9. I'm Just Helping Her.

2222 Words
Suasana ramai yang dipenuhi hingar bingar suara musik di bawah temaram warna-warni lampu disko, juga bau alkohol, parfum, serta asap rokok yang menyengat memenuhi ruang napas di tengah hilir mudik manusia dengan bermacam-macam gaya, menyambut kedatangan Hani di diskotik tempat ia membuat janji dengan Roy Kim—pria yang langsung Hani hubungi begitu lepas dari amukan Jay yang menakutkan. Hani menyapukan pandangannya ke sekeliling, menelusup ke banyaknya tubuh yang asyik berlenggak-lenggok di atas lantai dansa mengikuti alunan musik beat bertempo cepat. Wanita yang menggerai rambutnya hingga ke punggung itu mulai menajamkan penglihatan, menerawang lebih jauh lagi ketika pria yang ia cari tidak sedang berada di area yang kini menjadi pusat atensinya. Selang beberapa menit kemudian, sebuah panggilan masuk ke ponselnya dan Hani bergerak tak sabar mengambil telepon genggam yang ia simpan di dalam tas. "Kau di mana?" tanya Hani putus asa, gelisah karena merasa sedang dikejar-kejar waktu. Suara di seberang sana terkekeh nyaring diikuti dengan tawa manja menyebalkan dari beberapa wanita yang membuat Hani memutar bola matanya malas. "Kau tidak melihatku?" tanya Roy tak percaya. "Padahal dari tempatku duduk, aku bisa melihat kecantikanmu, Jung Hani." Kepala Hani terangkat, berkonsentrasi penuh mencari keberadaan mantan teman kencannya sampai akhirnya dia bisa menemukan Roy yang kini duduk di sofa seberang lantai dansa sambil menatap ke arahnya, sementara di kanan kiri pria itu wanita-wanita berbusana minim menempel di tubuhnya bagai lintah. Roy tersenyum, mengangkat gelas wine yang ada di tangannya setinggi kepala seraya berkata, "Kau melihatku, kan?" "Ya," jawab Hani singkat, mematikan telepon genggamnya lalu berjalan mendekat ke tempat Roy berada. Berdiri sambil melipat tangan di depan pria yang sedang mencumbu bibir salah satu hostes dengan ciuman-ciuman panas, Hani memanggil nama Roy dengan suara yang cukup keras namun akurat untuk membuyarkan konsentrasi pria itu dalam mereguk kenikmatan dari pemilik bibir bergincu yang ada di sebelah kanannya. "Maaf karena aku harus mengganggu kesenanganmu," kata Hani sinis. Roy menyeringai, memberi kode kepada wanita-wanita cantik yang menemaninya minum supaya menyingkir dari sana. "Apa kabar, Sayang. Aku sangat merindukanmu." Roy merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, mempersilakan Hani masuk ke dalam pelukan. Lidah Hani berdecak dan dia langsung duduk di sisi lain sofa ber-letter u sembari menyilangkan kaki. "Apa kau sudah membereskan semua barang bukti yang bisa memberatkanku?" Roy menghela napas, pura-pura sedih karena Hani tidak menggubris ajakannya untuk berpelukan. "Dasar tidak sabaran," gerutunya, mengambil gelas wine yang terisi setengah kemudian memindahkan rasa sepat pahit itu ke dalam kerongkongan. "Aku sedang berada dalam situasi genting, Roy." "Segenting apa?" Nada suara Roy terdengar menguji. Ketika ekor matanya tidak sengaja tertuju ke perut Hani yang masih terlihat rata, Roy kembali menambahkan. "Apa anak itu benar-benar anak Jay?" Hani tersenyum tipis. "Apa kau berharap anak ini milikmu?" Gadis itu balik bertanya, dan Roy tampak tidak suka dengan ekspresi Hani yang terlihat mempermainkannya. Roy lantas mengambil satu batang rokok miliknya yang masih menyala, menyesapnya dalam-dalam kemudian mengepulkan asap berisi nikotin dan zat-zat beracun lain ke udara. Tangan Hani mengibas cepat mengusir asap yang bergerak ke arahnya, menahan diri untuk tidak memaki-maki pria yang biasa menjadi partner-nya di ranjang. "Ayolah, Roy. Berhentilah merokok," pintanya lembut. Roy melirik ke arah Hani kemudian mengangkat bahu. "Well... aku lupa kalau asap rokok berbahaya bagi ibu hamil sepertimu," katanya, sambil mematikan rokok di asbak. "Jadi, anak itu anakku apa bukan?" "Tentu saja, bukan," jawab Hani yakin. Roy mengernyit, menimbang-nimbang