Beautiful Morning - Arjuna Mahardian

1101 Words
Aku tertidur lelap sampai tidak sadar jika malam sudah berganti pagi. Jam dinding menunjukan pukul 10.00 pagi, Anton masih tertidur lelap di sampingku. Aku membelai rambutnya lembut. Aroma parfum favoritnya masih melekat di tubuhnya. Anton adalah tipe laki-laki anti bau badan. Hampir seluruh tubuhnya wangi, tidak membuat orang di dekatnya merasa illfeel. “Kamu hari ini gak kerja?” tanyaku, menggeser tubuhku agar lebih dekat dengannya. Anton menggelengkan kepalanya dan melihat ke arah jam dinding dengan mata menyipit. “ Kamu hari ini juga gak ada jadwal kerja?” tanya Anton kepadaku. “ Ada tapi nanti siang. Ya sudah kalau begitu aku mandi dulu.” sahutku, bangkit dari tempat tidur. Anton menarik tanganku ke pelukannya, membuat jantungku berdegup tak karuan. “ Katanya kerja siang, sekarang masih jam 10 pagi, tapi udah buru-buru aja.” “ Anton aku mau ketemu manajemenku dulu biar gak kesiangan. Shinta itu cerewet banget, suaranya yang berisik itu membuat telingaku sakit.” “ Ok..Ok, tapi buatkan aku sarapan dulu ya dear..”sahutnya sambil mengelus pipiku. Aku tersenyum lebar lalu mengecup pipinya. “Siap kapten!”sahutku Aku mengambil handuk Anton untuk mandi, setelah mandi aku langsung pergi ke dapur. Kulkas Anton terlihat penuh karena pembantunya yang membelanjakan bahan-bahan makanan meskipun Anton lebih sering makan diluar bersama rekan bisnisnya atau memilih makan denganku. Kalau aku sedang di apartemen Anton, Anton melarang pembantunya datang. Alasan Anton sederhana saja, dia tidak mau membuat bibi bertanya - tanya kenapa Anton bisa kenal dengan aktor seperti aku. Daripada rumit menjelaskannya, lebih baik tidak perlu menunjukan wajahku di depan bibi kan, Aku mengambil 2 telur, terigu, mentega, gula, susu, dan baking powder. Aku sudah biasa membuat sarapan sendiri, aku memutuskan untuk  membuat pancake karena Anton tidak terlalu suka makan nasi untuk sarapan. Untuk topping aku berencana menambahkan pisang dan coklat cair. “Sudah siap.” sahutku sambil menyusun piring di meja makannya. Aku tersenyum puas dan membangunkan Anton. Dengan langkah malas ia menuju dapur. Saat aku menyuapinya pancake, matanya langsung terbuka. “ Ini enak banget.”pujinya dan memakan sendiri pancake buatanku. “ Indah banget ya, kalau setiap pagi seperti ini..” gumamku melihat Anton yang menghabiskan pancake sampai tidak tersisa sedikit pun. “Iya sih, kamu tinggal di sini aja.” cetusnya “ Ah gila kamu, nanti bisa ada gosip.” “Kamu itu terlalu khawatir dengan gosip-gosip yang beredar. Biarkan saja gosip itu beredar luas, toh yang tahu semuanya itu kan diri kita sendiri.”sahutnya sambil terus melanjutkan kegiatan makannya. Aku  hanya bisa menganggukan kepalaku tanda setuju. " Coba kamu setiap pagi juga begini sama Aline. Pasti romantis kan," Anton mengucapkannya padaku sambil menggigit sendok. Tidak ada pancaran cemburu dari dalam matanya. " Masih aja dibahas ya yang semalam." " Kamu belum coba dengan Aline. Aku kasian sama dia." " Udah ah, jangan buat mood aku hancur ya." " Ok, i'm sorry." Drrt..Drrrtt.. “ Jun dari semalam ponsel kamu berbunyi terus, sebaiknya kamu angkat. Pasti istri kamu khawatir.” “ Ah biar aja, dia bisanya cuma bikin aku marah aja.” “ Atau jangan-jangan itu telepon dari Shinta. Kamu kan ada pekerjaan siang ini?” “ Oh iya, kamu benar juga.” Aku meraih ponselku yang berada di atas nakas, melihat layar ponselku, benar yang meneleponku adalah Shinta. “ ARJUNA DARI