Aku memacu mobilku cepat. Sekarang waktu sudah menunjukan pukul 00.05 WIB. Sepulang syuting ini moodku berantakan. Pantas saja jalanan sudah selenggang ini. Tak ada mobil atau motor yang ramai seperti di siang hari. Aku menelepon Anton, rasanya aku ingin menemuinya dan menumpahkan semua rasa kesalku.
“Halo?”
Suaranya yang berat, serta gertakan dari rahangnya terdengar saat dia mengangkat panggilan dariku.
“Anton, kamu lagi di apartement kamu kan?”
“ Iya Jun, aku di apartement. Kenapa?”
“ Hmm aku kesitu ya”
“ Iya, lagi ada masalah?”
“ Nanti saja aku ceritakan.” sahutku, sambil mematikan sambungan telepon itu dan memacu mobilku lebih cepat.
Aku butuh tempat beristirahat.
Kau yg selalu bilang
Aku yg lebih penting
Aku cinta matimuKau tiba-tiba hilang
Sudah berhari-hari
Apa kau dapat pesankuDan aku menunggu
Terus menunggu
Hanya untuk memelukmu seeratnya
Trus berharap kau kan datang secepatnya, secepatnyaTemui aku di tempat biasa
Jangan kau terlambat waktuku tak banyakAku takkan bisa bila kau tak datang
Semangatku hanya tinggal saat iniKau kucintai karna
Balas mencintaiku
Dan ku percaya ituDan aku menunggu
Terus menunggu
Hanya untuk memelukmu seeratnya
Trus berharap kau kan datang secepatnnyaTemui aku di tempat biasa
Jangan kau terlambat waktuku tak banyak
Aku takkan bisa bila kau tak datang
Semangatku hanya tinggal saat ini
Aku takkan bisa bila kau tak datang
Audy - Temui Aku
***
Aku mengetuk pintu apartementnya, tak lama ia langsung membuka pintunya. Sebenarnya aku bisa saja langsung masuk, tapi aku takut ia sedang melakukan hal pribadi. Walau kami sepasang kekasih, rasanya tidak nyaman saja masuk tanpa seizin yang punya apartemen. Ia hanya mengenakan celana pendek, dan tidak mengenakan baju. Terlihat jelas kulit putihnya, juga otot-otot di dadanya. Aku meneguk air ludahku, Anton memang hot. Andai dia bukan terlahir kaya, harusnya dia mungkin sekarang juga jadi actor atau model. Postur tubuhnya sangat cocok menjadi actor. Ditambah lagi wajahnya yang tampan, bangun tidur saja masih sangat tampan. Entah Anton kapan bisa memasang wajah jelek, semuanya keliahat sempurna dari berbagai sisi.
“Masuk Jun, kamu ada masalah apa si dear?” tanyanya membuyarkan lamunanku, aku langsung masuk ke dalam apartementnya dan menjatuhkan diri di sofa.
“ Aku lelah Ton..”
“ Ini kan tanggal 24, harusnya kamu ada di rumah istri kamu..”
“ Nah itu yang membuat aku kesal!” Anton ikut duduk di sampingku dan merangkul bahuku, membuat kepalaku bersandar di dadanya.
“ Ceritakan saja..”
“ Dia mau bekerja, padahal aku sudah memenuhi semua kebutuhannya. Kalau dia bekerja dan dia berbicara pada semua orang jika dia istri aku gimana Ton? Karir aku bisa hancur!”
“ SSshhh...Sshhh...”
Aku merasakan tangan Anton yang mengelus kepalaku dengan lembut. Aku sangat menyukai tangannya yang lebar dan hangat, entah kenapa belaian tangannya di rambutku selalu bisa membuat diriku jauh lebih tenang.
“ Biarkan dia bekerja, dan kamu tidak pernah menganggapnya ada kan selama ini. Dia pasti merasa jenuh, kamu juga tidak akan terbebani rasa bersalah kan kalau dia bekerja?”
Drrrttt...Drrtttt..
“ Ponselmu berbunyi Jun. Angkatlah.”sahutnya
Aku mengambil ponsel di saku celanaku. Ternyata yang meneleponku Aline. Di atasnya juga tertera 15 pesan masuk.
“ Tidak perlu diangkat. Tidak penting.”ujarku kesal dan menjauhkan ponsel dari kami berdua.
“ Hmmm iya benar juga sih katamu dia lebih baik bekerja,” sambungku meneruskan pembicaraan kami tadi, “ Ah tapi biarlah, biar dia tahu rasanya jika aku marah.”
" Aline masih muda, pendidikan tinggi, cantik, pintar dan dia pasti bosan hanya mengurung diri di rumah tanpa melakukan apa pun. Aline butuh refreshing. Aline butuh berteman agar otaknya tetap bekerja dan ia akan merasa dirinya berguna. Sayang loh otak pintar S2 tapi hanya berdiam diri di rumah saja. Lebih baik dia bekerja mengembangkan karirnya. Aku yakin Aline juga tidak akan membongkar identitasmu, dia tahu konsekuensinya. Jika dia ingin, harusnya sudah ia lakukan dari dulu." Terang Anton panjang lebar.
“ Terserahlah. Kamu seharian ini pasti lelah bekerja, kita tidur saja ya.” sahutnya menyudahi pembicaraan kami, merangkul tubuhku. Aku mengiyakan ajakannya dan mengenggam tangannya erat.
Tangan besar dan lembut yang aku rindukan.
Kamar yang seluruhnya bercat putih ini, aroma khas Anton di setiap sudutnya selalu menjadi tempat kami berdua bercerita, dan memadu asmara.
Anton aku merasa hidupku lebih baik saat bersamamu. Andai saja menyukaimu adalah suatu hal normal yang dunia tidak akan menghinaku karena kekuranganku.
***
Aku tidak mencintai Aline karena aku mencintai Anton. Sehebat apa pun Aline mencoba merubuhkan dinding dan es dingin yang menghadang hubungan kami, rasanya percuma. Hatiku tetap memilih Anton. Apa baiknya Aline aku carikan pasangan saja ya? siapa tahu semakin lama Aline lupa padaku dan jatuh cinta pada pasangan yang aku pilihkan untuknya. Harus coba cara itu! aku mencari-cari di grup manajemen aktor, siapa tahu ada aktor baru yang tampan, baik hati, dan masih sendiri. sebenarnya status hubungan seseorang sulit untuk diketahui dalam dunia artis,. Karena mereka menyimpan pribadi masing - masing, walau tak jarang kehidupan pribadi mereka terekspos ke luar sana. Jariku terus mencari pasangan yang pas untuk Aline. Maafkan aku Aline, aku hanya takut kamu benci denganku dan membongkar identitas pernikahan asli kita. Bisa hancur semua karirku dan aku tidak akan lagi bisa bekerja di dunia entertain yang susah payah aku dapatkan.
" Juna kamu kenapa belom tidur?" tanya Anton dengan suara parau.
" Aku lagi cari pasangan buat Aline."
" Pasangan?"
" Iya, pasangan laki-laki. Supaya Aline teralih pada laki-laki itu dan melupakanku. Lagi pula Aline juga sepertinya hanya menyukai wajahku saja makanya dia mempertahankan hubungan ini. Nah, dengan dia bersama laki-laki lain pasti dia lupa denganku kan dan aku bisa melepaskannya." Anton berdecak heran.
" Gak semua Juna, gak semua perempuan hanya menyukai laki-laki dari fisiknya."
" Lalu, apa yang Aline suka dari aku?"
" Mungkin hati kamu."
" Mustahil."
" Aku bersikap baik dengan Aline saja bisa dihitung dengan jari."
" Aline wanita baik, hanya saja dia salah mendapatkan cinta."
" Salah ya mendapatkan aku?"
" Kamu gak mau memperbaiki hubunganmu dengannya?"
" Anton, kalau aku benar - benar jatuh cinta dengannya. Hubungan kita bagaimana? "
" Juna, kamu tahu kan hubungan kita tidak mungkin menjadi hubungan sah seperti pasangan normal lainnya. "
" Kamu sudah tidak mencintaiku lagi?"
" Juna, pertanyaan kamu harus banget ya aku jawab?"
" Lalu. kenapa?"
" Sudahlah kamu pikir baik-baik, kamu akan menyesal nantinya jika Aline dengan laki-laki lain, kamu akan menyesal. Karena mencari wanita seperti Aline seperti kamu mencari jarum dalam jerami." Aku menutup ponselku dan memikirkan kata - kata Anton. Apa bisa aku mencintai Aline? apa semua belum terlambat? aku akan tetap mencoba tak tikku untuk Aline.
I'm selfish, impatient and a little insecure. I make mistakes, I am out of control and at times hard to handle. But if you can't handle me at my worst, then you sure as hell don't deserve me at my best.”
― Marilyn Monroe