apakah Hani sedang berbohong kepadanya atau tidak. Diamnya Roy membuat Hani tersenyum lebar. Gadis itu lalu melambaikan tangannya ke salah seorang waiter yang berjaga tak jauh dari tempat mereka duduk untuk memesan minuman. Begitu waiter yang ia panggil pergi, Hani kembali menegaskan pernyataannya kepada Roy perihal janin yang tengah bersemayam di dalam rahimnya. "Anak ini memang anaknya Jay, kok. Karena terakhir kali aku berhubungan denganmu, aku masih sempat datang bulan." "Baguslah kalau begitu. Aku jadi tidak perlu repot-repot menyuruhmu menggugurkan anak itu " Roy kembali menenggak wine miliknya sampai habis. Begitu gelas kosong yang ia pegang meluncur ke atas meja, sebuah amplop berwarna coklat tahu-tahu sudah tergeletak di sana. Salah satu sudut bibir Roy tertarik ke atas dan dia melayangkan pandangannya ke arah Hani. "Sogokan?" "Bukan. Itu hanya hadiah." Roy berdecih. Mengambil amplop tebal itu sebelum menghitung jumlah uang yang terselip di sana. Puas dengan apa yang Hani tawarkan, Roy segera memasukkan amplop tersebut ke dalam saku jasnya, menatap Hani lekat-lekat. "Kau tidak perlu khawatir, Hani. Adik tirimu itu tinggal di apartemen tua tak terawat dengan fasilitas keamanan yang sangat buruk. Situasi di sana ketika kejadian itu terjadi sedang sepi. Jadi, kemungkinan adanya saksi mata itu kecil. Semua CCTV di sekitar sana yang memiliki kemungkinan merekam detik-detik kejadian sebelum Nara jatuh pun sudah aku amankan untuk berjaga-jaga." "Bagaimana dengan security yang bertugas waktu itu? Aku mengaku pada Jay kalau aku baru datang ketika Nara sudah jatuh dari apartemennya." "Gampang." Roy menjentikkan jari. "Kau bisa memanipulasi waktu kedatanganmu, karena petugas keamanan yang berjaga di sana baru bangun setelah mendengar suara sirine dari ambulans yang datang ke lokasi." Setelah mendengar penuturan dari Roy, Hani pun bisa bernapas lega. Sungguh luar biasa! Semesta seakan berpihak padanya dan Hani merasa tertolong akan hal itu. Lagi pula apa yang dia lakukan kepada Nara, menurutnya bukanlah sebuah bentuk kejahatan melainkan sebuah pertolongan. Bukankah Nara sendiri yang memiliki pikiran untuk bunuh diri dan Hani yang kebetulan mengetahui niat tersebut hanya memuluskan aksinya saja? Hani pun tersenyum bengis, meminum orange jus yang ia pesan dengan mata terpejam. "Jung Hani, ceritakan padaku kronologi yang sebenarnya." tanya Roy seraya mengusap-usap bibirnya, menatap penuh minat ke arah wanita yang sedang memainkan gelas yang ia pegang. Hani mendengus, meletakkan gelas yang ia pegang. "Seperti yang aku bilang, aku hanya membantunya untuk bunuh diri." Wanita itu tertawa geli ketika kerutan bingung di dahi Roy semakin terlihat jelas. "Dengar, ketika aku datang ke apartemen Nara untuk bicara empat mata dengannya, gadis itu sedang berdiri di teras membelakangiku, lalu naik ke atas bangku. Aku tidak sengaja membaca surat yang tergeletak di meja belajarnya dan dari sanalah aku tahu kalau dia berniat untuk bunuh diri. Waktu itu aku diam saja menyaksikan Nara menjemput maut yang belum datang kepadanya. Namun, begitu melihat dia berbalik dan terlihat seperti akan mengurungkan niatnya untuk bunuh diri, aku berlari ke sana dan mendorongnya sampai jatuh. Aku baik, kan?" Hani tersenyum bangga sedangkan Roy mendecih jijik. "Dasar iblis," maki Roy sambil tertawa. ... Nara berdiri di depan jendela, menyipitkan mata menatap matahari pagi yang semakin meninggi ketika Sejun sibuk mondar-mandir mempersiapkan diri untuk pergi ke kantor. Suara berdebam yang cukup keras diikuti dengan lengking kesakitan dari Oh Sejun membuat Nara membalik tubuhnya dengan cepat ke belakang, menatap heran ke arah Sejun yang sedang berjingkat-jingkat memegangi lututnya sementara wajahnya yang berkerut mengisyaratkan rasa nyeri. "Kau kenapa?" tanya Nara prihatin, berjalan mendekat ke arah Sejun yang duduk di tepi ranjang sambil mengaduh. Melihat Nara sambil lalu, Sejun menggeleng, berdiri dengan sikap sewajar mungkin. "Tidak apa-apa," jawabnya, mengabaikan lututnya yang masih berdenyut akibat terbentur ujung dipan tempat tidurnya sendiri. Pria yang rambutnya masih setengah basah itu berdiri di depan kaca lemarinya yang besar, menjejalkan lengannya ke lengan baju secepat mungkin sama seperti ia mengancingkan kancing kemeja putih yang membalut tubuh atletisnya secara sempurna. "Aku sudah membangunkanmu tepat ketika alarm berbunyi. Tapi kau tetap saja tidur seperti orang mati," komentar Nara, memperhatikan Sejun dari belakang. "Aku lelah dan mimpiku terlalu indah untuk disudahi begitu saja," jawab Sejun sembari menyimpul rapi dasi yang melingkar di kerah kemejanya. "Oh, ya? Apa kau memimpikan mantan kekasihmu?" Sejun mendengus, mengabaikan pertanyaan Nara lalu bergegas menuju ke walk in closet untuk mengambil jas dan sepatu. Seperti anak kucing kehilangan induk, Nara terus mengekor di belakang Sejun mulai dari kamar pria itu sampai ke meja makan, di mana sang ibu sudah menunggu kedatangan putranya bersama senyum yang terkembang indah di bibir. "Selamat pagi, Ibu," sapa Sejun, mengecup pipi wanita yang sangat ia hormati. "Pagi, Sayang." Berpindah ke ayahnya yang sedang menyesap kopi, Sejun mendaratkan kecupan manis di sisi kepala ayahnya seraya mengucapkan salam. "Pagi, Ayah." Ayahnya mengangkat wajah, memamerkan senyum indah yang ia warisi pada putranya. "Pagi juga, Nak. Apa tidurmu nyenyak?" "Ya. Cukup nyenyak sampai-sampai aku terlambat bangun." Sejun menarik kursi di samping ibunya kemudian duduk di sana. Waktu yang semakin menipis ditambah ingatan yang datang terlambat tentang meeting penting di pagi hari, membuat Sejun meneguk s**u sekenanya, mengambil satu sandwich yang tersedia di atas meja lalu beranjak berdiri. "Ibu, aku ada meeting penting pagi ini. Aku pamit dulu, ya." Sejun meninggalkan kecupan buru-buru di pipi sang ibu sebelum berputar ke tempat di mana ayahnya duduk. "Ayah, aku berangkat duluan dan... maaf untuk yang kemarin. Aku benar-benar tidak bermaksud—" Ayah Sejun mengangguk sembari tersenyum, menepuk tangan sang putra dengan lembut. "Ya. Tidak apa-apa. Hati-hati di jalan." Sejun mulai menjauh dengan langkah ringan. Sadar jika Nara masih membuntutinya, pria itu pun bicara dengan nada suara yang masih bisa di dengar oleh kedua orang tuanya di meja makan. "Jangan mengikutiku," perintahnya tegas. Langkah Nara terinterupsi dan dia cemberut memandangi Sejun. "Kau 'kan bilang kalau hari ini kita akan ke—" Sejun mengangkat tangannya, memotong kalimat Nara dengan paksa. "Nanti." Suara Sejun tegas, menolak untuk dibantah. "Aku tidak mau kau mengacaukan rapat pentingku." Sedetik kemudian, punggung Sejun menegang tiba-tiba. Ekor matanya melirik hati-hati ke arah meja makan, tersenyum canggung dengan hati was-was memikirkan beragam asumsi yang mungkin menghinggap di pikiran ayah dan ibunya ketika mereka melihat kelakuan random-nya saat ini. Sial aku lupa! "A-aku pergi dulu," kata Sejun, menggaruk pipinya yang tak gatal sembari tersenyum kikuk. "Suatu saat aku akan menceritakan semuanya kepada kalian. Daah." Pria itu mundur perlahan, melambaikan tangan, sebelum berlari kecil menuju pintu meninggalkan mereka yang memandanginya dengan tatapan aneh sekaligus heran. ... "Sudah aku bilang jangan ikuti aku! Aku tetap akan membawamu ke tempat yang aku janjikan kemarin. Tapi nanti, setelah aku selesai kerja. Bukan sekarang!" Di samping Sejun, Nara memasang wajah memelas. Gadis bersurai hitam pekat itu menangkupkan kedua tangannya, menggeseknya, memohon kepada Sejun dengan rendah hati agar dia tetap diizinkan ikut ke kantor. "Aku janji tidak akan mengganggumu. Please... biarkan aku pergi bersamamu." "Tidak!" jawab Sejun ketus. "Oh, ayolah.... Sepertinya semua orang di muka bumi ini sibuk dengan kegiatannya masing-masing kecuali aku. Sebelum bertemu denganmu, aku juga manusia yang super sibuk. Tidak ada waktu bagiku untuk bersantai-santai, karena aku memiliki banyak pekerjaan paruh waktu setelah pulang kuliah. Kau tahu tidak betapa membosankannya tidak bisa melakukan apa pun padahal biasanya waktu 24 jam saja tidak cukup untukmu? Bahkan bicara dengan orang lain selain dirimu pun aku tidak bisa. Kenyataan itu membuatku frustrasi tahu!" "Aku tidak peduli." Respon Sejun dingin kemudian dia menambahkan. "Ketika aku bekerja, aku tidak suka diajak bicara. Jadi alasanmu itu tidak valid. Cepat keluar sekarang karena aku harus segera berangkat!" Sejun menghadiahi tatapan tajam mematikan kepada Nara yang langsung berpaling ke arah mana pun kecuali menghadap pria itu. Nara berpikir sejenak untuk mengubah taktik. Setelah menemukan ide yang cukup bagus, gadis itu memberanikan diri melawan sorot mata Sejun yang tajam kemudian mengancam dengan nada santai. "Apa kau mau aku tinggal di rumahmu lalu mengganggu ibumu, hm? Padahal... aku sudah berjanji menjadi anak yang baik asal kau bersedia membawaku ke mana pun kau pergi." Sejun mendesis, kesal hingga ke ubun-ubun. Tangannya terangkat berniat mencengkeram lengan gadis di sampingnya untuk diseret keluar secara paksa. Namun alih-alih menggenggam lengan kurus itu, dia malah menyabet udara kosong yang sontak membuat mereka berdua tertegun. Fakta bahwa Nara saja-lah yang bisa menyentuhnya membuat Sejun tersenyum kecut, sedangkan Nara merasa seperti mendapatkan jackpot. Dia tidak perlu takut Sejun akan menyakitinya karena menggapainya saja pun pria itu tidak mampu. Ini sebuah keberuntungan di tengah kemalangan! Nara menahan diri untuk tidak membangkitkan amarah Sejun dengan ejekan-ejekan nakal yang sudah melingkar-lingkar di otaknya. Sebagai ganti, Nara membuang pandangannya ke luar, menatap matahari yang kian meninggi demi menyembunyikan senyum di bibirnya yang pucat. "Jika tidak mau terlambat, sebaiknya kau segera menyalakan mesin mobilmu kemudian berangkat." Suara mesin menyala tak lama setelah dia mengusulkan hal tersebut, mendorong Nara memindahkan sepasang netranya ke arah Sejun yang wajahnya tampak sekeras batu. "Jika aku tidak bisa menyentuhmu, aku pasti bisa mencabik-cabik ragamu yang terkapar tak berdaya di rumah sakit." Sejun mulai mengancam dan Nara tegang di sisinya. "You are so mean!" Sejun menyeringai lalu membalas, "I don't care." Nara membungkam mulutnya rapat-rapat setidaknya sampai jarak yang mereka tempuh mencapai seratus meter dari gerbang rumah mewah Sejun. "Kau tahu tidak? Memiliki harapan bahwa kau akan didengar, ditanggapi, tidak merasa sendirian apalagi diabaikan, dan orang lain sadar akan kehadiranmu di sisi mereka, jauh lebih baik daripada tidak memiliki harapan seperti itu sama sekali." Sejun menanggapi curhatan masuk akal itu dengan lirikan tajam yang tidak mengandung maksud buruk. Tangannya bergerak lihai menyalip mobil-mobil di depannya demi memperingkas waktu, sementara separuh dirinya seperti menunggu-nunggu gadis di sampingnya kembali bersuara. "Aku benar-benar tidak akan mengganggu kinerjamu. Aku hanya..." Nara diam sejenak, memejamkan matanya erat sebelum kembali memulai, "aku hanya ingin mempertahankan harapan itu. Jika aku bisa mengobrol dengan ibumu, mungkin aku lebih memilih stay di rumah ketimbang ikut denganmu." Nara mengedikkan bahu, membiarkan keheningan menyergap mereka selama beberapa waktu. "Kau ingin aku membawamu ke mana pun, bukan?" Nara menoleh ke samping, senyumnya mengembang tipis. "He'em," jawabnya sambil mengangguk. Sejun tertawa ringan dan suaranya terdengar seperti lonceng merdu di telinga Nara. "Kau tidak takut jika aku membawamu ke neraka?" canda Sejun, memutar setir mobil ke belokan di samping kanan jalan. "Tidak. Aku yakin kau akan membawaku ke tempat-tempat indah seperti surga," jawabnya asal, lebih seperti doa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD