Sudah satu minggu ini aku hanya berdiam diri di rumah saja. Sesekali aku menonton televisi, meneruskan cerita novelku, juga mengurus website. Setiap aku melihat wajah Arjuna di televisi rasanya hatiku terasa lega. Setidaknya aku tahu jika ia baik-baik saja. Di Televisi wajahnya terlihat segar, dia sehat.
Siang ini FTV Arjuna sedang diputar di televisi swasta. Aku langsung memasang televisi, memandangi pangeranku di televisi. Ia berperan sebagai pria nakal yang sering mencampakan hati wanita. Ia terlihat arogan dan tampan. Brewoknya yang sudah tercukur rapih membentuk wajahnya, bajunya terlihat rapi, rambut yang disisir ke belakang. Wajahnya terlihat lebih muda tanpa bewok di wajahnya.
Aku terhanyut menonton aktingnya di televisi. Tapi, aku merasa iri dengan pemeran wanita tersebut. Arjuna merangkulnya mesra, tertawa bersama, mendiskusikan hal-hal sepele, mengucapkan kalimat cinta, juga selalu menemani wanita itu. Berbeda sekali dengan pernikahan kami berdua. Pernikahan kami sangat dingin, tidak peduli satu sama lain. Tanpa sadar tanganku menyentuh layar televisi yang memfokuskan wajah Arjuna di televisi.
“Kamu sebenarnya milikku, dan aku mencintaimu..” gumamku memandang wajahnya di televisi.
Aku menonton FTV tersebut sampai habis. Aku mengecek jadwal bioskop bulan ini di internet.
Arjuna bermain di layar lebar bulan ini.
Sudah biasa sebenarnya, aku ingin menontonnya di layar lebar walau aku tahu, aku hanya menambah luka di hatiku, tapi aku tidak peduli. Hampir semua film pasti ada Arjuna. Karena dia aktor yang bisa berganti peran secepat membalikan tangan. Aku sangat suka dia menjadi orang yang berbeda. Walau Arjuna yang aku kenal, tetap Arjuna yang dingin dan jarang berbicara. Mungkin Arjuna juga lelah menjadi pribadi yang berbeda, maka di rumah ini dia bisa menjadi Arjuna yang apa adanya. Karena aku tetap mencintainya bagaiamana pun sikapnya.
Rasanya lebih baik aku pergi menyegarkan kepalaku, menghilangkan rinduku yang sudah tidak terbendung lagi. Aku mengambil kunci mobil dan memacu mobilku ke mall yang memiliki layar lebar. Aku akan melihatmu seharian ini Arjuna.
Might lose my mind
Waking when the sun's down
Riding all these highs
Waiting for the comedown
Walk these streets with me
I'm doing decently
Just glad that I can breathe, yeahI'm trying to realize
It's alright to not be fine on your ownNow I'm shaking, drinking all this coffee
These last few weeks have been exhausting
I'm lost in my imagination
And there's one thing that I need from you
Can you come through, through
Through, yeah
And there's one thing that I need from you
Can you come through?
Comethru - Jeremy Zukcer
***
Sesampainya di bioskop antrian sudah panjang, padahal hari ini hari biasa. Aku dengan sabar mengantri. Satu demi satu antrian berkurang. Semua film yang dimainkan Arjuna memang sangat laku di pasaran, tidak ada yang tidak laku. Magnet pesona Arjuna mampu menghisap jutaan perhatian penonton. Aku jadi merasa beruntung menjadi teman hidupnya.
“Mbak saya mau tiket untuk film My World, Is You My Love” sahutku kearah penjaga tiketnya sambil mengganti layar yang terpasang di bawah meja untuk mencari teater yang kosong.
“Maaf mbak, sudah habis.. karena hari ini baru hari ke-3 pemutaran film itu..” sahut penjaga wanita itu sambil tersenyum sopan. Aku hanya bisa tersenyum pasrah dan mengucapkan terimakasih.
Aku melangkah keluar dari antrian dengan wajah menyesal dan merutuki diriku kenapa tidak dari pagi saja aku mengantri.
“Mbak?” panggil seorang laki-laki yang sepertinya sebaya denganku.
“Mbak tadi mau beli tiket film My World, Is You My Love ya?” tanyanya ramah. Aku menganggukan kepala. Aku menebak-nebaknya jangan-jangan dia calo penjual tiket.
“Saya ada 2 tiket, tadinya saya mau menonton dengan teman saya. Tapi karena hujan deras dia tidak bisa datang. Sayang kan tiketnya.” ujarnya menunjuk 2 lembar tiket yang ia pegang.
Aku hanya memperhatikan lelaki ini yang dengan malu-malu yang memegangi belakang kepalanya. Aku menunggunya untuk melanjutkan ucapannya.
“Jadi, gimana kalau mbak nonton dengan tiket milik saya aja? Dari pada pulang dan enggak jadi nonton kan?” sahut lelaki itu sambil tersenyum lebar.
“ Jangan mas, jadi ngerepotin saya.” Tolak ku, mencoba menolaknya dengan halus.
Lelaki itu mendorong tiket itu ke tanganku, memaksa. Karena merasa tidak enak aku mengambil dompetku, mengeluarkan selembaran uang lima puluh ribu, berniat ingin membayar tiketnya.
“ Enggak usah mbak, buat mbak aja. Saya ikhlas kok. Saya juga tetap mau nonton film itu meskipun tidak ada teman saya. Mbak enggak apa-apa kan ya kalau saya duduk di samping mbak?” tanyanya malu-malu.
“ Ya gak apa-apa mas. Tapi aduh saya beneran gak enak lho ini. Saya bayar aja ya?” paksa ku, menyerahkan uang itu kearah tangannya.
“Jangan mbak, beneran enggak apa-apa.” sahutnya, menolak.
Aku menatapnya ragu, tapi aku ingin melihat suamiku bermain film. Aku sangat merindukannya. Aku mengangguk kearah lelaki asing itu. Ternyata masih banyak orang baik di dunia ini ya.
“ Ya sudah kalau begitu. Kalau bertemu lagi, saya yang akan memberikan tiket gratis.” candaku. Ia hanya tertawa. Aku dan laki-laki itu memasuki ruang bioskop bersamaan. Sebenarnya aku merasa canggung menonton film bersama laki-laki lain. Tapi tak apalah asalkan aku bisa melihat Arjuna. Sebagai gantinya, aku membeli 2 popcorn caramel dengan 2 minuman soda. Laki-laki yang tidak aku tahu namanya ini, tersenyum mengucapkan terima kasih. Ibu mengajariku untuk memberi, bukan hanya untuk menerima. Karena laki - laki asing ini, aku bisa menonton Arjunaku!
Film diputar, aku melihat wajah Arjuna yang ternyata menjadi pembukaan film. Hatiku berteriak senang. Setiap Arjuna muncul dan mengucapkan kalimat manis, beberapa penonton mengucapkan "sweeet.." aku tersenyum lebar mendengarnya. Begitu banyak fansmu, apa kamu dapat merasakannya Juna banyak yang mencintaimu?
Aku hanya ingin melihatmu.
Arjuna aku mencintaimu, sangat mencintaimu..
Jangan tanyakan perasaanku
Jika kau pun tak bisa beralih
Dari masa lalu yang menghantuimu
Karena sungguh ini tidak adil
Bukan maksudku menyakitimu
Namun tak mudah tuk melupakan
Cerita panjang yang pernah aku lalui
Tolong yakinkan saja raguku
Pergi saja engkau pergi dariku
Biar kubunuh perasaan untukmu
Meski berat melangkah
Hatiku hanya tak siap terluka
Beri kisah kita sedikit waktu
Semesta mengirim dirimu untukku
Kita adalah rasa yang tepat
Di waktu yang salah
Hidup memang sebuah pilihan
Tapi hati bukan tuk dipilih
Bila hanya setengah dirimu hadir
Dan setengah lagi untuk dia
Pergi saja engkau pergi dariku
Biar kubunuh perasaan untukmu
Meski berat melangkah
Hatiku hanya tak siap terluka
Beri kisah kita sedikit waktu
Semesta mengirim dirimu untukku
Kita adalah rasa yang tepat
Di waktu yang salah
Bukan ini yang kumau
Lalu untuk apa kau datang
Rindu tak bisa diatur
Kita tak pernah mengerti
Kau dan aku menyakitkan
Fiersa Besari ft Tantri - Waktu Yang Salah