TADI LO KEMANA AJA? GUE UDAH TELEPON SAMPAI RIBUAN KALI YA!” teriaknya Aku menjauhkan ponselku dari telinga, suara teriakan Shinta bisa membuat telingaku tuli dengan cepat. “ Sabar Shinta, sabar nanti kamu jadi jelek kalau marah-marah terus.”sahutku, berusaha menenangkannya “Heh gak usah muji-muji deh! Cepat temui gua di tempat biasa. Banyak jadwal lo sampai minggu depan. Awas aja lo ngaret. Gue tunggu 1 jam udah sampai sini.” gerutunya dengan kesal. " Kalau lu kabur mulu dari jadwal, lama-lama kepala lo gw tanam GPS. Gw tahu yang dicariin orang - orang!" “ Tapi Shin, gue masih di...” “ Apa lagi? Gak ada tapi-tapian! Buruaaaan!” teriaknya, lalu memutuskan hubungan telfon seenaknya. “ Shinta ya?” tebak Anton tersenyum kecil, tangannya merangkul tubuhku.Pasti Anton langsung tahu karena suara Shinta sampai tembus 7 langit. Dasar Shinta! “ Iya, dia cerewet banget.”gerutuku kesal “ Ya udah sana berangkat, biar gak terlambat. Nanti pacar aku bisa dimarahi cewek gila itu.” sahutnya meledek sambil mengacak-ngacak rambutku. Dengan malas aku mengambil kunci mobilku dan mengecup pipi Anton sekilas sebelum meninggalkanya. “See you dear..” bisikku ditelinganya. Salahkah bila ku mencinta Salahkah bila semua selalu tentangmu Izinkan agar ku sampaikan Ku tahu walau kau dengannyaHaruskah terdiam Menahan semua rasa Inginnya kau dengar Apa yang ku rasaMenari bersamaku Temani hingga akhir waktu Jalani bersamaku Kau pasti kan bahagia Ku temani dirimu di setiap perjalanan cintaMenari bersamaku Temani hingga akhir waktu Jalani bersamaku Tak ada yang selamanya Tapi aku kan ada di setiap perjalanan cintaLihatlah diri ini untuk kali ini Tak bisa ku miliki ku relakan semua Ku mohon kepadamu Di kehidupan baru Izinkan ku jadi takdirmu Rizky Febian - Menari **** " Juna dari tadi kemana aja si? gue mau gila tahu gak!" cerocos Shinta melihatku yang baru turun dari mobil. " Tawarin gue minum dulu kek, jangan langsung ditodong gila begini." " Ya karena lo ngaco banget. Gue gak ngerti ya fungsi handphone lu tuh apa? kalau ditelfon susah banget. Lo emang hidup di jaman batu ya," aku membalikan tubuhku ke Shinta. Memegang lengannya dan memeluknya. " Jangan, cerewet ya kuping gue mau copot." Aku mengelus - ngelus rambutnya. Shinta langsung diam dan pipinya merah. Padahal Shinta sudah menjadi asistenku sejak lama, tapi setiap jurus itu aku keluarkan. Dia selalu meleleh dan seperti bingung. Tidak ada yang bisa menolak pesona Juna memang. " Jadi, jadwal kita apa hari ini?" Shinta memberikan deretan list yang sudah disiapkannya. " Wow bisa pulang pagi nih." gumamku melihat list kegiatanku. " Kalau lo datang dari pagi si, harusnya sore juga udah selesai." " Ok, i'm ready. mana nih tukang make up, ku serahkan wajahku kepadanya." Shinta hanya menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Kenapa bisa ada mahluk absurd ini di depan matanya, sungguh memuakan untung saja Shinta butuh uang jadi memaklumi semua kelakuan Juna. Quotes Never bend your head. Always hold it high. Look the world straight in the eye.-Hellen Keller  What you get by achieving your goals is not as important as what you become by achieving your goals.  - Zig Zilar I can't change the direction of the wind, but I can adjust my sails to always reach my destination. - Jimmy Dean Just dont give up trying to do what you really want to do. Where is the love and inspiration, i dont think you can go wrong - Ella Fitzgerald
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD