3. You Have to Help Me!

2053 Words
Dengan wajah sekeras batu granit, Sejun melajukan mobilnya ke tempat yang dia rasa lebih aman untuk parkir, mengabaikan wajah Jimmy yang sudah sepucat mayat akibat campuran rasa heran sekaligus takut karena melihatnya bertingkah aneh. "Kalau kau tidak mau keluar, aku akan membakarmu! Terserah mau pakai paranormal yang mana, yang jelas, aku tidak mau mencampuri urusan makhluk sepertimu!" Suara kasar Sejun membuat Nara memutar kepala cepat menghadap ke arahnya. "Tidak bisakah kau sedikit berbelas kasih kepadaku?" Nara bertanya dengan putus asa. "Tidak bisa!" kata Sejun marah. "Aku hanya meminta tolong kepadamu untuk menyampaikan pesan kepada seseorang, dan kau bilang kau tidak bisa?" Nara mendengus tak percaya. "Aku juga sudah bilang kepadamu untuk tidak MEMANGGILKU DENGAN SEBUTAN HANTU!" Gadis itu tiba-tiba berteriak sekuat tenaga hingga Sejun terdorong ke belakang sembari menutupi kedua telinganya, mengernyit tak nyaman. "Na-ra. Kau dengar? Namaku, Jung Nara. Jadi panggil aku dengan nama yang diberikan oleh ibuku, bukan dengan sebutan hantu! ARRASEO?" Rahang Sejun mengeras. Dia bukannya tidak pernah bertengkar dengan seorang gadis sampai-sampai kali ini dia lebih memilih diam, alih-alih melakukan segala cara memaksa wanita yang duduk di jok belakang mobilnya tanpa izin untuk segera keluar mematuhi perintahnya. Hanya saja kali ini situasinya sedikit luar biasa. Jika sebelumnya Sejun sering berdebat dengan sang adik tentang hal-hal kecil, atau bertengkar hebat dengan mantan kekasihnya ketika wanita itu berkhianat, setidaknya mereka semua adalah makhluk kasat mata yang jika orang lain melihat dia bertengkar dengan dua orang itu pun, Sejun tidak akan dicap gila. Lain halnya seperti sekarang. Sejun tidak bisa terang-terangan bertengkar dengan Nara di depan umum karena bertengkar dengan gadis itu di hadapan Jimmy saja sudah membuatnya seperti orang gila baru. Wajah Jimmy-lah yang menjelaskan itu semua, seakan-akan lewat pupil matanya yang bergetar dan tubuh yang terus saja berusaha mepet ke pintu padahal tak ada ruang lagi baginya untuk mundur, dia tengah berkata, "Sejun apa yang sedang kau lakukan? Kau gila, ya?" Sejun melirik ke arah Jimmy lalu membuang napas kasar. Berusaha menganggap Nara tidak ada, Sejun melajukan kembali kendaraannya sembari memaksa amarahnya untuk reda sejenak. Membenarkan letak kaca matanya sambil melirik takut ke jok belakang lewat kaca spion, Jimmy menenggak berat salivanya sebelum menegaskan sesuatu. "Apa... apa benar-benar ada hantu yang duduk di belakang?" Wajah Jimmy tegang maksimal sementara Sejun tetap diam tak menanggapi, fokus menyetir. "Kenapa kau tiba-tiba berteriak seperti sedang memarahi seseorang?" Pria berkaca mata itu kembali melirik ke arah belakang, namun kali ini lewat celah bahu. Tak ada jawaban, Jimmy beringsut mendekati Sejun, mencondongkan tubuh ke arah sahabatnya dengan satu tangan menutupi pipi, seolah-olah dia tidak mau apa pun itu yang ada di belakang mendengarnya bicara. "Jawab aku, Oh Sejun! Apa di belakang benar-benar ada hantu?" Suara Jimmy bagaikan desisan seekor ular ketika ia bertanya. Sejun mengangkat bahu tak peduli. Terlanjur geram pada sosok tak kasat mata yang sialnya cantik tapi keras kepala dan menyusahkan, hingga dirinya malas untuk menjelaskan apa-apa. Pria berparas tampan itu menambah kecepatan mobil yang ia pacu supaya dia bisa segera menurunkan Jimmy di rumahnya lalu menyelesaikan urusannya dengan gadis bernama Nara. "Jangan banyak bertanya kalau kau tidak mau hantu yang aku ceritakan tadi mengikutimu sampai pulang ke rumah," jawab Sejun enteng, setelah Jimmy tak berhenti mendesaknya dengan pertanyaan yang sama secara berulang-ulang. Jimmy bungkam seketika. Pria berkaca mata itu menghadap ke depan dengan gerakan pelan dan gemetar, merasakan dirinya nyaris pingsan karena takut terlebih ketika dia membayangkan dirinya diikuti oleh makhluk dari dunia lain ke mana pun dia pergi. "Ja-jangan. Aku tidak mau," desisnya dengan gigi yang saling bergemeletuk. "Kalau tidak mau, lebih baik kau diam saja." Perintah Sejun dilakukan dengan baik oleh Jimmy, karena bukan hanya bibirnya saja yang terkunci rapat, tubuhnya yang tegang pun sudah mirip seperti tongkat kayu. Kaku. Melihat interaksi kedua pria di depannya, Nara menjadi sedikit terhibur. Fakta bahwa dirinya ditakuti oleh orang lain ternyata bukanlah hal yang buruk. Apalagi orang yang takut padanya itu adalah seorang pria yang memiliki ukuran tubuh lebih besar dari tubuhnya. Sesampainya di basement salah satu apartemen mewah yang berada di kawasan Sinsa-dong, ide licik melintas di benak Nara dan dia terpaku pada Jimmy yang saat itu sedang melepas seat belt-nya. "Jika aku meniup tengkuknya, dia bakal merinding tidak, ya?" Seulas senyum licik terukir di wajahnya yang cantik tapi pucat, lalu dia pun maju, meniup leher Jimmy dari belakang. Jimmy menegang, tangannya membentuk cakar yang menghujam paha Sejun diikuti deru napas yang memburu. Sejun yang kaget pun menoleh cepat ke arah sahabatnya. "Ada apa?" tanya Sejun dengan alis yang nyaris menyatu. Namun sebelum Jimmy sanggup menjawab pertanyaan Sejun, secara naluriah pria itu lebih dulu melihat Nara yang sedang meniup-niup tengkuk Jimmy sambil cengar-cengir. Sejun berdecak sebal, membuang napas kasar sembari berbisik. "Hentikan." Matanya yang tajam memicing ke arah Nara yang spontan membuat gadis itu berhenti bermain-main. Melihat wajah kesal Sejun, Nara justru semakin ingin memanfaatkan situasi agar keinginannya tercapai. Nara bertekad, apa pun yang terjadi, dia harus memberitahu kekasihnya kalau Hani-lah yang sudah mendorongnya dari balkon apartemen. Nara bersikap menantang dengan mengangkat dagunya tinggi-tinggi sambil bersedekap, sementara dia menatap Sejun tepat di mata. "Aku akan berhenti mengganggu sahabatmu jika kau mau membantuku. Kalau tidak, aku akan terus mengikutinya karena mengikuti orang yang takut denganku, ternyata jauh lebih menyenangkan." Sejun menghela napas lelah sembari menyibak rambutnya. "Baiklah. Kita bicarakan lagi nanti." "Tidak! Kau harus janji kalau kau benar-benar akan membantuku," desak Nara sebagai antisipasi supaya Sejun tidak hanya membual. Nara tersenyum miring melihat rahang Sejun yang tegas mengeras. Lalu tak lama kemudian, anggukan di kepala Sejun membuat kedua sudut bibir Nara tertarik ke atas. "Ya, aku janji," gumam Sejun dengan suara lirih, tapi bisa didengar jelas oleh gadis itu. Percakapan absurd yang dilakukan oleh Sejun dan entah siapa itu semakin meyakinkan Jimmy kalau sahabatnya memang sedang berbicara dengan hantu. Namun karena rasa takut begitu menguasainya hingga dia pun nyaris pingsan, Jimmy tidak terlalu mendengar apa saja yang dibicarakan oleh mereka. "Kapan hantu itu melepaskanku," pikir Jimmy panik dan dia melirik Sejun dengan pupil mata dan tubuh gemetar parah. Merasa kasihan dengan temannya yang penakut, Sejun menepuk bahu Jimmy dengan memberi sedikit guncangan. "Tidak apa-apa. Dia tidak akan mengganggumu. Jadi kau boleh—" Jimmy langsung keluar dari mobil dan lari pontang-panting meninggalkan Sejun yang belum selesai bicara. Sepeninggal Jimmy, keheningan memanjang melingkupi mereka selama beberapa saat. Kedua tangan Sejun bertengger di kemudi mobil dengan cengkeraman yang kencang, sementara otaknya sibuk berpikir apa yang akan ia lakukan sekarang karena dia tidak mau membawa makhluk seperti Nara pulang ke rumahnya. Di lain sisi, Nara terus memandangi belakang kepala Sejun seolah-olah dia ingin melubangi tengkorak pria itu lewat tatapan matanya yang tajam menyelidik. Satu kakinya bergerak-gerak gelisah, merasa cemas jika lelaki tampan di depannya itu menyalahi janji yang sudah dia ucapkan padanya beberapa menit lalu. "Ayo kembali ke rumah sakit," kata Sejun lugas. "Tidak. Kita ke apartemen kekasihku di daerah Gangnam." Mendengar jawaban Nara, dengan berat hati Sejun langsung menyalakan mesin mobil lalu memutar kendaraannya meninggalkan area parkir. "Kau yakin kekasihmu ada di apartemennya? Bukan di rumah sakit?" Nara tersenyum masam. "Itulah sebabnya aku meminta tolong kepadamu. Jika setelah datang ke apartemen ternyata Jay tidak ada di sana, tentu saja kita langsung berangkat menuju rumah sakit." "Wow, benar-benar gagasan yang bagus," nada suara Sejun mengejek dan dia menambahkan, "karena aku harus menjadi sopir seorang han—gadis sepertimu." Dia buru-buru meralat lidahnya yang nyaris tergelincir, sebelum Nara melakukan segala sesuatu yang Sejun tuduhkan kepadanya dalam hati, sesuatu yang mengganggu dan dapat memecah konsentrasinya menyetir. Nara berdecak kesal, membuang tatapannya keluar kaca jendela. Gedung-gedung pencakar langit, toko, gedung sekolah, serta bangunan mewah lainnya yang mereka lewati, seakan bergerak mundur dengan cepat di matanya. Semakin lama dilihat, objek pandangan itu semakin mengabur lalu entah bagaimana, tiba-tiba saja suara sang ayah terngiang-ngiang begitu keras di telinga Nara, ketika ayahnya mengatakan sesuatu padanya yang saat itu masih setengah tidur. "Maafkan Ayah, Nara. Ayah tidak bermaksud membeda-bedakanmu dengan Hani. Kau putri ayah, Hani pun putri ayah. Ayah mencintai kalian berdua sebagai darah daging ayah, walaupun kalian lahir dari wanita yang berbeda. Ayah tidak bermaksud bersikap dingin padamu. Hanya saja... setiap kali ayah memandang wajahmu, setiap kali ayah menatap matamu, perasaan bersalah meledak di dalam diri ayah dan ayah tidak kuat menanggung perasaan itu, Nak," katanya, sembari mengusap lembut puncak kepala putrinya yang ia pikir sudah berkelana jauh ke alam mimpi. Sepanjang perjalanan, kalimat-kalimat itu terus berkelebat di dalam benaknya. Terus berputar-putar hingga rasa sakit di kepala yang ia dapatkan pasca terjatuh dari apartemen kian bertambah, berlipat-lipat dan menyiksa. Sesaat, kedua kelopak mata Nara tertutup, menyembunyikan manik sewarna madu itu di dalam kegelapan. Dadanya terasa amat sesak. Lebih dari rasa sakit yang ia terima di kepala akibat benturan keras yang membuatnya jatuh koma, hatinya jauh lebih sakit setelah dia tahu bahwa ayahnya-lah yang menjadi penyebab ibu kandungnya mengalami kecelakaan lalu meninggal dunia. Nara ingin sekali menangis. Kedua matanya terasa perih dan jantungnya seolah ditusuk belati berkali-kali. Namun seperti Tuhan yang belum mengizinkannya mati, dia pun tidak memperoleh izin untuk menitikkan air mata. Lalu, ingatan lain yang sama-sama mengandung duri pun datang berkelebat seperti slide slide video yang terputar secara bergantian menggantikan ingatannya tentang monolog sang ayah. "Nara, tolong dengarkan aku. Aku benar-benar minta maaf padamu. Aku mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu tapi," Jay terlihat tidak mampu menggerakkan bibirnya untuk melanjutkan perkataannya yang menggantung, "aku benar-benar bersalah." Sambil berderai air mata Nara menutup kedua telinganya seolah hari ini, detik demi detik yang sedang berlangsung di antara mereka berdua saat ini, hanyalah salah satu dari kepingan mimpi buruk yang akan hilang tepat ketika dia membuka mata. "Tidak! Jangan katakan apa pun padaku kecuali kau menyangkal kalau anak yang sedang di kandung Hani adalah anakmu!" Jay memelas, mengulurkan kedua tangannya ingin merengkuh Nara ke dalam pelukannya. "Nara, tolong dengarkan aku...." Seakan ingin menyingkirkan kengerian dan rasa sakit yang sudah menjerit dalam tubuhnya, gadis itu tersentak mundur dan menggeleng keras. "Tidak!" Suaranya meninggi menjadi teriakan tersiksa. "Aku tidak mau dengar apa pun darimu!" "Nara, please." "Jangan berani-berani mengatakannya padaku!" Teriakan Nara semakin menderita. Jay terus melesak maju, berusaha menenangkan Nara yang histeris dengan pelukan paksa. Bongkahan pahit menyekat tenggorokan Nara ketika Jay berkata dalam teriakan sungguh-sungguh di bawah derasnya hujan, di sela-sela ratapan sesalnya bahwa janin yang dikandung Hani benar-benar anaknya. Aku minta maaf, Nara. Ini semua kesalahan. Tapi dia... benar-benar anakku.... Kata-kata itu mengentak-entak otak Nara yang tersiksa sementara ia terus larut dalam gelembung kesedihan tak tertembus. Beruntung suara berat Sejun berhasil mengoyak dinding tak terlihat itu kemudian merasuk, menariknya dari pikiran-pikiran jahat yang membuatnya begitu menginginkan mati. "Kau pikir aku harus mengitari Gangnam berapa kali? Kenapa kau masih saja melamun ketika kau sudah menjadi han—" Sejun membuang napas kasar, sedikit melemahkan nada suaranya yang gusar. "Aku sudah memanggilmu berkali-kali tapi kau terus mengabaikanku." Nara menelan ludah, menggeleng, dan langsung meledak dalam tangis tanpa air mata sembari menutupi wajahnya. Melihat bahu kecil itu gemetar, Sejun memutuskan berhenti di salah satu kedai kopi yang mereka lewati. "Tunggu sebentar." Pria itu keluar dari mobil meninggalkan Nara sendiri. Biasanya jika ibunya atau adik perempuannya menangis, Sejun akan memeluk mereka tanpa ragu. Menenangkannya, menghiburnya sembari berkata kalau hari ini memang berat, tapi selalu ada harapan untuk awal yang lebih baik ketika jarum jam melewati angka dua belas sebagai pertanda hari ini sudah menjadi hari kemarin. Sejun tahu kalau sekarang dia tidak bisa melakukan hal itu. Tapi dia juga tidak sanggup terus duduk diam sambil mendengarkan tangisan pilu yang ikut membuat hatinya tersayat tanpa tahu menahu hal apa yang membuat Nara tersedu-sedu seperti itu. Sampai satu cangkir kopi yang ia pesan habis, Sejun bergegas kembali ke mobil dengan harapan gadis itu sudah berhenti menangis lalu memberitahu alamat yang ingin dia tuju secara jelas sehingga dia bisa segera pulang ke rumah. Sejun memasang sabuk pengamannya. Bersiap dengan kedua tangan terpasang di kemudi kemudian menoleh ke belakang melalui bahu. "Apa kau sudah cukup tenang? Maaf karena sudah meninggalkanmu. Aku pikir, menawarimu ikut pun, itu tidak akan berguna. Kau tidak bisa minum kopi seperti manusia biasa, bukan?" Dipenuhi perasaan kalah, Nara merendahkan kepala, mengiyakan pernyataan Sejun. Dia memang tidak lagi merasa lapar atau pun haus. Namun dia masih bisa merasakan sakit di daerah kepala—tempat dia mendapat luka parah, dan juga di hatinya, dimana semua luka batin yang ia dapatkan berkumpul menjadi satu. "Kita langsung ke rumah sakit saja. Siapa tahu Jay memang sedang berada di sana." Sejun tersenyum, jelas menyukai gagasan tersebut. "Ya. Memang sudah seharusnya kekasihmu itu berada di sana."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD