Nara berjalan di belakang Sejun menyusuri koridor menuju ke ruang ICU, tempat ia terbujur koma. Sesekali gadis itu tersandung kaki sendiri saat ia melihat ada beberapa hantu—hantu sungguhan dengan rupa bermacam-macam tetapi tetap seram, sedang menatapnya dengan cara yang mengerikan. Bahkan beberapa kali mereka melayang mengikuti Nara mencoba untuk berkomunikasi dengannya.
Entah itu ingin menjalin persahabatan, merasa penasaran, atau ingin meminta pertolongan pada siapa saja yang bisa merasakan kehadiran mereka seperti yang sedang dilakukannya kepada Sejun, Nara memilih tidak peduli dan tidak mau tahu, karena sejatinya dia pun seorang penakut. Tidak jauh berbeda dengan Jimmy yang tadi sempat ia takut-takuti sampai lari terbirit-b***t.
Tidak berhenti di situ, yang paling menyebalkan bagi Nara adalah ketika rambut panjang sepinggang miliknya ditarik-tarik oleh hantu anak-anak kecil yang berlarian di sekitarnya sembari tertawa cekikikan. Berkali-kali Nara meneriaki mereka agar mereka berhenti menjahilinya karena rambutnya bukanlah mainan. Namun alih-alih berhenti, tawa anak-anak itu justru semakin keras. Terus dan terus mengeras hingga lambat laun nada suara khas anak kecil yang ia dengar berubah menjadi lengkingan tinggi yang memekakkan telinga sekaligus membuat bulu kuduk merinding.
Nara langsung diserang oleh kengerian tak terbayangkan ketika dia menoleh ke belakang, ke tempat anak-anak yang tadi mengganggunya bermain. Dia pun spontan berlari ke depan Sejun lalu memeluk erat-erat pria itu hingga langkah Sejun berhenti mendadak, ketika sesosok makhluk astral yang baru ia lihat, melayang di atasnya sembari mengulurkan tangan membentuk cakar yang dipenuhi kuku-kuku panjang tepat di atas kepalanya.
"I-i-itu! Itu! Ituuuuu!" Nara tergagap, menatap Sejun panik.
Sejun yang tak mengerti apa yang terjadi pada Nara hanya memandangi wajah pucat itu dengan raut muka datar. "Jangan genit dan jangan modus!" Sejun memperingatkan dengan nada suara halus dan mengancam, tetapi tuduhan itu segera disangkal oleh Nara dengan gelengan kepala yang keras.
"Ti-tidak. A-aku ti-tidak bermaksud be-begitu. I-itu. Tadi a-ada... ada...." Nara semakin sulit bicara. Pupil matanya bergerak-gerak gelisah sementara dadanya naik turun dengan cepat.
Sorot mata setajam elang milik Sejun pun langsung menusuk manik sewarna madu milik Nara yang melebar takut. Memindainya, kemudian menarik kesimpulan bahwa gadis itu tidak sedang mengambil kesempatan dalam kesempitan. "Ada apa lagi?" tanya Sejun dengan suara lelah.
Nara menelan ludah dan kembali berusaha bicara, tetapi yang keluar dari bibirnya hanyalah kalimat-kalimat patah yang sukar dipahami. Sejun lantas menyipitkan kedua matanya, berkonsentrasi tinggi pada gerak bibir gemetar Nara demi bisa menangkap apa yang gadis itu sampaikan.
"Di belakang ada hantu yang sedang mengejarmu?" ulang Sejun dengan satu alis terangkat naik. Nara mengangguk-angguk semangat, seolah-olah dia senang jika Sejun bisa mengerti apa yang ingin ia ucapkan meski terkendala oleh rasa ngeri yang membuncah.
"Di-di situ!" Nara mengacungkan jari telunjuknya ke tempat di mana dia melihat makhluk tak kasat mata yang terus mengikutinya. "Di belakangmu, Sejun!"
Sejun memutar tubuh membelakangi Nara dengan gerakan enggan, memandang jauh ke lorong yang sepi, menyapukan pandangannya ke tempat mana pun yang bisa dijangkau oleh matanya. Tidak ada keanehan yang terjadi, Sejun kembali menghadap Nara kemudian berkata, "Tidak ada apa-apa di belakang."
"Tapi tadi di situ—" Gadis dengan manik mata sewarna madu itu menunjuk ke belakang melalui sisi lengan Sejun, sementara tubuhnya yang mungil bergeser sedikit ke samping. Dan ajaibnya, tidak tahu kapan dan bagaimana, hantu menyeramkan yang tadi mengejar-ngejar Nara hilang tak berbekas.
"Tapi tadi dia ada di sana!" Nara bersikeras, takut dikira berbohong. "Sungguh! Aku tidak mengada-ada. Rambutnya panjang dan kusut, terus kuku-kuku jarinya juga panjang dan runcing. Dia memakai gaun merah. Melayang dan memelototiku—"
"Sssttt... sudah-sudah, jangan dilanjutkan." Sejun mencoba menenangkan. "Iya... aku percaya. Supaya kau tidak takut lagi, berjalanlah di sampingku. Kau juga boleh menggandeng tanganku jika kau mau."
Netra Nara refleks tertuju ke otot biseps di lengan Sejun. Terus turun ke tangan lalu ke jari-jari pria itu yang ia yakini jika telapak tangan mereka berdua disatukan, perbedaan ukuran yang signifikan akan terlihat jelas. Tangan yang kokoh. Nara membatin dan tanpa sadar senyum tipis tersungging di bibirnya.
Bulu matanya yang lentik perlahan terangkat ke atas, memandangi Sejun dengan binar-binar takjub. Selama beberapa menit, Nara terus bergeming sambil menikmati keindahan wajah pria di hadapannya dalam diam, seakan-akan sudah lupa apa tujuannya datang ke sini.
Sadar sedang ditatap dengan tatapan penuh kekaguman yang biasa ditunjukan kaum hawa kepadanya, membuat Sejun tertawa sumbang dengan kepala menengadah sembari bergumam, "Ya Tuhan... kapan aku bisa pulang?" Bahu Sejun melesak ke bawah bersama helaan napas berat.
Hari ini Sejun amat sangat lelah. Karena setelah dia mengantar adik perempuannya pergi ke bandara, tak lama kemudian dia mendapat telepon yang mengatakan kalau sahabatnya mengalami kecelakaan serius dan sedang di bawa ke rumah sakit. Tanpa ragu Sejun pun bergegas memutar kendaraannya menuju ke rumah sakit tempat sahabatnya menjalani operasi, karena dia tahu jika ia tidak bergegas datang menjenguk Samuel—sahabatnya yang lain selain Jimmy, keluarganya tidak akan ada yang datang mengunjunginya.
Sejun menjejalkan kedua tangannya ke dalam saku, melenggang santai melewati Nara. Tidak mau ditinggalkan sendirian atau hantu mengerikan itu akan datang lagi lalu memakannya hingga dia benar-benar mati alih-alih koma, Nara berlari menghampiri Sejun, menyelipkan tangannya di lengan kokoh pria itu. "Jangan tinggalkan aku. Aku... aku takut," desisnya ciut.
Sejun menjatuhkan tatapannya ke tempat di mana lengan mungil itu tersampir. Tersenyum lembut, terus berjalan lalu menghilang di belokan di ujung koridor. "Sejun-ssi. Apa kau itu seorang indigo?"
"Entahlah. Kadang kala aku bisa merasakan hal-hal mistis seperti itu. Itu pun tidak sering. Meski begitu, aku tidak pernah melihat penampakan hantu atau sejenisnya. Kau makhluk pertama yang aku lihat dalam bentuk bukan manusia."
"Yang tadi pun kau tidak melihat? Padahal wajahnya seram sekali." Nara penasaran sekaligus bergidik ngeri mengingat bagaimana buruknya rupa makhluk tadi.
"Tidak. Aku tidak melihat apa pun. Aku hanya melihatmu," jawab Sejun, pandangannya turun ke bawah, ke wajah Nara yang menengadah menatapnya.
Jawaban itu membuat Nara begitu kaget hingga kerutan heran tercipta di dahinya. "Aneh, ya? Aku kira kau itu dianugerahi kemampuan spesial yang membuatmu bisa melihat hantu. Makanya kau jadi bisa melihatku."
Sejun mengangkat bahu. "Kalau dipikir-pikir kejadian ini memang cukup aneh. Hari ini memang hari yang aneh, dan kau salah satu bukti dari keanehan yang terjadi padaku. Jika aku menceritakan kejadian hari ini kepada kedua orang tuaku, mereka pasti tidak akan percaya atau malah menganggapku gila." Pria itu mendesis, menggelengkan kepala merenungi hari luar biasa yang tak pernah ia sangka-sangka.
Seperti yang diduga oleh Sejun, kekasih Nara yang bernama Jay sudah stand by di sisi gadis itu di dalam ruang ICU sembari memegangi tangannya. Sejun merasa puas karena berpikir dia hanya perlu menyampaikan pesan dari Nara kepada pria yang duduk dengan kepala tertunduk dalam, kemudian pergi pulang tanpa beban. Sedangkan Nara yang tatapannya terpaku pada Jay, mulai melepas lingkaran tangannya di lengan Sejun, maju perlahan mendekati dinding kaca yang menjadi pembatas mereka.
Tangan Nara menempel di dinding tembus pandang itu. Seolah-olah dia ingin merengkuh, ingin menyentuh, tetapi terhalang oleh perasaan kecewa, sedih dan marah, lalu semua kendala itu diperburuk oleh kondisinya yang sangat tidak memungkinkan untuk mereka saling bicara. Mengamati ekspresi sendu dari sisi wajah Nara yang cantik, tatapan Sejun terus bergulir antara Nara dan sang kekasih selama beberapa kali kemudian tertunduk.
"Kenapa kau tidak masuk?" tanya Sejun, pandangan matanya lurus menatap gadis yang tak berdaya di bawah alat-alat bantu yang kini menopang kehidupannya.
"Aku tidak bisa masuk karena pintunya tertutup."
"Kau 'kan tinggal menembus pintu saja seperti yang sudah kau lakukan. Kenapa bingung?"
Nara menoleh ke belakang, menghunus manik hitam sepekat malam milik Sejun dengan tatapannya yang mematikan. "Aku hanya tidak ingin menjadi seperti hantu sungguhan! Kau ini miskin empati, ya? Aku ini sedang sedih. Bukannya menghiburku, kau malah bicara seperti itu. Memangnya kau tidak lihat kalau mataku berkaca-kaca?" Nara menunjuk-nunjuk matanya lalu menambahkan, "ya... kecuali kalau sedang terdesak parah. Apa boleh buat."
Sejun menggembungkan pipi menahan tawa sambil memegangi perutnya. "Pfffttt."
Nara melotot, melengos dengan wajah kesal, memandangi lagi tubuhnya yang terbaring di dalam sana. "Teruslah tertawa. Aku tidak peduli."
"Maaf. Maaf. Salah sendiri ekspresimu lucu begitu."
"Terserah!" jawab Nara ketus.
"Ya sudah. Aku mau minta izin dulu ke suster jaga supaya bisa masuk ke dalam."
Sejun lantas pergi meninggalkan Nara, lalu kembali tak lama kemudian. "Kata suster, aku tidak bisa masuk ke dalam sebelum Jay keluar."
Nara mengangguk pasrah, meski sebelumnya sedikit merasa kecewa. "Baiklah. Kita tunggu saja sambil duduk di ruang tunggu."
Mereka berdua pun pergi ke ruang duduk terdekat dari ruang ICU. Setelahnya, keheningan datang melingkupi mereka berdua bermenit-menit lamanya. Bahkan sunyi yang tercipta di sana, membuat Sejun bolak-balik menguap menahan kantuk. Namun setiap kali dia ingin tidur, Nara terus menggoyang-goyang bahunya agar Sejun tetap sadar.
"Dasar hantu sialan!" pikir Sejun, membenahi posisi tubuh agar matanya bisa terjaga sedikit lebih lama.
Akhirnya waktu yang dinanti-nanti pun tiba. Derap langkah kaki seseorang membuat Nara menegakkan punggung, mencondongkan kepala ke depan, memeriksa siapa gerangan yang datang dari arah koridor di sebelah kanan. Gadis itu terkesiap bangun dengan wajah cerah saat mengetahui orang yang sedang berjalan ke arah mereka berdua adalah Jay. Ini kesempatan bagus! Pikirnya dan dia pun segera berseru kepada Sejun yang kepalanya terantuk-antuk menahan kantuk.
"Sejun-ssi! Itu Jay! Ayo cepat hampiri dia."
Kedua kelopak mata Sejun langsung terbuka sempurna sedangkan kaki kanannya yang tadi ia sangga di atas paha kiri pun jatuh menapak ke lantai. Kepalanya berputar mengikuti arah jari telunjuk Nara mengacung sebelum dia berdiri menghadang Jay. Jay yang tadinya tidak memedulikan Sejun karena terlalu larut memikirkan kesalahan fatal yang ia perbuat, bahkan dia pun tidak tahu kalau ada orang lain selain dirinya di sekitar tempat itu, langsung menghentikan langkahnya yang berat begitu matanya melihat ada sepasang sepatu tepat di depan jalan yang akan ia lewati.
Matanya naik perlahan dari sepasang sepatu kasual berwarna putih ke celana jeans yang Sejun pakai, terus naik ke kaos putih yang melekat pas di tubuh atletis pria di depannya, hingga akhirnya pandangan mata Jay sejajar dengan manik hitam milik Sejun. "Siapa?" tanya Jay tak bersemangat. Cahaya di matanya redup seperti lilin yang apinya bergerak-gerak nyaris mati karena tertiup angin.
Sejun tersenyum ramah tanpa menyebutkan identitasnya. "Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu kepadamu atas permintaan kekasihmu."
Kerutan di antara kedua alis Jay tercipta dan dia pun bertanya, "Kekasihku? Maksudmu—"
"Sayang, maaf aku datang terlambat." Suara manja Hani menginterupsi percakapan di antara dua pria tampan itu sehingga mereka refleks memutar kepala, menoleh ke arah wanita berambut pirang dengan tahi lalat di dagu.
Memfokuskan netranya kepada Sejun setelah senyum manis yang ia lemparkan kepada calon suaminya ditanggapi dengan acuh, Hani pun bertanya, "Siapa pria tampan ini, Sayang? Apakah dia temanmu?"
"Aku tidak tahu," jawab Jay singkat, berusaha mendorong lepas tangan Hani yang melingkar di lengannya, tetapi usahanya itu ditahan oleh Hani yang langsung menghadiahkan tatapan tajam mengancam.
Sejun melihat bagaimana Jay dan Hani berinteraksi satu sama lain, sehingga dia pun bisa menarik kesimpulan bahwa ada cinta segitiga di antara mereka, dan hal itu semakin diperjelas oleh ekspresi Nara yang tampak berbahaya. Sembari menjejalkan kedua tangannya ke dalam saku, Sejun berkata "Maaf, tapi... bisakah aku dan Jay-ssi bicara berdua saja, Nona Manis?" Sejun melirik ke arah Jay sebelum memindahkan atensinya kepada Nara yang memandangi Hani dengan hasrat ingin membunuh.
"Sebentar saja, kok," tambah Sejun cepat.
Hani seperti tidak ingin melepas Jay meski hanya sesaat. Tangannya masih melingkar erat di lengan pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya, bahkan lebih protektif dari sebelumnya. Walau senyum itu terus berkembang di bibir Hani, Sejun bisa merasakan kebencian yang besar, yang terangkum lewat ekspresi di kedua matanya.
Demi memperingkas waktu, Sejun berdiri di sisi kiri Jay, melingkarkan tangannya sok kenal di bahu pria itu kemudian menariknya untuk ikut ke tempat yang lebih privasi.
Tadinya Hani ngotot ingin mengikuti ke mana pun Jay pergi, karena menurut apa yang sekilas ia dengar, apa pun yang akan dikatakan pria misterius itu pastilah sesuatu yang berhubungan dengan Nara dan dia tidak suka. Namun penolakan memalukan dari Jay yang begitu tega menepis cekalan tangannya dengan kasar membuat Hani mengurungkan niat, berdiri diam di dalam kesunyian yang dipenuhi angkara.
Nara yang kini berdiri tepat di hadapan Hani tanpa bisa dilihat kehadirannya oleh saudara tirinya itu, tidak memerlukan desakan lebih jauh untuk mengulurkan tangannya melingkari leher Hani, kemudian mencekiknya sampai mati atas apa yang sudah ia perbuat. Sayang, ketidakmampuannya menyentuh orang lain serta ketidakmampuannya menggerakkan benda-benda yang ada di sekitarnya—walau ia mengerahkan semua energi yang ia punya, menahan niat jahat yang terus berputar-putar di kepalanya hingga Nara merasa sesak sendiri, tersedak oleh rasa benci yang begitu dahsyat.
"Kakakku tersayang, tunggu pembalasanku ya," bisik Nara, yang karena tindakannya barusan, membuat Hani tersentak kaget, menatap sekeliling ruangan dengan tatapan nyalang.