan pikirannya hingga Nara merasa terombang-ambing. Gamang. Jujur saja, Nara tidak seberani itu ketika bibirnya sesumbar bahwa dia ingin sekali malaikat maut segera datang membawa jiwanya pergi, tanpa mempedulikan mana yang akan menjadi tempat akhir hidupnya pasca kematian menimpanya. Entah itu surga, bereinkarnasi menjadi hewan atau bahkan ke neraka sekali pun dia tidak peduli. Tapi nyatanya, mengabaikan kemungkinan-kemungkinan itu tidak bisa Nara lakukan dengan mudah. Jauh di dasar hati, Nara masih takut bertemu dengan malaikat maut sementara dirinya belum melakukan semua hal yang ia impikan di dunia, atau berbuat kebaikan sebanyak mungkin sehingga Tuhan mau berbelas kasih memberikan tempat berpulang yang layak untuknya. Saat itulah Nara merasa bodoh karena sempat berpikiran sempit untuk mengakhiri hidupnya sendiri, padahal orang yang nasibnya jauh lebih ironis dari dirinya pun bertebaran di muka bumi dan banyak dari mereka yang survive. Menggigit bibir bawahnya sementara kedua kakinya gemetar, Nara berteriak kepada Sejun yang menunggu dengan gusar di atas sana. "Kau sedang tidak menipuku, kan?" Tanda tanya besar seolah muncul tepat di atas kepala Sejun ketika Nara bertanya demikian padanya dengan raut wajah cemas bercampur takut. "Apalagi sih yang hinggap di kepalamu? Baru tadi pagi kau begitu bersemangat untuk pergi ke tempat ini. Tapi sekarang, nyalimu malah ciut. Kau mau terus hidup seperti itu? Dibilang nyata tidak, dibilang tidak nyata pun kau sebenarnya ada." Sejun terus mengoceh sembari berkacak pinggang, tak mempedulikan tatapan aneh serta bisik-bisik menggunjing dari beberapa orang yang lewat di sampingnya. Jika saja tangannya bisa menyentuh Nara, sudah daritadi Sejun turun ke bawah lalu menariknya supaya gadis itu tidak terus membuang-buang waktunya yang berharga. Nara menjalin jari-jarinya erat, sulit mengambil keputusan dalam pergulatan hati yang sengit. Ketika ombak kegalauan nyaris melumpuhkan pikirannya, tiba-tiba Sejun mengulurkan tangannya dari atas seolah-olah pria itu ingin menggapainya, menatap lurus tepat ke mata Nara seraya berkata, "Percaya padaku. Aku akan membantumu sesuai kemampuanku. Jadi, cepat kemarilah. Waktu kita tidak banyak." Selang beberapa menit, Nara mulai menapaki anak tangga dengan ragu, terus mengikis jarak hingga akhirnya dia bisa menggapai tangan Sejun yang terulur kepadanya. Begitu Nara berdiri tepat di sampingnya, Sejun mengomentari tangan Nara yang berada di pergelangan tangannya. "Ini seperti cinta sepihak, ya? Seperti... kau bisa mendapatkan aku sedangkan aku tidak." Lengkung indah di bibir Sejun mampu memecah bongkahan batu di hati Nara dan dia pun balas tersenyum. "Aku harap aku bisa mempercayaimu sampai akhir." Sejun mengangguk. "Ayo. Ikuti aku." ... Nara dan Sejun duduk bersisian di hadapan seorang paranormal yang mulutnya sibuk komat-kamit sembari memegangi dua lonceng di tangan kanan dan kirinya. Perlahan kepala mereka bergerak ke samping secara bersamaan hingga sepasang mata mereka saling bersirobok, ketika suara gemerincing lonceng semakin nyaring dan kata-kata yang keluar dari paranormal itu terdengar semakin aneh. Nara memberikan tatapan 'apa yang sedang dia lakukan?' kepada Sejun yang dijawab pria itu dengan kedua bahu terangkat tanda tak tahu. Kembali menghadap ke depan, jari-jari Sejun mulai menari gelisah di atas pahanya dan dia pun memberanikan diri untuk bertanya kepada sang paranormal setelah beberapa menit berlalu tanpa kejelasan. "Ehm," Sejun berdehem sementara kepalan tangannya berada di depan mulut, "Paman, bagaimana? Apa kau bisa—" Geraman serta ocehan ambigu yang semakin meninggi ketika Sejun memberanikan diri untuk bertanya, membuat pria tampan itu menggantung kalimatnya yang belum tuntas, sedangkan tubuhnya yang tadi sedikit condong ketika bersuara seketika melenting ke belakang. "Diaaaammm... aku sedang mendeteksi makhluk apa yang sedang mengikutimu," kata paranormal nyentrik itu sambil mempercepat gerakan tangannya yang sedang menggoyang-goyang lonceng. Sejun dan Nara semakin merasa aneh-aneh ngeri saat paranormal itu meminum air bertabur bunga dari dalam baskom logam yang berada di hadapannya, berkumur-kumur dengan air itu, lalu menelannya tanpa ragu. Apa yang dia lakukan membuat Sejun dan Nara berdecih jijik bahkan mual. "Oh Sejun, apa kau yakin dia itu paranormal yang ahli?" bisik Nara sambil merapatkan tubuhnya kepada Sejun. "Entahlah. Jika paman itu tidak ahli seperti yang dikatakan, awas saja Jimmy!" Tiba-tiba.... BRAAK! Dua orang itu langsung terperanjat kaget saat paman ahli—begitu paranormal itu menamai dirinya sendiri, menggebrak meja yang menjadi batas antara dia dan sang klien dengan kekuatan yang tak ditahan-tahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD