Suatu hari di musim panas, detik-detik sebelum mereka bertemu.
Langkah pria tampan bernama Oh Sejun yang sedang menyusuri koridor rumah sakit sehabis menjenguk salah seorang sahabatnya seketika melambat, setelah suara tangis yang memilukan hati sayup-sayup terdengar tidak jauh dari tempat ia berada. Begitu Sejun melewati ruang tunggu yang sepi, pandangannya langsung terpaku pada sosok gadis yang tengah duduk seorang diri dengan kepala tertunduk dalam.
Langkah Sejun pun benar-benar terhenti. Selain karena panggilan dari Jimmy yang sedang berjalan tergesa menuju ke arahnya, gadis berwajah pucat yang sedang menangis tersedu-sedu itu ternyata berhasil menarik atensi Sejun untuk terus memandanginya dengan tatapan aneh.
"Hei! Kenapa kau meninggalkanku sendiri di toilet!" seru Jimmy sambil menepuk bahu Sejun keras-keras karena kesal.
Sejun melirik sekilas ke arah sahabatnya sebelum kembali fokus menatap Jung Nara—gadis yang masih dia perhatikan secara saksama.
"Salah sendiri. Aku pergi karena aku malas menunggumu lebih lama lagi," jawab Sejun datar, tanpa memandang sang lawan bicara.
"Itu karena perutku mulas! Coba kalau kau tidak menambahkan bubuk cabai ke dalam makananku tadi siang, aku juga tidak akan bolak-balik ke toilet." Jimmy cemberut, sedangkan Sejun mendesah pelan, memandang Jimmy dengan tatapan malas.
"Aku 'kan sudah bilang kalau orang yang mengerjaimu itu bukan aku." bantah Sejun, melirik sinis.
"Kalau bukan kau, siapa lagi?"
"Ah, terserahlah." Sejun hanya tersenyum mengejek sembari menggelengkan kepala. Meski begitu, Sejun rupanya belum mau menyudahi tatapan penuh ketertarikan yang didasari oleh rasa penasaran kepada gadis yang walaupun terlihat pucat, tetap tidak dapat dipungkiri kalau dia memiliki paras yang amat cantik.
Merasa ada yang memperhatikan dirinya sejak tadi, Nara mulai mengangkat kepalanya perlahan-lahan, menoleh ke arah Sejun. Beberapa detik pun berlalu dalam diam sementara kedua mata mereka saling mengunci.
Apa dia sedang menatapku?
Bagi Nara hal ini aneh. Sebab, dari sekian banyak orang yang dia ajak bicara, entah itu kekasihnya yang bernama Jay, sahabatnya yang bernama Rose, atau orang lain yang tidak sengaja berpapasan dengannya, tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari kehadirannya walau Nara berteriak sekuat tenaga.
Kejadian itu benar-benar membuatnya syok. Saat ia bersuara, tidak ada satu orang pun yang mendengar. Saat ia menyentuh, tangannya hanya seperti menggenggam udara. Nara seakan-akan sudah menjadi hantu, padahal secara fisik dia belum sepenuhnya mati.
Ketika berpandangan dengan Sejun itulah Nara mulai menyadari bahwa pria yang berdiri tak jauh darinya, bisa melihat wujudnya yang kini berupa jiwa tanpa raga karena tubuhnya yang asli sedang terbaring koma. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, gadis itu bergegas menghampiri Sejun lalu mengajaknya bicara.
"Apa kau bisa melihatku?" tanya Nara, menatap Sejun harap-harap cemas.
Bukannya menjawab, pria itu malah mengernyit, melengos, lalu pergi begitu saja. Nara terus mengikuti Sejun dari belakang sambil menanyakan hal yang sama berulang kali. Tak hanya pada Sejun, Nara juga mengajak bicara Jimmy yang sedang berceloteh panjang lebar pada sahabatnya tentang kejadian tabrak lari yang dialami oleh sahabat mereka. Namun seperti yang sudah-sudah, mata Jimmy tidak bisa meraba kehadiran Nara. Tidak seperti Sejun yang bisa melihat, tetapi pura-pura tidak melihat.
"Kenapa kau diam saja? Aku tahu kau bisa melihatku." Nara terus bertanya pada Sejun sambil terus berusaha menyamakan langkah.
Sejun bukannya tidak kasihan melihat Nara yang tampak menyedihkan. Hanya saja bagi Sejun, semua ini terasa begitu ganjil dan dia tidak mau ikut campur. Seingatnya, gadis cantik yang kini membuntutinya seperti anak kucing kehilangan induk adalah gadis yang sama seperti yang dia lihat di ruang ICU di sebelah ruangan sahabatnya. Karena di rumah sakit itu, sekat antar ruangan ICU tidak dibatasi oleh tirai melainkan dibatasi oleh dinding kaca, yang memungkinkan Sejun melihat Nara ketika dia keluar dari sana
Selain itu, Jimmy juga tampak tak terganggu oleh kehadiran Nara di antara mereka. Padahal, jika Jimmy mampu melihat gadis yang terus mengajak Sejun bicara, dia pasti tidak akan tega bersikap acuh tak acuh pada gadis cantik yang wajahnya terlihat murung dan sedih. Pikiran tersebut akhirnya menggiring Sejun untuk beropini bahwa gadis yang ia lihat bukanlah gadis biasa alias hantu.
"Hei! Setidaknya jawab pertanyaanku! Kau ini bisa melihatku atau tidak?" Kesal karena terus diabaikan, membuat Nara berteriak sekeras mungkin yang sontak membuat langkah Sejun kembali terhenti secara tiba-tiba.
Pria bertubuh jangkung itu menatap tajam ke arah Nara, seakan-akan ingin membinasakan gadis itu lewat sorot matanya yang tajam bak belati. Jimmy yang bingung melihat sahabatnya lantas bertanya, "Ada apa, Sejun? Kau sedang melihat apa?"
Pria berkacamata itu sedikit memundurkan kepalanya. Mengamati keadaan sekeliling, sebelum kembali menatap Sejun dengan ekspresi wajah bingung.
"Kau kenapa, sih? Sepertinya hari ini kau aneh sekali."
"Tidak. Tidak ada apa-apa. Hanya saja... tiba-tiba aku ingin pergi ke toilet. Kau duluan saja ke mobil. Nanti aku menyusul," dusta Sejun supaya Jimmy tidak berpikiran yang tidak-tidak lalu pergi lebih dulu ke mobil mereka.
Tanpa ada kecurigaan sedikit pun pada Sejun, Jimmy lantas mengangguk, mengiyakan perintah sahabatnya. Selepas kepergian Jimmy, Sejun yang tidak memiliki rasa takut sedikit pun terhadap Nara yang ia sangka sebagai arwah penasaran langsung bertanya, "Ada apa? Apa maumu? Kenapa kau mengikutiku terus? Jika tujuanmu adalah untuk menakutiku, silakan kau pulang saja ke tempat asalmu karena apa yang kau lakukan itu sia-sia. Aku sama sekali tidak takut padamu!" kata Sejun galak.
Nara terkesiap, mengerjapkan mata beberapa kali. Sebutan 'hantu' dari laki-laki asing yang sifatnya tidak sebaik wajahnya—menurut Nara, benar-benar membuat hatinya tak nyaman.
"Aku bukan hantu!"
"Kalau bukan hantu, kau mau aku sebut apa? Apa kau bisa dilihat oleh orang lain selain aku, hm?"
"Aku... aku... eum...." Nara terlihat sibuk berpikir. Memilah-milah kata yang sekiranya tepat untuk mendeskripsikan wujudnya sekarang. "Aku bukan hantu. Setidaknya belum. Karena tubuhku sebenarnya masih hidup walaupun dalam keadaan koma. Jadi jangan coba-coba menyebutku hantu karena aku tidak suka!"
Sejun tersenyum miring sebelum kembali melangkahkan kakinya. Melihat pria angkuh itu pergi seenaknya, membuat Nara terperangah kesal. Gadis itu pun berteriak, "Hei! Mau ke mana? Aku belum selesai bicara. Tunggu!"
"Mau apa lagi? Sudah, pergi sana!" Sejun tetap berjalan tak peduli, menjejalkan satu kepalan tangannya ke dalam saku celana.
"Tolong. Tolong bantu aku. Hanya kau yang bisa berkomunikasi denganku. Jadi, aku mohon. Bantu aku kembali ke tubuhku."
"Tidak mau," jawabnya singkat.
"Tuan, aku mohon. Bantu aku pulang. Aku yakin kau bisa membantuku karena hanya kau yang bisa melihatku sekarang. Bahkan, aku bisa menyentuhmu di saat aku kesulitan memegang benda-benda yang lainnya. Bukankah ini takdir? Jadi, please... bantu aku. Aku hanya ingin kau menjadi perantaraku untuk menyampaikan sesuatu kepada seseorang. Aku harus mengatakan pada kekasihku kalau aku bukan jatuh karena bunuh diri, melainkan didorong. Iya, awalnya aku memang berniat untuk bunuh diri. Tapi ketika aku mengurungkan niatku, kakak tiriku mendorongku hingga jatuh."
Nara memelas sembari menarik-narik ujung baju Sejun. Namun Sejun tetap bersikeras dengan keputusannya yaitu 'tidak.' Pria itu mendadak berhenti kemudian membalik tubuhnya ke belakang dengan gerakan cepat, yang tak ayal membuat Nara kaget. Sorot mata setajam pedang itu kembali menghunus manik sewarna madu milik Nara yang bergetar sebelum berkata dengan tegas dan lantang.
"Aku. Tidak. Mau. Titik."
Penolakan dari Sejun yang tanpa berpikir, tanpa ragu, serta tanpa belas kasihan itu tentu saja membuat gadis itu merasa kehilangan harapan. Kedua bahunya merosot, sementara redup yang sarat akan kekosongan mengisi tatapan matanya pada pria yang baru ditemuinya hari ini.
Hampa yang Nara rasakan saat tidak ada satu pun orang yang peduli, mendengar, atau mengulurkan tangan, terasa begitu mengoyak hati hingga dia merasa terguncang kala sebersit cahaya yang sempat membuatnya mendesah lega, pergi menjauh meninggalkannya. Lagi.
Lecutan tajam putus asa jelas memperparah luka sebelumnya. Nara merasa... seolah-olah dia sedang bergelantungan di tepi jurang dengan berpegangan pada sebuah akar pohon yang mencuat keluar. Mati-matian berjuang untuk bertahan hidup setelah sebelumnya mati-matian ingin menyambut maut.
Ketika satu-satunya orang yang ia rasa mampu dan sanggup untuk menolongnya justru bersikap tidak peduli, tidak ada yang bisa Nara lakukan selain memaksa Sejun dengan berbagai cara, atau dia akan jatuh ke dalam jurang yang terjal.
"Kalau kau tetap tidak mau membantuku," bulu mata Nara mulai terangkat, pandangannya pun mengunci iris pekat kopi milik Sejun setelah sebelumnya jatuh menatap lantai, "aku akan terus mengikutimu seperti hantu sungguhan, sampai kau bersedia untuk membantuku." Suara Nara lirih dan bergetar, tapi tetap berusaha untuk bersikap tidak gentar.
Sejun berdecih. "Silakan saja ikuti aku, kalau kau benar-benar ingin mati. Kau bilang hanya aku saja 'kan yang bisa kau ajak bicara sekaligus kau sentuh? Itu justru lebih baik lagi karena aku bisa membuat rohmu babak belur!" katanya kejam.
Tidak mau banyak berbasa-basi dengan gadis tidak jelas yang terus menerus memaksanya, Sejun melesat dengan langkah-langkah panjang supaya dia cepat sampai ke mobilnya menyusul Jimmy. Tadinya Nara sempat termakan oleh ancaman Sejun yang terlihat tidak main-main. Namun, sudah kepalang tanggung! Mundur sama sekali bukan pilihan yang tepat baginya, jika dia tidak mau kakak tirinya mencoba membunuhnya untuk yang kedua kali.
Seperti dia yang begitu nekat berpikir untuk mati hingga kondisinya berubah menyedihkan seperti ini, saat ini pun dia harus nekat dengan ancaman yang sudah ia lontarkan tadi. Buru-buru Nara berlari mengejar pria yang tubuhnya sudah semakin menjauh, meski sakit yang ia rasakan di sekujur tubuh akibat terjatuh dari ketinggian membuat sisi lain dalam dirinya berteriak untuk menyerah.
Sejun pikir, gadis gila yang tak kasat mata itu sudah tidak lagi mengikutinya karena takut pada ancaman yang ia berikan. Tapi nyatanya tidak begitu. Nara bersikeras mengikuti Sejun kendatipun sudah dilarang. Hanya saja pria itu tidak mendengar derap langkah kaki yang membuntutinya di belakang, sampai-sampai Sejun mengira kalau gadis itu sudah pergi.
Sesampainya pria itu di basement, Sejun segera memasuki Audi R8 miliknya dengan Jimmy yang sudah terlebih dahulu berada di sana. Sambil mengunyah keripik kentang, Jimmy pun bertanya pada Sejun. "Kenapa kau lama sekali? Apa kau juga merasa mulas sepertiku?" Jimmy tertawa, memasukkan kembali keripik kentang ke dalam mulutnya. "Karma is real, Bro! Makanya, jadi orang jangan jail."
"Apa, sih? Aku yakin jika kau aku ceritakan tentang apa yang aku lihat, kau tidak akan berani pergi ke kamar mandi sendirian," sergah Sejun, sembari melajukan mobilnya keluar dari area parkir.
"Memangnya kau melihat hantu?" tanya Jimmy, memicingkan mata.
"Bisa dibilang begitu."
"Hantunya cantik tidak?"
Sejun terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Jimmy. "Dia cantik. Bahkan benar-benar cantik. Tapi sayang, wajahnya pucat. Ekspresinya juga murung. Yah, namanya juga hantu."
"Serius?"
"Tentu saja. Buat apa aku berbohong."
Setelah melemparkan jawaban tersebut, alih-alih takut, sahabatnya itu malah berkelakar.
"Waahh, rupanya tidak hanya di dunia nyata saja kau dikejar-kejar oleh para wanita cantik. Hantu pun sampai ikut-ikutan mengejarmu. Benar-benar sebuah prestasi yang membanggakan." Jimmy bertepuk tangan, seolah-olah sahabatnya telah memenangkan sebuah penghargaan bergengsi. Hal itu tentu saja membuat Sejun kesal. Namun dia malas menanggapi perkataan Jimmy yang dia anggap konyol, karena tiba-tiba saja otaknya jadi sibuk memikirkan apa yang dikatakan oleh Nara padanya.
"Aku hanya ingin kau menjadi perantara untuk menyampaikan sesuatu kepada seseorang. Aku harus mengatakan pada kekasihku kalau aku bukan jatuh karena bunuh diri, melainkan didorong. Iya, awalnya aku memang berniat untuk bunuh diri. Tapi ketika aku mengurungkan niatku, kakak tiriku mendorongku hingga jatuh."
Perkataan itu membuat alis tebal Sejun nyaris menyatu. Rasa kasihan pun menyeruak masuk ke dalam hatinya, hingga dia sedikit menyesali perkataannya yang kasar pada Nara.
Ya sudahlah. Semoga tubuhnya yang asli segera sadar dari koma. Jadi dia tidak perlu berkeliaran tanpa arah tujuan seperti tadi.
"Sejun."
"Sejunn."
"SEJUUUNNN!"
Sejun tersentak oleh teriakan sang sahabat yang kesal karena panggilannya tidak juga ditanggapi, padahal dirinya sudah memanggil Sejun berkali-kali.
"Eh? Kenapa?"
"Kau ini dari tadi melamun terus! Pantas saja para hantu jadi suka mengikutimu."
"Sudahlah, jangan bicara hantu lagi."
"Tapi... katamu hantu yang kau temui itu cantik, kan? Kenapa tidak kau bawa pulang saja ke rumah? Kan, lumayan. Daripada kau sakit hati terus melihat mantan pacarmu bermesraan dengan mantan sahabatmu. Iya, kan? Yaaah... walaupun mereka berdua sebenarnya sudah sah menjadi suami istri dan sah-sah saja jika mereka bermesraan."
"Cintaku sudah mati untuknya. Jadi jika Isabel mau bermesraan dengan si pengkhianat itu atau bahkan berhubungan intim dengannya di depan mataku sekali pun, aku tidak akan sakit hati. Jijik iya. Bisa-bisanya dulu aku mencintai gadis seperti itu. Pantas saja kedua orang tuaku tidak menyukainya hanya dalam satu kali pertemuan." Sejun berdecih jijik, sementara matanya fokus menatap jalan.
Jimmy mengangguk-anggukan kepala menanggapi perkataan Sejun, bersyukur karena temannya sudah benar-benar terlepas dari jerat Isabel yang menurutnya memang sangat tidak pantas mendapat cinta tulus dari sahabatnya. Saat itu Sejun sedang membelokkan mobilnya setelah berhenti di lampu merah, ketika ekor matanya tidak sengaja melihat Nara sedang duduk manis di kursi penumpang.
Sejun yang terkejut pun menginjak pedal rem mobilnya secara mendadak, hingga bunyi berdecit yang memekakkan telinga pun bergema, sementara tubuh mereka terdorong ke depan. "Sejun! Bagaimana caramu menyetir? Kau hampir saja membuat kita berdua mengalami kecelakaan tahu!" Jimmy berteriak diiringi detak jantung yang seolah akan melompat keluar.
Bukannya meminta maaf pada Jimmy, Sejun justru memutar tubuhnya menoleh ke arah jok belakang dengan wajah merah padam.
"Kau! Kenapa kau ada di dalam mobilku? Cepat keluar" bentak Sejun pada Nara yang tampak acuh tak acuh, melengos, lalu membuang pandangannya ke luar kaca mobil.
Melipat kedua tangannya di atas perut, Nara pun dengan entengnya berbicara. "Jika kau tidak mau membantuku, aku terpaksa menjadi bayanganmu yang akan mengikutimu ke mana pun kau pergi."